Bunga99 agen bola online
Aku Bercinta Dengan Anak dan Ibu Nya

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Aku Bercinta Dengan Anak dan Ibu Nya

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirAku Bercinta Dengan Anak dan Ibu Nya – Panggil saja saya Ade, panggilan keseharian walau saya bukanlah anak bontot. Saya murid SMU kelas 3. Saya tinggal di satu perumahan di Jakarta. Daerahnya mirip-mirip di PI deh, tapi bukanlah perumahan “or-kay” kok. Sekitar sebagian bln. lantas, tempat tinggal kontrakan kosong di samping kiri rumahku dihuni oleh keluarga baru.

Aku Bercinta Dengan Anak dan Ibu Nya

Awalannya mereka tidak sering terlihat, tetapi sekitardua minggu lalu mereka telah cepat akrab dengan tetangga–tetangga kurang lebih. Nyatanya penghuninya seseorang wanita dengan perkiraanku umurnya baru 30-an, anak perempuannya serta seseorang PRT. Nama komplitnya saya tidak paham, tetapi nama panggilannya Tante Yana. Anaknya bernama Anita, sepantaran denganku, siswi SMU kelas 3. Nyatanya Tante Yana yaitu janda seseorang bulekalau tidak salah, asal Perancis. Sikapnya friendly, mudah di ajak bercakap. Tapi, yang paling penting yaitu penampilannya yang “mengundang”. Rambutnya ikal dibawah telinga. Kulitnya coklat muda. Bodinya tidak langsing tapi bila diliat selalu, jadi jadi seksi. Payudaranya juga besar. Taksiranku kurang lebih 36-an.

Yang membikin mengundang yaitu Tante Yana kerapkali menggunakan pakaian sleeveless dengan celana pendek kurang lebih empat jari dari lutut. Kalau duduk, celananya terlihat sempit oleh pahanya. Wajahnya tidak cantik–cantik benar-benar, muka keunikan Indonesia, model yang disuka beberapa orang bule. Seperti bodinya, berwajah juga bila di perhatikan, terlebih bila pakaiannya agak “terbuka”, jadi jadi muka–muka ranjang gitu deh. Dari langkah berpakaiannya saya menduga bila Tante Yana ituhypersex. Kalau Anita, kebalikan ibunya. Wajahnya cantik Indo, serta kulitnya putih. Rambutnya hitam kecoklatan, belah tepi sebahu. Meski buah dadanya tidaklah terlalu besar, kecocokan bajunya malah buat Anita jadi seksi. Kelihatannya saya diserang sindrom tetangga samping nih.

Berhari-hari berlalu, nafsuku pada Tante Yana makin bergolak maka saya kerapkali nekat ngumpet dibalik semak-semak, masturbasi sembari melihati Tante Yana bila tengah diluar tempat tinggal. Tapi pada Anita, nafsuku cuma sedikit, itu juga karna kecantikannya serta kulit putihnya. Nafsu besarku terkadang membuatku menginginkan tunjukkan batangku dimuka Tante Yana serta masturbasi dimuka dia. Sempat adakalanya kujalankan niatku itu, tetapi cocok Tante Yana lewat, cepat-cepat kututup “anu”-ku dengan pakaian, karna takut mendadak Tante Yana melapor sama ortu. Tapi, sebenarnya berlainan. Tante Yana malah menyapaku, (serta kusapa balik sembari menutupi kemaluanku), serta cocok dimuka pagar tempat tinggalnya, ia tersenyum sinis yang menjurus ke senyuman nakal. “Ehem.. hmm.. ” dengan sorotan mata nakal juga. Sesaat saya terbengong serta menelan ludah, dan jadi tambahnafsu.

Lalu, disuatu saat, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat saya pulang kuliah serta ingin buka pagar tempat tinggal, Tante Yana menyebutku dengan lembut, “De, sini dahulu.. Tante bikinin makanan nih buat papa-mamamu. ” Segera saja kujawab, “Ooh, iya Tante.. ” Nafasku segera memburu, serta dag dig dug. 1/2 batinku takut serta ragu-ragu, serta setengahnya sekali lagi malah menyuruh agar “mengajak” Tante Yana. Tante Yana menggunakan pakaian sleeveless hijau muda, serta celana pendek hijau muda juga. Sesudah masuk ke ruangan tamunya, nyatanya Tante Yana cuma sendirian, tukasnya pembantunya sekali lagi berbelanja. Kondisi itu membuatku makin dag dig dug. Tiba-tiba tante menyebutku dari arah dapur, “De, sini nih.. makanannya. ” Memanglah benar sich, terdapat banyak piring makanan diatas baki telah Tante Yana susun.

Saat saya ingin mengangkat bakinya, mendadak tangan kanan Tante Yana mengelus pinggangku sesaat tangan kirinya mengelus punggungku. Tante Yana lantas merapatkan berwajah di pipiku sembari berkata, “De, mm.. anda.. nakal juga yah nyatanya.. ” Dengan tergagap-gagap saya bicara, “Emm.. ee.. nakal bagaimana sich Tante? ” Jantungku makin cepat berdegup. “Hmm hmm.. pura-pura tidak inget yah? Anda nakal.. ngeluarin titit, telah gitu ngocok-ngocok.. ”Tante Yana melanjutkan bicaranya sembari meraba-raba pipi dekat bibirku. Kontan saja saya makin gagap plus kaget karna Tante Yana nyatanya memahaminya. Tersebut penyebabnya dia tersenyum sinis serta nakal saat itu. Saya makin gagap, “Eeehh? Eee.. itu.. ” Tante Yana segera memotong sembari berbisik sembari selalu mengelus pipiku serta bahkan juga pantatku. “Kamu ingin yah sama Tante? Hmm? ” Tanpa ada banyak omong-omong sekali lagi, tante segera mencium ujung bibir kananku dengan sedikit sentuhan ujung lidahnya.

Nyatanya benar perkiraanku, Tante Yana hypersex. Saya tidak ingin kalah, kubalas segeraciumannya ke bibir tidak tipis seksinya itu. Lantas kusenderkan diriku di tembok samping wastafel serta kuangkat pahanya ke pinggangku. Ciuman Tante Yana begitu erotis serta bertempo cepat. Kurasakan bibirku serta beberapa pipiku basah karna dijilati oleh Tante Yana. Pahanya yang barusan kuangkat saat ini menggesek-gesek pinggangku. Karena erotisnya ciuman Tante Yana, nafsuku jadi bertambah. Kumasukkan ke-2 tanganku ke balik pakaiannya di punggungnya seperti memeluk, serta kuelusi punggungnya. Saat kuelus punggungnya, Tante Yana mendongakkan kepalanya serta terengah. Sesekali tanganku berkaitan tali BH-nya yang lalu lepas karena gesekan tanganku. Lalu Tante Yana mencabut bibirnya dari bibirku, menyudahi ciuman serta mengajakkuuntuk ke kamarnya.

Kami cepat-cepat ke kamarnya karna begitu bernafsu. Saya hingga tidak menyimak bentuk serta isi kamarnya, segera direbah oleh Tante Yana serta melanjutkan ciuman. Tempat Tante Yana yaitu tempat senggama kesukaanku yakni nungging. Ciumannya nyata-nyata erotis. Kumasukkan tanganku ke celananya serta saya segera mengelus belahan pantatnya yang nyaris berkaitan belahan vaginanya. Tante Yana yang hyper itu segera menanggalkan kaosku dengan agak cepat. Tapi kemudian ada adegan baru yang belum juga sempat kulihat baik di film semi maupun di BF manapun. Tante Yana meludahi dada abdomen-ku serta menjilatinya kembali. Sesekali saya berasa seperti ngilu ketikalidah Tante Yana berkaitan pusarku. Ketika saya coba mengangkat kepalaku, kulihat sisi leher kaos tante Yana kendor, maka buah dadanya yang bergoyang-goyang tampak terang. Lalu kupegang pinggangnya serta kupindahkan tempatnya ke bawahku. Lantas, kulucuti kaosnya dan beha nya, kulanjutkan mengisapi puting payudaranya. Terlihat Tante Yana kembali mendongakkan kepalanya serta terengah adakalanya menyebut namaku.

Sembari selalu mengisap serta menjilati payudaranya, kulepas celana panjangku serta celana dalamku serta kubuang ke lantai. Nyatanya cocok kupegang “anu”-ku, telah ereksi dengan level maximum. Begitu keras serta waktu kukocok-kocok adakalanya berkaitan serta menggesek urat-uratnya. Tante Yana juga melepas celana-celananya serta mengelusi bulu-bulu serta lubang vaginanya. Ia juga memperoleh sedikit mani dari vaginanya serta memasukkan jari-jari itu ke mulutku. Saya segera turunkan kepalaku serta menjilati daerah “bawah” Tante Yana. Rasa-rasanya agak seperti asin-asinditambah sekali lagi ada cairan yang keluar dari lubang “anu”-nya Tante Yana. Tapi tetaplah saja saya menikmatinya. Di tengah nikmatnya menjilat-jilati, ada nada seperti pintu terbuka tetapi terdengarnya tidak demikian terang. Saya takut ketahuan oleh pembantunya atau Anita.

Sesaat saya berhenti serta ngomong sama Tante Yana, “Eh.. Tante.. ” Nyatanya tante malah melanjutkan “adegan” serta berkata, “Ehh.. bukanlah siapapun juga.. egghh.. ” sembari mendesah. Tempatku saat ini dibawah sekali lagi serta saat ini Tante Yana tengah mengisap “lollypop”. Ereksikusemakin maximum waktu bibir serta lidah Tante Yana menyentuh bagian-bagian batangku. Tante Yanamengulangi adegan meludahi kembali. Ujung penisku diludahi serta sekujurnya dijilati perlahan-lahan. Pikirkan, bagaimana ereksiku tidak makin maximum?? Tidak lama, Tante Yana yang pada mulanya nungging, ubah tempat berlutut diatas pinggangku. Tante Yana punya tujuan lakukan senggama. Saya pernah kaget serta bengong menyaksikan Tante Yana dengan perlahan-lahan memegang serta mengarahkan penisku ke lubangnya seperti film BF saja. Tapi sesudah ujungnya masuk ke liang senggama, kembali saya seperti ngilu terlebih pada bagian pinggang serta selangkanganku di mana peristiwa itusemakin menaikkan nafsuku.

Tante mulai menggoyangkan badannya dengan arah atas-bawah awalannya dengan perlahan-lahan. Saya berasa begitu nikmat biarpun Tante Yana telah tidak virgin. Didalam liang itu, saya berasa adacairan hangat di sekujur batang kemaluanku. Sembari kugoyangkan juga tubuhku, kuelus pinggangnya serta adakalanya buah dadanya kuremas-remas. Tante Yana juga mengelus-elus dada serta pinggangku sembari selalu bergoyang serta melihatiku dengan tersenyum. Mungkin saja karna nafsu yang besar, Tante Yana bergoyang amat cepat tidak teratur tidak tahu itu maju-mundur atau atas bawah. Sampai-sampai adakalanya saya mendengar nada “Ngik ngik ngik” dari kaki ranjangnya. Karena bergoyang amat cepat, badan Tante Yana berkeringat. Selekasnya kuelus tubuhnya yang berkeringat serta kujilatitanganku yang penuh keringat dia itu.

Lantas tempatnya bertukar sekali lagi, jadinya saya berharap di ujung ranjang, serta Tante Yana menempati pahaku. Jadinya, saya dapat gampang menciumi dada serta payudaranya. Juga kujilati badannya yang masih tetap sedikit berkeringat itu, lantas saya menggesekkan badanku yang sedikit berkeringat kedada Tante Yana. Tidak kupikirkan saat itu bila yang kujilati yaitu keringat karna nafsu yang sangat meledak. Tidak lama, saya berasa juga akan ejakulasi. “Ehh.. Tante.. uu.. udaahh.. ” Belum pernah saya merampungkan kata-kataku, Tante Yana telah 1/2 berdiri serta nungging di depanku. Tante Yana mengelus-elus serta mengocok penisku, serta mulutnya telah ternganga serta lidahnya menjulur siap terima semprotan spermaku. Karena kocokan Tante Yana, saya jadi ejakulasi. “Crit.. crroott.. crroott.. ” nyatanya semprotan spermaku kuhitung hingga kurang lebih tujuh kali di mana tiap-tiap kencrotan itu keluarkan sperma yang putih, kental serta banyak. Sesekali jangkauan kencrotannya panjang, serta berkaitan rambut Tante Yana. Mungkin saja ada pula yang jatuh ke sprei. Persis sekali film BF.

Kulihat muka Tante Yana telah penuh sperma putih kental milikku. Tante Yana yang memanghyper, memperoleh spermaku baik dari berwajah maupun dari sisa di sekujur batangku, serta memasukkan ke mulutnya. Kemudian, saya berasa begitu lemas. Staminaku terkuras oleh Tante Yana. Saya segera rebahan sembari memeluk Tante Yana sesaat penisku masih tetap tegak namuntidak sekeras barusan.

Sekitar satu minggu berlalu sesudah ML sama Tante Yana. Siang itu saya tengah berada pada tempat tinggal cuma berbarengan pembantu (orang tuaku pulangnya sore atau malam, adikku juga tengah sekolah). Sekitar jam satu-an, saya yang tengah duduk di kursi malas teras, menyaksikan Tante Yana ingin pergi tidak tahu kemana dengan mobilnya. Kulihat Anita tutup pagar serta ia tidak melihatku. Sekitar 10 menitkemudian, telepon rumahku berdering. Saat kuangkat, nyatanya Anita yang menelepon. Suara suaranya agak ketus, menyuruhku ke tempat tinggalnya. Katanya ada yang menginginkan dibicarakan. Di ruangan tamunya, saya duduk bertemu sama Anita. Wajahnya tidak seperti umumnya, tampak jutek, judes, dsb. Berhubung dia sesuai sama itu, saya jadi salah tingkah serta bingung ingin ngomong apa.

Tidak lama Anita mulai bicara duluan dengan suara ketus kembali,
“De, gue ingin bertanya! ”
“Hah? Nanya apaan? ” Saya kaget serta agak dag dig dug.
“Loe saat minggu lantas ngapain sama nyokap gue? ” Dia nanya segera tanpa ada basa-basi.
“Ehh.. minggu lantas? Kapan? Ngapain emangnya? ”
Saya pura-pura tidak paham serta takutnya dia ingin memberikan laporan ke orang tuaku.
“Aalahh.. loe tidak usah belagak bego deh.. Emangnya gue tidak tau? Gue baru pulang sekolah, gue simak sendiri pakai mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe sekali lagi make nyokap gue!! ”
Seketika saya segera kaget, bengong, serta tidak paham sekali lagi ingin ngapain, tubuh telah seperti mati rasa. Batinku berkata, “Mati gue.. bisa-bisa gue diusir dari tempat tinggal nih.. nama baik ortu gue dapat jatoh.. mati deh gue. ”

Anita lantas masih tetap menyambung omongannya,
“Loe napsu sama nyokap gue?? ”
Anita selanjutnya berdiri sembari tolak pinggang. Matanya memandang begitu tajam. Saya hanya dapat diam, bengong tidak dapat ngomong apa-apa. Keringat di leher mengucur. Anita menghampiriku yang cuma duduk diam kaku beku perlahan-lahan masih tetap dengan tolak pinggang serta tatapan tajam. Pipiku telah siap terima tamparan maupun tonjokan akan tetapi buat hal dia juga akan melaporkannya ke orang tuaku serta saya diusir tidak dapat saya pecahkan. Tapi, lagi fakta begitu berlainan. Anita yang pakai kaos terusan yang serupa daster itu, malah buka ikatan di punggungnya serta membukakaosnya. Nyatanya ia tidak kenakan beha serta celana dalam. Jadi di depanku yaitu Anita yang bugil. Takutku saat ini hilang akan tetapi bingungku makin bertambah. “Kalo gitu, loe ingin juga kan sama gue? ” Anita segera mendekatkan bibir seksi-nya ke bibirku. Celana pendekku terlihat kencang dibagian “anu”.

Saat ini yang kurasakan bukanlah ciuman erotis seperti ciuman Tante Yana, akan tetapi ciuman Anita yang lembut serta romantis. Begitu enaknya ciuman dari Anita. Saya segera memeluknya lembut. Badan putihnya serius mulus. Bulu vaginanya sepintas kulihat coklat gelap. Sesegera mungkin saja kulepas celana-celanaku serta Anita buka kaosku. Lumayan lama Anita menciumiku dengan tempatmembungkuk. Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Saya segera membisikkannya, “Nit, kita ke kamarmu yuk..! ” Anita menjawab, “Ayoo.. biarlebih nyaman. ” Anita kurebahkan di ranjangnya sesudah kugendong dari ruangan tamu. Seperti ciuman barusan, kesempatan ini suasananya lebih lembut, romantis serta perlahan-lahan. Anita kadangkala menciumi serta agak menggigit daun telingaku saat saya tengah mencumbu lehernya. Anita juga kadangkala mencengkeram lenganku serta punggungku. Kaki kanannya diangkat sampai ke pinggangku serta kadang kala dia gesek-gesekkan. Dalam fikiranku, mungkin saja kesempatan ini ejakulasiku tidak sepanjang sama seperti Tante Yana karena terangkut romantisnya kondisi.

Dari sini saya dapat tahu kalau Anita itu jenis orang romantis serta lembut. Tapi tetaplah saja nafsunya besar. Jadi dia segera mengarahkan serta menusukkan penisku ke liang senggamanya tanpa ada adegan-adegan beda. Berhubung Anita masih tetap virgin, memasukkannya tidak gampang. Butuh sedikit dorongan serta tahan sakit termasuk juga saya juga. Muka Anita terlihat menahan sakit. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya serta matanya terpejam keras sama seperti keasaman makan buah mangga atau jambu yang asem. Tidak lama, “Aaahh.. aa.. aahh.. ” Anita berteriak lumayan keras, saya takutnya terdengar hingga keluar. Selaput perawannya telah tertembus. Saya coba menggoyangkan maju-mundur didalam liang yang masih tetap sempit itu. Tapi, saya terasa begitu enak sekali senggama di liang perawan. Anita juga ikut-ikutan goyang maju-mundur sembari meraba-raba dadaku serta mencium bibirku. Nyatanya benar perkiraanku. Sedikit sekali lagi saya juga akan ejakulasi. Mungkin cuma sekitaran 6 menit. Meskipun demikian, keringatku lantas tetaplah mengucur. Begitu juga Anita.

Dengan agak menahan ejakulasi, rubahan kurebahkan Anita, kukeluarkan penisku selanjutnya kukocokdi atas dadanya. Mungkin karena masih tetap sempit serta rapatnya selaput dara Anita, batang penisku jadi lebih gampang tergores hingga lebih cepat juga ejakulasinya. Ditambah juga dalam 1 minggu itu saya tidak masturbasi, nonton BF, atau sebagainya. Kemudian, “Crit.. crit.. crott.. ” kembali kujatuhkan spermaku di badan orang buat ke-2 kalinya. Kusemprotkan spermaku di dada serta payudaranya Anita. Kesempatan ini kencrotannya lebih sedikit, akan tetapi spermanya lebih kental. Bahkan juga ada yang hingga tentang leher serta dagunya. Anita yang baru pertamakali lihat sperma lelaki, coba menginginkan tahu bagaimana rasa-rasanya menelan sperma. Anita memperoleh sedikit dengan agakcanggung serta ekspresi berwajah sedikit melukiskan orang jijik, serta selanjutnya menjilatnya.

Selalu, Anita berkata dengan lugu, “Emm.. ee.. De.. jika ‘itu’ bagaimana sich rasa-rasanya? ” sembari menunjuk ke kejantananku yang masih tetap berdiri tegak serta kencang. “Eh.. hmm hmm.. cobain saja sendiri.. ” sembari tersenyum ia memegang batang kemaluanku perlahan-lahan serta agak canggung. Tidak lama, ia mulai memompa mulutnya perlahan-lahan malu-malu karna baru pertama kalinya. Mungkin ia sekalian bersihkan sisa spermaku yang masih tetap menetes di sekujur batangku itu. Kulihat sepintas di lubang vaginanya, ada noda darah yang selekasnya kubersihkan dengan tissue serta lap. Sesudah usai, saya yang tengah kehabisan stamina, terkulai loyo di ranjang Anita, sesaat Anita juga rebahan di samping. Kami keduanya sama suka, terlebih saya yang suka mengerjakan ibu serta anaknya itu.

Jangan Lupa Mampir Di Lapak Lain Ya Gaes!!

Shares 0

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *