Bunga99 agen bola online
Bercinta Dengan Nenek Nenek

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Bercinta Dengan Nenek Nenek

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirBercinta Dengan Nenek Nenek. Nenek Neli.. ” demikian rata-rata cucu-cucunya menyebut. Nenek Neli yang memiliki tempat tinggal yang kutempati (kost) yaitu nenek yang yang sadar benar makna kecantikan wanita, itu menurut pandanganku. Usianya kurang lebih 60-an, gerak-geriknya lembut serta gurat-gurat kecantikannya masih tetap tampak terang. Kalau kubanding-bandingkan, muka Nenek Neli sama seperti bintang sinetron RE. Dengan kulit putih bersih serta tertangani. Bagaimana tidak terlihat bersih ni nenek, tiap-tiap minggu mandi susu, luluran serta perawatan kecantikan yang lain. Jadi pantaslah kecantikan masih tetap memancar serta umur tuanya tidak demikian terlihat.

Bercinta Dengan Nenek Nenek

Di tempat tinggalnya, Nenek Neli tinggal sendiri ditemani dua orang pembantu dan 3 kamar di lantai atas dikoskan. Anak-anak Nenek Neli ada 2 orang, Ibu Riri serta Ibu Rosa, udah menikah namun tinggal di beda kota. Saya, Ari serta Reni yaitu anak-anak kostnya. Kami jadi anak kost memanglah kompak bertiga serta udah lama kost dirumah Nenek Neli. Sehingga kami bertiga ini udah seperti keluarga atau ya sebut saja cucunya Nenek Neli. Sepanjang kami tinggal, lebih-lebih saya, memanglah tak ada pengalaman (seks) yang seru. Tapi sore itu, saya memperoleh satu pengalaman seks baru. Terkait seks dengan nenek-nenek, Nenek Neli! Nah.., begini ceritanya.

Saya (Jojo, 20 th.) hingga ditempat kost jam 4 sore. Sepi, karna 2 orang tetangga kostku pulang ke tempat tinggalnya, mereka menggunakan libur kuliahnya dirumah semasing. Saya memanglah ada gagasan pulang, kemungkinan 2-3 hari sekali lagi. Kulihat Nenek Neli tengah menjaga bonsai-bonsainya.
“Sore.. Nek. ” kataku sembari menghampirinya.
“O.., Nak Jo, telah pulang rupanya. ”
Asik sekali terlihat Nenek Neli dengan bonsai-bonsainya. Hobynya yang satu ini memanglah pas dengan pribadi Nenek Neli. Resik serta anggun, ibarat bonsai peliharaannya. Karna lelah serta Nenek Neli terlihat asik dengan bonsainya, saya pamit ingin istirahat di kamar.

Pelan-pelan kunaiki anak tangga, menuju kamarku. Wah.., merasa sekali sepinya, rata-rata sore-sore begini kami berkumpul sembari becanda-canda, lebih-lebih sama si Big Beautiful, Reni. Meskipunpun Reni ini bodynya bomber (beratnya 80 kg lebih kurang sich), berwajah lumayan cantik juga. Gendut namun berwajah tidaklah terlalu bulat, pokoknya cantik deh. Hilang ingatan! kok dapat ngelamunin Reni. Tak tahu karna ngelamunin Reni atau memanglah nafsuku sekali lagi kumat, kulepaskan celana, yang tinggal cuma CD-ku saja. Gundukan celana dalamku semakin jadi membesar, penisku tegang! Sakit juga rasa-rasanya, pada akhirnya kulepaskan CD-ku, telanjang bulat! Kumainkan penisku, kukocokin penisku sembari memikirkan menyenggamai si gendut Reni.

Mendadak.., “Ceklek.. kreeit.., ” pintu kamarku terbuka (saya lupa mengunci pintunya).
“Weleh-weleh.., Nak Jo, Nak Jo. Barang gede gitu kok dianggurin, sini masukin lubang Nenek saja..! ”
Kaget sekali saya, tidak jelas rasa-rasanya, pada malu serta birahiku masih tetap kemampuanng bugil ditempat tidur. Tapi Nenek Neli dengan cueknya tambah mengambil langkah masuk ke kamar, menghampiriku. Rupanya dari barusan dia udah lihat acara ngocokku. Dan saya betul-betul tidak menganggap mau ucapannya.
“Ngentot Nenek Neli..? ”
“Siapa takut..!? ”

Nah, ini yang kumaksud pengalaman baru serta bikin pribadi sex-ku beralih. Di masa datang, saya cuma suka berkencan (bersenggama) dengan wanita yang usianya diatas usiaku. Kalau tidak tante-tante, ya.. nenek-nenek. Dan yang tentu lewat Nenek Neli lah saya diperkenalkan dengan rekan-temannya. Pokoknya lebih asik begituan dengan nenek-nenek, liang vaginanya keset serta agak sempit lah..!

Penis besarku dielus-elus sama Nenek Neli, lembut sekali. Kuraba susu Nenek Neli (Nenek Neli masih tetap menggunakan daster tidak tebal), lumayan besar (bulat lonjong) namun agak turun. Muka kami udah sekian dekatnya, penisku masih tetap dipegangnya sembari dikocok. Gurat-gurat muka Nenek Neli terlihat memperlihatkan muka tuanya. Tapi who care..! Yang kulihat saat ini, Nenek Neli betul-betul ibarat pacarku (gadis 20 tahunan), sintal serta menggairahkan! Dan yang pastinya akan kugituin dia habis-habisan..!

Urutan kami masih tetap berdiri, namun sekujur badan kami udah tidak terbalut sehelai kemeja juga, los polos.. telanjang bulat! Badan Nenek Neli yang putih mengelinjang kegelian saat susu besarnya kuhisap-hisap, kugigit serta kutarik-tarik puting susunya.
“Uh.. hh.. aduh.. biyung.. geli saya..! ” teriaknya tertahan oleh birahi.
Susu Nenek Neli mengelonjor, semakin turun bergoyang-goyang. Lidahku semakin liar menjalar-jalar menelusuri lekuk badan Nenek Neli yang putih mulus.

Puas bermain di puting susunya, lidahku menelusuri turun ke bawah gunung kembar Nenek Neli. Perutnya sedikit turun, bergelombang ibarat sisa ombak di pesisir pantai. Benar-benar makin bikin birahiku naik-turun. Bulu-bulu kemaluannya masih tetap tampak lebat serta terlihat bibir vaginanya sedikit menyembul, ibarat jengger ayam.
“Wow.., bener-bener tertangani luar dalam ini Nenek. ” batinku.
Meskipunpun lemak sedikit menggumpal di perutnya, namun kulit nenek masih tetap gres, mulus hingga liang vaginanya juga bersih tertangani, tampak berwarna merah fresh kemudaan.

“Shrup.. shrup.. cop.. cop.. ” bunyi lidahku menari-nari mengisap lubang kemaluan Nenek Neli.
“Uh.. uh.. oohh trus trus.. Nak, aduh.. enaknya.. iihh..! ” tubuh Nenek Neli meliuk-liuk menahan kegelian.
Vagina Nenek Neli basah oleh ludahku. Mungkin yang namanya monupouse (selesainya kelenjar pelicin) ya.. ini, vagina Nenek Neli sekalipun tidak keluarkan cairan.

“Bu.. ibu.. ” mendadak si Sum, pembantu Nenek Neli menyebut-manggil.
“Brengsek..! ” umpatku jengkel.
Bagaimana tidak kesel, sekali lagi ingin masukin vagina Nenek Neli, eh.. si Sum manggil tuannya. Bergegas Nenek Neli merapihkan kemeja serta rambutnya yang berantakan.
Sembari tersenyum, dia berbisik, “Kamu pinter.. Nak. Kelak malam kita terusin ya.. Sayang..? ”
Nenek Neli bergegas turun serta tidak lupa mengecup pipiku mesra. Samar-samar kudengar argumen Nenek Neli pada Sum, dia di kamar atas dari barusan mengecek kamar anak-anak kost. Busyet, si nenek pandai bohong juga.

Jam di kamarku perlihatkan jam 09. 00 malam. Lampu-lampu di ruangan tamu serta kamar pembantu mulai dipadamkan. Sepertinya ke-2 pembantu Nenek Neli udah mulai tidur. Kecapean kali dari pagi kerja beberes tempat tinggal. Sepi kadang-kadang terdengar bunyi jangkrik bersahutan. Saya udah tidak sabar menanti Nenek Neli. Acara TV di kamarku tak akan menarik perhatianku. Sayup-sayup kudengar langkah kaki menaiki tangga.

Baca Juga : Bau Keringat Wanita Dewasa

“Sstt.. Nak Jojo.. ini Nenek.. ” bergegas kubuka pintu kamarku, kupeluk erat nenek seksiku ini.
“Nek.. kog lama sich.., Jojo telah tidak tahan nih! ” kataku sembari kutunjukkan penisku yang udah terangsang berat.
Saya memanglah berniat telanjang bulat menanti kehadiran Nenek Neli.
“Ih.. gedenya! ” dipegangnya penisku.
“Ya.. Nenek juga telah pengin merasakan mempunyai anda, Jo. Rasa-rasanya bagaimana ya.. kalau mempunyai anda yang gede itu masuk ke Nenek..? Aduh.. ngebayangin saja rasa-rasanya telah cekot-cekot.. ” tuturnya sembari bajunya dilepaskan.
Yang melekat cuma kutang serta celana dalam berwarna hitam. Seksi sekali!

Saat ini tubuh kami melekat erat, bergumul ditempat tidurku. Ujung penisku yang terangsang berat diusap, diremas, pokoknya geli habis deh..! Tubuhku menggelinjang menahan geli. Bibir kami sama-sama bercumbu, menggigit dengan nafsu yang membara. Sembari puting buah Dada Nenek Neli kupilin-pilin.
“Aduh.. Nak.. uuh.. sini gantian, Nenek ingin hisap mempunyai anda..! ” secara cepat Nenek Neli bergerak turun mencari penisku yang masih tetap tegak.
Ujung-ujung penisku dijilatinya.

“Uh.. ah.. ah.. sstt.. Nek.. ah.. enak sekali Nek.. ” suaraku tertahan menahan geli yang begitu.
Mendengar eranganku, Nenek Neli makin bernafsu memainkan lidahnya. Dari ujung penis, lidahnya menjilat-jilat batang kemaluanku, selalu.. selalu.. hingga dua pelorku juga tidak luput dari jilatannya. Ke-2 pelorku dihisap serta dikulumnya.
“Sstt.. uuh.. geli.. Nek.., ” tidak kuat saya menahan geli.
Busyet! Nenek Neli betul-betul jago. Baru kesempatan ini saya rasakan sensasi seks yang demikian hebat. Tua-tua keladi nenek ini, semakin tua semakin HOT.

“Srupp.. srupp.. sstt.. sstt.. ” suaranya kedengaran seperti kepedasan.
Mulut Nenek Neli terbuka lebar memasukkan penisku, karaoke! Geli sekali batang penisku bergesekan dengan giginya. Uh.. lebih geli saya, demikian ujung penisku digigit-gigitnya.
“Nek.. Jojo.. tidak tahan.. Jojo ingin masukin ya..? ”
Pelan-pelan penisku dilepaskan, Nenek Neli kemampuanng di bagian tempat tidur dengan kaki terbuka lebar (mengangkang). Lubang vaginanya terbuka lebar, siap melumat batang penisku. Ujung penisku mulai menyentuh bibir kemaluannya.

Dari atas, vaginanya yang terbuka tampak menyembul sedikit lubang kencing Nenek Neli. Kugesek-gesekkan dahulu penisku ke biji kacangnya.
“Uh.. uh.. geli.. oohh.. nak Jo.. Nenek telah tidak tahan..! ”
Lalu erangannya bertukar jadi, “Ah.. aah.. aduh.. Nak.. ” saat penisku menerobos masuk kedalam vagina Nenek Neli.
Pertama masuk vaginanya sedikit tertahan (kering), karna cairan kemaluannya tidak seperti gadis belasan th., baru ciuman saja udah deras muncrat. Vagina Nenek Neli kering-kering nikmat, ibarat bersenggama dengan perawan ting-ting.

“Blep.. plak.. plak.. blep.. ” bersahutan-sahutan bunyi batang kemaluanku beradu, sembari masih tetap kupegang ke-2 kakinya naik ke atas membuat huruf V.
Mata Nenek Neli meram melek menahan gejolak kesenangan. Kupandangi berwajah, sedikit mehanan nyeri, tersenyum. Buah dadanya bergoyang naik turun, kiri.. kanan.., sejalan penisku menghujam masuk keluar lubang vaginanya. Merasa ngilu penisku didalam, rupanya Nenek Neli berniat mempermainkan liangnya.
“Uuh.. oohh.. jepitannya enak sekali Nek..! ” eranganku berarti Nenek Neli mau akhiri permainan ini.

“Aahh.. Jo.. Nenek.. oohh.. aduhh.. keluar.. oohh.. ”
Gesekan penisku makin keras maju mundur, liang senggama Nenek Neli berdenyut-denyut menjepit batang kemaluaku sembari tangannya mencengkram sprei tempat tidur. Merasa cairan hangat membasahi penisku. Saya udah tidak tahan, seakan-akan ada dorongan yang demikian hebat didalam diriku. Makin keras kupompa vagina Nenek Neli, makin keras dorongan yang kurasakan. Ah.., rasa-rasanya spermaku mau tumpah keluar.

“Sekarang.. Nek.. oohh.. Joo.. mo keluar.. aahh..! ” spermaku muncrat membasahi dalam lubang vagina Nenek Neli.
Basah serta hangat sekali. Berkedut-kedut vagina Nenek Neli. Batang kemaluanku masih tetap setia tenggelam didalam lubang kenikmatannya. Nenek Neli tersenyum suka sembari memencet hidungku.

Lama kami sama-sama terkapar ditempat tidur. Nenek Neli berasa tidak kuat turun dari kamarku. Sembari tidur-tiduran, kami sama-sama terbuka bercerita pribadi semasing. Hangat sekali ini malam dikeloni oleh Nenek Neli. Dia menginginkan agar saya ingin selalu kost di tempat tinggalnya (gratis pastinya). Dan satu sementara, dia mau mengenalkanku dengan kawan-kawan yang sehoby dengan Nenek Neli. Saya cuma mengangguk di dekapan Nenek Neli.

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *