Bunga99 agen bola online
Aku Tergoda Tante Girang

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Aku Tergoda Tante Girang

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirAku Tergoda Tante Girang – Saya Iwan, masih tetap kelas 3 di diantara satu SMU di Jakarta Selatan serta tinggal dengan Ayah serta Mami dan adikku Ita yang sekolahnya sama seperti sekolahku, cuma Ita masih tetap duduk di kelas 1 serta masuk siang, sedang segala kelas 3 kebagian masuk pagi. Di rumahku ada juga seseorang pembantu yang agak tua. Perlu untuk diketahui, Ibu kandungku sudah wafat lebih dari satu tahun waktu lalu akibatnya sakit, serta Papaku mengawini adiknya Ibu lebih kurang satu tahun yang saat lalu. Saya dan Ita menyebutnya Mami yang terlebih dahulu memanglah telah kami kenal dengan baik. Habis dia kan tanteku juga.

Aku Tergoda Tante Girang

Mami ini dicerai oleh suaminya, dengar-dengar sich tukasnya karna telah kawin 4 th. tapi belum juga miliki anak. Nah, mungkin saja Ayah terasa telah duda dan tanteku telah janda serta terlebih mereka telah kenal baik terlebih dahulu, jadilah mereka kawin.

Nah, ceritaku ini berlangsung lebih kurang 3 minggu waktu lalu di siang hari saat saya pulang dari sekolah. Sesudah ganti dengan celana pendek serta kaos singlet saja, saya segera makan yang sudah di sediakan oleh Pembantu. Sesudah usai makan, saya punya maksud ke ruangan tamu pengen mendengerkan lagu-lagu dari Laser Disc. Namun pada waktu melalui kamar Ayah serta Mami yang pintunya agak terbuka sedikit, kudengar suara-suara yang agak aneh serta berisik. Karna mau tahu nada apakah itu, kuhentikan langkahku serta kuintip dari pintu kamar Ayah serta Mami yang agak terbuka sedikit barusan. Nyatanya Mami tengah duduk membelakangiku serta tengah memandang TV.

Sesudah keperhatikan lebih jeli, nyatanya Mami tengah nonton film blue dari Laser Disc. Serta kuperhatikan sekali lagi, tangan kiri Mami bergerak maju mundur di sekitaran sisi pahanya. Mamiku ini meskipun telah agak berusia lebih kurang 37 th., tapi saya sangatlah bangga, karna banyak mata yang mengaguminya apabila kami tengah berjalan-jalan di Mall, mungkin saja karna Mami agak seksi serta warna kulitnya yang putih bersih dan bentuk dada yang menonjol cocok. Itu komentar yang sempat kudengar dari sebagian orang kawannya Mami.

Mami yang tengah nonton TV itu kenakan baju atau daster merah muda tidak tebal serta sangatlah minim, habis sich pahanya nyaris terlihat segala, bulu ketiaknya yang lebat terlihat juga. Sayangnya Mami menghadap ke depan, maka yang nampak cuma punggungnya yang putih bersih. Karna sampai kini saya belum juga sempat memandang film sesuai sama itu, lantas kuputuskan buat memandangnya selalu dari celah pintu itu serta memandang adegan untuk adegan. Batang penisku tidak merasa jadi tegang sekali.

Karena sangat asiknya nonton sembari berdiri, ditambah nafsuku tambah meninggi, tidak merasa berdiriku jadi tidak tenang serta dengkulku menyenggol pintu kamar Mami dengan keras. Tapi secara cepat saya mundur menjauhi pintu.
“Iwaan.., kamukah itu..? ” kudengar nada Mami menyebutku, tapi saya tidak menjawab.
“Iwaan.., sini.. doong.. naak..! ” kudengar kembali Mami menyebutku.
Karna tidak enak, lantas saya kembali menuju pintu kamar Mami serta kujawab, “Ada.. apa.. Mam..? ” sembari kuperlihatkan kepalaku.
“Sini.. Wan..! ” kata Mami sembari melambaikan tangannya serta film blue barusan masih tetap selalu jalan.

Karna mau meneruskan nonton film barusan, lantas saya masuk kamar Mami serta Mami meneruskan kata-katanya.
“Wan, sini.., duduk dekat Mami, Mami tahu kok apabila Iwan pingin nonton film itu kan..? ” lanjut Mami sembari menunjuk TV.
“Sini.. Wan.. anda telah besar.. Telah selayaknya anda juga paham. ”
“Maaf ya Mam, saya sudah mengganggu Mami, ” kataku.
“Aaahh.. anda ini, ” kata Mami. “Sudahlah, duduk sini.. kita nonton keduanya sama, ” lanjut Mami sembari mencium pipiku.

Perasaanku jadi tidak karu-karuan bercampur malu saat pipiku di cium Mami, terlebih tercium bau wangi-wangian yang dipakainya merasa harum menusuk hidungku, maka nafsuku tambah menjadi-jadi. Sesudah sebagian waktu cuma diam saja dengan mata kami tetaplah tertuju ke arah TV, mendadak saya dikagetkan dengan pertanyaan Mami.
“Waan, anda.. barusan telah lama ya.. nontonnya dari pintu..? ”
“I.. ya Mam, ” jawabku malu tanpa ada menengok Mami.
“Jadi.. Iwan.. tahu.. Mami.. sekali lagi ngapain..? ” bertanya Mami sekali lagi serta lagi-lagi cuma kujawab pendek dengan tanpa ada melihat ke Mami.

“Waan.., ” kembali Mami menyebutku, tapi kesempatan ini suaranya terdengar agak beda.
Serta saat kuberanikan memandang muka Mami, kulihat ke-2 mata Mami agak berair.
“Waan, Iwan. Jangan pernah salah.. yaa, Mami kerapkali nonton film begini dengan Papamu, yaah.. Mami kira Mami dapat kembalikan keadaan Papamu kembali. Tapi.., hingga waktu ini masih tetap belum juga. ”
“Lho.., memangnya Ayah mengapa Maam..? ” tanyaku karna benar-benar saya tidak tahu apa yang disebut Mami.

“Aduuh.., Iwaan bagaimana sich menjelasinnya sama anda..? Kok anda nampaknya tidak ngerti sekalipun, ” kata Mami.
“Betuul Mam.. ” jawabku, “Iwan benar-benar tidak ngerti.. mengapa sich dengan Ayah..? ” tanyaku kembali.
Lantas Mami menggeser duduknya mendekatiku maka saat ini Mami duduknya telah melekat denganku, maka bau wangi Mami merasa sekali serta buat penisku yang dari barusan telah tegang karna saksikan film jadi lebih tegang sekali lagi.

“Waan, ” kata Mami perlahan-lahan, “Papamu telah lebih kurang enam bln. ini.., ininya.. (sembari mendadak tangan kanannya meremas batang kemaluanku) tidak dapat bangun. ”
“Aaahh.. Mami. ” sahutku sembari berupaya membebaskan tangan Mami dari penisku, meskipun rasa penisku berdenyut enak, tapi saya berupaya melepas tangan Mami, karna malu serta terlebih sampai kini belum juga sempat penisku dipegang oleh orang yang lain.
“Waan, Mami kan masih tetap kepingin. Tapi.. yaahh.. karna miliki Papamu tidak dapat bangun, jadi.. terpaksa sekali Mami lakukan seperti yang Iwan saksikan barusan.

“Maam, Mami kepingin apa sich.. serta barusan.. Iwan.. tidak saksikan terang.., Mami.. barusan ngapain sich..? ” tanyaku lebih berani.
“Waan, Mami kan masih tetap kepingin seperti yang di TV itu lho.. serta.. ini.. lho.. Waan, ” sembari tangannya ambil suatu hal dari bawah bantal serta diunjukkan padaku.
Sesudah kulihat, nyatanya manian yang bersifat penis. Oh.., rupanya itu yang barusan dimaju-mundurkan. Lantas kami berdiam sesaat serta kembali memandang TV yang adegannya makin seru.

“Waan.., ” mendadak saya dikagetkan oleh panggilan Mami.
“Yaa.. Maam, ” kujawab sembari menengok ke arah Mami.
“Waan, bisa.. Mami.. saksikan punyamu..? Mami rasakan barusan kok.. punyamu.. besar benar serta.., keras sekali lagi..? ” lanjut Mami.
“Maam, janganlah.. aahh.. Maam, Iwan.. maluu.., terlebih kelak ada orang yang lain yang.. saksikan, ” jawabku sekenanya.
“Lhoo.., kok sama.. Mami sendiri maluu..? Di sini kan hanya kita berdua. Waan, bisa yaa.. Waan..? ”
Serta tanpa ada menanti jawabanku, bahuku didorong Mami sampai rebah ditempat tidur, serta Mami dengan cekatan buka resleting celana pendekku serta menarik turun dengan CD hingga lepas dari tubuhku.

“Aduuh.. Waan, besar benar punyamu ini, ” komentar Mami sembari memegang batang kemaluanku serta memijatnya perlahan.
Saya cuma pejamkan mataku sembari nikmati nikmatnya penisku yang tengah dipegang Mami.
“Waan.., Mami enakin seperti yang di TV.. yaa..? ” kata Mami sekali lagi, serta kudiamkan saja pertanyaan Mami sembari menanti serta mau tahu apa yang juga akan dikerjakan Mami.
Tiba-tiba.., “Huub.., ” penisku yang berdiri tegak itu sudah masuk seluruhnya kedalam mulut Mami serta sangatlah merasa sekali saat Mami mulai mengisap serta mengocok maju mundur dengan mulutnya.
“Maam.. Maam.. eenaak.. Maam.. eenaak.. Maam.., ” tidak merasa saya berkomentar sesuai sama itu karna rasakan kesenangan yang fantastis.
Dari mulut Mami yang tersumpal dengan batang kemaluanku cuma terdengar bunyi, “Hhhmm.. hhm.. hhmm.., ” sembari tangannya mempermainkan ke-2 biji kemaluanku.

Batang kemaluanku merasa seperti tersedot-sedot, serta kadang-kadang merasa lidah Mami tentang kepala penisku serta menaikkan keenakan yang pertama kalinya kualami, serta dengan cara tidak sadar kepala serta rambut Mami kuremas-remas dengan ke-2 tanganku sembari kadang-kadang kutekan kepalanya, maka semua batang kemaluanku merasa masuk segala kedalam mulut Mami.

Sebagian menit lantas, Mami membebaskan batang kemaluanku dari mulutnya, serta datang menghampiriku sembari mencium pipiku serta berbisik di dekat telingaku.
“Waan, enaak.. Waan..? ”
Karna memanglah saya jadi keenakan, serta terlebih ini jadi pengalaman pertamaku, kujawab dengan jujur.
“Iyaa.. Maam.., enaak sekali terasa. ”
Lantas kudengar Mami berbisik sekali lagi, “Iwaan.., saat ini.. Iwan pengen kan tolongin Mami..? ”
Karna saya betul-betul tidak tahu apa yang bertujuan Mami, segera saja kutanyakan, “Maam, tolongin.. apaan..? ”
“Aduh.. Waan, ” kata Mami sekali lagi seperti keheranan.
“Itu.. lho Waan.. tolong ciuum tetek Mami seperti yang Iwan saksikan di TV itu..! ” kata Mami sembari membebaskan dasternya sembari selalu tiduran.
Saat ini baru kulihat dari dekat payudara Mami yang sangatlah putih dengan kepala susunya yang kecoklatan. Karna nafsuku telah meninggi serta mau selekasnya coba apa yang kulihat di TV barusan, tanpa ada menjawab kalimat Mami, segera saja saya bangun serta mendekati payudara Mami. Pertama kucium payudara Mami kanan-kiri dengan kepalaku agak kutekan, lantas seperti yang kulihat barusan di TV, kujilati payudaranya serta kadang-kadang kusedot puting susu Mami yang kecoklatan itu, serta mungkin saja karna keenakan, kudengar Mami berguman.
“Iwaan.. Waan teruss.. Waan.. enaak.. teruus.. Waan..! ” sembari ke-2 tangannya meremas-remas rambutku.

Mendengar kalimat Mami itu, nafsuku makin meninggi serta berupaya coba buat Mami lebih enak, terlebih kuingat kalau Mami telah enam bln. ini tidak sempat memperolehnya dari Ayah. Sedotan serta jilatanku di sekitaran payudara Mami lebih kupergiat, terlebih saat ini tangan kanan bukanlah sekali lagi meremas rambutku, namun telah meremas serta mengocok batang kemaluanku. Sembari berguman, “Enaak.., Waan.. enaak. Teruuss Waan..! ” serta kembali ke-2 tangan Mami meremas rambutku lebih kuat sekali lagi.

Sesudah sebagian waktu, merasa remasan-remasan tangan Mami di kepalaku itu seperti dibarengi dengan dorongan supaya kepalaku turun ke bawah. Meskipunpun tanpa ada kalimat serta masih tetap ingat dengan adegan TV yang saya pernah lihat barusan, saya jadi sangat percaya apabila saat ini Mami menyuruhku buat geser serta mencium sisi vaginanya. Tanpa ada menanti dorongan Mami sekali lagi, kuturunkan tubuhku pelan-pelan sembari kujilati sisi tubuh Mami dari mulai perut, selalu ke pusar serta selalu turun ke sisi bawah pusar Mami, serta saat ini sudah tiba di kemaluan Mami yang masih tetap tertutup dengan CD-nya. Tercium bau kemaluan Mami yang membuatku makin bernafsu.

“Waan.., ” kudengar panggilan Mami dengan ke-2 tangannya tetap masih meremas-remas rambutku.
“Too.. loong.. buu.. kaa celananya Waan..! ” tukasnya lanjut.
Tanpa ada menanti lebih lama, serta karna saya mau memandang bentuk aslinya vagina itu seperti bagaimana, pelan-pelan kutarik turun celana dalam Mami. Saat saya kesusahan menarik turun selanjutnya karna terdindih pantat Mami, Mami mengangkat pantatnya sedikit, serta dengan gampang CD-nya kulepas.

Kulihat dihadapanku, vagina Mami yang seputarnya ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang halus. Tidak ada yang menyuruh, lantas kucium serta kujilati pada sisi belahan vagina Mami sembari mempraktekkan seperti apa yang kulihat di film barusan, sedang Mami selekasnya menggerakkan pantatnya, serta kepalaku kembali diremas-remas serta ditekannya. Saat saya cobalah menjulurkan lidahku menusuk belahan kemaluan Mami, merasa lidahku terserang cairan dari dalam vagina Mami yang agak asin, sedang ke-2 kaki Mami dengan cara perlahan direnggangkan.

Karna tidak sabar, kubantu buka ke-2 kaki Mami maka saat ini kakinya terbuka lebar, serta saya ada ditengah. Serta karna saya mau tahu lebih jauh mengenai vagina, terlebih baru kesempatan ini kulihat dari jarak sangatlah dekat, jadi kugunakan ke-2 tanganku buat buka belahan kemaluan Mami. Kulihat dengan terang pada sisi atas ada seperti daging menonjol bersifat seperti kerucut serta ada lubang kecil, dalam fikiranku mungkin saja ini yang dimaksud orang klitoris. Sedang pada sisi dalam vagina Mami, seluruhnya berwarna kemerahan serta basah oleh cairan. Agak ke bawah sekali lagi nampak ada sisi yang berlubang sebesar jari kelingking.

Melihat segala isi kemaluan Mami, saya jadi teringat pelajaran Anatomi yang di ajarkan di sekolah. Melihat ini segala, nafsuku makin meninggi serta tidak ada yang menyuruh sekali lagi serta karna saya barusan mampu pelajaran dengan memandang film blue baru saja, lantas sembari masih tetap memegangi ke-2 bibir kemaluan Mami, kujilat serta kuhisap klitoris Mami. Tiba-tiba Mami menggelinjang kuat sembari ke-2 tangannya meremas rambutku tambah kuat serta berguman agak kuat.

“Iwaan.. arrchh.. uu.. Waan.. aarcchh.. enaak Waan.. teruu.. ss.., aarrchh.. aduuh Waan.. enaakk.. teruus..! ” kudengar Mami mengoceh selalu serta membuatku tambah semangat mengisap serta menyedot semua sisi kemaluan Mami.
Mulai dari bibir kemaluan, klitoris, sisi dalam, hingga semua kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang yang berada di vagina Mami. Berikut barangkali yang buat pergerakan pantat Mami jadi lebih menggila serta terus menerus mengoceh.

“Aduuh.., Waan.. enaak.. teruus.., archh.. enak Waan, aduh.. Waan.. Mamii.. mauu.., sampee.., aarchh..! ”
Kedua kaki Mami telah melingkar kuat diatas punggungku, serta kepalaku ditekannya kuat-kuat dalam vaginanya, dan semua wajahkuku saat ini penuh dengan cairan-cairan yang keluar dari vagina Mami, tapi tidak kuperdulikan, habis.. enak sich. Kemudian ocehan Mami berhenti, serta tubuh Mami lantas tampak lemas lunglai, serta yang terdengar hanya nada nafasnya yang cepat seperti habis lari marathon.

Melihat Mami sesuai sama itu, saya meyakini seandainya Mami belum lama menjangkau puncaknya. Karna kasihan memandang Mami yang tengah terengah-engah kecapaian, kuhentikan jilatan serta sedotan mulutku ke liang senggama Mami, serta kuletakkan kepalaku di paha Mami serta kuelus-elus kemaluan Mami sembari menanti apa yang bakal diperintah oleh Mami sekali lagi. Sesudah kudengar nafas Mami mulai agak teratur, kurasakan ke dua tangan Mami yang masih tetap memegang kepalaku itu berupaya menarikku ke atas sembari berkata lirih.
“Iwaan.. ke sinii.. Sayaang..! ”
Saya selekasnya merangkak, hampiri Mami yang masih tetap tiduran kepandaianng.

Mami sembari menggeser tubuhnya sedikit, meneruskan kata-katanya, “Sinii.. Waan.. tiduran di samping Mami. ”
Dengan perasaan kurang enak, malu serta beda sebagainya, saya berupaya menentramkan diri serta tiduran di samping Mami. Mami selekasnya merangkulku serta selalu mencium pipiku, serta selalu seperti berbisik di dekat telingaku.
“Waan.., kamuu.. kok.. pandai benar barusan.., Iwan telah sempat yaa.. diawalnya..? ”
“Dengan.. pacarmu yaa..? ” sambung Mami sekali lagi.
“Beel.. uumm.. Maam, swear.., ” kataku cepat, “Kan.. belajar dari.. film yang Mami putar barusan. ”
“Oohh.., bermakna Iwan murid yang cerdas doong, ” puji Mami sembari tetaplah memelukku serta kembali mencium pipiku.
Agar Mami agak suka, kucium juga pipinya, serta tak tahu bagaimana awalnya, tahu-tahu bibirku sudah di cium Mami.

Kalau masalah ciuman, kuakui saya memanglah sempat mencium pacarku, jadi disaat lidah Mami menjulur masuk ke mulutku, pelan-pelan kuhisap lidahnya. Mungkin karna lidahnya kusedot, Mami segera jadi beringas serta memelukku erat-erat. Ciumannya jadi lebih hot serta sudah pasti saya tidak ingin tidak sesuai keinginan Mami, terlebih tangan Mami yang satunya telah mengocok-ngocok penisku, jadi kuimbangi ciuman Mami sembari satu diantara tanganku kuremas-remaskan ke payudara Mami.

Beberapa kala lalu, tanganku kupindahkan ke vaginanya serta klitoris Mami kugosok-gosok dengan jariku. Hal semacam ini buat kocokan tangan Mami di batang kemaluanku jadi lebih cepat, buat nafasku jadi lebih tidak teratur serta nafas Mami kembali terengah-engah. Sesudah berapa menit berciuman serta nafas kami berdua telah tidak teratur sekali lagi, dengan perlahan-lahan Mami hentikan kocokan di penisku, serta hentikan ciumannya juga selalu berbisik di dekat telingaku.
“Iwaan, Mamii sudaah.. tidak.. tahaan Waan.. toloong.. punyanya Waan.. dimasukin.. ke Mamii.., Waan. Ayoo.., Waan..! ”

Mendengar kalimat Mami ini, nafsuku jadi lebih menjadi-jadi, tapi perasaanku juga jadi lebih bingung, karna pernah terpikir Mami kan istrinya Papaku serta Mami meskipun bukanlah Ibu kandungku, tapi saat ini kan sudah jadi Mamaku. Saya berupaya melawan kebingungan ini, serta tersentak dari lamunanku disaat mendengar Mami kembali agak berbisik dengan nada yang sedikit menghiba.
“Iwaan.. ayoo.. Sayaang.. tolongiin.. Mamii.. Waan..! ”
Serta seperti tanpa ada berfikir, saya menjawab sekenaku, “Maam.. boo.. leeh.. Maam..? ” tanyaku, serta kulanjutkan pertanyaanku karna masih tetap sangsi, “Nggak.. apa-paa. Maam..? ”
“Ii.. yaa.. Sayaang.., boleeh.. bisa.., Waan. ” jawab Mami sembari mencium bibirku.

“Sinii.. Sayaang..! ” kata Mami sembari menarik tubuhku.
“Coba tempatkan tubuhmu diatas Mami, ” lanjutnya.
Saya selekasnya bangun serta kunaiki tubuh Mami pelan-pelan. Serta sesudah saya ada diatas tubuh Mami, kurasakan Mami buka ke dua kakinya lebar-lebar.
“Sinii.. Waan, Mami bantu.., ” kata Mami sembari memegang batang kemaluanku serta dibimbingnya ke arah vagina Mami.
Saya cuma menurut saja apa yang di katakan Mami, maklum saya masih tetap sangat buta, serta ini bakal jadi pengalaman pertamaku.

“Sudaah, Waan, saat ini tekan pantatmu pelan-pelan..! ” perintah Mami serta kuikuti keinginan itu dengan menghimpit pantatku pelan-pelan.
Tapi belum lama sedikit saya menghimpit pantatku, penisku merasa seperti tertahan di vagina Mami, serta mendadak tangan Mami menahan pergerakan turun pantatku serta berbisik sembari sedikit meringis.
“Aduuh.. Waan, tahaan duluu.. saa.. kiit.. Waan. ”
Kuhentikan desakan pantatku serta kuangkat sedikit disaat mendengar yang dirasakan Mami.

“Iwaan.. pelan-pelan yaa Sayaang. Sudah lama Mami tidak begini.. dengan Papamu, terlebih.. punyamu.. itu besaar sekali, semakin besar dari miliki Papamu.., ” kata Mami lemah tapi membuatku jadi begitu bangga karna punyaku di katakan Mami masih tetap semakin besar dari miliki Ayah.
“Sekarang.. bagaimana Maam..? ” tanyaku tidak sabar pingin selekasnya memasukkan penisku dalam liang senggama Mami.
“Waan.., ” kata Mami sekali lagi, “Coba naik turunkan pantatmu pelan-pelan, serta kelak seandainya pantatmu Mami tahan, bermakna anda mesti tarik pantatmu ke atas, serta saat pantatmu tidak Mami tahan, anda bisa tekan sekali lagi. Beberapa kali.. hingga kelak anda dapat rasakan sendiri seandainya punyamu telah masuk dalam miliki Mami, bisaa.. kan Waan..? ” kata Mami sembari mencium bibirku.
“I.. yaa Maam, Iwan cobalah saat ini.. yaa. ” jawabku.

Lantas kuikuti pelajaran yang didapatkan Mami. Tapi disaat pantatku kutekan, seringkali kulihat muka Mami sedikit meringis seperti menahan rasa sakit. Sesudah berapa kali kunaik-turunkan pantatku pelan-pelan, satu kala pantatku jadi ditekan agak keras oleh ke dua tangan Mami serta merasa batang kemaluanku seperti terjeblos dalam lubang.
“Bleess.. ” serta kudengar Mami agak berteriak, “Aaacchh.., Iwaan.., ” sembari seperti menahan nafasnya.
Karna kaget dengan teriakan Mami, kutahan pergerakanku serta kudiamkan sebentar sembari menanti reaksi selanjutnya dari Mami yang sekarang ini tengah pejamkan matanya.

Tapi belum lama saya ingin berfikir apa yang bakal Mami laksanakan atau katakan, merasa batang kemaluanku seperti tersedot-sedot serta dipijat. Sedotan serta pijatan di penisku ini merasa begitu kuat sekali, serta merasa begitu enak. Karna rasa sedotan serta pijatan di batang kemaluanku merasa sangat nikmat, dengan tidak sadar saya kembali menghimpit penisku masuk.
“Bleess..! ” serta kembali kudengar Mami sedikit berteriak, “Waan.., aarrchh.. saakiit, ” sembari ke dua tangan Mami sedikit mendorong pantatku.
Sangat terpaksa kuhentikan desakan penisku, tapi kurasa penisku telah masuk semua dalam liang senggama Mami sembari menanti reaksi Mami.

Tidak lama lalu, tangan Mami menghimpit pantatku serta kurasakan kembali sedotan-sedotan serta pijatan-pijatan yang begitu kuat di batang kemaluanku. Karna rasa enak ini, dengan tidak sadar saya mulai menaik-turunkan pantatku pelan-pelan hingga penisku naik turun didalam lubang vagina Mami, serta Mami lantas mulai menggerakkan pantatnya naik turun ikuti irama gerakan penisku yang naik turun. Mami mulai keluarkan desahan-desahan.

“Waan.. teeruuss.. Sayaang.. aachh.. enaak.. Waan.. aduuh.. enaak.. Waan. ”
Kurasakan batang kemaluanku sangat hangat didalam vagina Mami yang begitu basah, hingga setiap saat tedengar bunyi, “Ccrreet.. creett.. ”
Hal semacam ini membuatku jadi lebih percepat pergerakan penisku naik turun.
Tidak sadar terucap, “Maam.. Iwaan.. jugaa.. enaak.. Maam, ayoo Maam..! ” sembari ke dua tanganku mencengkeram kepala serta rambut Mami.

Beberapa menit lalu, kurasakan pergerakan tubuh serta pantat Mami jadi lebih liar serta jadi lebih cepat, juga ke dua tangannya mencengkeram kuat di punggungku. Mendadak ke dua kaki Mami dilingkarkan kuat-kuat diatas pantatku serta memeluk tubuhku kuat-kuat sembari berteriak cukup kuat.
“Waan, Mamii.. nggaak.. kuaat.. mauu.. keluaar.. aacrrhh.. aacrhh.. ” serta selalu terdiam dengan matanya tertutup serta nafasnya memburu terengah-engah.
Melihat Mami terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah itu, saya terasa kasihan serta selekasnya kuhentikan pergerakan penisku naik-turun, tapi dengan tempat batang kemaluanku masih tetap tenggelam seluruh didalam liang senggama Mami.

Sesudah nafas Mami mulai agak teratur. Mami buka matanya serta selekasnya mencium bibirku sembari berkata lirih.., “Iwaan, terima kasiih yaa.. Sayaang.., Iwaan pintaar.. serta.. dapat muasin Mami. ”
Kembali bibirku diciumnya, serta selekasnya kujawab.., “Maam.., Iwan tidak tahu.. Maam, tapi Iwan sayaang.. Mami serta Iwan.. mauu Mami suka. ”

Sesudah kami diam sesaat dengan tempat masih tetap seperti barusan, lantas kuberanikan ajukan pertanyaan ke Mami.
“Maam, jadi saat ini telah tuntas..? Kalau sangat.. Iwan.. cabut.. ya.. Maam..? ”
“Jaangaan.. Waan, ” jawab Mami sembari mengencangkan pelukannya, “Sebentar sekali lagi kita teruskan seperti barusan.. hingga Iwan.. menjangkau klimaks, ” sambung Mami.
“Klimaks bagaimana Maam..? ” tanyaku tidak memahami.
“Aduuh.. Iwaan, ” jawab Mami sembari memencet hidungku, “Nanti Iwan tentu tahu sendiri deh. Nanti Iwan merasa seperti ingin kencing, lantas Iwan cobalah tahan sepanjang barangkali, lantas bebaskan seandainya telah tidak kuat, serta dari punyamu bakal keluar air mani yang menyemprot, ” lanjut Mami.
Saya cuma menjawab singkat, “Iyaa.. Maam, Iwan.. memahami. ”

Sesudah kami diam sebentar, Mami lantas berkata, “Waan, toloong cabut punyamu duluu Waan, Mami ingin mengelap miliki Mami agar agak kering, agar kita saling enak nanti.
“Bener juga kata Mami, ” kataku dalam hati, “Tadi memek Mami merasa begitu basah sekali. ”
Lantas pelan-pelan batang kemaluanku kucabut keluar dari vagina Mami, serta kuambil handuk kecil yang berada di tempat tidur sembari kukatakan, “Maam, agar Iwan saja yang ngelap.. boleeh Maam..? ”
“Terserah kamuu.. deh Waan, ” jawab Mami pendek sembari buka ke dua kakinya lebar-lebar.
Saya merangkak mendekati vagina Mami, serta sesudah dekat dengan kemaluan Mami, lantas kukatakan, “Iwan bersihkan saat ini yaa.. Maam..? ”
Kudengar Mami cuma menjawab pendek, “Yaa, boleeh Sayaang. ”

Lantas kupegang serta kubuka bibir kemaluan Mami, serta kutundukkan kepalaku ke vaginanya. Lantas kusedot-sedot klitoris Mami agak kuat serta pantat Mami tergelinjang keras, barangkali karna kaget.
“Iwaan.., anda nakaal.. yaa. ”
Hisapan serta jilatan kembali kulakukan di seluruh sisi kemaluan Mami, serta buat Mami menggerak-gerakkan selalu pantatnya. Kedua tangannya kembali menghimpit kepalaku. Beberapa kala lalu, merasa kepalaku seperti ditarik Mami.
“Iwaan.., sudaah.. Sayaang.., Mami tidak tahaan. Sini.. yaang..! ”

Lantas kuikuti tarikan tangan Mami. Tanpa ada diminta, saya segera naik diatas tubuh Mami serta kemudian kudengar Mami seperti berbisik di telngaku.
“Iwaan, masukiin.. punyamu.. Sayang. Mami telah tidak tahaan.. Yaang..! ”
Tanpa ada menghabiskan waktu, kuangkat ke dua kaki Mami serta kutaruh diatas bahuku sembari pingin mempraktekkan seperti apa yang kulihat di film barusan. Sembari kupegang batang kemaluanku, kuarahkan ke vagina Mami yang bibirnya terbuka lebar. Lantas kutusukkan pelan-pelan, dan Mami dengan tutup matanya seperti pasrah saja dengan apa yang kuperbuat.

Karna vagina Mami tetap masih basah serta terlebih baru kujilat serta kuhisap-hisap, buat kemaluan Mami jadi lebih basah, hingga sodokan penisku bisa dengan gampang masuk lubang kemaluan Mami.
Untuk memberikan keyakinan apakah penisku telah masuk vagina Mami apa belum juga, sembari tetaplah kutusukkan penisku, saya ajukan pertanyaan, “Maam, sudaah.. maasuuk..? ”
Kudengar Mami menjawab, “Iii.. yaa.. Saayaang, teeruuskan.. yang dalaam..! ”
Karna kurasa telah benar serta Mami memohonku utk lebih dalam, lantas kehentakkan batang kemaluanku agak kuat masuk dalam vagina Mami.

Mulai kuayunkan penisku keluar masuk liang senggama Mami secara cepat, hingga tubuh Mami bergoyang semuanya sesuai sama ayunanku, dan ke-2 buah dada Mami juga bergoyang-goyang keras, sedang dari mulut Mami kudengar desisan.
“Sshh.. shh.. Waan.. teruuss.. Yaang.. shh.. aduuh.. enaak Waan, teruus.. yg dalaam.. Yaang..! ”
Karena tidak tahan mendengar ocehan-ocehan Mami, hingga hal tersebut buat nafsuku makin bertambah.

Sembari mepercepat ayunan penisku keluar masuk vagina Mami, dengan tidak sadar keluar dari mulutku, “Maam, sshh.. Maam, Iwaan.. juuga.. sschh.. enaak.. ”
Karena rasa enak yg tidak bisa kuungkapkan di sini, semakin kupercepat pergerakan batang kemaluanku keluar masuk liang senggama Mami. Terlebih kadang-kadang merasa penisku seperti tersedot-sedot atau terhisap oleh kemaluan Mami.
Lantas dengan refleks tercetus dari mulutku, “Maam.., kelihatannya Iwaan.. telah kepingin.. seperti yg.. Mamii.. katakan tadii.. dicabuut.. yaa.. Maam..? ”
Sedang Mami, mungkin saja sesudah mendengar kata-kataku baru saja, lantas juga mepercepat semuanya pergerakan tubuhnya, dan melepas ke-2 kakinya dari bahuku dan memelukku kuat-kuat sembari berkata tersendat-sendat.

“Iwaan, jangaan.. Yaang.., janganlah..! Biakan.., Mamii.. jugaa. telah ingin keluaar Yaang..! Ayoo.. kitaa.. samaa.. samaa Yaang..! ”
Saya telah kehilangan kesadaran lantaran keenakan serta terlebih mendengar kalimat Mami yg cukup merangsang ini.
Lantas, “Maam..! ” teriakku agak panjang sembari kepala serta rambut Mami kuremas serta kujambak kuat-kuat.
Berbarengan dengan teriakanku, Mami juga mendadak berteriak cukup keras sembari ke-2 kakinya dilingkarkan kuat-kuat ke pantatku serta rambutku di remas-remasnya.

Saya dengan nafas terengah-engah, tertelungkup lemas diatas tubuh Mami. Serta Mami juga kulihat lemah lunglai dengan nafas terengah-engah sembari tutup ke-2 matanya, berupaya menentramkan diri dengan mengatur nafasnya. Sesudah nafasku agak teratur, kucium bibir Mami lantas kubisikkan di telinga Mami.
“Maam.., terimaa kasih Maam, Iwaan.. sayaang Mamii, ” kataku sembari kembali kucium bibir Mami, sedang Mami masih tetap pejamkan matanya serta nafasnya telah kembali teratur.
Ia menjawab, “Iwaan.., Mami puaas Sayang. Terima kasiih Waan, ” tuturnya sembari memiringkan tubuhnya hingga tempat kami saat ini jadi tiduran sama-sama bertemu serta penisku yang merasa masih tetap tegang itu masihlah ada dalam liang senggama Mami.

Sebagian sementara lantas sembari sama-sama melihat serta berpelukan, kutanyakan pada Mami, “Maam.., miliki Iwan bisa Iwan cabut..? ”
Mami sembari memencet hidungku menjawab, “Jangan dahulu Sayang. Biarin dahulu didalam miliki Mami. Mami masih tetap kepingin rasakan punyamu yg besar itu. ”
“Coba deh Waan. Cobalah Iwan kocok keluar masuk miliki Iwan, agar Mami dapat rasakan nikmatnya punyamu, ” tuturnya sekali lagi sembari di antara kaki Mami diangkatnya serta ditempatkan diatas pinggulku.

Tanpa ada menanti kalimat Mami yang lain, lantas kumulai memaju-mundurkan pelan-pelan batang kejantananku kedalam vagina Mami. Mami kulihat pejamkan matanya seperti tengah nikmati gesekan-gesekan penisku yg keluar masuk lubang kemaluannya. Tapi sesudah sebagian sementara, kurasakan dalam tempat miring ini kelihatannya masuknya kemaluanku kedalam vagina Mami merasa kurang dalam. Lantas, dengan perlahan-lahan kudorong bahu Mami hingga kekuatanng. Serta berbarengan dengan doronganku, kunaiki badan Mami, hingga batang kemaluanku yg berada di dalam vagina Mami tidaklah sampai lepas. Mami kelihatannya jelas kemauanku, serta kelihatannya jadi membantuku dengan memeluk tubuhku rapat-rapat dan buka kakinya lebar-lebar.

Lantas kuayun penisku perlahan keluar masuk kemaluan Mami. Karena Mami masih tetap diam saja, serta masih tetap tutup ke-2 matanya, lantas kutanyakan sembari berbisik di dekat telinganya.
“Maam.., bagaimana Maam, enaak apa tidak miliki Iwaan..?
Kulihat Mami buka matanya, lantas mencium bibirku dan selalu berbisik.
“Wan.., teruuskan.. Saayaang, Mami menikmatinya Wan,
Sesudah Mami usai menjawab pertanyaanku, kurasakan Mami mulai mengerakkan serta memutar pantatnya perlahan.

Karena Mami mulai menggerakkan pantat atau pinggulnya sekali lagi, kuputuskan untuk hentikan pergerakan kemaluanku keluar-masuk dengan tempat penisku telah masuk semuanya kedalam liang senggama Mami. Menginginkan rasakan nikmatnya pergerakan Mami, tapi mungkin saja lantaran rasakan, saya saat ini diam, Mami turut berhenti juga serta buka matanya lantas memandangku sayu seperti ajukan pertanyaan.
“Kenapa diam.. Wan..? ”
Supaya Mami tidak ajukan pertanyaan seterusnya, lantas kukatakan di telinga Mami, “Maam.., Iwan diam lantaran kepingin rasakan sedotan serta pijatan seperti barusan Maam. ”
Mami cuma tersenyum serta dipegangnya kepalaku, lantas diciumnya pipiku sembari berbisik, “Waan.., anda mulai nakal.. yaa..? Niih.. Mami.. kasih.. apa yg Iwaan minta..! ” lanjut Mami sembari memeluk tubuhku.

Selang beberapa saat, merasa batang kemaluanku seperti disedot-sedot serta beri pijatan, dari mulai lemah, semakin kuat serta kuat, hingga dengan tidak sadar saya berbisik agak keras.
“Maam.., enaak.. enaak.. Maam.. Aduh enaak.. aahh.. enaak.. Maam, ”
Karena sedotan serta pijatan di batang kemaluanku merasa makin kuat, dengan tidak sadar kumulai sekali lagi mengocok penisku keluar masuk vagina Mami. Sebelumnya perlahan, lantas kupercepat.
Karena nikmatnya, saya segera katakan, “Maam.., enaak Maam.. Iwaan.. ingin sekali lagi Maam. Ayoo Maam..! ”
Mungkin saja lantaran melihatku mulai bernafsu sekali lagi, Mami segera mulai menggerakkan pinggulnya sekali lagi yg semakin lama semakin cepat.

Selang sebagian lama, saya rasakan apabila air maniku telah ingin keluar, tapi kucoba menahannya sepanjang mungkin saja.
Mendadak, “Mami.., Maam.., Iwaan sudaah ingin keluar.. ”
Mendengar bisikanku ini, kurasakan pergerakan pinggul Mami makin cepat serta pelukan tangannya di tubuhku juga makin keras.
“Waan.., Mami juga telah dekat Waan.. Ayoo Waan.. keduanya sama..! ”
Belum hingga Mami selesaikan kata-katanya, saya berteriak agak keras, “Mamii.. Iwaan keluar.. ahh.., ” sembari kubenamkan semua batang kemaluanku kuat-kuat kedalam vagina Mami.
Berbarengan dengan teriakanku itu, kudengar Mami juga berteriak cukup kuat, “Iwaan.., Maamii keluaar.. jugaa.. Mari Wan, cepaat.. archh..! ”
Dengan nafas tersengal-sengal, kutelungkupkan tubuhku yg lemas itu diatas tubuh Mami, serta Mami dengan juga nafasnya yg terengah-engah, tergeletak seperti tidak bertenaga dengan ke-2 tangannya terkapar di samping tubuhnya.

Sesudah nafasku sedikit teratur, kucabut batang kemaluanku dari dalam liang senggama Mami. Kujatuhkan tubuhku tiduran di samping Mami, serta terdengar Mami berbisik, “Terima.. kasiih.. yaa.. Sayang..! ”
Serta sesudah berhenti sesaat, sembari mencium pipiku, Mami berkata sekali lagi, “Waan.., ini cuma kita berdua ya yg tahu, Papamu atau adikmu jangan lantas tahu ya Wan. ”
Agar hati Mami tenang, lantas kujawab, “Maam, Iwan dapat jagalah itu.., terima kasiih ya Maam, ” sembari kucium pipi Mami.
Saya selalu bangun serta mandi dengan Mami di kamar mandi Mami.

Artikel Menarik lain

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *