Bunga99 agen bola online
Cerita Seks Dunia Pelacuran 2

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Seks Dunia Pelacuran 2

Cerita Seks Dunia Pelacuran 2 – “Ly, ada tamu minta nginap malam hari ini dapat tidak? ” bertanya GM lewat ponsel disuatu sore. ”bisa sich tetapi agak maleman, barangkali sesudah jam 9 malam gitu, bagaimana? ” jawabku karna telah ada bookingan dari GM beda kelak jam 6 di Hotel Sahid tetapi tidak nginap. ”lebih sore tidak dapat? ” jawabnya sekali lagi dengan suara memaksa “terlalu mepet saatnya, sesaat di katakan tidak dapat on time””lagi ada orderan yaaaa, dari siapa sih” tanyanya penasaran”ada deeeeh, dimana kelak? ””Sheraton, sesaat telpon saya seandainya telah usai, buat lebih cepat ya, orderan gede nih””ya bossss” jawabku akhiri percakapan

Cerita Seks Dunia Pelacuran 2

Sesudah melayani tamuku di Hotel Sahid (tidaklah perlu dikisahkan bagaimana jalannya permainan karna umum biasa saja, tak ada yang istimewa), saya segera meluncur ke Hotel Sheraton, cuma butuh 10 menit untuk menjangkau maksud. Sesudah kuberikan mobil pada Valet Parking saya masuk ke lobby menuju Bongo’s, sedikit tamu yang ada disitu, maklum masih tetap sangat sore untuk tempat jenis Bongo’s. Jarum jam masih tetap tunjukkan jam 19 : 50 kala saya pesan minuman kesukaanku, 10 menit lalu si GM datang menghampiriku, tidak lama, lantas kami menuju ke lantai 8. ”Pak Jacky, ini Lily yang kuceritakan kemarin, saya tidak bohong kan? ” sapanya saat pintu kamar dibuka. Seseorang lelaki menyongsong kehadiran kami di kamarnya, dia bicara sebentar dengan GM yang membawaku, selang berapa saat tinggallah kami berdua di kamar. ”aku pengin kamu rekani kami sepanjang di Surabaya, barangkali hingga lusa, tidak apa kan? ” tanyanya sembari menyalakan Marlboro-nya. ”kami? ” saya sedikit terkaget, si GM itu tidak memberitahukannya. ”ya, saya serta istriku” jawabnya sembari mengepulkan asapnya tinggi tinggi. ”jangan risau, istriku tidak paham siapa kamu, sesaat katakan saja kita rekan lama, beres kan” lanjutnya seakan menjawab keterkejutanku. ”seharian penuh? ” tanyaku, kukira cuman nemanin malam saja. ”ya, siangnya kamu ajak dia jalan jalan sesaat malamnya rekanin saya di kamar ini, telah kubooking 2 malam”

Saya yang udah umum temani tamu yang agak aneh kesempatan ini masih pula terperanjat dengan kenekatan tamuku ini, udah dibarengi si istri masih pula mencari wanita beda. Dengan booking 24 jam sesuai sama itu artinya saya mustahil terima tamu beda, artinya hilanglah orderan yang rata rata 2-4 kali satu hari. ”terserah BApak saja, saya sich ngikutin” jawabku lantas permisi ke kamar mandi. Di kamar mandi diam diam kuhubungi si GM, bercerita gagasan tamuku ini. Dia cuma tertawa saja saat kutanyakan masalah penyusunan pembayarannya, semestinya dia mesti dapat ganti “kerugian” ku karena tidak terima tamu sepanjang temani mereka. ”jangan risaukan itu, yang pasti semakin lebih banyak di banding seandainya kamu terima tamu 3 kali satu hari, saya jamin itu” tuturnya menentramkan hatiku.

Siraman air hangat yang membasahi badanku begitu beri kesegaran serta menyingkirkan rasa capek sesudah sepanjang hari bekerja melayani 2 tamu. Sekeluar dari kamar mandi dia udah di ranjang tertutup selimut, kulihat bajunya tergeletak di sofa, artinya dia tidak memakai bajunya sekali lagi di balik selimut itu. Tanpa ada banyak bicara, Pak Jacky menarikku ke pelukannya, handuk yang menutupi badanku melayang-layang sedetik lalu sejalan dengan cumbuan serta lumatan di bibirku. Badanku selekasnya mengikutinya masuk dalam selimut, di bawah selimut kami sama-sama berpelukan serta berciuman penuh gairah.

“kamu memanglah secantik serta se-sexy apa yang diceritakan” tuturnya sembari melumat bibir, lidahnya menyusuri leher sampai berhenti di putingku, dikulumnya dengan gigitan gigitan enteng, akupun mulai mendesis serta makin keras disaat bibirnya mulai menyentuh klitorisku. Saya sebetulnya agak risih juga apabila seseorang lelaki dengan gairahnya mengulum serta menjilati vaginaku walau sebenarnya belum juga satu jam waktu lalu lelaki beda menumpahkan spermanya di lubang yang sama, tetapi umumnya mereka salah paham penolakanku tentang hal tersebut, pastinya saya tidak barangkali bicara selalu jelas. Malah makin saya menampik umumnya mereka makin bergairah memainkan lidahnya, pada akhirnya akupun tidak perduli, toh saya udah peringatkan. Cukup lama juga kepala Pak Jacky ada di selangkanganku sebelumnya kami ber-69, penisnya yang tidaklah terlalu besar demikian keras kurasakan kala mulai keluar masuk mulutku, demikian halnya lidahnya makin liar menari nari dibawah.

Sebagian menit lalu dia udah mengocokku dari atas, tidak ada yang istimewa darinya, tetapi kulihat Pak Jacky demikian semangat, tidak lebih 3 menit keringat udah mengucur mambasahi badannya. Berwajah yang putih tampan tampak memerah terbakar nafsu serta 2 menit lalu menyemprotlah sperma Pak Jacky menyirami liang vaginaku. Saya menjerit terkaget menemani jeritannya, banyak sperma yang ditumpahkannya, lebih dari 10 denyutan kuhitung, sebelumnya badannya lemas menindihku dengan napas yang masih tetap menderu.

“kamu memanglah menggairahkan” komentarnya sesudah turun dari badanku serta kemampuanng selain. Saya tidak menyikapi komentarnya, kuusap keringat dari badannya dengan sprei lantas kumasukkan penisnya ke mulutku, dia terkaget menjerit tetapi tidak menampik, cuma desah geli yang kudengar, tetapi tidak berjalan lama kala dia minta berhenti.

“gila, belum juga sempat saya dikulum sesudah keluar gitu” tuturnya sembari membelai rambutku yang tergerai diatas dadanya.

Kami berpelukan telanjang, turunkan tegangan yang ada.

Sesudah beristirahat nyaris satu jam, sesi ke-2 berlanjut, kesempatan ini saya aku diposisi atas. Perlahan badanku mulai naik turun serta makin cepat, dia mendesah sembari meremas remas buah dadaku. ”ooouuuhhhh…sssssshhhh…trusss…yaaaa…trusss Lita…trusss.. ya gitu Lita” desahnya mengatakan nama seorang tak tahu siapa, tetapi saya tidak hiraukan, toh kuanggap sisi dari fantasy lelaki. Dengan tempat diatas saya memegang manfaat, demikian kulihat dia udah nyaris menjangkau puncak, kuhentikan pergerakanku untuk turunkan tegangannya, untungnya dia ikuti permainanku hingga dapat berjalan lebih lama dari barusan, akan tetapi tidak lebih 10 menit diapun mesti menyerah dalam serbuan birahinya sendiri. Orgasme ke-2 dia alami, walau sebenarnya saya belum juga apa apa.

Sesi ketigapun kami lewati dengan tanpa ada “greget” bagiku, semuanya umum biasa saja walau saya tahu Pak Jacky berupaya keras untuk memuaskanku tetapi dia gagal mengerjakannya. Hingga jam 12 larut malam kami mengerjakannya lagi, 4 sesi sudah kami lewati dengan cepatnya tanpa ada satu orgasmepun kuraih, terlebih sesi paling akhir dia minta orgasme di mulut.

Sebagian menit lalu dia meninggalkanku sendirian di kamar itu, untuk kembali pada pelukan istrinya yang tinggal satu lantai diatas kamar ini. Lelaki, bila udah dirundung birahi, nalarpun terlewatkan, demikian nekat dia lakukan hal begini, belum juga sempat saya menjumpai tamu yang senekat ini.

Akupun karna kelelahan kurang tidur mulai sejak tempo hari, tertidur nyenyak tidak lama sepeninggal Pak Jacky, sisa sperma masih tetap tersisa di vaginaku tanpa ada pernah membersihkannya.

Keesokan paginya saya terbangun bunyi telepon, cuma Pak Jacky serta si GM yang tahu saya dikamar ini, tentu satu diantara mereka.

“Pagi sayang” sapa nada yang tidak kukenal yang saya percaya nada Pak Jacky

“pagi juga sayang” jawabku tidak kalah mesra walau kubuat buat.

“gimana tidurnya? pulas? bila kamarnya kurang enak upgrade saja kamarnya sesaat siang” lanjutnya

“kok pagi pagi telah bangun Pak” tanyaku kembali pada kebiasaanku yang nyaris tetap menyebut Pak pada tamu yang baru kukenal.

“sekarang telah jam 8 sayang, telah saatnya kerja mencari duit” jawabnya, saya cuma tersenyum karna memanglah jam segini bagiku masih tetap sangatlah terlalu pagi untuk mencari uang.

“gimana tidurnya? pulas? atau tambah belum juga tidur melanjutkan sama ibu? ” godaku dengan suara canda

“mana dapat sekali lagi, kamu habisin semua, telah tidak ada tenaga sekali lagi, habis bis bis bissssss”

Pada akhirnya dia memberitahu skenarionya serta acaranya sepanjang di Surabaya. Dia berupaya menuturkan terkait masa lalunya serta akupun berupaya mengingatnya agar tidak canggung kala bertatapan dengan si istri, tidak lupa dia berpesan agar saya mengakui seseorang usaha woman, terserah apa sajakah asal bukanlah wanita panggilan begini.

“oke, sesaat makan siang saya kenalkan istriku, janganlah katakan seandainya kamu nginap di sini serta janganlah lupa gunakan kemeja kantoran sewajarnya, kita ketemu di lobby jam 12 nanti” pesannya akhiri briefing.

Saya samasekali tidak menyiapkan kemeja ganti terlebih kemeja kantoran, jadi sangat terpaksa mesti pulang dahulu. Meskipun tempat kost-ku tidak jauh tetapi saya tidak pengin terlambat janjian sesaat siang, selekasnya saya mandi serta bersiap pulang. Pas jam 9 : 30 pagi saya udah ada di lobby, kulirik sekitaran, tidak tampak Pak Jacky di sekitar situ.

Saat saya tengah menanti mobil yang di ambil petugas valet, ponsel-ku berbunyi.

“sombong ya tidak mau nyapa” kata nada dari seberang tanpa ada basa basi, kulihat dilayar ponsel tertulis nama Dodi, salah seseorang tamu berlangganan favoritku.

“eh di mana kamu? ” tanyaku kaget, tumben sepagi ini udah telepon

“ada di sekitar kamu yang memanfaatkan kaos pink dengan celana jeans street, terlihat sexy deh kamu bila begitu” godanya, saya membalikkan tubuhku serta kembali pada lobby mencari mencari sosok Dodi ada, tetapi tidak kutemukan.

“nggak usah celingukan gitu, sesaat disangka anak kehilangan bapaknya” tuturnya dari telepon, artinya dia memanglah di daerah lobby.

Kusapukan mataku ke pelosok lobby, tetapi tidak kulihat juga tampangnya, sampai kurasakan colekan di pundakku dari belakang.

“sialan kamu” kataku sembari mematikan ponsel, kulihat panther-ku udah siap dimuka.

“habis kerja ya, kok tumben pagi pagi gini udah mengedar” godanya.

Nyaris 1 bulan Dodi tidak mem-booking-ku, tampak berwajah lebih fresh serta ganteng, menginginkan rasa-rasanya kupeluk serta kurasakan kerinduan juga akan cumbuan dan permainan ranjangnya.

“kamu sombong saat ini tidak mau telepon saya kembali, paling akhir kan waktu di tretes itu, lama banget” sapaku, petugas valet mendatangi serta memberitahukan bila mobilnya telah siap, saya suruh pinggirin dahulu karna menginginkan bercakap lebih lama dengan Dodi.

“kapan dong kita ulangilah lagi” tanyaku merajuk

“sekarang juga boleh” jawabnya sembari menatapku tajam, bila saja saya tidak tengah “on book” pasti peluang ini tidak kusia siakan, terlebih semalam saya sekalipun tidak alami orgasme kendati main 4 tahap.

Saya terdiam pertimbangkan ajakannya sembari menyaksikan arloji yang telah membuktikan jam 10, bermakna cuma tersisa 2 jam, walaupun sebenarnya saya mesti pulang ambil kemeja dahulu, sangat buru buru.

“gimana, jika oke mumpung saya kembali buka kamar untuk tamuku kelak siang, jadi dapat kita pakai dulu” desaknya. Saya bingung, di satu bagian saya mesti menghormati Pak Jacky yang sudah mem-booking penuh tetapi di bagian beda akupun menginginkan mereguk kesenangan dengan Dodi, yang mana tidak kudapat dari Pak Jacky serta bakalan tidak juga akan kudapatkan dalam 2 hari kedepan.

“jangan saat ini Dod, lusa saja ya, saya kembali banyak kerjaan nih” bujukku, namun Dodi kelihatannya tahu isi hatiku yang tengah haus juga akan kesenangan birahi, dia maunya saat ini atau tidak.

“janji deh, lusa saya milikmu, sepanjang hari atau satu hari semalam juga tidak apa” kataku telah mulai lemah tempatku, namun dia tetaplah bersikeras.

Karna keduanya sama bersikeras, selanjutnya keduanya sama tidak sukses, kulihat tatap kekecewaan dimatanya demikian halnya saya, mesti memendam kedongkolan, basic lelaki tidak ingin mengalah sedikitpun. Awas bila lusa jadi, juga akan kukerjain kamu, janjiku dalam hati.

Setelah menyisipkan 20 beberapa ribu pada petugas valet yang telah kukenal, kupacu mobilku menuju tempat kost. Selama jalan saya menggerutu mengumpat Dodi yang keras kepala, walaupun sebenarnya bila dipikir pasti tidak ada yang salah, toh lusa saya dapat menghubungi dia kembali serta dengan rayu bujuk seperti umum nyaris di pastikan saya bisa menggiring dia ke tempat tidur. Namun itu masih tetap 2 hari kembali, walaupun sebenarnya saya butuh pelampiasan saat ini.

Sesampai ditempat kos, selekasnya kupilih kemeja yang akan kubawa, baik itu kemeja resmi, ataupun enjoy termasuk juga kemeja dalam sexy serta lingerie.

Kukenakan rok biru tua selutut berpadu dengan blazer menutupi kaos putih yang ketat membalut badanku. Kuamati penampilanku di kaca, kelihatan layaknya seperti orang kantoran, rambutku kukuncir kebelakang serta kusapu wajahku dengan makeup tidak tebal untuk lebih memberi kesan wanita kantoran.

Kupacu kembali mobilku menuju ke hotel, tambah baik saya menanti di kamar dari pada terlambat, fikirku. Tidak lebih 30 menit lalu saya telah kembali ada di lobby hotel, dengan langkah kaki cepat seakan seseorang usaha woman tengah dikejar saat, kulalui lobby hotel tanpa ada menyaksikan seputar, segera menuju Lift. Saat saya tengah menanti lift, kurasakan seorang menggamit pundakku, saat kutoleh ke belakang, nyatanya berdiri di Dody dengan senyumannya yang masih tetap menarik.

“eh kok kamu masih tetap disini” tanyaku terkaget polos tidak menganggap dia masih tetap ada di situ.

Sebelumnya dia menjawab, pintu lift terbuka. ”sorry saya duluan yaa” pamitku tanpa ada menanti jawaban darinya, tetapi tanpa ada kuduga diapun ikut-ikutan masuk lift. Di dalam Lift, kebetulan cuma kami berdua, Dody segera memelukku dari belakang, saya terkaget serta cemas namun dekapannya demikian kuat disusul remasan tangannya pada buah dadaku, berbarengan dengan itu dia menciumi tengkukku.

“gila kamu Dod, nekat” kataku disela kepanikan tidak ada niatan untuk meronta, jadi mulai menggelinjang saat bibirnya menyentuh telinga. Saya yang sejak dari barusan memanglah “kehausan”, tidak menyia nyiakan peluang ini, tanganku selekasnya meraih diselangkangannya, demikian kudapati yang kutuju serta telah mengeras selekasnya kuremas remas. Lift berhenti di lantai 5, seseorang ayah bapak masuk, sebentar dia menatapku tajam lantas berbalik membelakangi, tentunya kami tidak dapat menyambung kembali.

“ketempatku saja dulu” bisik Dody, saya menatapnya berupaya menampik namun dia memegang tanganku erat. Lantai 8 tempatku telah berlalu serta saat hingga di lantai 11 pintu lift terbuka, Dody memberiku isyarat untuk keluar, akupun cuma nurut saja tidak ingin terdengar ribut dimuka ayah itu.

“Dod, saya tidak dapat saat ini, ada janjian jam 12 nanti” kataku senantiasa jelas sembari jalan menuju kamarnya.

“sebentar saja kok, kita quicky deh” ujarnya sesampai dimuka kamarnya. Saya tidak dapat mundur kembali waktu dia menarikku masuk serta memanglah tidak ada niatan mundur, masih tetap ada saat sekurangnya 30 menit.

“oke namun sebentar saja, swear? ” kataku karna saya tahu tidak mungkin saja untuk dia cuma nikmati diriku sepanjang itu, jauh dari cukup.

“swear, bahkan juga sebelumnya kamu melepas kemejapun saya telah selesai” ujarnya sembari mengacungkan dua jarinya seperti orang bersumpah. Sebelumnya pernah saya melepas pakaian, Dody telah menubrukku sampai tersandar di meja kerja.

“Dod, nanti bajuku kusut nih” kataku ditengah sergapan penuh nafsu bibirnya yang menghunjam di bibirku, namun dia tidak perduli terlebih jadi lebih liar meremas remas buah dadaku menaikkan kusut pakaian katun yang memanglah gampang kusut itu.

“kamu tampak beda dengan kemeja sesuai sama ini, jadi sexy serta menggemaskan” bisiknya sembari menciumi leherku, tangannya tidak sempat beranjak dari dadaku.

Saya menyerah pasrah waktu 2 kancing atas lepas serta kepala Dody menyelinap di antara ke-2 bukitku, desah perlahan-lahan mulai meluncur dari bibirku saat putingku tersentuh lidah serta bibirnya. Kuremas remas kepalanya serta kulebarkan kakiku waktu jari jemari Dody ada diselangkangan. Semenit lalu, saya telah kemampuanng diatas meja dengan kaki terpentang lebar serta kepala Dody ada salah satunya. Desah kesenangan jadi lebih lancar meluncur dari bibirku karna jilatan Dody pada vagina, adakalanya kujepit kepala itu dengan ke-2 pahaku. Celana dalam yang super mini tidak sangat mengganggu walau tidak di lepaskan serta memanglah tidak tampak ada niatan Dody untuk melepasnya. Bibir serta lidah itu dengan liar menari nari, menyusuri daerah selangkangan membuatku jadi lebih menggelinjang dalam nikmat. Saya tidak ingin sangat terbawa dalam buaian birahi Dody, saat jadi lebih pendek sebelumnya jam 12 siang, tidak pernah kembali untuk foreplay yang lama seperti umumnya.

“ugh.. masukin Dod” pintaku, namun dia masih pula asyik nikmati selangkanganku, jadi kutarik kepalanya naik. ”nggak ada saat lagi” bisikku manja, untung dia jelas serta membalas dengan tersenyum nakal.

Tanpa ada melepas celana dalamku serta cuma keluarkan penis dari lubang resliting celananya, dia menyapukan penisnya ke bibir vaginaku yang telah basah kuyup. Berbarengan dengan melesaknya penis yang besar itu isi vaginaku, telephone seluler-ku berbunyi, saya meyakini benar kalau itu Pak Jacky. Kuminta Dody mengambilkan tas Eigner-ku, tanpa ada hentikan sodokannya dia mencapainya serta memberi padaku, selekasnya kuambil telephone seluler, nyatanya benar kiraanku, Pak Jacky.

“halo sayang” sapanya dari seberang sana

“ya sayang….. ” jawabku karna dia juga mulai dengan kata yang sama.

“udah hingga mana? ” tanyanya

“….. saya telah dijalan kok, macet nih….. namun telah dekat, paling 15 menit kembali nyampe” jawabku sembari rasakan enaknya kocokan Dody dengan penisnya yang jadi lebih keras menghunjam dibarengi remasan kuat di buah dadaku.

Pak Jacky kembali mengingatkan skenarionya namun saya tidak dapat seutuhnya konsen pada ceritanya karna perhatianku terdiri dengan Dody yang jadi lebih nakal mempermainkan emosiku.

“ya.. ya…mengerti.. trus…apa? yaa…. beres Pak…” cuma tersebut kata kata yang dapat kuucapkan, pada menyikapi perkataan Pak Jacky serta sodokan Dody.

“…. siap Boss, nanti saya kabari demikian sampai…. daaaag sayang” kataku akhiri penuturan, takut saya tidak tahan kembali menahan kesenangan yang tengah menempa.

Meja itu bergoyang keras sesuai pergerakan Dody terhadapku, di atasnya kami masih tetap bersetubuh dengan kemeja komplit walau kemejaku sendiri telah berantakan tidak karuan, pada gunakan atau tidak kelihatannya tidak ada bedanya, dengan bebasnya dia mengacak acak tampilan serta makeup yang sebetulnya untuk Pak Jacky. Serta dengan bebas juga dia mengaduk aduk vaginaku yang mestinya masih tetap “jatah” Pak Jacky. Akhirnya akupun tidak perduli, siapa yang membayarku dialah yang memiliki hak memperolehnya, money is money and fun is fun.

Kegairahan Dody turut memacuku serta ibaratnya menantang untuk selekasnya selesaikannya tidak lebih dari 15 menit seperti janjiku pada Pak Jacky, umumnya kami melaksanakan lebih dari 30 menit serta saat ini mesti dipercepat. Saya tambah nyaman bila bercinta dalam kondisi telanjang namun dia tidak mengijinkanku melepas kemeja. Dengan kemeja berantakan, akupun menyeimbangi permainannya, kami berdua bergerak liar seolah berkejaran dengan setan birahi. Dari tempat kemampuanng, Dodi membalik badanku sampai tengkurap diatas meja, dalam tempat tidak berdaya sesuai sama itu dia menyodokkan penisnya jadi lebih keras serta cepat, tidak dihiraukan desah serta jerit kesenangan yang meluncur dari mulutku.

“rasakan ini Pelacur!!!! ” hardiknya sembari menghentak keras, saya menggeliat, telah jadi kesenangannya selalu untuk mengumpat dengan kata kata kotor waktu kami bercinta, serta itu membuatnya jadi lebih bergairah. Seringkali dia meludahi badan serta wajahku saat bersetubuh, bagiku semuanya yaitu area dari fantasy lelaki yang berasa superior diatas wanita, walau itu tidak senantiasa benar serta sepanjang tak ada kekerasan fisik saya masih tetap dapat terima semua jenis penghinaan sesuai sama itu, toh itu sekedar sebentar serta dia pastinya mohon maaf sesudah kami usai melaksanakan persetubuhan. Bermacam kata kata hina serta berbuat tidak etis senantiasa meluncur deras dari mulutnya sepanjang kami bersetubuh, serta senantiasa diikuti dengan sodokan keras yang membuatku menggeliat.

2 x kudapatkan orgasme darinya saat selanjutnya Dody menumpahkan spermanya penuhi vaginaku, gak tahu berapakah denyutan kurasakan menempa kuat di dalam, cuma kesenangan serta kesenangan yang kurasa. Tanpa ada memedulikan saya yang tengah mengerang dalam lautan kesenangan, dengan kasarnya dia menarik keluar penisnya, berpindah ke arah kepala lantas menyapukannya ke wajahku. Make up yang telah awut awutan jadi lebih berantakan bercampur cairan sperma, paling akhir yang dia jalankan adalam memasukkan penis itu ke mulutku serta mengocoknya, jadi lebih berantakanlah lipstik yang menghiasi bibir merahku.

Vaginaku masih tetap merasa panas agak pedih waktu Dody memasukkan penis kembali pada sarangnya, tanpa ada dibikin bersih, mungkin saja dipandang telah bersih dengan mulutku. Sebagian waktu saya tetap masih tengkurap diatas meja hingga nafasku normal kembali, Dodi telah membereskan bajunya yang memanglah tidaklah terlalu acak acakan.

“kalau telah usai, tutup pintunya” ujarnya sembari melemparkan sebagian lembar 50-ribuan, lantas diapun meninggalkanku seseorang diri dikamar, tidak ada sekalipun romantisme darinya seperti umumnya, mungkin saja dia cemburu atau entahlah.

Kupunguti satu untuk satu lembaran uang yang berantakan dikamar, tidak kuhitung kembali lantas kumasukkan kedalam tas eigner yang senantiasa setia temani. Kemeja yang melekat di badanku benar benar acak acakan, tidak kelihatan kembali keanggunan yang kuperlihatkan 15 menit waktu lalu, saya berupaya membereskan namun kusut sekali serta tidak mungkin saja dirapikan demikian saja. Akhirnya kuputuskan untuk bertukar kemeja, kucari kemeja yang sesuai sama dari dalam tas kemeja yang kubawa barusan.

Setelah bersihkan diri tanpa ada mandi, ber-make up serta ganti kemeja, saya keluar kamar itu. HP berbunyi waktu saya menuju dimuka lift akan turun.

“ya Pak, telah hingga sich, ini ingin turun kok” jawabku tanpa ada sadar bila memang saya mesti naik serta bukanlah turun. Lift terbuka, ada 2 orang lelaki didalam, mereka menyambutku dengan senyum ramah relatif nakal, terlebih sorot mata yang genit melototi lekuk badanku. Dengan kenakan rok agak mini, sejengkal diatas lutut serta tank top yang tertutupi blazer biru, pasti tidak dapat sembunyikan lekuk serta kemontokan badanku. Saya tidak risih dipolototi sesuai sama itu, tetapi tetaplah diam saja acuh, bila saja mereka ketahui siapa diriku, saya begitu percaya mereka dapat tertarik untuk mem-booking. Tatapan mata itu mesti selesai pas lift berhenti di lantai 8, serta saya keluar.

Ketika kuhubungi mobile phone Pak Jacky, nyatanya yang terima seseorang wanita, saya segera berfikir cepat kalau itu yaitu istrinya.

“mbak Lita Ya? Jacky ada mbak? ” tanyaku sok akrab dengan menyebut Jacky tanpa ada Pak, agar dia tidak curiga”oh, mbak Lily ya, dia sekali lagi mandi tuch, naik saja deh ke sini saya juga baru bangun kok, gak tahu tumben dia mandi sekali lagi sesudah dari luar tadi” ajaknya akrab sembari mengatakan nomor kamarnya. Saya terdiam, sesaat mulai berprasangka buruk jangan sampai jangan mereka termasuk juga pasangan suami istri yang nyeleneh yang wajib kulayani berdua seperti yang kualami terlebih dulu.

“mbak ingin naik atau nunggu di lobby? ” sambung Lita, sudah pasti dia tidak jelas bila saya sekali lagi di kamar yang semalam kupakai meningkatkan nafsu dengan suaminya.

“em, bila gak ngganggu sich, lagian gak enak bengong sendirian disini” kataku”ya telah, naik aja” tuturnya sembari akhiri percakapan, akupun lekas beranjak menuju kamar yang dijelaskan.

Demikian pintu kamar itu di buka, tampaklah sosok wanita cantik dengan muka polos tanpa ada make-up, masih tetap kenakan gaun tidur yang sexy, saya tertegun dengan kecantikannya. Muka itu terasanya demikian kukenal tetapi saya agak samar samar di mana. ”Dasar lelaki, telah miliki istri cantik masih pula mencari sampingan” umpatku sudah pasti dalam hati.

“Lily ya, masuk dahulu mbak, dia mandinya lama rata-rata, oh ya saya Lita istrinya” sapanya sembari mempersilahkan masuk serta kamipun berciuman pipi.

“sorry berantakan nih, habis barusan saya masih tetap tidur sampai tidak pernah nyuruh room boy untuk ngeberesin” tuturnya sembari membereskan sebagian pakaian yang berantakan serta dimasukkan ke almari, sekilas ada pula baju dalam sexy salah satunya, akupun berprasangka bila mereka baru saja bercinta. Aroma asap rokok masih tetap kuat tercium di kamar, kulihat 1/2 rokok seperti barusan dimatikan karna masih tetap ada sedikit asap yang mengepul, kelihatannya Lita yang baru saja merokok. Sebagian majalah tertumpuk di meja, baru saya mengerti bila Lita yaitu salah seseorang peragawati yang menghiasi satu diantara sampul majalah itu, pantesan tidak asing sekali lagi muka cantiknya.

“itu memanglah saya, tetapi telah 2 th. waktu lalu sih” rupanya Lita menangkap kekagumanku pas menyaksikan photo di cover yang cantik itu sembari menyalakan sebatang rokok putih.

“mbak cantik, terlebih lebih cantik aslinya lho” kataku ikut-ikutan menyalakan rokok pas dia hembuskan asap pertamanya.

“kamu juga, pantesan Jacky mulai sejak tempo hari banyak narasi mengenai kamu, bahkan juga dia mempromosikan kamu untuk jadi peragawati atau type paling tidak”

“aku hanya orang udik, mana pantes berlenggak lenggok diatas catwalk seperti mbak Lita ini”

“betul lho mbak, postur serta muka mbak Lily telah penuhi prasyarat bila menurutku”

“aku tidak ingin punya mimpi mbak, usaha gini saja telah kebingungan kok, bahkan juga kelihatannya gak pernah untuk bernapas aja” jawabku jujur, tetapi tentunya dia miliki persepsi beda mengenai usaha bisnisku.

“ya bila telah ngetop usaha ini kan dapat ditinggalkan atau diserahkan ke anak buah”

Selama percakapan kami keduanya sama mengepulkan asap rokok, ruang jadi merasa pengap, terlebih ga ada ventilasi untuk ruang ber-AC begini.

“kalau mbak memanglah tertarik, saya bantu deh, jangan sampai khawatir”

Percakapan terpotong pas Pak Jacky keluar kamar mandi dengan badan berbalut handuk.

“eh kamu telah datang rupanya” tuturnya kaget, saya percaya dia pura pura karna rasa-rasanya gak mungkin saja dia tidak tahu.

“ih kamu jorok deh, masak ada tamu kok pakai gituan saja, kan ada piyama di dalam” hardik Lita pada suaminya.

“aku tunggulah di loby saja deh” potongku, gak enak rasa-rasanya dalam kondisi begini, tetapi Lita menghambatnya.

“nggak usah, wanita secantik kamu sendirian di lobby dapat beresiko, mengundang banyak hidung belang, di sini saja serta anggap tempat tinggal sendiri” cegahnya sembari menggandeng suaminya ke kamar mandi.

Tidak lama lalu mereka keluar, Jacky telah kenakan piyama.

“oke kamu temanin dia dahulu, ganti saya yang mandi” kata Lita lantas menghilang di balik pintu kamar mandi, membiarkan saya serta suaminya berdua.

Kami sama-sama terdiam sebentar, cuma sorot mata penuh makna yang bicara. Demikian terdengar nada gemericik air shower yang telah dinyalakan, dan merta Pak Jacky menarikku dalam pangkuannya.

“Gila, kamu nekat, ada istrimu tuh” bisikku pas bibirnya mulai menyentuh leherku.

“anggap saja tempat tinggal sendiri” bisiknya pula

Kembali kualami kemelut ke-2 hari itu sesudah barusan di lift sama Dody, saat ini dengan Pak Jacky di kamar sesaat istrinya ada di kamar mandi.

Pak Jacky menciumi badanku yang ada di pangkuannya, baru kusadari nyatanya dia tidak kenakan celana dalam. Segera kuraih penisnya, kubiarkan dia menjamah serta meremas remas buah dadaku tetapi kucegah pas dia akan menyisipkan tangannya di balik baju, sangat beresiko, bisikku.

Kami beralih ke sofa dipojok ruang, jauhi pandangan segera dari pintu kamar mandi, sekurangnya menjadi persiapan bila istrinya kapan waktu keluar. Saya duduk di sofa dengan kaki terangkat tertumpu pada sandaran tangan di kiri kanan sedang rok-ku yang terungkap ke atas, rambut kemaluanku nampak dari balik celana dalama mini yg tidak dapat menutupi keberadaannya. Telah kucegah Pak Jacky untuk laksanakan oral, rasa-rasanya kok gak etis bila vagina yang barusan dipenuhi sperma lelaki beda kok mesti diberi kepadanya, tetapi dia memaksa, jadi akupun menyerah, toh telah saya peringatkan, fikirku. Dari celah celah celana dalam lidah Pak Jacky mulai menyusuri daerah selangkanganku, tidak seperti Dody, Pak Jacky menjilati dengan penuh perasaan, sedikit untuk sedikit penuh kesabaran lidah itu menari nari dengan lembut, saya cuma menggigit bibir pas klitorisku mulai tersentuh, makin lama makin nikmat terlebih pas jari jari tangannya ikut-ikutan mengocok vagina. Bila saja tidak ingat istrinya tengah mandi, mungkin saja saya telah menjerit keras dalam nikmat, makin lama bibirku kugigit makin kuat menahan desahan. Meski begitu saya masih tetap cukup tersadar untuk memantau nada di kamar mandi, sepanjang nada gemericik air masih tetap terdengar, bermakna masih tetap aman, berarti Lita belum juga usai mandi. Sembari meremas remas buah dadaku sendiri, kubenamkan kepala Pak Jacky makin dalam ke vaginaku.

Pak Jacky minta ganti tempat, saya segera jongkok di antara kakinya serta selang beberapa saat penis Pak Jacky yg tidak besar itu telah mem-porak porandakan lipstik yang berada di bibir, keluar masuk penuhi mulutku, akan tetapi saya tetaplah melindungi agar make up-ku tetaplah terbangun rapi. Tangan Pak Jacky demikian rajin menjamah di dada, saya cuma mengharapkan agar bajuku tidak kusut dibagian itu. Kulirik Pak Jacky telah merem melek rasakan kulumanku, seperti saya, dia memegang kepalaku serta menghimpit makin masuk penis itu di mulut. Nyaris semuanya penis itu penuhi mulutku, karna memanglah tidak besar, bahkan juga jauh apabila ketimbang miliki Dody baru saja.

“aaagh…. ” tiba tiba saya dikejutkan teriakan Pak Jacky sesudah sebagian menit kukocok dengan mulut, dengan reflek kututup mulutnya dengan tangan agar teriakan itu tidak keluar. Pada saat saya masih tetap berkonsentrasi pada teriakan Pak Jacky, tanpa ada kusangka dia memuntahkan spermanya di mulut, akupun terkaget serta berupaya menarik keluar tetapi tangannya demikian kuat menahan kepalaku, tanpa ada dapat banyak berbuat akupun pasrah terima semprotan untuk semprotan sperma penuhi mulutku. Sebelum hingga pada tetesan paling akhir, kudengar nada air shower dimatikan, bermakna Lita telah usai mandi, agak was-was juga saya, terlebih dengan mulut penuh sperma, tidak sempat kusangka hal semacam ini terlebih dulu. Tidak ada pilihan, Lita dapat keluar kapan waktu sesaat saya masih tetap mesti membereskan baju yang agak awut awutan, sangat terpaksa kutelan spermanya.

Sesudah menelan habis sperma yang ada dimulut, saya beranjak ke cermin didepan meja, kurapikan baju serta kupoles kembali bibir dengan lipstik. Memang Pak Jacky masih tetap menginginkanku duduk dipangkuannya tetapi kutolak sembari berikan isyarat tangan ke kamar mandi, Lita dapat keluar anytime.

Nyatanya Lita tidak segera keluar, hingga masih tetap ada saat buat Pak Jacky untuk kembali mem-briefing saya skenarionya. Sebentar Lita keluar, tetapi cuma ambil pakaian lantas masuk kembali pada kamar mandi, tetapi kesempatan ini pintu kamar mandi tidak ditutup, dari tempat dudukku saya dapat menyaksikan postur badan Lita yang masih tetap bagus serta sexy, walaupun buah dadanya tidak semontok punyaku, kecil tetapi telah agak turun, mungkin saja terus-terusan tidak kenakan bra, terlebih bila ada show.

1/2 jam lalu, kami bertiga telah duduk di coffea shop, sembari makan siang Pak Jacky bercerita mengenai diriku semasa sekolah dahulu, sudah pasti dengan bualannya sendiri, termasuk juga mengatakan nama guru guru yg tidak kutahu namanya, saya cuma tersenyum serta salut dapat kebohongannya.

Usai makan siang, Pak Jacky meninggalkan kami berdua karna ada meeting serta sesuai sama gagasan kuajak Lita keliling kota Surabaya. Seperti wanita biasanya, Lita lebih tertarik pada Mall serta shopping center, jadi kuajak dia ke Mall Galaxy. Tidak ada yang istimewa baginya, sama seperti Mall yang lain, walaupun sekian dia pernah memborong sebagian sepatu serta lingerie, dari pilihan lingerie-nya saya dapat menebak bagaimana sexy-nya dia di atas ranjang. Ketika dia akan beli tas kulit, saya merekomendasikan agar kita menyaksikan dahulu di Tanggulangin, Sidoarjo, pusat kerajinan kulit, mungkin saja itu bukanlah kelas dia tetapi ga ada kelirunya dicoba dahulu, tetapi bukanlah saat ini, besok saja.

Tidak merasa jarum jam telah membuktikan waktu 8 malam kala kami hingga di lobby hotel, tak tahu telah berapakah jam kami perlukan di Mall barusan, perut telah berontak minta di isi, tanpa ada naik ke kamar kami makan malam di Coffea shop. Lita menelepon suaminya yang nyatanya telah datang sejak dari barusan, saya telah mengertinya karna berkali-kali dia kirim sms serta telepon tetapi tidak sempat kubalas karna memanglah ga ada peluang maka dari itu, paling akhir kuterima pas menyerahkan kunci mobil ke Valet, berisi, “aku telah berada di hotel, hubungi apabila nyampe”, tetapi tidak kutanggapi, takut Lita berprasangka buruk.

“oke say, kamu turun deh gabung kami” kata Lita pada suaminya lewat telepon.

Tidak lama lalu Pak Jacky datang.

“wah ngeborong nih” sapanya menyaksikan tas berbelanja yang ada selain kami

“nggak kok, hanya sepatu serta itu tuch, hoby kamu” tuturnya sembari mencium suaminya

Sambil makan, Lita bercerita gagasan besok ke Tanggulangin, kuamati ke-2 pasangan itu, memang mereka pasangan yang selaras, cantik serta ganteng, terlebih si istri yang demikian manja pada si suami, ada rasa iri dengan kondisi serta kemesraan sesuai sama itu, kemesraan yang begitu lama tidak kurasakan, bahkan juga telah kulupakan tetapi insting kewanitaanku yang haus dapat belaian kasih sayang sesuai sama itu tetaplah ada serta tidak mungkin saja kulupakan demikian saja, tak tahu kapan kudapatkan kembali.

“nanti kita ke discotique yuk, telah lama nih saya tidak clubbing, ingin kan kamu rekanin kami? ” bertanya Lita padaku, tentunya saya tidak dapat mengambil keputusan, seluruhnya bergantung pada Pak Jacky, namun tidak mungkin saja kutanyakan kepadanya dimuka Lita.

“terserah mbak Lita saja, saya sich ngikut kok sepanjang tidak mengganggu acara kalian berdua” kataku sembari meneguk air serta melirik ke arah Pak Jacky, sekadar menginginkan tahu responnya, karna bermakna ini malam saya tdk dapat melayani dia.

“oke namun janji tidak lebih dari jam 12, besok saya ada meeting pagi pagi” kata Pak Jacky pada istrinya sembari melirik ke arahku.

“yaaaa, jam segitu kan sekali lagi ramai ramenya, terlebih umumnya hari begini kan ladi’s night” memprotes Lita namun suaminya masih bersikukuh. Pada akhirnya Lita menyerah.

“kamu tidak usah pulang, mandi saja di tempatku, masalah kemeja saya sangka ukuran kita nyaris sama kok” tuturnya padaku, tentunya saya bingung, tidak mungkin saja katakan bila saya ada juga kemeja di kamar beda, menyesal juga barusan tidak beli kemeja sekalian, habis tidak tahu gagasannya sich.

Usai makan kami kembali pada kamar mereka, kesempatan ini kamar itu telah rapi tdk seperti barusan pagi yang masihlah berantakan.

Lita mempersilahkanku mandi duluan, walau saya menampik namun dia memaksa. Dengan cepat saya bersihkan badan, tidak lebih 10 menit, tambah lebih cepat dari umumnya bila saya mandi sendirian. Kukenakan piyama yang ada pada kamar mandi, lantas saya keluar, nyatanya Lita tengah coba lingerie yang baru dia beli di depan suaminya, dia tampak demikian cantik, sexy serta anggun kenakan lingerie itu. Beberapa stel kemeja telah disediakan diatas ranjang untuk kupilih, semua kemeja casual yang sexy, nyatanya dia juga suka pada model kemeja begitu, tidak jauh lain dengan koleksiku.

“selagi kamu tentukan, saya mandi dahulu ya” tuturnya kembali meninggalkan kami berdua, gak tahu berniat atau tdk, dalam kondisi normal tentunya saya tidak dapat berpindah kemeja dimuka suaminya.

Demikian terdengar bunyi “klik” pintu kamar mandi ditutup, Pak Jacky selekasnya memelukku dari belakang serta menyelisipkan tangannya di balik piyamaku, memperoleh buah dada serta meremasnya.

“ssst, janganlah dia belum juga mandi” bisikku, serta benar saja kembali terdengar bunyi pintu terbuka, dengan gugup dia menarik keluar tangannya, berpura pura memilihkan pakaian untukku.

“Ly, bila ingin ganti, masuk saja, tidak dikunci kok” teriaknya dari dalam kamar mandi, kami seperti telah akrab tak akan menyebut mbak.

“ya mbak, bingung nih milihnya” kataku tetap masih menyebut mbak karna memanglah dia lebih tua dariku.

“minta Jacky milihin, dia pandai tuch mengkombinasikan kemeja” tuturnya lalu terdengar pintu ditutup kembali, disusul bunyi air shower.

Tanpa ada menghabiskan waktu sekali lagi, Pak Jacky kembali memeluk serta memasukkan tangannya ke dadaku, ditariknya terlepas tali pengikat piyama serta dibaliknya badanku sampai kami berhadap-hadapan. Badanku yang terbuka pada sisi depan seperti menantangnya, Pak Jacky memperoleh buah dadaku, sembari memandang penuh nafsu tangannya menggerayang didada, mengelus serta meremas remas, terkadang dia memainkan putingku.

“kamu semakin cantik serta sexy aja” bisiknya disusul lumatan pada bibirku, tanpa ada memedulikan si istri di kamar mandi, kamipun telah berciuman, sama-sama melumat serta beradu lidah. Tangan Pak Jacky telah berpindah ke selangkangan, nyaris saja saya mendesah, untung masihlah tertutup bibirnya. Meskipun sekian konsentrasiku masihlah terpecah pada gemericik air dari kamar mandi, mujur si Lita tdk berendam di bathtub.

Gemericik air masihlah terdengar saat Pak Jacky mulai mengocokku dari belakang, tanpa ada buka piyama tentunya terkecuali tali yang lepas barusan, cuma menyingkapnya sampai pinggang. Pada kesenangan serta kemelut datang silih berpindah, kutelungkupkan mukaku ke bantal untuk meredam desahan yang nyaris tidak mungkin saja kutahan.

Sembari mengocokku, terkadang Pak Jacky bicara keras sendirian, berpura pura seperti tengah denganku, tentunya saya tidak dapat mengikutinya, takut nada desahanku terlebih yang keluar.

Sekitar 5 menit lalu, vaginaku telah dibanjiri spermanya, disertai remasan kuat pada buah dada, saya menjerit tertahan di balik bantal rasakan denyutan kuat yang menempa dinding dinding kenikmatanku. Sehabis denyutan itu, dia mencabut penisnya lantas menyeka gosokkan di wajah serta dadaku serta selesai di mulut. Sisa sisa sperma yang ada pada badanku cuma kubersihkan dengan piyama yang kukenakan, sia sia saja saya barusan mandi karna saat ini telah kotor sekali lagi, namun tidak mungkin saja bila ingin mandi sekali lagi, pasti Lita dapat syak wasangka.

Sesudah membereskan piyama yang kukenakan, saya pilih kemeja yang disiapkan Lita, seluruhnya tampak berpotongan press body, yang menonjolkan lekuk badan, dipadukan dengan rok mini. Pak Jacky memilihkan kaos You Can See yang berbelahan dada rendah, saya percaya dengan sedikit membungkuk tentunya tampak buah dadaku, sembari pilih tangannya tidak sempat berhenti menggerayangi badanku, apakah itu di dada maupun pantat, terlebih tanpa ada kemeja dalam di balik piyama. Sesungguhnya dapat saja saya segera ganti kemeja namun tentunya Lita dapat syak wasangka bila itu kulakukan. Sembari menanti istrinya keluar kamar mandi, kami kembali berciuman serta berpelukan, kurasakan sperma Pak Jacky meleleh keluar dari vaginaku namun kubiarkan saja.

Nyatanya cukup lama juga Lita mandi, nyaris 30 menit dia belum pula keluar, bila tahu dia mandi demikian lama pasti kami dapat laksanakan tahap ke-2, namun itu malah berikan kami peluang untuk sama-sama meraba lebih lama sekali lagi, penis Pak Jacky telah mulai kembali menegang.

Untuk kurangi keraguan, kuketuk pintu kamar mandi.

“mbak, saya ingin ganti pakaian yaaa” kataku minta permisi”masuk saja Ly, saya telah usai kok” jawab nada dari dalam, saat pintu kubuka nyatanya mbak Lita memanglah telah usai, kenakan piyama seperti saya, rambutnya basah tergerai makin menaikkan pesonananya. Meski agak canggung, akupun berpindah kemeja kendati mbak Lita masihlah mengeringkan rambutnya.

“body kamu bagus, tidak kalah lho sama peragawati” komentarnya memandang badan telanjangku dari belakang.

Saya cuma diam saja mengingat suaminya sudah nikmati kehangatan badan yang barusan di sebutkan bagus itu, serta itu juga sudah berlangsung cuma berselang lebih dari satu menit yang saat lalu.

1/2 jam lalu kami bertiga telah ada di lobby, Bongo’s tampak cukup ramai terlebih ada live musik seperti umumnya. Pak Jackie tampak begitu nikmati suasananya, terlebih ada 2 wanita cantik serta sexy mengapitnya, kendati satu istrinya serta satunya sekali lagi yaitu “teman bobok”. Berpindahan kami dance, selagi slow music mengalun diapun mengajakku. Di antara keremangan lampu Pub, badan kami melekat erat, agak sangsi kusandarkan kepalaku di dadanya, gak tahu istrinya memandang atau tdk. Saya tidak kuasa menampik selagi tangan Pak Jackie dengan nakal meremas remas pantatku, jangankan cuman meremas, lebih dari itupun dia telah laksanakan, namun ini dimuka istrinya, nekat juga dia.

Alunan musik beralih menghentak saat mbak Lita memohon suaminya kembali, tentunya saya mesti menyerahkannya, duduk sendirian tentunya dapat mengundang mata mata jalang yang telah banyak beredar ditempat sesuai sama ini. Meskipun dalam remang remang, saya begitu percaya banyak mata lelaki yang memerhatikanku, pasti bila mereka berfikir saya wanita yang dapat di booking, tentunya dia dapat berfikir demikian halnya pada mbak Lita yang datang bersamaku, terlebih kemeja kami yang amatlah mengundang birahi. Tidak lama kami di Bongo’s, selalu beralih ke Fire Discoutik yang letaknya tdk jauh. Bagiku Fire Diskotik seperti halaman bermain, seperti di Kowloon, walau saya tidak sempat mencari tamu disitu namun tersebut tempat bagiku menumpahkan semua kekesalan serta kesemrawutan hidup. Dari pengamatanku, pengunjung diskotik rata rata orangnya sama dari waktu ke waktu, kendati tidak jelas nama kami cuma mengetahui muka saja. Terus jelas selagi itu saya kuatir bila ada ex-tamu atau langgananku yang ada di sana, pasti dapat buka penyamaranku dimata mbak Lita. Tidak ada yang menarik di dickotik itu, terkecuali lebih dari satu lelaki iseng maupun germo yang cobalah mengajak kencan atau menawari tamu, saya telah kuatir saja namun nyatanya mbak Lita cuma ketawa ketawa saja hadapi ajakan ajakan begitu, kelihatannya dia telah punya kebiasaan serta dengan cueknya dia tdk menggubris ajakan beberapa lelaki itu.

Entah jam berapakah kami meninggalkan Fire, sangat malam untuk jalan kaki kembali pada hotel, kendati jaraknya dekat buat keamanan kamipun ambil taxi yang stand by disitu.

“Jack, kita antar lily pulang dahulu ya, kasihan telah jam segini tentunya tidak aman seandainya naik taxi sendirian” kata mbak Lita selagi kami di dalam taxi, dia punya kebiasaan menyebut suaminya Papa atau cuma namanya saja.

Sesaat kami terdiam, tidak tahu mesti menjawab bagaimana, mengantar ke tempat tinggal tentunya dapat menyebabkan keraguan karna saya memanglah sewa kamar ditempat yang umumnya penghuninya tidak jauh berlainan dengan profesiku, tentunya dia dapat syak wasangka memandang situasi tempatku.

“nggak usah sibuk repot, lagian telah sangat larut, tidak enak sama tetangga, saya buka kamar saja deh” jawabku sekenanya tanpa ada minta kesepakatan Pak Jacky.

“good idea, lagian jam segini tidak baik diliat orang, nanti disangkain wanita apaan” Pak Jacky menimpali tandanya sepakat.

Sesampai di hotel saya segera cek in, tentunya cuma pura pura saja mendatangi meja receptionis, cuma bercakap bertanya tanya sedikit agar disangka mbak Lita tengah cek in, mujur dia sangat penat untuk ikut-ikutan ke receptionis, dia cuma menanti di sofa.

Saya berkeras tidak ingin diantar mereka hingga ke kamar. ”kalian kan penat, tidak usahlah, toh kita cuman lain lebih dari satu lantai saja kok, serta di sini kan aman” elakku, bila hingga mbak Lita masuk ke kamarku pasti dia paham bila saya sesungguhnya telah cek in.

Sesampai di kamar saya segera tidur tanpa ada berpindah kemeja, sangat capek serta sangat menegangkan untuk kulalui.

Tak tahu berapakah lama saya tertidur saat kudengar ponsel-ku berbunyi, nyatanya dari Pak Jacky.

“bangun bangun non, saya sudah dimuka pintu nih” kata nada dari seberang.

Dengan mata masih tetap berat kupaksakan berdiri serta buka pintu, Pak Jacky telah berdiri di muka dengan busana komplit menggunakan jas semua.

“jam berapakah sich Pak kok pagi pagi begini sudah rapi” sapaku dengan nada yang masih tetap parau ngantuk.

Tanpa ada menjawab Pak Jacky segera mendekapku dari belakang, diungkapnya rambutku serta bibirnya mulai menciumi tengkuk, saya yang masih tetap 1/2 tersadar menggelinjang geli. Sebelum saya pernah melakukan perbuatan apa apa, tangannya telah menyelinap dibalik kaos serta menggerayangi buah dadaku yang memanglah tidak kenakan bra.

“sudah mulai sejak semalam saya menginginkan melaksanakan ini” bisiknya sembari mengulum telinga, buat saya makin menggelinjang. Dengan reflek tangankupun mulai menggerayangi selangkangan Pak Jacky, nyatanya telah mengeras. Saat kubuka resliting celananya, nyatanya dia telah tidak kenakan celana dalam.

Pak Jacky membalik badanku, diciuminya leher serta bibirku, hilang telah rasa kantuk yang barusan masih tetap menggelayut, bertukar dengan gairah pada pagi hari. Tidak hingga semenit dia berhasil menanggalkan busana yang menutupi badanku serta ditariknya badan telanjang ini dalam pelukannya.

Puas menyusuri leher, buah dada serta melumat bibirku, Pak Jacky membopong badan telanjangku ke ranjang serta segera menindih. Tanpa ada melepas jas yang dipakainya, dia meneruskan kulumannya pada buah dada, perut sampai ke selangkangan serta berhenti pada liang kenikmatanku. Gelinjang pada pagi hari jadi bertambah desahan serta rintihan nikmat, kuremas remas kepala yang ada di antara ke-2 pahaku. Pantatku turun naik menyeimbangi permainan lidah yang tengah menari nari menyalurkan keinginan birahi yang menggebu, kadang-kadang kakiku menjepit serta seringkali juga naik ke kepala, dalam kondisi begini siapa yang perduli dengan apa yang namanya sopan santun. Desahan untuk desahan meluncur deras dari mulutku, sampai dikejutkan bunyi ponsel-ku, sembari terima jilatan di vagina, kuraih ponsel yang berada di meja dekat ranjang, tentu dari diantara GM pagi pagi gini sudah nelpon.

Tanpa ada menyaksikan siapa yang menelepon segera kujawab.

“halooo” jawabku dengan nada agak parau sembari sedikit menahan desah “pagi nyonya besar, baru bangun ya” nyatanya mbak Lita, untung dia menduga nada parau itu nada bangun tidur bukannya nada desahan nikmat. Spontan kudorong kepala Pak Jacky yang masih tetap ada diselangkanganku, aneh rasa-rasanya bicara sama mbak Lita sesaat suaminya tengah ada dalam jepitan pahaku, namun rupanya dia tidak perduli.

“eh mbak Lita, sudah bangun? ” tanyaku dengan nada agak keras biar Pak Jacky tahu apabila istrinya yang telpon, tetapi bukannya berhenti namun terlebih memperhebat serangannya, tangannya mulai turut ikut-ikutan keluar masuk vagina.

“he eh…ya mbak…ya…. he he…” cuma tersebut yang keluar dari mulutku sembari mendengar omongan mbak Lita berbarengan dengan permainan oral suaminya di vagina, kadang-kadang kujepit atau kuremas kepalanya.

Cukup lama mbak Lita bicara serta saya cuma menjawab sekenanya atau lebih persisnya hanya jawaban pendek serta sepanjang itu juga suaminya mempermainkan vaginaku. Tetapi saat saya agak cemas saat Pak Jacky tanpa ada mengindahkan saya yang tengah bicara dengan istrinya tiba tiba buka kakiku lebar lebar serta bersiap memasukkan penisnya. Saya berupaya tutup kakiku rapat rapat namun tangan dia lebih kuat buat mementangkannya kembali. Mataku melotot ke arahnya tandanya berang namun dia cuma membalas dengan senyum kemenangan sembari mulai menyapukan penisnya ke vagina, akupun sangat terpaksa mengatur tempat badanku. Kupejamkan mata serta kugigit bibirku pas Pak Jacky perlahan-lahan melesakkan penisnya, sesaat diseberang telepon istrinya selalu nyerocos tanpa ada henti, saya yang ada salah satunya jadi serba salah.

Fikiranku telah tidak konsentrasi kembali pada apa yang dibicarakan mbak Lita karna kocokan Pak Jacky yang makin menghebat, semampuku menahan desahan kesenangan, benar-benar siksaan sendiri. Hanya sebentar kudengar mbak Lita mengajakku turut ke Jakarta pas pulang kelak malam, saya cuma menjawab “he eh, ya deh, terserah aja” jawabku pasrah lebih karena Pak Jacky.

“…Jacky saat ini semakin hot lho…. menyerah saya dibuatnya…nggak rugi deh turut di Surabaya…dia begitu berlainan pas di Jakarta…. ” lamat lamat kudengar nada mbak Lita dari seberang, saya tidak sangat menyikapi karna suaminya tengah mengocokku dari belakang dengan tempat dogie sembari meremas remas ke-2 buah dadaku. Tak tahu terlebih yang disampaikan mbak Lita saya tidak dapat terima dengan terang terlebih menyikapi.

“… eh mbak ada telepon masuk nih, nanti saya sambung kembali ya” kataku berupaya memutus hubungan pas Pak Jacky memohonku diatas.

“… oke deh saya percaya kamu serta Jacky sempat dekat namun it was past, past is past but thanks anyway” tuturnya mengambil keputusan penuturan.

“kamu gila…gilaaaaaaaaaaaaaaa” Begitu hubungan telepon terputus, kulempatkan telepon ke ranjang serta segera saja kuambil kendali, badanku dengan liar bergerak menari nari naik turun di atas Pak Jacky, diapun mulai berani mendesah, demikian halnya saya.

Pagi itu kami bercinta dengan penuh gairah serta nafsu, terlebih sesudah tahu kelak malam mereka balik ke Jakarta dengan last flight, Pak Jacky menumpahkan seluruhnya nafsu birahi yang masih tetap tersisa seolah menggunakan seluruhnya yang ada padaku. Serta akupun terima semua limpahan birahi tanpa ada mengindahkan istrinya yang tengah sendirian di kamar beda, kunikmata pas spermanya membanjiri vagina serta mulut.

“kamu hebat, belum juga sempat saya melaksanakan begini dengan Lita” tuturnya saat sebelum meninggalkan kamarku seraya meninggalkan satu cek di meja yang nilainya kian lebih tinggi dari pada apabila saya temani tamu beda kurun waktu yang sama, benar-benar di luar kiraanku.

Jam 2 saya bersiap cek out sesudah beristirahat melayani Pak Jacky barusan pagi, Lita telah menanti di Lobby hotel, mereka akan cek out namun nanti sore. Untuk hindari keragua-raguan mbak Lita, kuminta room boy membawa busanaku terlebih dulu, jadi saya dapat turun tanpa ada membawa busana yang telah kubawa sekian waktu.

“Li, kamu nanti turut kami ke Jakarta, kelak saya perkenalkan pada rekanku, siapa tahu dia tertarik serta dapat jadikan kamu diantara stylenya, body serta muka kamu begitu mendukung, sayang apabila disia siakan serta terbuang sia-sia apa yang kamu punya, terlebih kamu masih tetap muda. Saya jamin deh tentu rekanku mau” ajaknya pas kami makan siang.

Sesungguhnya dunia styleing tidaklah sangat baru bagiku, saat sebelum saya kawin saya sempat turut style serta jadi peragawati amatir di kotaku dahulu, satu kota kecil di Jawa Timur, walau cuma mencapai runner up, namun cukup buat bangga pas itu serta terasa saya yaitu paling cantik di kota itu.

Saya seringkali mendengar, walau tidak dapat dipukul rata, bagaimana kehidupan beberapa style atau peragawati yang seringkali juga terima bookingan tidur beberapa lelaki dengan harga tinggi, terlebih apabila sempat nampak di majalah. Kesempatan emas terasanya terbentang lebar di muka mata. Tapi tak tahu kenapa rasa-rasanya sangat berat meninggalkan kota Surabaya yang telah mengukir beragam jenis pengalaman dalam hidupku.

“kamu cobalah saja, nanti turut saya serta kuperkenalkan sama sebagian photographer serta styleling agent yang menanganiku” lanjut mbak Lita menyaksikan keragua raguanku.

Saya diam saja tidak menjawab, selalu jelas fikiran berkecamuk buat pertimbangkan tawaran itu.

“udah, tidak usah diputusin saat ini, turut saja 2-3 hari seterusnya kamu putuskan sesudah menyaksikan bagaimana kehidupan Jakarta dengan dunia stylelingnya” tuturnya.

Saya cuma menurut saja dalam kebimbangan.

“kamu pulang dahulu nanti malam kita pergi keduanya sama, agar bill hotel saya menjadikan satu aja” tuturnya. Saya cemas, apabila hingga bill hotelku dibayari, sudah pasti dia dapat tahu apabila saya sesungguhnya bermalam sekian waktu.

“permisi mbak saya ke toilet dulu” kataku setelah itu.

Tanpa ada setahu mbak Lita, saya segera menuntaskan bill hotel kamarku serta bergegas hampiri concierge buat minta tasku serta kutaruh di mobil. Kutelepon Pak Jacky minta pertimbangan karna mbak Lita mengajakku ke Jakarta, namun tanpa ada ceritakan ajakan jadi style, toh dia dapat tahu juga nanti.

Seperti kiraanku, Pak Jacky segera mensupport, sudah pasti dia dapat dapat mencumbuku lebih lama kembali, peluang nikmati badanku lebih jauh.

Akhirnya, malam harinya saya turut suami istri itu terbang ke Jakarta, kuabaikan bookingan yang datang. Kami duduk di deret bangku yang sama, karna Lita tertarik pada duduk di dekat jendela (walau malam hari tidak dapat menyaksikan apa apa di luar terkecuali cuma gelap), jadi Pak Jacky duduk ditengah pada saya serta Lita. Sudah pasti mengasyikkan Pak Jacky karna dapat duduk disampingku.

Sesudah hidangan makan malam (saat itu pesawat masih tetap menghidangkan makan pada penerbangannya, tidak seperti saat ini yang cuma kue serta aqua) serta lampu mulai redup, kurasakan tangan Pak Jacky mulai menggerayang di pahaku, terlebih istrinya seperti mulai terlelap. Tanpa ada butuh berkata kata, terus terusan tangan Pak Jacky berhasil meremas remas buah dadaku, walau sebenarnya istrinya ada selain. Saya membiarkan saja serta menggoda sembari meremas remas selangkangannya, dia pura pura tertidur dengan menutupkan koran pada paha, sesungguhnya buat menutupi tanganku yang ada diselangkangan. Sungguh aksi berani pada celah yang sempit seperti di pesawat dengan istri yang duduk selain.

Untung perjalanan cuma satu jam, apabila tidak, bisa saja Pak Jacky telah orgasme di celana, terlebih berniat kulepas bra pas saya ke toilet, maka Pak Jacky dapat semakin leluasa mempermainkan putingku walau dari luar.

Sopir telah menanti saat kami keluar dari airport serta segera menuju ke Hotel Mandarin, hotel yang dipilihkan Pak Jacky, terakhir baru kutahu apabila itu dekat dengan kantornya serta dia dapat selekasnya menemuiku sepulang kantor atau saat sebelum ke kantor.

Malam itu saya dapat tidur dengan pulas tanpa ada “gangguan” dari Pak Jacky, ini dia saat kali pertama saya rasakan kesepian di kamar hotel, belum juga sempat saya sendirian begini di kamar, selamanya ada lelaki yang temani serta mesti kulayani. Baru kusadari mengapa lelaki menginginkan ditemani apabila perjalanan ke luar kota, karna sendirian di kamar tidak mengasyikkan. Tidak heran apabila banyak tamuku yang menginginkan kutemani hingga pagi, walau cuma hanya rekan bercakap ataupun dengan all night long seks. Menginginkan rasa-rasanya kutelepon rekan rekan sekedar untuk rekan bercakap, tentu banyak yang masih tetap bangun walau telah jam 11 malam, karna bagiku jam segitu masih tetap sore, diskotik baru mulai. Kalau saja saya tahu seluk beluk Jakarta, pasti saya telah keluar ke diskotik namun Jakarta sangat asing bagiku. Walau sekian kali saya bermalam di Jakarta, belum juga sempat saya ke diskotik sendirian, selamanya ada yang temani serta selamanya baru dapat tidur selepas jam 3 pagi karna masih tetap mesti menuntaskan “kewajiban”. Malah semakin banyak rute Airport-Hotel-Airport tanpa ada tahu yang namanya Monas di mana, terlebih Ancol atau Taman Mini.

Jam 8. 30 pagi Pak Jacky telah ada di kamar saat sebelum ke kantor, berbarengan dengan mbak Lita yang menelepon. Maka peristiwa morning fuck seperti di surabaya tempo hari berlangsung kembali. Sembari rasakan cumbuan serta enaknya kocokan suaminya, saya dengarkan gagasan mbak Lita hari ini, memperkenalkan saya pada rekan rekannya.

Sepanjang di Jakarta, tiap-tiap pagi saya melayani nafsu birahi Pak Jacky sebelumnya ke kantor, tidak dapat lama lama dikarenakan kemudian jam 9-10 mbak Lita menjemput serta mengenalkan pada rekan rekannya. Banyak pramugari, style bahkan juga beberapa artis yang telah miliki nama diperkenalkan, mereka yang sejauh ini cuma dapat saya tengok di majalah serta iklan, kesempatan ini saya dapati dengan segera. Demikian halnya potografer, pokoknya siang hari saya ada dilingkungan selebrity, mengetahui pergaulan mereka sampai malam larut dengan dunia malamnya ala selebrity yang sejujurnya menurutku tidak jauh berlainan dengan kehidupan malam yang sejauh ini saya lakoni. Cuma bedanya, malamku nyaris senantiasa selesai dipelukan lelaki sedang mereka sesudah clubbing saya tidak tahu kemana mereka pergi. Tidak kuduga sambutan rekan rekan mbak Lita sangatlah baik serta welcome, bahkan juga lebih dari satu photographer sudah segera lakukan lebih dari satu pemotretan.

Seperti yang kuduga, senantiasa ada 1-2 ajakan agen atau photographer untuk tidur dengannya kalau menginginkan cepat meng-orbit, tak tahu dengan atau tanpa ada setahu mbak Lita. Saya cuma tersenyum saja menganggapi ajakan itu, walau tidak kaget tapu cukup mengagumi akan dengan kenekatan mereka yang mengajak dengan selalu jelas (saya tidak punya maksud mendeskreditkan siapa saja yang ikut serta dalam profesi mirip ini, namun berikut pengalaman yang kualami). Sepanjang 3 hari di Jakarta, tak tahu telah berapakah ajakan tidur yang kutolak, serta sepanjang itu juga tiap-tiap pagi kulayani birahi Pak Jacky. Serta akupun rasakan kesepian setiap waktu kembali pada kamar hotel dari clubbing tak ada sentuhan serta belaian dari lelaki. Sejujurnya saya mungkin memperoleh lelaki, namun rasa-rasanya saya masih tetap melihat mbak Lita serta melindungi citra di hadapannya. Saya tidak mengerti serta tak mau tahu apakah mbak Lita juga alami hal yang sama denganku atau bahkan juga tidur dengan lelaki beda tidak cuman suaminya, itu tidaklah masalahku. Maka dari itu saya tidak sempat menceritakan pada mbak Lita tentang ajakan ajakan tidur itu.

Sejujurnya pada hari ke-2, mbak Lita mulai mengerti kesepianku sendirian di Hotel, dia menawari agar tidur di tempat tinggalnya yang luas dibilangan Menteng namun saya menampik, demikian halnya kala kutanyakan pada Pak Jacky (tanpa ada setahu mbak Lita sudah pasti), dia tidak sepakat dikarenakan tidak dapat bebas menemuiku sebelumnya ke kantor serta tidak mungkin saja ditunaikan dirumah.

Hari ke-3 saya telah tidak tahan sekali lagi serta menginginkan kembali “berbisnis” di Surabaya, terlebih sepanjang di Jakarta tidak terang bayaran yang saya terima sepanjang melayani Pak Jacky pada pagi hari, serta yang tentu telah banyak kerugian dikarenakan tidak terima tamu sepanjang 3 hari tidak cuman Pak Jacky.

Pagi itu pada hari ke-3, sesudah melayani suaminya, akupun jabarkan rencanaku untuk kembali pada Surabaya sore hari kelak, dia terperanjat dikarenakan mengharapkan saya dapat tinggal lebih lama sekali lagi, minimalnya satu minggu, banyak yang menginginkan diperlihatkan padaku tentang dunianya yang penuh glamour, namun saya bersikeras untuk pulang sore itu, jadi mbak Lita-pun tidak dapat menahan lebih lama sekali lagi.

Mbak Lita mohon maaf dikarenakan tidak dapat mengantarku ke Airport, ada pemotretan iklan, sejujurnya dia menginginkan mengajakku juga dikarenakan pemotretannya ditunaikan di Puncak.

“sorry ya Ly, namun saya dapat kirim sopir untuk mengantarmu ke airport” tuturnya lewat ponsel”ah tidak usah merepotkan mbak, saya dapat naik taxi kok”Meski mbak Lita memaksa saya masih menampik serta kuputuskan naik taxi dikarenakan ada perasaan tidak enak dengan kebaikan mbak Lita sejauh ini serta saya masih tetap tidur dengan suaminya, walau semata-mata usaha.

“Thanks ya mbak sepanjang di Jakarta pengen temaniku serta memberiku pengertian baru, salam untuk Pak…eh Jacky” kataku nyaris keceplosan.

“oke deh bila gitu, tolong pikirkan tawaranku sejauh ini, please, oke bye bye and see you ” tuturnya.

Limabelas menit lalu, dia meneleponku. ”Ly, kebetulan Jacky ada acara mendadak mesti ke Ujung Pandang, saya minta dia menjemputmu agar sekalian pergi ke Airport, dari pada kamu sendirian” katanya”pokoknya tunggulah saja dia tentu datang menjemput kok” tuturnya tanpa ada menanti persetujuanku.

Satu jam lalu saya telah kembali duduk di samping Pak Jacky dalam BMW-nya menuju airport.

Dia menyuruhku menanti sebentar pada saat dia beli ticket, saya kaget pas diperlihatkan dua ticket dengan arah Denpasar atas nama dia serta namaku. Pak Jacky cuma tersenyum lihat kekagetanku. ”kata mbak Lita kamu pengen ke …………. ””………ujung pandang? itu cuma argumenku saja agar dia tidak berprasangka buruk, serta saya menginginkan bulan madu denganmu di Bali, 3 hari cukupkan, bila tidak dapat kita extend kok” jawabnya dengan senyum penuh kemenangan.

Maka jadilah saya temani Pak Jacky kembali, hari pertama kami perlukan dengan penuh nafsu di Nusa Dua, Bali, sedang hari selanjutnya atas usulku, kamipun menyebrang ke Lombok, berbulan madu di Hotel Sheraton. Dia benar benar memakai saat sebagus sebaiknya atas diriku, seolah tidak pengen luangkan waktu terbuang tanpa ada menyentuhku. Gairah serta birahinya benar benar ditumpahkan padaku tanpa ada mengetahui capek, seolah wujudkan seluruh fantasy-nya sejauh ini pada diriku. Akupun menyeimbanginya dengan godaan godaan penuh nafsu, tiap-tiap pagi kami sunbathing di pantai, seperti turis yang ada di sana, akupun ikuti topless pas berjemur, walau saya mencari tempat yang teduh. Kami benar benar rasakan berbulan madu yang sebenarnya.

Baca Juga : Cerita Seks Dunia Pelacuran

Tiga hari di Lombok kami rasa tidak cukup namun ada pekerjaan yang menuntutnya untuk selekasnya kembali pada Jakarta, jadi kamipun sangat terpaksa mesti meninggalkan Pulau Lombok yang exotic. Kamipun berpisah di Surabaya dikarenakan memanglah mencari pesawat yang transit di Surabaya, saya pulang serta kembali meneruskan profesiku sejauh ini serta dia kembali pada istrinya yang cantik itu.

Mengenai tawaran mbak Lita sangat terpaksa mesti saya abaikan dikarenakan beberapa hal yang perlu kupertimbakngkan (terakhir saya menyesali keputusanku ini, apabila saya terima tawaran mbak Lita, mungkin saja saya telah masuk lingkungan selebrity saat ini, toh lingkungan itu tidak jauh berlainan dengan lingkunganku di surabaya walau dengan nuansa yang berlainan, akan tetapi penyesalan senantiasa datang terakhir).

Ketika narasi ini ditulis, Pak Jacky tengah meringkuk di penjara dikarenakan ikut serta korupsi serta KKN, maklum anak petinggi di masa Orde Baru, tahu sendirikan sepak terjangnya. Sedang mbak Lita, saya tidak sempat sekali lagi mendengar sepak terjangnya maupun memandangnya di mass media. Sesekali kupandangi majalah lama dengan cover berwajah yang cantik serta sexy itu.

Bunga99.com Agen Bola Online BandarQ Poker Domino99 Togel Casino Terpercaya
BungaQQ Situs Domino99 BandarQ Dan Poker Online Terpercaya 2017
KepoQQ Situs BandarQ Domino99 AduQ Poker Online Terpercaya
7 Situs BandarQ AduQ DominoQQ Online Terpercaya 2017
Situs BandarQ Poker Domino Online Terpercaya Terbaik 2017
Agen Situs Poker BandarQ Online Terpercaya Terbaik Tahun Ini

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *