Bunga99 agen bola online
Bau Keringat Wanita Dewasa

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Bau Keringat Wanita Dewasa

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirBau Keringat Wanita Dewasa. Jakarta yg panas membuatku kegerahan diatas angkot. Kantorku tidak lama sekali lagi terlihat di kelokan depan, lebih kurang 100 mtr. sekali lagi. Tetapi saya masih tetap senang diatas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih tetap ada saat bebas dua jam. Kerjaan hari ini udah kugarap semalam. Daripada jemu diam dirumah, barusan malam saya merampungkan kerjaan yg masih tetap menumpuk. Kerjaan yg menumpuk sama merangsangnya dengan seseorang wanita dewasa yg keringatan di lehernya, yg aroma badannya tercium. Aroma asli seseorang wanita. Baunya memanglah agak beda, tapi sanggup buat seseorang bujang menerawang sampai jauh ke alam yg belum juga sempat ia rasakan.

Bau Keringat Wanita Dewasa

“Dik.., janganlah di buka lebar. Saya dapat masuk angin. ” kata seseorang wanita 1/2 baya di depanku perlahan.
Saya tersentak. Masih tetap melongo.
“Itu jendelanya dirapetin dikit.., ” tuturnya sekali lagi.
“Ini..? ” kataku.
“Ya itu. ”
Ya ampun, saya memikirkan nada itu berbisik di telingaku diatas ranjang yg putih. Keringatnya meleleh seperti yg kulihat saat ini. Napasnya tersengal. Seperti kulihat saat ia baru naik barusan, sesudah menguber angkot ini sebatas agar dapat secuil tempat duduk.

“Terima kasih, ” tangkisnya enteng.
Saya sebenarnya menginginkan ada suatu hal yg dapat diomongkan sekali lagi, hingga tidak butuh curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yg terbuka cukup lebar hingga kelihatan garis bukitnya.

“Saya juga tidak sukai angin kencang-kencang. Namun saya gerah. ” meloncat demikian saja kalimat itu.
Saya belum juga sempat berani bicara begini, di angkot dengan seseorang wanita, separuh baya sekali lagi. Bila saat ini saya berani tentu lantaran dadanya terbuka, tentu lantaran peluhnya yg membasahi leher, tentu lantaran saya sangat terbuai lamunan. Ia jadi melengos. Sial. Lantas asik buka tabloid. Sial. Saya tidak bisa sekali lagi memandanginya.

Kantorku udah lewatkan. Saya masih tetap diatas angkot. Wanita paruh baya itu juga masih tetap duduk di depanku. Masih tetap menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis dimuka suatu salon. Saya cermati ia mulai sejak bangkit sampai turun. Mobil bergerak perlahan, saya masih tetap lihat ke arahnya, untuk meyakinkan ke mana arah wanita yg berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sembari mendekati pintu salon. Ia kerja disana? Atau ingin gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, berbarengan masuknya mobil beda di belakang angkot. Sial. Dadaku mendadak berdegup-degup.

“Bang, Bang kiri Bang..! ”
Semua penumpang melihat ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?
“Pelan-pelan suaranya kan dapat Dek, ” sang supir menggerutu sembari memberi kembalian.
Saya membalik arah lantas jalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., pada akhirnya. Namun, mendadak keberanianku hilang. Apa tuturnya kelak? Apa yg saya mesti menyebutkan, lho barusan kedip-kedipin mata, tujuannya apa? Mendadak jari tanganku dingin segala. Wajahku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Kebanyakan orang bebas masuk asal miliki uang. Bodoh sangat. Come on lets go! Langkahku semangat sekali lagi. Pintu salon kubuka.

“Selamat siang Mas, ” kata seseorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..? ”
“Massage, bisa. ” ujarku sekenanya.
Saya diarahkan ke suatu tempat. Ada sekat-sekat, tidak tertutup seutuhnya. Tetapi mulai sejak barusan saya tidak lihat wanita yg lehernya berkeringat yg barusan mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, cuma pura-pura masuk. Ah. Shit! Saya tertipu. Namun tidak apa-apa toh tipuan ini menuntunku ke ‘alam’ beda.

Dahulu saya paling anti masuk salon. Bila potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yg lehernya berkeringat itu demikian besar mengganti keberanianku.
“Buka pakaiannya, celananya juga, ” tutur wanita barusan manja menggoda, “Nih pakai celana ini..! ”
Saya disodorkan celana pantai namun lebih pendek sekali lagi. Bahannya tidak tebal, namun baunya harum. Garis setrikaannya masih tetap kelihatan. Saya menurut saja. Buka celanaku serta bajuku lantas gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua mtr., lebarnya cuma muat badanku serta lebih sedikit. Wanita muda itu udah keluar mulai sejak melempar celana pijit. Saya tiduran sembari baca majalah yg tergeletak di rack samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.

“Tunggu ya..! ” tutur wanita barusan dari jauh, lantas pergi ke balik tempat ke meja depan saat ia terima kedatanganku.
“Mbak Wien.., telah ada pasien tuch, ” tangkisnya dari ruangan sisi. Saya terang mendengarnya dari sini.
Kembali tempat sepi. Cuma nada kebetan majalah yg kubuka cepat yg terdengar selebihnya musik lembut yg mengalun dari speaker yg ditanam di langit-langit tempat.

Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin lama terang. Dadaku mulai berdegup sekali lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Saya makin lama membenamkan muka diatas tulisan majalah.
“Halo..! ” nada itu mengagetkanku. Hah..? Nada itu sekali lagi. Nada yg kukenal, itu kan nada yg memohon saya tutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., saya cuma bisa menunduk, lihat kakinya yg bergerak kesana ke mari di tempat sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Saya masih tetap ingat sepatunya barusan di angkot. Hitam. Saya tidak ingat motifnya, cuma ingat warnanya.

“Mau dipijat atau ingin baca, ” tangkisnya ramah ambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..! ”
Tangannya mulai mengulaskan krim ke atas punggungku. Saya tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Saya kegelian nikmati tangannya yg menari diatas kulit punggung. Lantas pijitan turun ke bawah. Ia turunkan sedikit tali kolor hingga pinggulku tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Saya meringis menahan sensasasi yg waow..! Saat ini ia geser ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Saya meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Namun belum juga demikian lama ia geser ke betis.

“Balik tubuhnya..! ” pintanya.
Saya membalikkan tubuhku. Lantas ia mengolesi dadaku dengan krim. Pijitan turun ke perut. Saya tidak berani memandang berwajah. Saya melihat ke arah beda mengindari adu tatap. Ia tidak menceritakan apa-apa. Saya juga malas mulai narasi. Dipijat begini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Bagiku itu udah semakin lebih nikmat dari pada menceritakan. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh sekali lagi, diremas, lantas ia menjamah betisku, serta usai.

Ia berlalu ke tempat sisi sesudah membereskan krim. Saya cuma ditempati handuk kecil hangat. Kuusap sisa krim. Serta kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.

Di kantor, saya masih tetap terbayang-bayang wanita yg di lehernya ada keringat. Masih tetap merasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Saya tidak tahan. Esoknya, dari tempat tinggal kuitung-itung saat. Supaya peristiwa tempo hari terulang. Jam berapakah saya pergi. Jam berapakah mesti hingga di Ciledug, jam berapakah mesti naik angkot yg penuh gelora itu. Ah sial. Saya terlambat 1/2 jam. Padahal, muka wanita 1/2 baya yg di lehernya ada keringat udah terbayang. Ini dikarenakan ibuku menyuruh pergi ke tempat tinggal Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih tetap ada hari besok.

Saya bergegas naik angkot yg melintas. Toh, si 1/2 baya itu tentu udah lebih dahulu tiba di salonnya. Saya duduk di belakang, tempat favorite. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang sampai seorang yg membaca tabloid menutupi berwajah terganggu.
“Mas Tut.. ” hah..? nada itu sekali lagi, nada wanita 1/2 baya yg kesempatan ini lantaran mendung tidak akan ada keringat di lehernya. Ia tidak meneruskan kalimatnya.
Saya tersenyum. Ia tidak membalas namun lebih ramah. Tidak gunakan muka perangnya.

“Kayak kemarinlah.., ” tangkisnya sembari mengangkat tabloid menutupi berwajah.
Demikian kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, lantaran ia masih tetap mengangkat tabloid menutupi muka? Saya sangka saya udah terlambat untuk dapat satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga diminta ibunya bayar arisan. Saya menyesal mengutuk ibu saat pergi. Paling tak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.

“Mbak Wien.., ” gumamku dalam hati.
Butuh tidak ya kutegur? Lantas ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi berwajah demikian. Itu mempunyai arti ia tidak ingin diganggu. Mbak Wien udah turun. Saya masih tetap termangu. Turun tidak, turun tidak, saya kalkulasi kancing. Dari atas : Turun. Ke bawah : Tidak. Ke bawah sekali lagi : Turun. Ke bawah sekali lagi : Tidak. Ke bawah sekali lagi : Turun. Ke bawah sekali lagi : Tidak. Ke bawah sekali lagi : Hah habis kancingku habis. Kenapa kancing baju hanya tujuh?

Hah, saya ada inspirasi : toh masih tetap ada kancing dibagian lengan, bila belum juga cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga dapat. Begini saja dari pada repot-repot. Anggap saja masing-masing baju sama juga dengan jumlah kancing bajuku : Tujuh. Saat ini kalkulasi penumpang angkot serta supir. Penumpang lima lantas supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore saya turun. Namun eh.., seseorang penumpang gunakan kaos oblong, mati saya. Ah masa bodo. Pokoknya turun.

“Kiri Bang..! ”
Saya lantas menuju salon. Alamak.., jauhnya. Saya lupa kelamaan mengkalkulasi kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olah-raga. Hap. Hap.

“Mau pijit sekali lagi..? ” tutur nada wanita muda yg tempo hari membimbingku menuju ruangan pijat.
“Ya. ”
Lantas saya menuju ruangan yg tempo hari. Saat ini udah lebih lancar. Saya tahu dimana tempatnya. Tidak butuh diantar. Wanita muda itu ikuti di belakang. Lalu menyerahkan celana pantai.

“Mbak Wien, pasien menanti, ” tuturnya.
Majalah sekali lagi, ah tidak saya mesti bicara kepadanya. Bicara apa? Ah apa sajakah. Masak tak ada yg dapat dibicarakan. Nada pletak-pletok mendekat.
“Ayo tengkurap..! ” kata wanita 1/2 baya itu.
Saya tengkurap. Ia mulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga serta saya memang sungguh-sungguh pegal, hingga terbuai pijitannya.

“Telentang..! ” tuturnya.
Kuputuskan untuk berani memandang berwajah. Paling tidak saya bisa lihat leher yg basah keringat lantaran kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke sisi pinggir celana dalam. Namun belum juga tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih tetap dingin tanpa ada ekspresi. Lantas geser ke pangkal paha. Ah kenapa demikian cepat.

Baca Juga : Titipan Yang Sangat Penting

Jarinya mengelus setiap mili pahaku. Si Junior udah mengeras. Benar-benar keras. Saya masih tetap penasaran, ia seperti tanpa ada ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam ia mengambil pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Seolah berniat memainkan Si Junior. Saat Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat pas dibagian pangkal paha. Lantas ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lantas ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Saya dipermainkan seperti anak bayi.

Usai dipijat ia tidak meninggalkan saya. Namun mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa krim pijit yg masih tetap melekat di badanku. Saya duduk di pinggir dipan. Ia bersihkan punggungku dengan handuk hangat. Saat mencapai pantatku ia agak mendekat. Bau badannya tercium. Bau badan wanita 1/2 baya yg yang meleleh oleh keringat. Saya pertegas kalau saya mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh dapat pula wanita 1/2 baya ini ramah kepadaku.

Lantas ia bersihkan pahaku samping kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyut-denyut. Berniat kuperlihatkan supaya ia bisa memandangnya. Di balik kain tidak tebal, celana pantai ini ia sebenarnya dapat lihat arah turun naik Si Junior. Saat ini geser ke paha samping kanan. Ia pas ada di tengahnya. Saya tidak menjepit badannya. Namun kakiku saja yang seperti memagari badannya. Saya memikirkan bisa menjepitnya disini. Tetapi, bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di area samping yang kadangkala tanpa ada maksud terang bolak-balik ke area pijat.

Dari jarak yang demikian dekat ini, saya terang lihat berwajah. Tidaklah terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung tapi juga tidak pesek. Bibirnya tengah tidaklah terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah fresh. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat terang membayang. Cukup seandainya tanganku menyergapnya. Ia senantiasa mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini udara panas badannya merasa. Namun ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior mendadak juga ikutan ciut. Tetapi, saya mesti berani. Toh ia telah seperti pasrah ada di dekapan kakiku.

Saya mesti, mesti, mesti..! Apakah butuh menhitung kancing. Saya tidak memakai pakaian saat ini. Sekali lagi juga sia-sia, barusan saja di angkot saya kalah lawan kancing. Saya mesti mulai. Lihatlah, masak ia demikian berani barusan menyentuh kepala Junior sementara memijat perut. Ah, saat ini ia jadi berlutut seperti menanti satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha sisi belakang. Kaki kusandarkan di tembok yang buat ia bebas terlalu lama bersihkan sisi belakang pahaku. Mulutnya persis dimuka Junior cuma sebagian jari. Inilah peluang itu. Peluang akan tidak datang 2 x. Mari. Tunggulah apa sekali lagi. Mari cepat ia nyaris usai bersihkan belakang paha. Mari..!

Saya masih tetap diam saja. Hingga ia usai mengelap sisi belakang pahaku serta berdiri. Ah bodoh. Benarkan peluang itu lewat. Ia telah membereskan perlengkapan pijat. Namun saat sebelum berlalu masih tetap pernah melihatku sepintas. Betulkan, ia akan tidak datang demikian saja. Tubuhnya berbalik lantas ambil langkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Semakin lama nada sepatu itu seperti mengutukku bukanlah berbunyi pletak pelok sekali lagi, namun bodoh, bodoh, bodoh hingga nada itu hilang.

Saya cuma mendengus. Buang napas. Sudahlah. Masih tetap ada besok. Tetapi tidak lama, nada pletak-pletok terdengar jadi tambah nyaring. Dari iramanya bukanlah tengah jalan. Tetapi lari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., peluang, peluang, peluang. Saya masih tetap mematung. Duduk di pinggir dipan. Kaki disandarkan pada dinding. Ia tersenyum melihatku.

“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggal, ” tuturnya.
Ia mencari-cari. Dimana? Saya masih tetap mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.
“Itu kali Mbak, ” kataku datar serta tanpa ada dorongan.
Ia berjongkok persis di depanku, seperti saat ia bersihkan paha sisi bawah. Ini peluang ke-2. Tidak dapat ada peluang ke-3. Lihatlah ia barusan demikian jeli merapikan semuanya perlatannya. Apalagi yang bisa ketinggalan? Mungkin sapu tangan ini saja satu kealpaan. Ya, seorang toh barangkali lupa pada suatu hal, juga pada sapu tangan. Oleh karena itu, akan tidak ada peluang ke-3. Mari..!

“Mbak.., pahaku masih tetap sakit nih..! ” kataku memelas, ya jadi argumen juga kenapa saya masih tetap bertahan duduk di pinggir dipan.
Ia berjongkok ambil sapu tangan. Lantas memegang pahaku, “Yang mana..? ”
Yes..! Saya berhasil. “Ini.., ” kutunjuk pangkal pahaku.
“Besok saja Sayang..! ” tuturnya.
Ia cuma mengelus tanpa ada tenaga. Namun ia masih tetap berjongkok di bawahku.
“Yang ini atau yang itu..? ” tuturnya menggoda, menunjuk Juniorku.

Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.
“Jangan hanya ditunjuk dong, dipegang bisa. ”
Ia berdiri. Lantas menyentuh Junior dengan bagian luar jari tangannya. Yes. Saya dapat peroleh ia, wanita 1/2 baya yang meleleh keringatnya di angkot karna kepanasan. Ia menyentuhnya. Kesempatan ini dengan telapak tangan. Namun masih tetap terhambat kain celana. Hangatnya, agar demikian, tetaplah merasa. Saya menggelepar.

“Sst..! Janganlah disini..! ” tuturnya.
Saat ini ia tidak malu-malu sekali lagi menyelinapkan jemarinya ke celana dalamku. Lantas dikocok-kocok sebentar. Saya memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.
“Jangan disini Sayang..! ” tuturnya manja lantas membebaskan sergapanku.
“Masih sepi ini..! ” kataku semakin berani.
Kemudian saya merangkulnya sekali lagi, menyiuminya sekali lagi. Ia nikmati, tangannya mengocok Junior.

“Besar ya..? ” tuturnya.
Saya semakin semangat, semakin membara, semakin terbakar. Wanita 1/2 baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia nikmati dengan mata terpejam.
“Mbak Wien telepon.., ” nada wanita muda dari area samping menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.
Mbak Wien merapihkan bajunya lantas pergi menjawab telepon.
“Ngapaian sich di situ..? ” tuturnya sekali lagi seperti iri pada Wien.

Saya ambil busanaku. Baru saja saya menempatkan ikat pinggang, Wien menghampiriku sembari berkata, “Telepon saya ya..! ”
Ia menyerahkan nomor telepon diatas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti tergesa-gesa. Saya segera memasukkan ke saku baju tanpa ada melihat nomor-nomornya. Terlihat ada perubahan besar pada Wien. Ia tak akan dingin serta ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang melindungi telepon datang, ia telah melumat Si Junior. Lihat saja ia telah separuh berlutut menghadap pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, hingga ada argumen untuk Wien.

Ia ambil tissue itu, sembari mendengar berita senang dari wanita yang menanti telepon. Ia cuma memperlihatkan diri separuh tubuh.
“Mbak Wien.., saya ingin makan dahulu. Jagain sebentar ya..! ”
Ya tersebut berita senang, karna Wien lantas mengangguk.

Setelah mengunci salon, Wien kembali pada tempatku. Hari itu memanglah masih tetap pagi, baru jam 11. 00 siang, belumlah ada yang datang, baru saya saja. Saya menunggu dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami seperti tidak mau menghabiskan waktu, melepas busana semasing lantas mulai pergumulan.

Wien menjilatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Saya nikmati kelincahan lidah wanita 1/2 baya yang tahu dimana titik-titik yang perlu dituju. Saya terpejam menahan air mani yang telah di ujung. Bertukaran Wien saat ini kemampuanng.

“Pijit saya Mas..! ” tuturnya melenguh.
Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lantas vaginanya, basah sekali. Ia membuncah saat saya melumat klitorisnya. Lantas mengangkang.
“Aku telah tidak tahan, mari dong..! ” tuturnya merajuk.
Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh sekali lagi.
“Ah.. Telah tiga th., benda ini tidak kurasakan Sayang. Saya cuma main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Janganlah dimasukkan dahulu Sayang, saya belum juga siap. Ya saat ini..! ” pintanya penuh manja.

Tetapi mendadak bunyi telepon di area depan berdering. Kring..! Saya mengurungkan niatku. Kring..!
“Mbak Wien, telepon. ” kataku.
Ia jalan menuju area telepon di samping. Saya mengikutinya. Sembari menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.
“Ya saat ini Sayang..! ” tuturnya.

“Halo..? ” tuturnya sedikit terengah.
“Oh ya. Ya tidak apa-apa, ” tuturnya menjawab telepon.
“Siapa Mbak..? ” kataku sembari menancapkan Junior amblas seluruh nya.
“Si Nina, yang barusan. Dia ingin pulang dahulu ngeliat orang tuanya sakit tuturnya sich demikian, ” kata Wien.

Setelah sebagian lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Auhh saya ingin keluar ah.., Yang tolloong..! ” dia mendesah keras.
Lantas ia bangkit serta pergi selekas mungkin.
“Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar sekali lagi Mbak Mona yang miliki salon ini datang, umumnya jam segini dia datang. ”
Saya segera beres-beres serta pulang.

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *