Bunga99 agen bola online
Cerita Masa Lalu

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Masa Lalu

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirCerita Masa Lalu – “Eh anda Ndre.. Mari masuk. Tapi Anto tak ada. Barusan saja pergi ke Surabaya ama Bapaknya” Sambut seseorang wanita disaat buka pintu tempat tinggalnya. Pagi itu sehabis olah raga pagi. Iseng saja saya singgah ke tempat tinggal Anto, salah seseorang kawanku yang tempat tinggalnya juga tidaklah terlalu jauh dari rumahku. Hitung-hitung mencari kawan karna subuh barusan ke-2 orang tuaku ada juga acara ke Jakarta, satu minggu tambah. Acara kantor tuturnya. “Oo, Anto memang berlibur di Surabaya ya tante? ” tanyaku basa basi. Walau sebenarnya kemarinnya juga saya tahu jikalau kawanku tu ingin ke Surabaya menggunakan berlibur semesteran disana. “Iya. Lho Anto tidak katakan ta? ” jawab wanita itu. Saya cuma tersenyum. “Iya tante, saya hanya ingin ngopy game di komputernya Anto, jikalau bisa. ” Jawabku mencari argumen. “Ooo, gitu ta.. itu lho anda segera saja ya, saya tidak tau” tutur wanita itu yg tidak beda yaitu bu Bambang, ibu salah seseorang kawan sekolahku.

Cerita Masa Lalu

Saya selekasnya masuk kedalam tempat tinggal itu. Saya benar-benar telah hafal benar dengan tempat tinggal itu. Maklum saya seringkali bermain disana. Selekasnya saya menghidupkan computer yang ada pada ruangan tengah. “Ta tinggal ke dapur ya” tutur bu Bambang sembari berlalu. Kupandangi wanita itu jalan hingga menghilang dibalik pintu. Entah mengapa di umur yang masih tetap benar-benar awal itu saya telah suka pada lawan styleku. Saya juga tidak tahu mengapa dadaku senantiasa berdegup kencang serta darahku seolah mengalir lebih cepat apabila memandang wanita cantik. Serta yang lebih aneh sekali lagi, kemaluanku kerapkali menegang. Saya lebih gemar dengan wanita yang usianya jauh di atasku bahkan juga seringkali ibu-ibu, mungkin saja karna badannya telah terjadi beda dengan kawan sebayaku. Nah, bu Bambang ini termasuk juga diantara favoritku. Berwajah lumayan cantik. Kulitnya tidak putih tapi body nya amohay. Tidak langsing sich tapi juga tidak gemuk. Tapi sebagai perhatian yaitu buah dada nya yang montok dengan sebutan lain besar.

“Permisi” terdengar nada wanita dari pintu depan yang membangunkanku dari lamunan. Selang beberapa saat bu Bambang keluar serta menjumpai kawannya di ruangan tamu. Tampaknya mereka berantem. Tamu yang ku tahu namanya bu Sri kelihatan geram-marah ke bu Bambang. Saya sendiri mengupayakan tidak dengarkan sembari repot mengutak-atik computer. Selang beberapa saat bu Sri kelihatan pulang namun masih tetap dengan geram-marah. Bu Bambang cuma selalu mohon maaf padanya.

Terasa tidak enak saya menginginkan selekasnya pamit. Setelah mengantar bi Sri keluar, bu Bambang duduk di sofa tengah sembari menghela nafas panjang. Tanpa ada kuminta, wanita itu bercerita bila ia terbelit hutang pada bu Sri untuk beli perhiasan. Awalannya sich hanya 400ribu, tapi saat ini tambah jadi sejuta lebih, gerutunya. “Mungkin, pak bambang mesti tau. Tapi dia tentu geram besar” gumam bu Bambang. “Eh, maaf ya, tambah narasi ke anda Ndre.. telah game nya? ” sik ya ta buatin minum. Saya cuma diam memandangnya berlalu. Kasihan juga wanita ini. Kelirunya juga beli barang ke rentenir. Tapi saya meraa benar-benar iba padanya, saya menginginkan sekali membantunya. tapi bagaimana langkahnya? Kulihat secarik kartu nama diatas sofa. Disana tercantum nama Bu Sriyatun, yang tentu wanita itu barusan. Lengkap dengan alamat serta nomor teleponya. Selang beberapa saat wanita itu tampil membawa satu gelas the hangat.

Setelah minum teh, saya selekasnya pamit. Entah kesambet darimana, saya pada akhirnya menuju alamat bu Sri yang diawalnya singgah ke ATM untuk ambil uang. Saya mengakui keponakan bu Bambang serta selekasnya membayar semuanya hutangnya pada bu Sri itu. Jumlahnya lumayan, keseluruhan Rp. 1. 400. 000, -. Untung saja uangku cukup. Kemudian saya segera pulang, kuitansi pembayaran kata bu Sri juga akan di kirim ke tempat tinggal bu Bambang.

Sore kira-kira jam 1/2 empat, saya terbangun oleh nada telepon tempat tinggal yang berdering. “Halo, bu Edy ada? ” bertanya nada itu. Saya menerangkan bila orangtua ku tengah ke Jakarta. “Dari siapa? Tanyaku balik. “Ini Andre ya? Ini bu Bambang, ibu mu tidak ada ya? ” bertanya sekali lagi. Saya juga heran mengapa wanita itu yang notabene juga terhitung tetangga segera tutup teleponnya.

Sebagian pas lalu bel tempat tinggal yang berbunyi. Nyatanya bu Bambang yang datang. “Kamu sendirian dirumah? Bertanya wanita itu segera masuk tanpa ada kusuruh. “Iya, ayah ibu ke jakarta, kebetulan bi Inah juga mudik” jawabku sembari duduk. “Eh, anda ta barusan yang ke bu Sri? Bertanya wanita itu sambil duduk di sebelahku. Saya mengangguk menahan kaget karna dia segera duduk di sampingku. “Trus jikalau mamamu tau” tanyanya. Saya menerangkan kepadanya jikalau mamaku juga tidak tau jikalau saya punyai tabungan itu, jadi aman. Wanita itu benar-benar berterima kasih padaku serta berjanji jikalau punyai uang, ia juga akan membayarnya. Lalu ia pamit pulang. “Eh, nanti malem anda nginep dirumah saja ndre” tutur bu Bambang sebelumnya keluar dari pintu. “Di tempat tinggal juga sepi, pak Bambang baru pulang dua hari sekali lagi. Bagaimana? ” tanyanya. Saya bingung ingin menjawab. “Gini wis, nek iya kelak anda telp saya dahulu ya! ” katanya. “Enak-enak, jikalau nginep dirumah” katanya lalu pulang.

Saat baru tunjukkan jam 7 malam, saya cukup merinding dirumah sendirian. Pada akhirnya ku pikirkan inspirasi untuk tidur dirumah bu Bambang meski sebetulnya saya malu. “Halo” Eh, maaf bu, ini andre, eee… anu bu.. saya” ujarku terputus-putus. Wanita itu menyongsong baik. Terlebih ia menyuruhku untuk lewat pintu samping belakang soalnya pintu ama pagar depan tempat tinggalnya telah terlanjur dia kunci. Setelah kukunci semuanya pintu, saya mengambil langkah menuju tempat tinggal wanita itu. Dengan sangsi kuketuk pintu yang ada pada samping belakang tempat tinggal itu. “Kamu Ndre?? ” terdengar nada dari balik pintu sebelumnya pintu itu terbuka.
Saya selekasnya masuk ke tempat tinggal itu. Nyatanya ia telah mempersiapkan makan malam untukku. “Maem yang banyak ya, saya ingin meneruskan nata lemari” katanya sambil menuju masuk kamarnya. Setelah menggunakan makanku saya selekasnya menuju ruangan tengah serta menyalakan TV. Selang beberapa saat bu Bambang tampil serta duduk di sebelahku. “Akhirnya usai juga” gumamnya seraya menyeka keringat di kepalanya. “Wuh, sumuk pol! Ganti baju dahulu ae” katanya sendiri lantas mengambil langkah masuk ke kamarnya.

Sebagian pas lalu ia tampil dengan kenakan daster tanpa ada lengan berwarna merah marun serta kembali duduk di sofa panjang tempat saya duduk. Ia lantas mengikat rambutnya yang sebahu dengan karet. Tanpa ada berniat saya memandang gerak gerik wanita itu. “Heh, liatin apa! ” hardik bu Bambang yang mengagetkanku. “Eh, anu.. eh.. ketiaknya bu Bambang kok banyak bulunya” jawabku seadanya. “He, iya. Belum juga dicukur he.. ya iya lah.. kelak anda juga gitu, jikalau telah dewasa” tuturnya. Saya cuma mengangguk. “Eh anda telah sunat ndre? ” tanyanya. Saya menggeleng. “Iya kelak, jikalau anda telah sunat, trus anda mimpi basah, itu bermakna anda dah gede” katanya. “Mimpi basah?? ” gumamku. Sebagian bln. paling akhir ini sebetulnya ada peristiwa aneh pada diriku. Saya kelihatannya mengompol tapi yang kukeluarkan tidaklah air kencing seperti kebanyakan, tapi suatu hal yang lengket serta berbau aneh. Warnanya putih seperti bubur kanji. Karna takut, saya tidak menceritakannya pada orang yang lain.
“Iya mimpi basah ndre, seperti ngompol tapi bukanlah ngompol, memang anda sempat ta? Tanyanya sambil melihat kepadaku. Saya menggeleng. “Nggak sempat bu” jawabku berbohong. “Iya juga tak ayah ndre, itu normal kok. Semuanya lelaki juga akan gitu, tapi iya sich anda kan belum juga sunat” katanya. ”kalo bukanlah pipis, apa yang keluar? Tanyaku perlahan membulatkan tekad karna saya juga penasaran. Wanita itu tersenyum. “Yang keluar air mani Ndre. Nah, air mani itu memiliki kandungan sperma” tuturnya. “Air mani?? ” gumamku. “Iya air mani, eh anda dah sempat paling.. kok nanya-nanya” tanyanya balik. “Enggak kok bu, nggak” jawabku cepat. “G usah bohong.. ” tak ayah kok, tak usah malu” imbuhnya. “Sebenarnya iya sich, tapi saya takut” jawabku perlahan dengan kepala tertunduk. “Nggak butuh takut ndre, iu lumrah kok. Tu bermakna anda dah dewasa ndre” tuturnya sembari tangannya mencubit hidungku enteng. “Dewasa?? ” gumamku perlahan. “Iya dewasa ndre” timpal bu Bambang. Lalu wanita itu memandangiku serta tidak lama kemudian kelihatan senyuman tersungging di bibirnya. Saya tidak jelas apa tujuannya. Lalu ia duduk persis di sebelahku bahkan juga berdempetan denganku.
Bu Bambang lantas memegang tanganku serta dibelainya. “Makasih ya ndre, anda begitu baik ama aku” gumamnya. Wanita itu mengingatkanku perihal pembayaran hutangnya barusan siang. Entah apa yang kurasakan pas itu. Yang pasti sentuhan tangannya bikin darah di badanku mengalir lebih cepat serta seolah-olah mengumpul di kemaluanku yang segera menegang. Nafsuku makin menggebu-gebu terlebih disaat wanita itu mencium tanganku serta mengelus-eluskannya ke pipinya yang merasa lembut. Keinginanku makin menjadi-jadi seolah tidak perduli bila wanita itu yaitu ibu dari kawanku. Entah setan mana yang merasukiku, spontan saja saya mencium pipi kiri wanita itu. Wanita itu terhenyak serta segera melihat ke arahku dengan pandangan yang tajam. Melihat reaksinya saya segera takut serta terasa benar-benar bersalah. “Ma.. ma.. af bu” gumamku perlahan sembari menundukkan wajahku. Lalu bu Bambang menyentuh daguku serta mengangkatnya seolah ia menginginkan saya memandangnya. Kulihat muka wanita itu tersenyum yang benar-benar melegakan hatiku jadi sinyal bila ia tidak geram dengan perbuatan nekadku barusan. “Eh yang kanan belum juga ndre” katanya sembari seperti menyodorkan pipi kanannya. Saya cuma diam karna takut. “Lho kok tambah takut?? Barusan anda tambah curi-curi ngesun, saat ini diberi tambah tak ingin?! ” katanya sekali lagi. “Hayo ingin apa tidak, nanti tambah saya tak ingin lho?? ” tanyanya 1/2 menggoda. “Mau, saya spontan menjawab serta segera mencium pipi kanan wanita itu. “Nah gitu dong.. itu namanya dah gede! anda gemar ndre?? ” Bertanya bu Bambang. Saya mengangguk tentu. Tanganku selekasnya membenarkan tempat burungku yang segera berdiri mengeras sehabis barusan mengecil disaat takut kalau-kalau wanita itu geram padaku. Ke-2 mata bu Bambang menangkap basah pergerakan tanganku. “eeee… burungmu berdiri ya??? ” Bertanya wanita itu sembari mencubit hidungku. Saya menggeleng berbohong tapi wanita itu kelihatannya tidak yakin, kelihatan dari senyumannya. “Kamu dah seringkali masturbasi ya? ” bertanya bu Bambang lalu. “onani??? ” apaan tuch?? Fikirku. Saya cuma menggeleng. “Ah masak… tidak usah bohong deh…” kejar wanita itu sembari mencubitku. Saat ini perutku yang jadi tujuan. “Onani apa itu bu? Tanyaku balik. “Trus jikalau burungmu berdiri seperti gitu anda ngapain? ” lanjutnya. Saya cuma menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan wanita itu. Sesaat ia terdiam.

“Ndre, saya punyai suatu hal untuk kamu tapi anda mesti janji tidak menceritakannya pada siapa saja juga. Dapat ndre?? ” bertanya bu Bambang sembari menatapku yg tidak jelas apa maksud perkataannya. “Janji ya ndre???! ” katanya sekali lagi. Saya cuma mengangguk tanpa ada jelas tujuannya. Lantas wanita itu berdiri persis di depanku. Dengan sigap ia melepas daster yang digunakannya. Saya terperanjat sekali memandang panorama yang baru pertama kalinya itu kulihat dalam hidupku. Wanita itu berdiri di depanku dengan cuma kenakan BH serta CD saja. Belum juga saya menentramkan diri, wanita itu lalu melepas BH yang dipakainya serta tersembulah buah dada wanita itu yang lumayan besar walaupun telah agak turun. Tidak cuma itu, wanita itu lantas melorotkan celana dalam yang dipakainya makanya ia betul-betul telanjang bulat dihadapanku. Pandanganku tertuju di bagian bawah perutnya yang ditumbuhi bulu yang agak banyak. Sebentar wanita itu repot membereskan rmbutnya serta mengikatnya dengan karet.

Lantas bu Bambang menghampiriku serta mengulurkan tangannya seolah menyuruhku untuk berdiri. Ia segera berupaya melepas celana pendek yang saya gunakan. Anehnya saya cuma diam saja saat ia melorotkan celanaku jadi kemaluanku yang saat itu tidak demikian besar segera tersembul keluar, berdiri tegak lengkap dengan kulupnya. Maklum saat itu saya masih tetap belum pula sunat. Tanpa ada banyak bicara wanita itu lantas menarik kulup t*t*tku jadi sisi dalam kepalanya yang berwarna kemerahan tersembul keluar. Aku seperti terhipnotis kala bu Bambang segera menjilati lat pipisku yang begitu keras itu. Terasa begitu geli serta enak. Nafasku mulai memburu. Terlebih kala ketika mulut wanita itu mengulum kepala burungku serta memainkannya dengan lidahnya. Aku begitu nikmati permainannya. Sebagian waktu lalu wanita itu bangkit. “ayo gentian” gumamnya lalu duduk di sofa. Ke-2 kakinya di buka jadi pangkal pahanya tampak terang. Itu pertama kalinya saya lihat sisi paling sensitive dari seseorang wanita yang usianya jauh di atasku. “Ayo dong ndre, janganlah diliatin aja” perintah wanita itu. Aku segera mendekatkan wajahku kea rah nagian kewanitaannya serta menciumnya. Baunya ciri khas sekali serta begitu merangsang. Bentiknya juga indah sekali seperti lipatan-lipatan daging. Aku makin bernafsu menjilatinya. Kurasakan makin lama vagina wanita itu makin basah oleh lender. Nafas wanita itu mulai ngos-ngosan. Mulutnya mendasis serta meracau seperti orang kepedesan. Kadang-kadang tangannya mengusap-usap kepalaku. Tak tahu insting dari tempat mana, saya menginginkan sekali memasukkan burungku ke lubang itu. Aku lantas berdiri serta mengarahkan burungku ke vaginanya. “Iya ndre, mari masukin” gumam wanita itu sembari mendapatkan batang kemaluanku serta dirahkannya dengan pas. “dorong ndre” gumamnya. Serta dengan sekali dorong, “bleshh” batang kemaluanku tenggelam dalam liang vagina bu Bambang. Aku rasakan kemaluanku seperti dihimpit suatu hal yang hangat, basah serta berdenyut. Sensasi yang menakjubkan. Sadar dengan saya yang masih tetap belum pula tau apa-apa. Wanita itu mulai menggoyangkan pinggulnya yang merasa makin nikmat. Aku semakin memahami. Perlahan saya menyeimbangi pergerakannya dengan menggoyangkan pinggulku maju mundur yang semakin lama makin cepat. “Iya ndre gitu… sssttsss… mari dre… ohhh” mulut bu Bambang makin meracau. Ia lalu cuma diam seperti nikmati burungku yang mengocok-ngocok kemaluannya.

Pergerakanku semakin cepat. Tapi belum pula 1 menit saya terasa menginginkan pipis. Kucoba kutahan namun saya tidak kuasa. Takut juga akan kenapa-kenapa selekasnya kutarik keluar t*t*tku kala semua seperti mengumpul di kepala burungku. Dengan reflek ku pegang kemaluanku sendiri serta tidak mengarahkannya ke wanita itu. akhirnya…ooooohhhhh “cret… cret… crettt… crettt…” burungku menyemburkan cairan amat banyak disertai dengan kesenangan tidak ada tara. Aku hingga merem melek karena itu. Wanita itu bangkit serta mendapatkan burungku serta mengocoknya. “enak ndre?? ” Bertanya wanita itu dengan nada parau. Aku mengangguk sembari nikmati sisa-sisa kenikmatanku. Badanku merasa lemas sekali. Seluruh tenagaku seperti habis terkuras. “Kok di keluarkan diluar sich? Di dalam kan enak” gumam bu Bambang sekali lagi. Ia lantas menerangkan kalau yang kualami barusan yaitu klimaks, serta yang ku mengeluarkan yaitu air mani yang di dalamnya terdapat spermaku. Kulihat air maniku berceceran amat banyak di lantai serta sofa tempat tinggal itu. Putih kental seperti yang kukeluarkan pada saat mimpi basah.

“Tante juga enak?? ” tanyaku pada akhirnya bertemura. “iya enak tapi saya belum pula keluar anda dah keluar dahulu, gak jadi deh” jawab wanita itu. “eh habis ini sekali lagi ya?! Aku juga ingin kluar” ajaknya sembari bersihkan cairan spermaku dengan dasternya. Lalu ia mengajakku ke kamar. Kami mengerjakannya sekali lagi. Ia juga mengajariku beragam jenis tipe bercinta serta langkah menahan klimaksku. Hamper 1 jam saya serta wanita itu sama-sama meningkatkan birahi dalam permainan yang penuh kesenangan. Tak perduli keringat serta tenaga yang keluar, yang utama nikmat. Di permainan yang ke-2 saya juga sekian kali berhasil buat wanita itu menjangkau puncak kenikmatannya. Hingga pada akhirnya kemaluanku memuntahkan air maniku untuk ke-2 kalinya. Tapi kesempatan ini didalam lubang vagina wanita itu yang rasa-rasanya semakin lebih enak ketimbang yang pertama barusan. Lantas kami berdua tidur kelelahan.

Baca Juga : Kupermainkan 2 Wanita dalam 1 Ranjang

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *