Bunga99 agen bola online
Cerita Seks Dunia Pelacuran

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Seks Dunia Pelacuran

Cerita Seks Dunia Pelacuran – Hari belumlah larut, jarum jam belum juga menyentuh angka 9 malam, masih tetap sore bagiku. Sesore ini rasa capek serta lelah telah kurasakan, hari ini sejujurnya cukup menggembirakan sampai peristiwa baru saja yang membuatku benar benar kehilangan semangat, menginginkan rasa-rasanya menggunakan malam hari ini dengan menyendiri dirumah, nonton tv dengan rekan rekan, aktivitas yang telah lama tidak kulakukan.

Tiga orang lelaki sudah kulayani dalam melampiaskan keinginan sexualnya, pagi barusan kuserahkan
badanku pada orang lelaki yang kutaksir tidak lebih dari 45 th. di Hotel Sahid, walau sebenarnya masih tetap pagi lebih kurang jam 10 serta saya baru bangun. Tidak ada hal yang istimewa kepadanya, seperti tamuku yang lain yang datang serta pergi. Kami bermain 2 sesi untuk satu 1/2 jam.

Cerita Seks Dunia Pelacuran

Tamu ke dua yaitu orang Korea, yang nikmati hangatnya badanku pas jam istirahat kantor, umum bobok bobok siang atau Seks After Lunch di Hotel Westin (saat ini JW Marriot). Kulayani dia cuma satu sesi selama nyaris 45 menit nonstop, mungkin saja lantaran banyak makan ginseng serta didukung umur yang masih tetap muda, belumlah 40 th. menurut pengakuannya. Mujur cuma satu sesi lantaran dia ada meeting di kantornya jam 2 siang kelak.

Lelaki ke-3 yang menyetubuhiku yaitu anak muda chinese langgananku, umum bila telah berlangganan pasti semakin banyak ngomongnya, lebih enjoy, hingga meskipun kuhabiskan lebih lebih 2 jam temaninya tetapi saya cuma melayaninya hanya 2 kali. Itupun yang ke dua cuma bertahan tidak lebih 5 menit.

Yang membikin saya kesal yaitu tamuku yang ke-4, yang membookingku sesudah jam kerja kantor, jam 6 sore. Saya temaninya di Palm Inn, hotel short time yang terdapat di daerah Mayjend Sungkono, tempat itu sangat familiar bagiku. Tak tahu telah berapakah puluh kali badanku di nikmati berbagai lelaki ditempat itu. Saya percaya semuanya kamar telah sempat kupakai.

Seseorang GM sudah memohonku mulai sejak siang barusan, pas saya terima tamu Korea, lantaran telah terlanjur terima bookingan, jadi kujanjikan sore bila masih tetap ingin menanti. Rupanya si tamu tidak ingin dengan yang beda jadi dia bersedia masuk waiting daftar.

Saat saya tiba di Palm Inn, dia telah menanti didalam. Agak terkaget pas memandangnya, berwajah kelihatannya tidak asing bagiku, kelihatannya sudah mengetahui dia, tak tahu di mana, yang jelas
muka itu saya kenal tetapi tidak kuingat kembali.

“mungkin diantara tamuku yang cuma booking sekali atau 2 x lantas tidak muncul lagi” fikirku, sudah pasti untuk tamu begini saya lupa lantaran sangat banyak lelaki yang datang serta pergi isi hari hariku. Bila tak ada hal yang istimewa, demikian berpisah dengan tamuku terlupakan telah apa yang barusan kami tekuni.

Dia mengenalkan diri dengan nama Yanto, umurnya mungkin saja lebih 55 th., jadi seangkatan dengan papaku.

Kami bercakap enteng, meskipun dia telah berhenti merokok tetapi mengijinkan saya untuk merokok. Pak Yanto orangnya tampak ramah serta sabar, 20 menit bercakap dengannya saya makin senang dengan karakternya yg tidak cepat-cepat. Sepanjang 20 menit itu juga saya mengingat ingat di mana kenal dengan muka ini lantaran bagiku nampak tidak asing sekali, menginginkan bertanya takut dia tersinggung. Bila saya bertanya pada tamu apakah sempat mem-bookingku, pasti mau bikin tamu itu tersinggung lantaran bermakna bagiku dia semata-mata umum biasa saja, bagiku saya menginginkan berikan kesah bila tiap-tiap tamu yang kulayani yaitu lelaki istimewa serta unik yang tidak mudah terlupa. Bila saya sangsi sama seseorang tamu, jadi akupun mau berlaku sok akrab.

Sampai Pak Yanto memohonku melepas baju, saya masih tetap belum juga temukan jawabannya meskipun telah kuusahakan memancing sebagian pertanyaan yang menghadap, tetaplah saja tidak berhasil.
Badanku yang telah telanjang duduk dipangkuannya, kami sama-sama bertatapan, Pak Yanto belumlah juga melepas bajunya.

“kamu memanglah menggemaskan, menggairahkan serta menggoda, tidak kusangka selanjutnya saya bisa peluang ini” tuturnya disusul ciuman lembut di pipi serta bibir, lantas turun ke buah dada serta sedotan pada putingku.

Tak tahu mengapa pas Pak Yanto mencium pipi serta bibirku, bulu kudukku berdiri, seperti ada getaran aneh menyelimuti badanku.

Kuluman yang lembut pada bua dadaku perlahan-lahan makin menggairahkan, tidak bisa ditahan kembali akupun mulai menggeliat serta mendesah diatas pangkuannya, kuremas remas rambutnya. Badanku turun turun di antara kakinya, kulucuti bajunya satu persatu sampai keduanya sama telanjang. Keelus lembut serta kukocok dengan tangan sembari menciuminya, pas akan kukulum penisnya yang tegang itu, dia mengangkat mukaku, ditatapnya dalam dalam seolah menengok isi hatiku, bergidik saya jadinya, seperti ada benang merah yang tidak bisa kumengerti pada saya serta dia, diciumnya kening serta bibirku, kemudian dia diam saja saat lidahku mulai menyentuh kepala penisnya.

Pak Yanto mulai mendesah, penis itu telah keluar masuk mulutku, tangannya membelai lembut rambutku yang tergerai dengan lembut. Dia senantiasa menyibakkan rambutku bila ada yang menghambat pandangannya pada wajahku yang tengah mengocok penisnya, pandangan itu tidak sempat terlepas kearahku.

“Pindah ranjang yuk” ajakku

Saat saya berdiri akan menuju ranjang, dia menarikku sampai akupun terjatuh terduduk kembali dalam pangkuannya. Pak Yanto mendekapku dari belakang, tangannya meremas remas buah dadaku sambil menciumi punggung serta tengkukku.

Saya kekuatanng diatas ranjang, tak tahu telah berapakah ratus pasangan yang sudah melampiaskan nafsunya di ranjang ini.

“boleh kucium? ” bertanya Pak Yanto pas tangannya telah ada diselangkanganku

“em…kalau papa mau” jawabku, umumnya lelaki seumur dia pandai bermain oral, maklum jam terbang telah tinggi serta permainan oral tidak di pengaruhi usia atau stamina, jadi umumnya lebih pandai dari yang muda muda. Disinilah keunggulan lelaki yang telah tua.

Sangkaanku benar ada, bibir serta lidah Pak Yanto dengan dibantu jari jari tangannya demikian pandai bermain diselangkanganku, mempermainkan klitoris serta bibir vagina, akupun menggeliat dalam nikmat, sudah pasti disertai desahan desahan.

“sini Pak, enam sembilan” ajakku, dia segera menurutinya.

Kunikmati benar permainan oral ini lantaran untuk tamu seusia dia saya tidak mengharapkan banyak dapat memperoleh orgasme dari persetubuhan. Permainan oral kami benar-benar mengasyikkan, berkali-kali kami bergulingan berpindah tempat atas serta bawah.
Saya mesti menyadari bila dia lihai bermain oral seks, selain itu cukup tahan juga menahan orgasme. Banyak lelaki yang telah orgasme cuma dengan kulumanku, bahkan juga banyak pula yang orgasme hanya dengan dikocok tangan.

Badan Pak Yanto telah di atasku, bersiap melesakkan penisnya isi vaginaku.

“mau pakai kondom? ” tanyanya sopan sembari memandang tajam, saya tidak mampu melawan tatapannya.

“terserah papa, saya sich oke oke saja kok” jawabku sembari menjauhi tatapannya.

Kutuntun penis itu masuk liang kenikmatanku, penis ke-4 yang masuk vaginaku hari ini. Perlahan-lahan dia mendorong masuk, matanya tidak terlepas menatapku, seperti nikmati expresi wajahku yang tengah terima kesenangan darinya. Kembali dikecupnya kening, pipi serta bibirku sesudah penisnya masuk semuanya, didiamkannya sesaat sambil melumat bibir.

Kocokannya perlahan serta lembut, seperti takut merusakkan vaginaku. Badan Pak Yanto mulai menindihku, kami sama-sama berpelukan serta mengulum bibir, makin lama kocokan itu makin cepat bikin badanku mulai menggeliat. Butiran keringat tampak di berwajah, punggungnya mulai basah walau sebenarnya belumlah 10 menit kami bercinta, maklum telah 1/2 baya. Ciuman Pak Yanto berpindahan dari pipi, leher, bibir serta kening, kujepit pinggang Pak Yanto dengan ke dua kakiku yang melingkar di pinggang. Badan telanjang kami sama-sama mendekap makin rapat menyatu, tak tahu mengapa ada rasa aman pas Pak Yanto mendekapku erat, seperti saya tengah dalam perlindungannya, walau sebenarnya waktu ini saya tengah dalam lampiasan birahinya.

“mau keluar didalam atau diluar? ” bisiknya tidak lama kemudian

“terserah papa, sukanya dimana” jawabku sembari mendesah

Tiba tiba badannya menegang, pergerakannya kacau, kurasakan kepala penisnya jadi membesar dalam vaginaku, disusul denyutan kuat menempa dinding dinding vagina. Pak Yanto menjerit sembari mendekapku makin erat, akupun ikut-ikutan menjerit rasakan kuatnya denyutan itu. Kami kembali berciuman bibir sesudah denyutan denyutan itu menghilang, kubiarkan badannya terus ada di atasku, napasnya menderu hebat bersamaan detak jantung yang dapat kurasakan berdetak kuat di dadaku.

Badan telanjang kami kekuatanng terkapar diatas ranjang. Plafon kaca memantulkan bayangan badan kami yang telanjang berdampingan. Kubersihkan penis Pak Yanto dengan tisu yang memanglah sudah ada lantas saya kembali rebah dalam pelukannya.

“tak kusangka selanjutnya saya dapat memperolehmu seperti ini” tuturnya seperti tengah memperoleh durian rubuh.

Kembali rasa penasaran mendatangiku, saya percaya bila dia telah mengenalku terlebih dulu, tak tahu di mana.

Kutinggalkan Pak Yanto yang tengah kembali kenang peristiwa baru saja. Di kamar mandi kubersihkan vagina dari spermanya sembari berupaya mengingat dimanakah saya ketemu Pak Yanto terlebih dulu, tetapi tidak berhasil tidak kudapat jawaban atas rasa penasaranku.

Saat saya keluar kamar mandi, kulihat dia tengah menelepon. Dari perbincangannya tentu dari seseorang cewek lantaran tampak demikian manja. Saya tidak tertarik mendengar perbincangannya namun kudengar sayup sayup panggilan “sayang” berkali kali serta disudahi dengan kata “I love you too”.

“sorry, barusan dari anakku, Devi, biasalah gadis masa saat ini banyak kebutuhannya” tuturnya seperti menginginkan berikan keterangan padaku, walau sebenarnya saya tidak perduli apakah dia telepon sama Devi atau siapa saja, anaknya atau apa pun, bukanlah masalahku.

Sesi ke dua kami laksanakan 20 menit selanjutnya, kesempatan ini tempatku di atas, dengan leluasa dia dapat menjamah semua badanku, meremas remas buah dada serta mendekapku dengan gemasnya. Bahkan dengan terang dapat nikmati expresi kesenangan yang terpancar dari wajahku.

Seperti sesi terlebih dulu, tidak lebih 10 menit dia kembali menghantam dinding vaginaku dengan denyutan denyutan nikmat. Sejujurnya mungkin saya membuatnya lebih cepat dari itu, terlebih tempat di atas yaitu tempat favorite lantaran akulah yang memegang kendali permainan.

Kami mandi dengan sesudah istirahat sebagian waktu lamanya. Dengan tekun dia memandikanku, menyeka serta menyabuni semua badanku, tidak ada remasan remasan nakal seperti tamuku yang lain, benar benar diperlakukan seperti orangtua yang memandikan anaknya.
Usai mandi kami kenakan pakaian serta meneruskan bercakap sambil tunggu taxi yang dia pesan, sudah pasti saya mesti temani hingga taxi itu datang.

“kamu kok tidak sempat main ke tempat tinggal lagi” tukasnya sambil menyerahkan amplop putih memuat duit.

“maksud Ayah? tempat tinggal siapa? ” tanyaku heran, kuhentikan isapan rokokku serta kuletakkan amplop putih yang kuterima barusan si meja.

“dulu kan seringkali main ke tempat tinggal, didaerah Blauran” lanjutnya

Saya terdiam pikirkan arah perbincangan ini.

“emang saya kenal Ayah terlebih dulu serta kita sempat berjumpa? ” tanyaku penasaran, tidak ada sekali lagi rasa enggan takut tersinggung seperti barusan.

“Bukan hanya kenal, saya bahkan juga seringkali mengantarmu pulang sesudah main di rumah” jawabnya, makin membuatku bingung. Rasa-rasanya saya tidak sempat main atau terima bookingan dirumah, terlebih daerah blauran.

“Bapak siapa sich? ” tanyaku tidak dapat menutupi rasa penasaranku

“aku bahkan juga seringkali menciummu walau ciumannya beda dengan yang barusan, memangkumu telanjang, walau tidak seperti barusan, serta memandikanmu meski momennya tidak sama juga dengan baru saja bahkan juga kamu selamanya minta saya cium waktu kuantar pulang”

“ah Ayah ngaco deh, meng-ada ada” jawabku dalam kebingungan

“kamu masih tetap belum juga tau siapa saya? ” tanyanya menyeretku dalam rasa penasaran yang membesar

“nggak tau ah” jawabku putus asa

“nah, persis saat deh bila kamu sekali lagi geram, tidak beralih dari dahulu, saksikan tuch cemberut gitu dengan mulut monyong” godanya

“habis Ayah buat saya penasaran sih” tanyaku manja, saya percaya dia mengetahui banyak mengenai diriku, lebih dari apa yang kuperkirakan.

“oke saya kasih satu nama agar ingat, baru saja saya telepon dengan Devi, ingat nama itu? ”

Saya diam sesaat, kuingat ingat rekan yang bernama Devi, terdapat banyak namun tidak satupun dapat kusangkut pautkan dengan Pak Yanto, Devi cina yang mata duitan serta cuma ingin terima tamu chinesse atau Devi bule yang rambutnya selamanya di cat blonde, atau Devi sekretaris yang terima bookingan di luar jam kantor serta simpanan bos-nya, atau Devi yang lain. Rasa-rasanya semuanya tidak ada hubungan dengan Pak Yanto.

“ah, tidak tau ah, ingin Devi atau Dewi atau Debra terserah deh, saya tidak tahu” jawabku menyerah dengan muka jadi cemberut.

“ingat tidak Devi yang tinggal di Blauran yang tempat tinggalnya di sudut kampung cat hijau? ”

“……HAAA????? Bapak…bapak…bapak yaitu Om Hari? ayahnya Devi? ” potongku membelalak, kupandangi berwajah, muka yang barusan buat saya penasaran, muka yang barusan berkali-kali dalam jepitan selangkanganku.

Saya berdiri menjauh, kutatap Pak Yanto lebih cermat, serta benar terdapatnya, dia memanglah Om Hari ayahnya Devi, sahabatku saat masih tetap kecil. Pak Yanto, laki -aki yang sudah menyetubuhiku 2 kali serta memberiku kesenangan permainan oral, lelaki yang sudah isi rahimku dengan spermanya yaitu tidak beda bapak Devi, rekan sepermainanku saat kecil.

Dunia seperti berputar-putar serta menyempit menjepitku.

“lily…aku…aku tidak bermaksud…. ”

Tak kudengarkan sekali lagi perkataan Pak Yanto atau Om Hary, saya lari keluar kamar meninggalkannya seseorang diri, lekas kupacu mobil pantherku menjauh dari tempat itu secapat bisa saja. Tak kuhiraukan sekali lagi amplop putih yang kuletakkan di meja barusan.

Selama jalan kusesali ketololanku, layak saja mulai sejak pertama berjumpa saya rasakan muka itu tidak asing sekali lagi serta terasanya saat dekat kukenal, layak saja saya rasakan rasa aman waktu dalam dekapannya seperti kulakukan dahulu bila berantem dengan Devi, Om Hari malah seringkali membelaku dari pada anaknya.

Bayangan masa kecil nan bahagia terpampang terang dalam benakku, sejak kecil bahkan juga sampai SMA saya serta Devi tumbuh dengan, seringkali saya nginap dirumahnya bila hari libur, demikian halnya dia. Kami makan di piring yang sama, tidur di ranjang yang sama serta konyolnya kagum pada cowok yang sama waktu kelas 1 SMA tetapi tidak memengaruhi persahabatan kami lantaran keduanya sama tidak memperoleh cinta cowok itu.

Tempat tinggal Devi terlebih dulu yaitu bertetangga denganku, sesudah Om Hari miliki tempat tinggal sendiri mereka ganti ke daerah Blauran. Karena kami memanglah rekan yang sesuai, jadi akupun seringkali minta diantar ke Blauran utk main ke tempat tinggal Devi, demikian halnya waktu masuk umur sekolah, kami bersekolah di sekolah yang sama dari TK sampai SMA hingga Om Hari mesti ganti tempat tinggal lantaran pekerjaan ke Medan, mulai sejak tersebut saya serta Devi putus hubungan. Peristiwa itu saat kami naik dari kelas 1 ke kelas 2, saya ingat benar bagaimana waktu itu kami bertangisan di airport Juanda mengantar kepergian Devi dengan keluarganya, serta satu minggu mulai sejak itu saya sakit demam.

Cerita Seks Dunia Pelacuran

Saya amatlah manja pada Om Hari, nama sejujurnya yaitu Haryanto, bahkan juga hingga kelas 3 SMP masih tetap tanpa ada malu cuma kenakan celana dalam serta kaos singlet didepannya, meski sebenarnya buah dadaku udah mulai terjadi menonjol. Malahan bila kulihat Devi tengah dipangku ayahnya, saya ikut-ikutan duduk dipangkuannya, itu berlaku sampai kelas 3 SMP, sikap manjaku beralih sesudah saya memperoleh menstruasi pertama yang nyaris berbarengan dengan Devi.

Saat kami masih tetap kecil, belum juga sekolah, Om Hari seringkali memandikanku berbarengan dengan anaknya, bahkan juga kami seringkali bermain petak umpet waktu dapat dipakai baju. Ini semuanya lantaran waktu itu Om Hari masih tetap belum juga bekerja, semuanya keperluan hidup dipenuhi istrinya yang bekerja di Pemda serta dari mertuanya, jadi Om Hari bertindak jadi ibu rumah-tangga waktu itu.

Tak merasa airmataku meleleh membasahi pipi, kubiarkan deras mengalir turun. Jalanan Mayjend Sungkono yang macet itu buat saya lebih bebas ber-nostalgia dengan Om Hari.

“Devi, dimanakah kamu saat ini? maafkan sahabatmu ini, maafkan saya, bukan hanya maksudku …” teriak batinku tidak kuasa meneruskan, tiba tiba rasa kangen pingin berjumpa dengannya saat besar, tetapi mengingat peristiwa baru saja rasa-rasanya tidak ada muka utk berjumpa dengannya.

Seperti kata Om Hari barusan, dia dahulu seringkali memangkuku bahkan juga dalam kondisi telanjang, saat ini dia jalankan sekali lagi meski dalam konteks yang tidak sama. Demikian halnya bila dahulu seringkali memandikanku, saat ini kembali dia memandikanku walau dengan situasi tidak sama. Dahulu dia menidurkanku bila saya nginap dirumahnya, saat ini kembali dia meniduriku dengan maksud tidak sama juga.

Benar-benar kusesali bila Om Hari, bapak kawan akrab kecilku, saat ini termasuk juga dalam daftar beberapa puluh atau beberapa ratus lelaki yang sudah meniduriku, menyetubuhiku atau satu dari demikian banyak lelaki yang sudah menyiramkan spermanya di rahimku.

HP-ku berbunyi, kulihat no tidak kukenal, lekas kujawab, saat kudengar nada Pak Yanto atau Om Hari lekas kumatikan serta sesudah itu tidak kuangkat sekali lagi walau berdering beberapa puluh kali.

Kubelokkan mobilku ke Salon langgananku, pingin rasa-rasanya menenggelamkan diri di salon itu, melupakan apa yang baru saja berlangsung. Di salon saya dapat memanjakan diri, dari mulai creambath, mandi lulur serta beda yang lain.
Jam 21 : 30 saya keluar dari salon dengan perasaan yang udah tenang, terlupakan udah peristiwa barusan sore kendati tidak seluruhnya, cuma creambath yang kulakukan di salon itu lantaran udah ingin tutup.

Sesampai di rumah, GM yang memohonku menjumpai Om Hari barusan meneleponku, sudah pasti saya tidak narasi siapa sejujurnya Om Hari, GM barusan cuma mengemukakan bila uangnya dia pegang.

Dari GM itu saya tahu bila Om Hari udah satu bulan ini inginkan saya, tukasnya dia melihatku waktu masuk kamar di Hotel Shangri La dengan seseorang Om-Om chinese.

“katanya dia kenal kamu namun sangsi ragu, maka dari itu minta saya bookingin kamu utk memberikan keyakinan, sekalian menyingkirkan stress katanya” terang si GM

Nasi udah jadi bubur serta sukar bagiku utk menghambat hal tersebut terulang sekali lagi lantaran bila GM yang mengatur saya tidak dapat tahu tamunya hingga ketemu dikamar seperti beberapa, serta itu udah terlambat.

Kusibukkan sisa malamku dengan rekan rekan nonton tv, rekan rekanku juga berprofesi tidak lain denganku walau banyak yang berstatus pegawai kantoran atau hostess di night club.

Tengah asyik nonton acara tv, si GM barusan meneleponku sekali lagi, memohonku utk temani tamunya di Hotel Westin. Sejujurnya saya udah malas terima tamu sekali lagi, peristiwa barusan sore buat mood-ku drop serta malam hari ini tidak ada ketertarikan utk bekerja, 4 tamu hari ini udah lebih dari cukup.

Baca Juga : Aku di Perkosa Ayah Mertuaku sendiri

“aku letih Om, ngantuk nih” tolakku halus, namun GM itu selalu menekan

“kamu tidak usah letih capek, kamu tidak sendirian kok, udah ada rekannya disana, dia pingin main bertiga, ringankan? terlebih orangnya ini udah cukup berusia, bisa saja 50 tahunan, jadi pasti tidak tahan lama, nafsunya saja gede” rayu si GM sekali lagi membujukku.

Pada akhirnya saya tidak tahan hadapi bujukan si GM, kuterima tawarannya.

Tigapuluh menit lalu saya udah ada di lift menuju lantai 8 hotel yang sudah kudatangi barusan siang utk penuhi pelampiasan nafsu seseorang Korea. Seringkali saya alami bolak balik ke hotel yang seperti sama ini.

Seseorang lelaki buka pintu menyongsong kedatanganku, badannya agak gemuk cuma tertutup handuk di pinggangnya.

“Malam, dengan Pak Bram? ” tanyaku meyakinkan

“kamu Lily? … masuk…masuk, kami udah menunggu” katanya

Laki laki itu tidak setua yang di katakan si GM, bisa saja belum juga berusia 50 th.. Di dalam kamar sudah ada seseorang gadis yang rebahan di ranjang tertutup selimut, cuma kepalanya yang nampak. Gadis itu nampak cantik namun kelihatan masih tetap muda, sangat muda terlebih, bisa saja belum juga berusia 20 th..

“Itu Dita, kalian udah sama sama kenal? ” bertanya lelaki, kami sama sama bersalaman mengenalkan diri.

“kamu segera saja gabung, kami telah duluan, satu sesi malahan” kata Pak Bram

Saya ke kamar mandi melepas semuanya bajuku, tersisa sepasang baju dalam purple yang cuma menutupi puting serta segitiga kecil di selangkangan.

Saat saya keluar dengan handuk tertutup di dadaku, kulihat Pak Bram serta Dita telah ada di dalam selimut, mereka berpelukan serta berciuman, tampak sekali bila Dita masih tetap sangat muda, sangat muda untuk orang seusia Pak Bram, ada rasa sayang lihat Dita semuda itu jatuh dalam pelukannya.

“lho kok malu malu gitu, masuk sini agar hangat” perintah Pak Bram.

Kulepas handuk penutup badanku lantas saya join dengan mereka.

“bikinimu bagus, namun semakin bagus sekali lagi jika bikini itu dilepas” sambut pak Bram seraya menarik badanku dalam pelukannya.

Semenit lalu, badanku telah telanjang dalam cumbuannya, dia melumat bibir sembari meremas remas buah dadaku, sesaat Dita cuma diam lihat saja.

“Dita minta rekan bila mesti temaniku hingga besok pagi” Terang Pak Bram

“habis Om Bram kuat mbak, dapat kerepotan bila saya mesti melayani sendirian” jawab Dita, saya cuma tersenyum. Berdua kami mencumbu Pak Bram berbarengan, saya di sisi kanan dan Dita di kiri. Pak Bram mulai mendesah selagi putingnya kami kulum berbarengan sambil tangan tangan kami mempermainkan penisnya.

Ciuman kami berlanjut ke perut, paha, betis, saat kusingkapkan selimut penutup badan kami, dengan terang saya lihat buah dada Dita yang kecil ranum dihiasi puting yang masih tetap benar-benar kemerahan. Saya makin percaya bila Dita masih tetap sangat muda untuk profesi ini, janganlah jangan dia masih tetap SMA dengan sebutan lain ABG, tampak dari berwajah lebih-lebih postur badannya yang belum pula sangat masak untuk seseorang gadis.

Ciuman kami kembali pada selangkangan, saya mulai menjilati daerah kira-kira penis dan Dita menyodorkan buah dadanya yang kecil ranum itu ke mulut Pak Bram. Terdengar desah Dita selagi saya mulai memasukkan penis itu ke mulut serta mengulumnya. Kocokanku makin cepat bersamaan dengan desahan Dita yang makin keras walau terdengar agak malu malu.

Saya serta Dita bertukar tempat, Pak Bram meremas remas buah dadaku, mengulum putingnya sembari rasakan kuluman Dita pada penis, saya melirik ke bawah, walau tampak benar-benar muda akan tetapi kelihatannya Dita telah cukup memiliki pengalaman, dengan asiknya penis itu keluar masuk mulut yang mungil.

“kamu duluan” bisiknya berikan perintah, sebelum saat saya menuruti perintahnya kuatur badanku sampai tempat 69 serta sharing penis dengan Dita, bertukaran mengulumnya, beralih dari satu mulut ke mulut yang lain, dua lidah menari nari berbarengan pada penis yang sama. Kurasakan jilatan Pak Bram di vaginaku, tidak istimewa benar-benar namun cukup membuatku terdesah nikmat serta basah.

Saya menyapukan penis Pak Bram di vaginaku yang telah cukup basah, perlahan-lahan tempat kuturunkan badanku sampai penis itu melesak masuk dengan prima. Sesudah terdiam sebagian detik, saya mulai menggoyangkan pinggulku mengocoknya, walau penis itu tidak sangat besar dengan sebutan lain rata rata, tetaplah saja yang namanya penis selamanya memberikannya kesenangan kalau ada di vagina, berapapun besarnya atau bagaimanapun mempunyai bentuk, tetaplah saja nikmat.

Sembari rasakan kocokanku, Pak Bram menarik badan Dita dalam pelukannya, mereka berciuman, tampak sekali ketidaksamaan umur yang mencolok pada mereka. Buah dada Dita yang kecil hilang dalam remasan tangan Pak Bram, berkali kali tangan itu beralih ke buah dadaku, kelihatannya akan memperbandingkan.

Lima menit saya mengocok Pak Bram sebelum saat dia minta saya turun serta digantikan Dita, sudah pasti vagina Dita lebih sempit, kuyakin itu dikarenakan belum pula sangat banyak penis yang menikmatinya. Badan mungil Dita telah ada diatas Pak Bram serta mulai turun naik, buah dadanya tidak berguncang guncang seperti punyaku, dikarenakan benar-benar sangat kecil, tampak aneh serta lucu bagiku. Menginginkan rasa-rasanya kuraih serta kuremas buah dada itu, sebatas penasaran saja.

Sembari mengocok Pak Bram, Dita mendesah hebat, rasakan kesenangan, berwajah yang putih cantik itu tampak kemerahan, sebentar sekali lagi tentu orgasme. Pak Bram memohonku naik ke atas kepalanya, dia menginginkan lakukan oral sekali lagi, kuturuti permintaannya. Tempatku menghadap Dita, sembari mendesah rasakan jilatan Pak Bram, dengan leluasa melihat muka Dita yang mulai berkeringat serta makin cantik selagi mendesah nikmat.
Sangkaanku benar, Dita memperoleh orgasmenya, kepalanya digoyang goyangkan dengan keras sembari memelukku, jeritan orgasmenya terdengar keras dekat telingaku, dan saya sendiri juga mendesah dikarenakan jilatan Pak Bram, desahan kamipun bersahutan.

“ganti mbak, lemes aku” bisiknya, walau sebenarnya baru sekali dia orgasme serta itupun tidak lebih 5 menit. Sebelum saya ganti tempat Dita, Pak Bram telah memohon dia untuk kekuatanng serta masih memaksa walau Dita minta istirahat dahulu atau kugantikan.

Terpaksa Dita menuruti nafsu birahi laki-laki seangkatan ayahnya itu, kasihan juga sebenarya lihat Dita yang dipaksa menambahkan melayani pelampiasan syahwat Pak Bram. Apalagi Pak Bram tidak segera menyetubuhinya, tetapi memainkan lidahnya pada vagina Dita yang baru saja orgasme, kelihatannya Pak Bram akan mengisap cairan orgasme yang berada di vagina Dita. Kulihat dengan terang bagaimana bibir serta lidah Pak Bram mempermainkan vagina Dita, vagina yang dihiasi sangat sedikit bulu bulu kemaluan yang halus serta tampak kemerahan bak daging fresh didalamnya.

Badan mungil Dita benar benar tidak seimbang dengan badan Pak Bram yang tinggi serta agak gemuk itu, demikian Pak Bram menindihnya, tampak Dita seperti hilang dalam dekapannya. Dita mendesah lebih keras selagi Pak Bram mulai mengocok vaginanya dari atas, pinggul yang bergerak turun naik itu terlihat makin menghimpit badan Dita serta makin tidak tampak.
Kuelus elus punggung Pak Bram sembari memainkan kantong bolanya, kocokan Pak bram makin cepat serta Dita-pun makin mendesah hebat.

“egh…egh.. sssshhhhh…aduuuh…enak Om.. trusss.. trussss…Ampuuuuuuun aku…aku keluar lagiiiiiiiii” desah dita tidak karuan sampai tergapai orgasme ke-2 jangka waktu singkat.

Tangan serta kaki Dita melemas, tak kan memeluk Pak Bram, berwajah merah seperti udang rebus, kasihan juga memandangnya. Saya bersiap dengan tempat merangkak selain Dita.

“giliranku Pak” kataku menantang sembari menepuk pantatku, sebetulnya sebatas mengalihkan dari Dita.
Pak Bram selekasnya berpindah ke vaginaku, Dita menatapku dengan sorot mata terima kasih. Saat ini giliran Pak Bram mengocok vaginaku, walau tidak sesempit mempunyai Dita namun saya percaya permainan otot otot vaginaku semakin lebih mengakibatkan kesenangan dibanding vagina sempitnya.

Cuma sebagian menit mengocokku dogie, dia memohonku ganti tempat umum. Tubuhnya merasa berat selagi mulai menindihku, saat penisnya telah melesak semuanya, Pak Bram mencium serta melumat bibirku, berbarengan dengan itu penisnya bergerak keluar masuk memompa vagina. Sesekali dia menghimpit keras pinggulku, seperti akan memasukkan penisnya sedalam kemungkinan, desahan kami bersahutan menemani permainan, keringat Pak Bram mulai membasahi badan kami. Tak lama lalu kurasakan denyutan pada vaginaku, dia tengah orgasme, dipeluknya badanku makin erat menyatu, jerit orgasmenya terdengar keras dekat telinga. Badannya segera lemas menindihku bersamaan dengan selesainya denyutan denyutan itu, bebanku merasa makin berat, lebih-lebih napasnya yang menderu semakin menghimpit di dada.

“bapak hebat deh dapat menaklukkan kami berdua” pujiku bohong sebatas berikan kebanggan pada tamu, itu umum kulakukan.

“benar kan kataku, mana dapat tahan bila mesti melayani sendirian” timpal Dita

Pak Bram tersenyum bangga sembari berbaring di antara kami berdua.

Sisa malam kami isi dengan satu sesi permainan sekali lagi, seperti terlebih dulu, dia sangat hebat buat Dita namun tidak bagiku. Sesi ke-2 kembali Dita memperoleh 2 kali orgasme sebelum saat Pak Bram memperoleh orgasme dariku, dan saya sekalipun tidak berhasil memperoleh orgasme walau saya mengupayakan namun Pak Bram sangat cepat untukku.
Dengan badan masih tetap telanjang, kami tidur dengan, sudah pasti Pak Bram ada di dalam bak raja semalam.

Esok paginya Dita bangun terlebih dulu dengan cemas.

“wah kritis, kesiangan” umpatnya pernah terdengar olehku, saat kutoleh dia telah tidak ada di ranjang, nyatanya dia telah di kamar mandi. Saya menyusulnya, begitu terkejutnya saat kulihat Dita tengah keluarkan seragam sekolah dari tas ranselnya. Kubaca badgenya, nyatanya satu SMA favorite di Surabaya, untuk masuk ke sekolah itu pasti sebaiknya anak pandai atau kaya, atau keduanya.

“mbak ingin tolong saya tidak? anterin saya ya…please, nanti terlambat jika naik taxi, mana macet sekali lagi jam segini” Dita memohon dengan manja. Jam telah tunjukkan jam 6 lewat, bermakna kami tidur cuma 4 jam.

“kemana? ” tanyaku masih tetap tidak yakin bila Dita juga akan pergi ke sekolah segera dari Hotel tempat dia temani laki-laki seusia ayahnya.

Saya menyanggupi sesudah dia mengatakan tempat sekolahnya, tidak sangat jauh sich. Untuk mempersingkat saat kami mandi bareng. Saat mandi kuamati badan Dita lebih cermat, berwajah cantik imut bak cover girl, kulit putih dengan badan tidak tinggi relatif mungil, kemungkinan 155 cm serta buah dada belum pula tumbuh prima, benar benar sangat kecil untuk masuk dunia begini.

“tetek mbak bagus, montok, tentu padat” komentarnya sembari akan menyentuhku sangsi ragu, saya cuma mengangguk mengijinkannya untuk menyentuh. Akupun balas menyentuh serta meremasnya, bukanlah sekali ini saya meremas buah dada sesama style, namun kesempatan ini benar-benar tidak sama dikarenakan benar-benar belum pula terjadi prima, masih tetap kemungkinan untuk tumbuh sekali lagi.

“mbak janganlah geram ya, saat kulihat mbak main sama Om Bram, saya kasihan gitu, sayang lihat mbak yang cantik digituin sama orang setua Om Bram, tidak layak dia untuk mbak Lily” tuturnya sembari menyiramkan air hangat ke badannya. Sudah pasti saya kaget mendengar pengakuannya, sejak dari barusan perasaan sesuai sama itu selamanya keluar dalam fikiranku namun saat ini malah dia yang menyebutkan hal yang sama untukku.

Saat kami keluar tetap dalam kondisi telanjang dikarenakan semuanya handuk ada di sofa, nyatanya Pak Bram telah bangun tengah lihat liputan 6 pagi dari SCTV, dia juga masih tetap telanjang.

“wah kalian mandi bareng rupanya, tahu gitu saya ikut-ikutan mandi” komentarnya lihat badan telanjang kami masih tetap basah.

“aku ganti pakaian dahulu ya” kata Dita setalah memperoleh handuk

Saya juga ingin ikuti Dita ganti pakaian namun Pak Bram menarikku dalam pangkuannya.

“kita main lagi, yang cepat cepat saja, dia kan pergi ke sekolah namun kamu kan bebas” tuturnya. Saya akan menampik namun dia telah melumat bibir serta meremas buah dadaku.

“oke.. oke.. namun cepat saja ya, soalnya saya ingin ngantar Dita, kasihan kan jika hingga terlambat” kataku sesudah lepas dari ciumannya sembari melorotkan badan di antara kakinya.

Dua tiga menit kukulum penisnya sampai benar benar tegang, kemudian saya berdiri serta membungkuk, tanganku tertumpu pada meja bersiap terima kocokan Pak Bram dari belakang. Kubuka kakiku lebar saat penis Pak Bram menyentuhku, sembari berdiri kami bercinta dengan gaya semi dogie.

“mbak, buruan, telah siang nih, terlambat deh” Dita mencengangkan kami yang tengah bersetubuh, kulihat dia kenakan celana jean serta seragam atasnya tertutup jaket pink untuk menutupi seragam sekolahnya.

Pak Bram percepat kocokannya, demikian halnya saya makin cepat menggerakkan pinggul, kami berdua bercinta bak dikejar hantu. Untunglah barusan telah kubuat Pak Bram 1/2 jalan menuju orgasme selagi kukulum penisnya, tidak lama setalah itu diapun menyemprotkan spermanya di vaginaku. Selekasnya kucabut penis itu sesudah tidak ada sekali lagi denyutan, saya buru buru membersihkan vaginaku dengan air, tanpa ada kenakan pakaian dalam sekali lagi kukenakan baju serta tdk ada saat untuk makeup.

Sesudah masing masing terima amplop dari Pak Bram, saya serta Dita keluar kamar meninggalkannya, dia melepas kami dengan kecupan di pipi seperti seroang bapak melepas kepergian anaknya ke sekolah.

Jalanan mulai macet, Dita terlihat gelisah.

“aku percaya tidak terlambat kok, masih tetap ada saat, kita lewat jalan tikus saja” kataku selagi di perjalanan mengantar Dita. Ditengah kemacetan itu Dita ganti celana jeans-nya dengan rok seragam sekolah, dilipatnya celana jeans serta jacket lantas dimasukkan dalam tas rangselnya.

Saat ini kulihat Dita benar-benar jauh tidak sama dengan Dita semalam, Dita saat ini yaitu seseorang anak sekolah yang cantik serta ceria, dengan muka yang cantik, imut serta innocent, tidak jauh lain dengan ABG yang lain. Bila saja saya tidak alami sendiri semalam, tentu susah untuk yakin kalau ada bagian kehidupan beda Dita yang tidak tidak sama denganku.

Disela sela kemacetan Dita menceritakan bila keperawanannya di ambil pacarnya yang kakak kelas selagi ulang tahunnya ke-17, serta mereka putus saat pacarnya itu lulus SMA. Saat ini Dia kelas 3 serta tengah berpacaran dengan seseorang anak kuliahan. Dua hari sekali mereka ketemu serta selamanya lakukan hubungan seks. Atas bujukan rekannya, Dita ingin terima bookingan laki-laki.

“kamu kan telah tidak perawan, main sama satu orang atau mungkin dengan beberapa orang itu tidak ada bedanya, masih juga selingkuh serta masih juga tidak perawan, mendingan sama laki-laki yang telah berpenghasilan, telah mampu enak mampu duwit lagi” rayu rekan Dita. Awalnya dia pilih laki-laki yang membookingnya, namun sesudah jalan 3 bulan dia menyerahkan masalah “marketing” pada orang GM atas “jasa” rekannya itu. Sejak itu dia pilih Kos ditempat dekat sekolahan dengan argumen lelah bila mesti pulang balik ke tempat tinggalnya yang jauh terdapat di daerah Tandes. Sebetulnya orangtua Dita cukup ada, materi tidak kurang untuk kehidupan yang lumrah, bahkan juga Dita di beri motor saat mulai kos.

Dengan hidup berpisah dengan orang tuanya, Dita dapat bebas terima tamu setiap waktu sepanjang tidak berbenturan dengan jadwal sekolahan seperti ujian ataupun extra kulikuler mesti yang lain. Bila terlebih dulu cuma terima laki-laki sesudah pulang sekolah serta sore mesti pulang ke tempat tinggal, saat ini dia dapat bebas bahkan juga hingga menginap seperti baru saja juga tidaklah problem.

“setahuku ada 6 anak yang sama dengan saya ini disekolah, mungkin saja lebih” katanya

Tiap-tiap Hari Sabtu serta Minggu dia pulang ke tempat tinggal, cuma terkadang saja tdk pulang seandainya ada ketiatan sekolah atau ada bookingan keluar kota, tentunya argumennya aktivitas sekolah juga. Dita membatasi bookingan hari hari itu satu bulan sekali agar orang tuanya tdk sangsi.

Banyak yang menginginkan kutanyakan darinya, namun mobilku telah ada dimuka sekolahnya 3 menit sebelumnya waktu 7, bermakna belum juga terlambat.

“jangan salah mbak ya, walau begini ini, saya selamanya masuk rangking 5 besar disekolah serta sebentar kembali masuk Kampus Indonesia tanpa ada tes, lima th. kembali mbak juga akan mendengar nama dr. Dita Anggraeni, serta pabila waktu itu telah berlangsung saya janji juga akan mencari mbak” tuturnya sembari turun dari mobilku berbaur dengan rekan rekannya, meninggalkan saya yang masihlah melongo dengan ucapannya belum lama, tidak ada lain kembali pada Dita yang mengenakan seragam sekolah dengan murid yang lain.
Kuamati selalu Dita sampai ke pintu gerbang sekolah, namun sebelumnya masuk pintu gerbang sekolah dia lari ke arahku.

“mbak menjaga diri baik baik ya, dan….. saya tidak pakai celana dalam lho” tuturnya lantas lari meninggalkanku.

“dasar pelacur cilik” umpatku dalam hati lihat Dita telah menghilang di balik Pintu Gerbang.

Bunga99.com Agen Bola Online BandarQ Poker Domino99 Togel Casino Terpercaya
BungaQQ Situs Domino99 BandarQ Dan Poker Online Terpercaya 2017
KepoQQ Situs BandarQ Domino99 AduQ Poker Online Terpercaya
7 Situs BandarQ AduQ DominoQQ Online Terpercaya 2017
Situs BandarQ Poker Domino Online Terpercaya Terbaik 2017
Agen Situs Poker BandarQ Online Terpercaya Terbaik Tahun Ini

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *