Bunga99 agen bola online
Cerita Pemerkosaan

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Pemerkosaan

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirCerita Pemerkosaan – Tiba-tiba satu nada keras membangunkan kami di larut malam. Fatimah istriku memeluk lenganku karena sangat ketakutannya. Nada itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Perasaanku menyampaikan ada hal yang tidak beres berada di dalam tempat tinggal ini. Aku bangun serta menyalakan lampu. Istriku berupaya menahan saya. Dengan hati-hati saya bangun serta buka pintu serta mengambil langkah ke dapur.

Cerita Pemerkosaan

Aku kaget dengan ketakutan yang sangat waktu keluar sosok asing dibawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berantakan. Tentu dia ini maling yang akan mengambil dirumah kami. Sama-sama
kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri serta mengambil langkah pendek menyambar pisau dapur kami yg tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari saya. Dengan rambut serta jambangnya yang tidak bercukur terlihat demikian sangar. Dengan bajunya yang T. Shirt gelap serta celana jean bolong-bolong dia menyeringai meneror saya dengan pisau dapur itu.

Aku memanglah lelaki yang tidak sempat tahu bagaimana berkelahi. Melihat tingkah maling ini segera nyaliku putus. Dengan gemetar yang begitu saya lari kembali pada kamar tidurku serta tutup pintunya. Tetapi kalah cepat dengan maling itu. Aku berupaya keras menghimpit buat mengunci demikian sebaliknya maling itu selalu mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,

“Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg.. ”

Tetapi teriakan itu tentu percuma. Tempat tinggal kami yaitu tempat tinggal baru di perumahan yang belum pula banyak penghuninya. Tetangga paling dekat kami yaitu Pak RT yang jaraknya lebih kurang 30 tempat tinggal kosong, yang belum pula berpenghuni, dari tempat tinggal kami. Sesaat di arah yang tidak serupa yaitu bentangan kali serta sawah yang luas berpetak-petak. Mulai sejak pernikahan kami 2 th. waktu lalu, berikut tempat tinggal credit kami yang baru kami tinggali sepanjang 2 bln. ini.

Usaha tarik serta dorong pintu itu dengan tentu dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai serta maling itu dengan leluasa masuk kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku supaya tidak berteriak-teriak sembari meneror akan memotong leherku. Istriku saat itu juga ‘klakep’ sepi. Sembari menodongkan pisau ke leherku dengan kasar saya diperolehnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya terlihat menyapu area keluarga serta menarikku mendekat ke almari piranti. Tentu di nyari-nyari benda bernilai yang kami taruh.

Dia temukan lakban di tumpukkan beberapa macam perlengkapan. Dengan 1/2 membanting dia mendorong saya supaya duduk di lantai. Dia me-lakban tangan serta kakiku lalu mulutku sampai saya serius bungkem. Dalam kondisi tidak berkutik saya ditariknya kembali pada kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sembari menangis histeris. Tetapi itu cuma sebentar.

Maling ini benar-benar memiliki pengalaman serta berdarah dingin. Dia cuma mengatakan,
“Diam nyonya cantiikk.. Janganlah buat saya kalap lhoo.. ” kembali istriku ‘klakep’ serta sepi.

Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, almari, tempat tidur, rack kset serta pesawat radio di kamarku. Dia nampaknya berfikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan serta kebisuanku lantaran lakban yang mengikat kaki tanganku serta membungkam rapat mulutku.

Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung badannya di sudut ranjang lantaran shock serta histeris dengan momen yang tengah berlangsung. Dengan lakbannya dia segera bekap mulutnya serta direbahkannya badannya di ranjang. Aku tidak kuasa apa-apa cuma dapat tergolek serta berkedip-kedip di lantai. Aku memandang bagaimana sorot mata ketakutan di wajah Fatimah istriku itu.

Nyatanya maling itu melebarkan tangan istriku serta mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian juga pada kakinya. Dia rentangkan serta ikat pada kaki-kaki ranjang. Serta pada akhirnya yang berlangsung yaitu saya yang tergolek lumpuh di lantai sesaat Fatimah istriku kemampuanng serta terikat di ranjang pengantin kami.

Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku cemas maling ini melakukan hal di luar batas. Melihat sosoknya, terlihat dia ini orang kasar. Badannya terlihat tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada lebih kurang 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sembari menghardik,
“Diam nyonya cantiikk.. ” waktu memandang istriku yang memanglah terlihat begitu seksi dengan baju tidurnya yang serba mini lantaran udara panas di kamar kami yang sempit ini.

“Aku ingin makan dahulu ya sayaang.. Janganlah macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Basic maling tidak bermodal. Dia ngancam gunakan pisauku, ngikat gunakan lakbanku saat ini makan makananku.

Nampak istriku berontak melepas diri dengan percuma. Kadang-kadang terlihat matanya khawatir serta ketakutan Melihat saya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Irit tenaga.

Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Beragam almari serta laci-laci dirumah. Dia tidak dapat miliki apa-apa lantaran memanglah kami tidak miliki apa- apa. Aku pikirkan begitu berwajah dapat kecewa lantaran kecele. Kudengar nada gerutu. Kelihatannya dia berang.

Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Buka almari baju serta mengaduk-adukkannya. Dibuang-lemparkannya isi almari sampai lantai penuh berantakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.

Karena tidak memperoleh apa yang di cari Maling mengalihkan tujuan kekecewaan. Dia pandangi istriku yang kemampuanng dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sembari menghardik,

“Mana uang, manaa..? Basic miskin yaa..? Anda umpetin di mana..? ”

Tangannya yang mengkilat berotot bergerak menggapai baju tidur istriku lalu menariknya dengan keras sampai robek serta putus kancing-kancingnya. Serta yang lalu terlihat terpampang yaitu bukit kembar yang demikian indah. Payudara Fatimah yang begitu ranum serta padat yang memanglah tetap tanpa ada BH sewaktu waktu tidur. Nampak sekali muka maling itu terkesima.

Saat ini saya serius begitu takut. Semua Peluang dapat berlangsung. Aku saksikan ada perubahan raut mukanya. Sesudah tidak memperoleh uang atau benda bernilai dia jadi penasaran. Dia terasa punya hak mendapatkan pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat sekali lagi ke Fatimah serta dengan selalu memandangi buah dadanya yang begitu sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang.

“Dimana anda taruh uangmu nyonya cantiikk..? ” sembari tangan turun menyentuh badan Fatimah yang sekalipun tidak dapat menampik lantaran kaki serta tangannyaterikat lakban itu. Serta tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.

Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Fatimah sekian paniknya. Dia merem pejamkan matanya sembari Memperdengarkan nada dari hidungnya,
“Hheehh.. Hheehh.. Heehh.. ”.
Istriku keluarkan air mata serta menangis, menggeleng-geleng kepalanya sembari keluarkan dengus dari hidungnya.

Serta sentuhan maling itu tidak berhenti ditempat. Air mata istriku merangsang dia makin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ada sangsi mengelus- elus serta lalu meremas-remas buah dada Fatimah dan sisi badan sensitive yang lain. Hal semacam ini serius buat darahku menggelegak berang. Aku mesti melakukan hal suatu hal yang bias hentikan semuanya apa pun kemungkinannya. Yang lalu dapat kulakukan yaitu menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk serta lalu menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget tetapi sekalipun tidak bergeming.

“Hey, brengsek. Ingin ngapain anda. Janganlah beberapa macam. Janganlah ganggu istrimu yang tengah nikmati pijitanku, ”dia menghardik saya. Serta saya memanglah segera putus harapan. Aku tidak mungkin saja melakukan hal apa-apa sekali lagi. Saat ini cuma batinku yang meratapi peristiwa ini.

Serta yang berlangsung selanjutnya yaitu suatu hal Yang serius mengerikan. Maling itu menarik robek semua baju tidur istriku. Dia serius buat Fatimah telanjang terkecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan badannya disebelahnya. Istriku terlihat bak rusa tumbang dalam terkaman serigala. Serta saat ini pemangsanya mendekat buat mencabik-cabik buat nikmati badannya.

Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tidak dapat berpuat apa-apa sekali lagi. Dalam 1/2 telanjangnya saya semakin mengerti begitu cantiknya Fatimah istriku ini. Dia beri begitu bagian-bagian badannya menghadirkan sensualitas yang tentu menyilaukan tiap-tiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan serta bahu melahirkan lembah ketiak yang bias menggoyahkan iman beberapa lelaki.

Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking begitu menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Demikian dahsyat mengagumkan syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana saya dapat menyunting dewi secantik ini.

Serta saat ini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi serta menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang kelihatannya berupaya berontak dengan menggeliat-geliatkan badannya yang di pastikan percuma. Dengan makin beringas nafsu nyolongnya saat ini beralih jadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.

Dengan mudah dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur badan Fatimah. Dia merangsek menjilat-jilat serta menciumi ketiak istriku yang begitu sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin saja tidak sempat memikirkan dapat mencicipi nikmat tidur dengan wanita secantik Fatimah istriku ini.

Menjarah dengan kenyotan, jilatan serta ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Fatimah serta lalu naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus serta nafasnya yang memburu dia menjilati puser Fatimah sembari tangannya gerayangan ke semua arah meremas serta terlihat kadang-kadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.

Perlawanan istriku sangatlah melemah. Yang terdengar sekedar gumam dengus mulut tersumpal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya jadi ungkapan penolakannya. Mungkin saja ketakutan dan kelelahannya buat stamina-nya ‘down’ serta lumpuh. Sesaat sang maling selalu melumati perut serta menjilat- jilat bagian-bagian sensual badannya.

Kebringasan dan kebrutalan keinginan syahwat maling ini makin meroket ke puncak. Terang dapat memperkosa istriku dimuka saya suaminya. Dia bangun dari ranjang serta secara cepat melepasi T. Shirt dan celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya sendiri. Aku terkesima. Maling itu punya postur badan yang begitu atletis serta menarik menurut ukuran penampilan badan lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat lantaran keringatnya terlihat dadanya, otot lengannya perutnya demikian kencang seperti aktor binaraga. Tungkai kakinya, paha serta betisnya benar-benar cocok banget.

Yang buat saya terperangah yaitu kemaluannya. kont*l maling itu demikian mengagumkan. Keluar dari rimbun jembutnya kont*l itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang berkilatan lantaran kerasnya tekanan darah syahwatnya yang menekaninya. Besar serta panjangnya diatas rata-rata kemaluan orang Asia serta terlihat begitu cocok dalam warna hitaman awal mulanya lalu sedikit belang kecoklatan pada leher serta ujungnya. Lubang kencingnya keluar dari belahan bonggol yang mekar menantang.

Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut serta jambang yang tidak bercukur dan bajunya yang dekil segera hancur demikian lelaki maling ini bertelanjang. Dia terlihat begitu jantan jenis jagoan.

Dalam ketakutan serta was-was istriku Fatimah lihat pas maling itu bangun serta secara cepat melepasi bajunya. Demikian lelaki maling itu betul-betul telanjang saya lihat perubahan di wajah serta mata istriku. Muka serta pandangannya kelihatan terpana. Yang belumnya layu serta kuyu saat ini beringas dengan mata yg membelalak. Mungkin dikarenakan ketakutannya yg makin jadi atau dikarenakan ada ’surprise’ yg terlihat dari sosok lelaki telanjang yg saat ini ada dengannya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tidak dilepaskannya sampai ekor matanya ikuti dimanapun lelaki maling itu bergerak.

Walaupunpun saya tidak berani menyimpulkan dengan tentu, menurut pendapatku muka jenis itu yaitu muka yg di terpa keinginan birahi. Adakah birahi Fatimah bangkit serta berhasrat pada lelaki maling yg dengan brutal sudah mengikat serta menelanjangi badannya dimuka suaminya itu. Ataukah ’surprise’ yg disajikan lelaki itu sudah membalik 180 derajat dari takut, berang serta tidak suka jadi dorongan syahwat yg dahsyat yg menempa semua sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku seringkali mendengar wanita yg jatuh cinta dengan penculiknya.

Lelaki maling turun dari ranjang serta merangkak dimuka arah kaki Fatimah yg terikat. Dia menggapai kaki Fatimah yg terikat serta mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku lalu mengulumnya.

Aku saksikan kaki Fatimah yg seolah disengat listrik beberapa ribu watt. Kaget meronta serta meregang- regang. Aku tdk tentu. Apakah itu gerak kaki utk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sesaat lelaki maling itu selalu menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Sekian dia laksanakan pada ke dua tungkai kaki istriku utk memulai lumatan serta jialatan setelah itu menuju puncak nikmat syahwatnya.

Dengan langkahnya maling itu memanglah berniat Menjatuhkan martabatku jadi suami Fatimah.

“Mas, istrimu enak banget loh. Bisa saya ent*t ya? Bisa.. Ha ha. Aku ent*t istrimu yaa.. ”

Serta saya di sini yg tergolek jenis batang pisang tidak berdaya cuma dapat menerawang serta menelan ludah.

Tetapi ada yg mulai merambati serta merasuk dalam sanubariku. Aku menginginkan tahu, jenis apa muka Fatimah pas kont*l maling itu kelak menembusi kemaluannya. Serta kemauan tahuku itu nyatanya mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sembari mata tidak terlepas memandangi tingkah lelaki maling telanjang yg melata bak kadal komodo diatas badan pasrah istriku yg jelita kont*lku jadi menegang. Aku ngaceng.

Kusaksikan begitu maling itu merangsek ke Selangkangan istriku. Dia menciumi serta menyedoti paha Fatimah dan meninggalkan merah cupang di tiap-tiap rambahannya. Tetapi yg bikin jantungku berdegup kencang yaitu geliat-geliat badan istriku yg terikat dan desah dari mulutnya yg terbungkam. Aku sekalipun tdk memandangnya jadi perlawanan seseorang yg lagi tengah disakiti serta dirampas kehormatannya. Istriku kelihatan demikian tenggelam nikmati tingkah maling itu.

Aku meyakinkan kalau Fatimah sudah terbenam dalam keinginan seksualnya. Dia menggeliat-geliat serta menggoyang-goyangkan badannya teristimewa pinggul dan pantatnya. Fatimah dirundung kegatalan birahi yg begitu dahsyat serta saat ini nuraninya selalu menjemput serta merindui kenyotan bibir si maling itu. Pada dalam itu saya berupaya tetaplah berfikir positip. Kalau begitu berat menampik godaan syahwat seperti yg lagi tengah dirasakannya. Dengan perlahan serta tentu kont*lku sendiri makin keras serta tegak saksikan yangharus saya saksikan itu.

Serta klimaks dari pergulatan ‘perkosaan’ itu berlangsung. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke Bibir vagina Fatimah. Dia menyedot serta mengenyoti itil istriku serta meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tidak terelakkan..

Dalam kucuran keringat yg terperas dari badannya Fatimah menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya makin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia kelihatan akan menggapai orgasmenya. Bukan main. Biasanya begitu sukar untuk Fatimah temukan orgasme. Kesempatan ini belum maling itu laksanakan penetrasi dia sudah dekat pada puncak kenikmatan syahwatnya. Ah.. Saksikan ituu.. Benar.. Fatimah menggapai orgasmenya.. Nittaa..

Dia mengangkat tinggi pantatnya serta tetaplah Diangkatnya sampai sebagian pas sembari terkejat-kejat. Nampak walau tangannya terikat jari-jarinya mengepal seolah akan meremas suatu hal. Serta kaki-kakinya yg meregang mengungkap begitu nikmat syahwat lagi tengah melandanya. Tersebut yg dapat dipertunjukkan olehnya karena tangan dan kakinya masih tetap terikat ke ranjang.

Serta sang maling tanggap. Sebelumnya keburu Fatimah Kelelahan dia naik menindih badan istriku serta membimbing kont*lnya ke lubang vaginanya. Sekian kali dia mengocok kecil sebelumnya pada akhirnya kemaluan yg lumayan gede serta panjangnya itu tembus serta amblas ditelan mem*k istriku.

Maling itu segera mengayun-ayunkan kont*lnya ke lubang nikmat yg kelihatannya disemangati oleh istriku dengan menggoyang serta mengangkat-angkat pantat serta pinggulnya biar kont*l itu dapat menyentuhi gerbang rahimnya.

Aku sendiri sekian terbakar birahi Menyaksikan momen itu. Khususnya bagaimana muka istriku dengan rambutnya yg berkeringat mawut jatugh ke dahi serta alisnya. kont*lku begitu tertahan oleh celana sempitku. Aku tidak dapat laksanakan apa-apa utk Melepaskan dorongan syahwatku.

Genjotan maling itu makin cepat serta seringkali. Aku yakinkan kalau maling itu lagi tengah dirambati nikmat birahinya. kont*lnya yg makin tegar kaku kelihatan licin berkilat dikarenakan cairan birahi yg melumurinya kelihatan seperti piston diesel keluar masuk menembusi mem*k istriku. Aku pikirkan begitu nikmat menempa istriku. Dengan keadaannya yg tetaplah terikat di ranjang, pantatnya kelihatan naik turun atau mengegos menimpali pompan kont*l lelaki maling itu.

Sebentar sekali lagi spermanya juga akan muncrat isi rongga kemaluan istriku. Serta kelihatannya istrikupun juga akan memperoleh orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Sepanjang menikah saya dapat kalkulasi berapakah kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Tetapi dengan maling ini tidaklah sampai 1 jam dia akan menjemput orgasmenya yg ke dua.

Saat-saat puncak orgasme dan ejakulasinya makin dekat, lelaki itu mendekatkan berwajah ke muka Fatimah serta tangannya menggapai lalu melepas lakban di mulut istriku. Tetapi dia tidak memberikannya peluang utk teriak. Mulutnya segera menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka sama-sama berpagut. Serta itu bukan hanya pagutan paksa. Istriku kelihatan menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka terbenam dalam enaknya pagutan. Serta ahh.. ahh.. aahh..

Maling itu melepas cepat pagutannya serta sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yg masih tetap ada pada dekatnya. Dengan semasing sekali sabetan ke dua ikatan tangan Fatimah terlepas. Serta pisau itu segera dibuangkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki badan istriku dan bibirnya memagutinya. Serta tanpa ada ayal serta sangsi demikian terlepas tangan istriku segera memeluki badan lelaki maling ini. Saat ini saya saksikan persetubuhan yg hampir prima. Lelaki maling dengan Fatimah istriku segera terbenam mendekati puncak syahwatnya.
Hingga…

“Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr..
Hhoohh.. Ampun
enaknyaa.. ”

Istriku juga mendesis hebat, tidak ada omongan tetapi terang, dia kembali menggapai orgasmenya. Dengan tangannya yg bebas dia dapat melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu serta menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu pernah terluka serta berdarah.

Masih tetap sebagian pas mereka dalam satu pelukan sebelumnya selanjutnya lelaki maling itu bangkit serta menarik kont*lnya dari kemaluan istriku. Aku segera saksikan spermanya yg kental melimpah tumpah serta meleleh dari lubang vagina Fatimah. Sebentar mata maling itu melihati badan istriku yg kelihatan lunglai. Dia selanjutnya bergerak efisien.

Maling itu turun dari ranjang, menggunakan celana serta T. Shirt-nya. Dia melepaskan selembar sarung bantal. Dia keluarkan dari kantongnya HP-ku serta HP istriku, arloji, perhiasan serta segepok uang simpananku, bisa saja cuma kira-kira 500-an ribu rupiah. Dia masukan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tidak hingga 2 menit mulai sejak turun ranjang dia segera keluar serta kabur meninggalkan saya yg masih tetap terikat tidak berdaya di lantai serta Fatimah yg telanjang setelah diperkosanya. Dia sudah mengambil barang-barangku serta nikmati badan serta kemaluan istriku.

Fatimah kelihatan bengong sembari melihati saya,

“Maaf, maass.. Aku mesti memuaskan nafsu syahwatnya biar dia tdk menyakiti Mas.. ” Fatimah telah siap dengan alibinya. Aku cuma diam. Nikmat seksual memanglah dapat merubah beberapa hal.

Sampai saat ini, setelah 8 th. menikah sampai memiliki 2 anak aib itu tidak sempat di ketahui orang. Kami setuju menyimpannya dalam-dalam.

Kadang-kadang kulihat istriku bengong. Aku menyadarinya. Setidaknya memanglah postur badanku dan kaliber kemaluanku tidak bisa saja menyeimbangi punya lelaki maling itu.

Baca Juga : Puncak Kenikmatan Ternikmat

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *