Bunga99 agen bola online
Cerita Onani Ku

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Onani Ku

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirCerita Onani Ku – Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP kelas dua serta berumur 14 th. lebih. Aku benar-benar sudah jadi seseorang anak lelaki yg begitu tergila-gila dengan semua bentuk kerjaan yg ada hubungan dengan seks bahkan juga saya dapat buat suatu hal menghadap ke sekitaran problem seks.

Cerita Onani Ku

Umpamanya saya lihat satu benda tentu saya segera pikirkan kalau andaikan benda itu di buat begini atau demikian tentu dapat mengasyikan. Semenjak saya sudah rasakan serta memahami kalau perbuatan seks itu benar-benar asik serta nikmat saya selalu memburu serta mencarinya.

Sebelumnya Ana serta Tari ubah dari lorongku saya seringkali laksanakan pada mereka berdua. Dimanapun serta setiap saat yg mutlak saya memperoleh saat pas tentu saya mengerjakannya, baik itu berbarengan Tari maupun berbarengan Ana. (baca : “Sex Perdanaku 1 serta 2″). Tetapi mereka sudah ubah berbarengan keluarganya semasing setamat dari Sekolah Dasar akan tetapi tempat ubah mereka masih tetap di sekitar kotaku juga. Jaraknya lebih kurang 15 km. dari hunianku.

Sangat terpaksa saya mesti menangani gejolak sexku dengan caraku sendiri, terkadang saya masturbasi dengan kata lain masturbasi sembari menghayalkan kesenangan yg saya peroleh dari Ana serta Tari meski cara barusan kurang nikmat saya rasakan di banding bermain segera dengan mereka maupun orang yang lain. Ibarat orang bermain tinju bila tak ada lawannya kurang enak rasa-rasanya. Tetapi lama kelamaan saya dapat menikmatinya dengan penuh.

Sampai satu waktu saya memperoleh peluang di mana ke-2 orang tuaku serta Kakak sepupuku bahkan juga tanteku kujadikan media buat masturbasiku serta ini dia yg saya juga akan tuturkan pada kisahku kesempatan ini.

*****

Peristiwa itu bermula disuatu malam disaat saya terbangun karna rasakan menginginkan buang air kecil. Akupun bangun buat kekamar mandi. Karna telah terbangun saya jadi susah buat pejamkan mataku kembali yg benar-benar telah jadi kebiasaanku terlebih jam pada dinding kamarku saat itu sudah perlihatkan jam 01. 57 awal hari.

Sembari selalu berupaya pejamkan mata supaya bisa tidur kembali fikiranku mulai menerawang kemana saja sembari melihat langit-langit kamar. Tetapi usaha itu kurang berhasil ditambah sekali lagi fikiranku telah mulai menghayalkan perbuatan-perbuatan seks yg sempat saya peroleh dari Ana maupun Tari.

“Sst.. ah.. ahh.. ”, saya mulai berdesis sembari mengelus-elus penisku yg mulai ereksi.

Tetapi perbuatanku itu saya laksanakan dengan perlahan-lahan karna takut ke-2 adikku terbangun yg benar-benar sekamar denganku. Kamarku itu benar-benar kami menempati bertiga, saya ada seranjang dengan adikku yg nomor tiga namanya Sony akan tetapi dia ada dibawahku karna kami berdua kenakan ranjang bertingkat dua sedang satu ranjang sekali lagi ada lebih kurang satu mtr. selain ranjang kami yg dihuni oleh adikku yg nomor dua bernama Rony, Usia mereka juga cuma beda-beda satu tahun dari umurku. Sembari selalu berkhayal saya selalu mengelus kepala penisku yg telah mulai licin oleh air bening yg keluar dari senjataku itu.

“Ouh.. ah.. ah.. ”, desisku perlahan.

Tetapi terdengar seperti ada desahan beda tidak hanya desahanku sendiri yg terkadang desahan itu mendadak menghilang.

“Oh.. ya.. yes.. ”, terdengar desahan-desahan itu dengan samar-samar.

Akupun menempatkan telingaku buat meyakinkan kalau nada itu bukan hanya suaraku, akupun diam sesaat serta nyatanya benar saat ini saya tak bertemura akan tetapi desahan itu tetaplah terdengar. Lantas saya bangun serta duduk buat mencari dari tempat mana asal nada itu. Sembari menempatkan kembali telingaku dengan begitu jeli. Kupandang tiap-tiap pojok ruang kamarku serta pandanganku berhenti dipintu plafon kamarku serta kelihatannya nada itu datang dari situ.

Di kamarku benar-benar ada sama dengan pintu buat naik serta turun apabila kita menginginkan naik ke atas plafon. Tempat tidurku benar-benar ada dekat sekali dari pintu plafon itu karna ranjangku ada ditingkat yg ke-2. Jadi dengan gampang sekali saya buka pintu plafon itu namun masih tetap dengan begitu perlahan-lahan karna takut menyebabkan nada yang bisa membangunkan ke-2 adikku.

“Yeah.. oh.. oh.. fuck me.. yes.. ”, nada itu jadi lebih terdengar terang disaat saya buka pintu plafon serta nada itu kelihatannya nada yg keluar dari satu TV.

Sangkaanku segera menyebutkan kalau nada itu datang dari kamar Ayah serta Mamaku sebab cuma di kamar itu yg memiliki tv tidak hanya tv yg ada diruang tengah rumahku. Karna didorong rasa menginginkan tahu apa yg tengah dilihat oleh ke-2 orang tuaku, pada akhirnya saya nekad naik keatas plafon itu. Walaupunpun memang saya telah mengetahui kalau mereka tengah memutar Film Blue atau BF, itu dapat saya yakinkan dengan suara-suara desahan yg keluar dari tv di dalam kamar mereka.

Ketika saya telah ada di atas saya belum juga dapat segera menuju ke atas plafon kamar Ayah serta Mamaku sebab mataku mesti menyesuaikan dari jelas ke gelap. Sesudah saya telah bisa lihat akupun merangkak menuju kearah kamar ke-2 orang tuaku dengan begitu hati-hati sekali supaya tak menyebabkan nada sedikitpun terlebih nada yg dapat membangunkan seisi tempat tinggal.

“Fuck me.. oh.. yes.. yes.. ”, nada dari tv itu jadi lebih terdengar terang, rupanya saya sudah ada diatas kamar ke-2 orang tuaku.

“Jangan saat ini dong Mam.. butuhkan dahulu filmnya”, terdengar nada Papaku dengan sedikit berbisik, tetapi karna saya benar-benar saat ini ada pas di atas kamar mereka jadi meski Mamaku berbisik saya dapat mendengarnya dengan terang bahkan juga nada napas mereka yg memburu terkadang terdengar di telingaku dari atas plafon itu.

“Sst.. oh.., ayolah Pap.. ”, saat ini nada Mamaku yg terdengar olehku dengan suara manja serta 1/2 merengek seperti memohon suatu hal dari Papaku.

“Sudah banjir ya Mam.., rasa-rasanya jari Ayah basah seluruhnya nih.. ”, seru Papaku.

“He.. eh.. oh.. sst.. ”, cuma itu yg terdengar dari mulut Mamaku menjawab pertanyaan Papaku barusan.

Birahiku mulai bangkit menghayal serta memikirkan apa yg disebut dari perbincangan Ayah serta Mamaku ditambah sekali lagi desahan-deshan kecil yg keluar dari mulut Mamaku bercampur dengan desahan-desahan yg keluar dari film yg mereka lihat. Kontolku telah tegang tak dapat ditahan sekali lagi oleh celana karet yg saya gunakan hingga celana itu membuat bukit kecil oleh himpitan kontolku dari dalam.

Karna berasa kurang bahagia dengan mengahayalkan saja, saya nekad buat celah kecil di atas plafon itu supaya dapat lihat dalam kamar Ayah serta Mamaku. Dengan beragam usaha serta begitu hati-hati sekali pada akhirnya saya berhasil, sayang sekali celah itu cuma terlalu fokus pada satu arah saja. Kebetulan yg tampak cuma monitor tv serta ujung tempat tidur Ayah serta Mamaku hingga ke-2 ujung kaki mereka bisa kulihat juga dari mulai betis kebawah.

Akupun turut lihat adegan-adegan dari film itu lewat celah yg kubuat sembari sesekali lihat juga kaki Ayah serta Mamaku yg sama-sama tumpang tindih. Napasku jadi lebih tak teratur turut saksikan adegan-adegan di monitor tv itu ditambah sekali lagi desahan-desahan dari dalam kamar itu, baik itu yg datang dari mulut ke-2 orang tuaku ataupun dari pemeran film yg tengah kami lihat.

Kontolku jadi lebih tegang, pada akhirnya tanganku satu megeluarkan kontolku dari dalam celana, sesaat yg satunya tetaplah melindungi celah itu tetaplah terbuka supaya saya tetaplah dapat lihat peristiwa di bawah sana. Kuelus-elus kontolku itu dengan perlahan-lahan rasakan kenikmatannya sembari selalu saksikan serta dengarkan adegan-adegan dari dalam kamar Ayah serta Mamaku itu.

“Sst.. ohh.. ah.. ”, desisku perlahan sembari pejamkan mataku memikirkan andaikan saya juga tengah ada di dalam kamar itu saksikan Ayah serta Mamaku tengah bersetubuh.

“Ouh.. ah.., sedot Pap.., ya.. demikian, sst.. ”, mendadak nada Mamaku terdengar dengan suara menggairahkan sekali.

Akupun selekasnya cobalah lihat apa yg mereka laksanakan tetapi cuma 1/2 dari punggung Papaku saja yang bisa saya saksikan dengan tempat 1/2 membungkuk. Dengan sedikit berfantasi saya telah bisa menerka Papaku tengah mengisap payudara Mamaku.

“Oh.. ahh.., lidahmu putar disitu Pap, ya.. oh.. selalu.. ah.. enaknya”, terdengar sekali lagi desahan nikmat dari mulut Mamaku sembari saya selalu berfantasi pergerakan apa yg mereka laksanakan karna saya tak dapat lihat mereka berdua dengan segera serta utuh.

Kocokan pada penisku yg barusan perlahan saat ini jadi bertambah cepat dengarkan desahan-desahan itu. Saat ini saya telah tak peduli sekali lagi dengan lubang kecil itu agar bisa lihat kebawah sana karna yg bertindak saat ini adalah fantasiku serta desahan-desahan Mamaku yg jadi lebih seringkali terdengar menaklukkan nada dari tv dikamar mereka bahkan juga perkiraanku mereka telah tak nonton sekali lagi akan tetapi telah repot buat mempraktekkan juga apa yg mereka nonton.

Tidak lama lalu nada tv terdengar seperti dipelankan, selekasnya saya buka sedikit celah didepanku buat lihat apa yg memang berlangsung dibawah. Nyatanya Mamaku yg cuma bercelana dalam tengah mengecilkan nada tv itu. Kerongkonganku segera kering disaat kulihat badan Mamaku yg putih dengan payudara membusung indah dan putingnya yg mekar akibatnya permainan mulut Papaku. Tanganku saat itu berhenti mengocok kontolku tetapi saya malah meremas kuat batang kontolku sembari menelan ludahku berapakali buat membasahi kerongkonganku yg kering itu.

Sesudah mengecilkan nada tv saya lihat Mamaku kembali naik keatas ranjangnya tetapi berhenti diantara ke-2 kaki Papaku. Saat ini cuma punggung Mamaku yang bisa saya saksikan dengan tempat 1/2 membungkuk serta payudaranya sedikit menggantung serta berayun-ayun kecil apabila tampak dari samping.

“Ah.. oh.. uh.. ”, mendadak Papaku mendesis nikmat.

“Enak ya Pap? ”, nada Mamaku dengan suara ajukan pertanyaan pada Papaku.

“Enak.. oh.. Mam”, jawab Papaku.

“Ya.. oh.. sedot Mam, oh.. demikian.. ah.. ”

Akupun membebaskan kembali pegangan buat buka celah itu serta tak memperdulikannya. Karna saat ini saya kembali ke fantasiku buat memikirkan tempat yg ditunaikan oleh Ayah serta Mamaku sembari tanganku megelus lembut kontolku dari kepala hingga pangkalnya yg telah licin oleh air kenikmatanku yg berwarna bening.

“Berhenti Mam, bisa-bisa saya keluar sekarang”, terdengar kembali nada Papaku.

“Masukkin saat ini ya Pap..? ”, saat ini nada Mamaku yg terdengar.

Karna menginginkan tahu sekali lagi apa yg mereka juga akan laksanakan akupun buka celah itu kembali dengan tanganku yg satu sesaat tanganku yg satunya tetaplah megelus perlahan kontolku yg telah licin. Akupun lihat ujung kaki Papaku telah ada ditengahnya kaki Mamaku yg terbuka lebar.

“Agh.. oh.. sstt.., enak Mam”, terdengar nada Papaku.

“Enak Pap, oh.. goyang Pap, ah.. ”, saat ini nada Mamaku yg terdengar, demikian selalu nada mereka sama-sama bersahut sahutan sembari selalu berusaha keras beroleh puncak kesenangan.

Saya yg mendengar desahan-desahan mereka berdua jadi tambah aktifkan tanganku yg semula cuma mengelus-elus kontolku saat ini mengocoknya dengan penuh perasaan sembari selalu berfantasi perihal beberapa gerakan yg dikerjakan oleh Ayah serta Mamaku.

“Punyamu licin sekali Mam, oh.. oh.. ”, terdengar nada Papaku dengan sangatlah bergairah.

“Putar dong Pap, mari.. oh.. ah.. ”, terdengar nada Mamaku.

“Angkat sedikit dong Mam, sst.. saya pengin putar nich.. oh.. ”, selalu terdengar nada mereka sama-sama memberi semangat untuk meraih kemenangan.

Rasakan kesibukan seks mereka jadi tambah bertambah bersamaan itu juga kontolku kukocok dengan penuh gairah.

“Ah.. ah.. oh”, akupun mendesis perlahan nikmati permainan soloku.

“Auh.. ya.. ”, saya selalu mendesis menghidupkan sendiri gairahku supaya air sperma yang merasa telah terkumpul di batang kemaluanku mampu saya mengeluarkan.

“Ya.. tekan Pap, Ibu telah merasa nih.. oh.. ahh”, bersamaan dengan erangan keras yg keluar dari mulut Mamaku akupun menjangkau puncak kenikmatanku.

“Crot.. crot.. crot.. ”, air kenikmatanku melompat-lompat keluar hingga lima kali serta berhamburan diatas plafon itu.

“Ah.. oh.. nikmat.. Mam.. ”, tanpa ada kusadari saya keluarkan kalimat itu karna memanglah dari barusan saya juga tengah berfantasi turut bermain dengan Mamaku.

Sembari duduk untuk memulihkan kembali stamina yg telah terkuras sesudah beroleh kenikmatanku sendiri saya selalu dengarkan nada dari dalam kamar Ayah serta Mamaku. Serta tak lama setelahnya saya dengarkan nada Papaku yg mengerang-ngerang.

“Oh.. ya.. sedikit sekali lagi Mam”

“Aduhh.. ah.. ya.. ya.. ya.. ohh.. ”, terdengar nada Papaku bercampur dengan nafasnya yg naik turun seperti orang habis mengangkat beban berat.

Sesudah sekian waktu tidak terdengar nada apa-apa, pintu kamar mandi Ayah serta Mamaku terdengar di buka yg disusul lalu nada gemericik air, akupun bergerak dengan sedikit rasa kelelahan untuk kembali turun dari atas plafon itu ketempat tidurku. Mungkin karna telah letih sesudah bermain solo di atas plafon barusan akupun segera tertidur disaat kepalaku bersangga dibantal tempat tidurku dengan perasaan kepuasaan yg teramat sangatlah.

Esok harinya sepulang dari sekolah, saya yg berniat tidak keluar bermain mengfungsikan keadaan sepi siang itu. Sony serta Rony tengah bermain dirumah tetangga sesaat ke-2 orang tuaku belum juga pulang dari bekerja dikantornya. Akupun naik kembali keatas plafon untuk melakukan rancangan yg aku bikin barusan di sekolah yakni buat celah yg dapat lihat keseluruh pojok ruang di dalam kamar Ayah serta Mamaku jadi jika Ayah serta Mamaku tengah bermesraan saya mampu melihat adegan-adegan mereka dengan bebas serta aman.

Sesudah bekerja lebih kurang 1/2 jam di atas plafon itu pada akhirnya saya berhasil buat rancanganku itu. Saat ini semua pojok di dalam kamar itu mampu saya awasi dari atas plafon itu serta saya berencana menguji cobalah celah itu sebentar malam.

Sesudah saya terasa udah siap serta aman semua saya beranjak akan turun dari plafon itu takut keburu saudara-saudaraku pulang dari bermain serta orang tuaku yang sebentar sekali lagi pulang dari kantor mereka semasing.

“Na.. na.. na.. ”, terdengar nada seseorang wanita tengah bernyanyi kecil disaat urutanku udah ada didekat pintu plafon kamarku.

Saya segera mencari asal nada itu. Tidak lama lalu nada guyuran air seperti orang tengah mandi turut terdengar di antara nada kecil wanita yg tengah menyanyi itu. Saya mulai berfikir-pikir serta pada akhirnya saya dapatkan jawabannya kalau nada itu adalah nada kakak sepupuku yg bernama Erna.

Rumah kami memanglah bersebelahan cuma dibatasi oleh satu tembok pemisah selama tubuh tempat tinggal kami. Tetapi kamar mandinya persis melekat di tubuh belakang rumahku jadi ujung atap rumahku terpotong sedikit supaya dapat bersambung dengan atap kamar mandi mereka.

Rasa takut yg barusan ada saat ini dibunuh oleh perasaan penasaran yg muncul mau melihat kakak sepupuku itu tengah mandi.

Tanpa ada buang waktu saya selekasnya merangkak mendekati kamar mandi itu. Serta saat ini saya sudah tiba di atas kamar mandi itu yg kebetulan sekali keadaan disitu sangatlah mendukung serta aman untuk melihat badan indah serta mulus punya kakak sepupuku itu. Tidak seperti diatas kamar orang tuaku mesti didesain teristimewa.

Saat ini pandanganku tengah memandang dengan penuh gairah kearah badan Kak Erna yg tengah pakaikan sabun keseluruh badannya. Fantasiku mulai turut berfungsi waktu itu, kalau saya yg menyabuni badan mulus punya kakak sepupuku itu oh.. begitu enaknya. Tangan indahnya saat ini tengah mengusap-usap lembut ke-2 payudaranya yg sebesar bola kaki serta terkadang memutar kecil ke-2 puting susunya yg tengah mekar karna terserang guyuran air yg dingin.

“Oh.. ah.. ah.. ”, saya mulai mendesah rasakan gairahku mulai bangkit.

Penisku juga saya rasakan mulai meronta-ronta didalam celanaku. Sesudah usai mengusap-usap ke-2 payudaranya saat ini tanganya turun mengusap-usap lebih kurang tempat yg paling diingini oleh semuanya lelaki. Dengan lembut tangannya meggosok-gosok bulu yg ada di sekitar vaginanya itu.

“Ah.. oh.. sst.. ”, saya selalu mendesis sembari mengocok penisku yg saat ini udah saya mengeluarkan dari dalam celanaku.

Semakin lama kocokanku jadi tambah kencang, merasa air kenikmatanku mulai sama-sama menekan mau melepas diri dari dalam batang kemaluanku. Pandanganku juga selalu menghadap ke badan Kak Erna sembari selalu berfantasi, saat ini saya lihat Kak Erna jongkok serta tangannya menyeka masuk dalam lubang vaginanya.

“Ya.. oh.. sedikit sekali lagi Kak Er.. ya.. oh.. ”, sembari berfantasi Kak Erna tengah bersetubuh bersamaku dengan model ia ada di atas atau joki model.

“Ah.. oh.. ya.. ya.. mari.. ”, seruku sembari kocokkan pada kontolku jadi tambah cepat.

Air spermaku rasa-rasanya telah ada diujung lubang penisku bersamaan dengan perasaan panas dingin yg mulai saya rasakan pada badanku.

“Crot.. crot.. crot.. ”, berhamburanlah air kenikmatanku melompat keluar dari lubang kontolku serta berhamburan diatas plafon itu.

“Ah.. oh.. enak Kak Er, sst.. ahh”, seruku sembari melambatkan kocokkan pada kontolku yg jadi tambah lemah ereksinya sesudah saya beroleh kenikmatanku.

Saya saksikan ke bawah Kak Erna telah pakai handuk serta akan keluar dari kamar mandi itu. Akupun bergegas turun dari atas plafon itu, untung saja ke-2 adikku belum juga pulang dari bermain jadi saya mampu turun dengan aman. Sesudah saya ada di atas tempat tidurku saya mulai berfikir nyatanya ada orang yang lain yg dapat jadi media masturbasiku terkecuali Ayah serta Mamaku.

Mulai sejak itu saya jadi tambah teratur naik keatas plafon untuk melampiaskan birahiku terutama malam hari untuk melihat Ayah serta Mamaku jadi tontonan pornoku dengan segera. Bahkan juga tanteku yg tengah mandi sempat juga kujadikan media masturbasiku.

Baca Juga : Cewek Bispak Yang Masih Perawan

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *