Bunga99 agen bola online
Cerita Seks Perselingkuhan Lusi

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Cerita Seks Perselingkuhan Lusi

Cerita Seks Perselingkuhan Lusi – “Demi Tuhan! Anda akan tidak yakin apa yang barusan berlangsung. ” berondong sahabatku seperti meriam saja sangat saya buka pintu depan menjawab ketukan tidak sabarnya.

“Wah! Gossip murahan nih? Tentu bagus, anda belum juga sempat bergairah mirip ini mulai sejak kamu paham.kamu mengerti bila anak lelaki Prambodo seseorang gay. ”

“Astaga, Lusi, saya cuma tidak dapat yakini apa yang barusan kulihat. ”

Kita bergerak ke ruangan keluarga. Saya duduk ditepi sofa.

“Kamu terlihat seperti ingin pecah, katakan saja. ” kataku menertawakan kelakuannya itu.

“Gini, saya pergi ke tempatnya keluarga Sihombing malam hari ini untuk menarik uang iuran mereka. Ternyata, selera mereka pada perabotan tempat tinggal sangatlah jelek. Lalu, Silvi keluar untuk membukakan pintu lantas saya masuk. Mereka memiliki ruangan makan dengan meja yang atasnya kaca. Lantas kita duduk disana serta saya buka dokumen asosiasi untuk menunjukkannya serta menyebutkan kepadanya, bila mereka dapat membayar seluruhnya sekalian atau empat kali satu tahun. ”

Cerita Seks Perselingkuhan Lusi

Ini terdengar menyebalkan. Saya menyela, “Jadi anda saksikan bila mereka memiliki furniture yang buruk. Sangat utama. ”

Saat ini saya mesti menerangkan. Kita tinggal di satu kompleks perumahan yang memiliki satu asosiasi yang memiliki tempat tinggal. Keluarga Sihombing beberapa waktu terakhir ini ubah keseberang jalan itu. Siska serta saya berfikiran bila mereka tidak cocok di lingkung perumahan ini. Umumnya keluarga disini berusia pertengahan tiga beberapa puluh serta sudah memiliki anak. Keluarga Sihombing yaitu keluarga yang suaminya berusia lebih tua serta isterinya jauh sangatlah muda serta tidak mempunyai anak.

“Lusi, sst. Bukanlah furniture yang saya saksikan. Silvi menyebut Martin untuk membawa buku chek serta membayar uang iurannya serta membaca lantas menanda tangani dokumennya. Serta dia masuk kedalam dengan pakai jubah mandi putih itu, rambutnya basah, saya fikir mungkin saja barusan keluar dari kamar mandi. Dia duduk di seberangku serta waktu dia ambil dokumen itu, saya tengah lihat menembus kaca meja ke kakinya. Lalu dia maju ke depan untuk menulis check itu serta jubahnya terungkap ke atas. Dia tengah duduk di tepi kursi serta kamu paham.kamu mengerti apa yang tengah bergantung. Maksudku bergantung. Waktu dia bergerak, itu seperti diayunkan maju-mundur. Tuhan itu seperti pisang daging besar berwarna mirip ini. ” tuturnya sembari menunjuk buah pisang yang ada diatas meja di ruangan keluarga ini.

“Astaga, anda memandangnya? ”

“Hanya sebagian detik. Maksudku saya jadi sangatlah malu. ”

“Yah, benar. Hanya cukup lama untuk bercerita itu terayun maju-mundur serta besar seperti pisang”.

Saat ini kita berdua tertawa genit seperti gadis sekolahan.

“Apa dia paham anda memandangnya? Bagaimana jikalau Silvi saksikan anda memerhatikan suaminya? Tapi, itu mungkin saja tidak sebesar yang anda fikir, maksudku cuma memandangnya sebentar anda jadi terasa malu tentu anda akan tidak sungguh-sungguh memahami apa yang tengah anda saksikan. ”

“Temanku, itu benar-benar besar! ”

********

Baiklah, saya fikir, dimulailah narasi ini.

Saat ini anda mungkin saja peroleh kesan bila Siska serta saya yaitu sepasang ibu rumah-tangga yang genit. Anda mungkin saja berfikir, bila kita seperti seseorang gadis remaja berusia sekitaran lima belas th. yang tengah menggosip. Saya berusia 38 namun mungkin saja memiliki sedikit pengalaman di banding putriku yang berusia enambelas th. serta beberapa kawannya.

Sedikit latar belakang terkait saya. Saya dijuluki wanita mungil yang cantik. Dengan postur badanku yang kecil, saya dengan gampang juga akan hilang bila ada dalam satu kerumunan. Saya mesti mengaku jadi “agak kecil” kerapkali jadi bahan godaan kawan-temanku. Di samping ukuran kecilku, kupikir saya memiliki muka yang manis. Braku cuma memiliki ukuran 28A namun pada dadaku tampak cukup besar serta saya kerapkali dipuji bila pantat serta kakiku sangatlah indah. Siska serta saya pergi dengan teratur ke tempat kesehatan wanita.

Suamiku serta saya lulus dari sekolah menengah dengan nilai memuaskan, menikah tidak lama setelah kita lulus. Anda tentu telah menduga itu. Saya tidak sempat mencium orang yang lain terkecuali suamiku. Maksudku ciuman serius. Saya tidak berasumsi diriku sangatlah sopan namun saya tidak sempat berkata kotor. Tidak juga waktu Tom serta saya tengah terkait sex, yang tidak terus-terusan. Gereja bangga juga akan kami, sex pada intinya yaitu bagaimana anda bikin bayi.

Sekitaran lima belas th. perkawinan, saya mulai terasa resah serta jemu. Ini bukanlah artinya saya tidak menyukai dua anak perempuanku serta Tom. Semuanya sangatlah normal. Saya mulai membaca novel roman, serta lalu juga akan terasa berdosa terkait pemikiran pemikiran tidak tulus itu.

Dalam minggu sesudah pertemuan dengan Siska itu, dia serta saya juga akan kadang waktu tertawa genit atas “penglihatanya” juga akan kemaluan Martin Sihombing (saya masih tetap tidak katakan beberapa hal seperti penis walaupun dengan Siska). Tom serta saya juga kenal keluarga Sihombing, cuma perbincangan antar tetangga terkait rumput halaman, cuaca, serta beda lain

Pada bulan Desember, asosiasi membuat satu acara makan malam serta dansa saat sebelum berlibur. Tempat duduknya ditata sama sesuai posisi tempat tinggal. Sehingga keluarga Sihombing ada di meja yang sama juga dengan kita. Siska ada pada meja yang berlainan. Ini yaitu pertama kalinya kita ada dengan mereka dengan sosial.

Saat ini saya selamanya fikir Martin Sihombing tampak sangatlah umum. Mungkin saja dalam usia sekitaran limapuluhnya dengan rambut penuh, beruban di sebagian tempat. Dia sangatlah jangkung. Ini yaitu pertama kalinya saya saksikan dia pakai jas, serta saya mesti mengaku dia tampak juga berlainan. Silvi pada bagian beda, yang selamanya terlihat tidak perduli dengan bajunya tampak aneh dalam gaun panjangnya, krah pakaiannya tinggi.

Makan malam dilalui dengan perbincangan yang mengasyikkan serta makanannya sangatlah enak. Setelah makan malam, musik mulai dimainkan serta Martin serta Silvi segera ada di lantai dansa itu. Setelah saya sedikit membujuk Tom untuk berdansa namun dia cuma tahu dua jenis dansa. Martin serta Silvi gabung sekali lagi dengan kami waktu band tengah istirahat sesaat. Waktu band kembali, Martin mengajakku untuk berdansa. Saya berusaha untuk menampiknya, menyebutkan bila Tom serta saya tidak sangat pintar berdansa. Dia memaksa. Itu yaitu satu dansa yang cepat serta dia selekasnya membuatku ikuti masing-masing pergerakannya. Lagu selesai, saya menuju ke arah kursiku serta kembali mendengar dia mengajakku sekali lagi untuk lagu selanjutnya.

“Oh, saya tidak dapat. Anda serta Silvi sangat bagus untukku, berdansalah dengan isterimu. ”

“Lusi, janganlah cobalah menampik. Dia telah bikin kakiku kecapaian, saya fikir Marty butuh bertukar pasangan dalam setiap lagu. ” Silvi berteriak dari mejanya.

Baiklah, rasa engganku cuma melintas dalam kepalaku namun saya kembali pada lantai dansa nikmati Martin yang bergerak di seputarku. Lagunya selesai, serta dia memegang tanganku dengan mudah dikala lagu selanjutnya mulai.

“Ini satu lagu slow Lusi, anda bagaimana dengan waltz? ” tanyanya waktu dia dengan lembut menarikku kedalam tempat dansa. Dia tidak menarikku sangat rapat, dia memegangku dengan mudah serta dia meluncur di sekitaran lantai itu. Dia yaitu seseorang pedansa yang sangatlah baik. Tanpa ada mengerti itu, saya ditarik makin dekat kepadanya, badanku sedikit menggeseknya. Kepalaku rebah di dadanya, payudaraku merapat dibagian tengah badannya. Lalu saya rasakan itu. Itu keras, itu tengah menghimpit perutku. Wow! Itu yaitu kemaluannya, kemaluannya yang ereksi. Saya percaya itu.

Saya mundur, sedikit melompat, cuma refleks. Anda tidak ingin rasakan ereksinya pria asing. Dia tetaplah menari seakan-akan tak ada yang berlangsung. Dia tak lagi menarik saya mendekat, tidak bikin saya terasa gelisah. Saya mulai menyangsikan pemikiranku, itu cuma saja imajinasiku yang terlalu berlebih.

Saya bertopang kepadanya sekali lagi. Seperti terlebih dulu, payudaraku bersentuhan dengannya, saya rasakan menggesek badannya. Lalu perutku juga. Kesempatan ini saya tidak mundur dengan sekejap. Saya cuma menginginkan yakinkan kalau apa yang tengah saya rasakan yaitu kemaluannya. Saya menggerakkan tubuhku, menggosok-gosok perutku ke dia, itu merasa keras. Itu benar-benar benar kemaluannya, kemaluannya yang ereksi. “Wow! Apa yang tengah kulakukan? ”, fikirku. Dansa selesai. Dia tetaplah memegang tanganku namun kesempatan ini saya menarik dia kembali pada meja kami. Telah cukup. Tak ada sekali lagi dansa dengan dia fikirku.

Tak ada yang terlihat beralih sesudah makan malam serta dansa itu. Kita tetaplah memiliki “percakapan antar tetangga” yang sama juga dengan keluarga Sihombing itu. Saya tidak bercerita pada Siska apa yang sudah berlangsung. Baiklah, satu hal sudah beralih. Saya mendapatkan diriku pikirkan terkait dansa itu, terkait Siska yang lihat penisnya, terkait perasaan payudaraku yang tergores badannya.

********

Th. baru nyaris tiba. Beberapa dari yang memiliki tempat tinggal mulai membahas gagasan Pesta Th. Baru. Hanya sekitaran separuh dari grup yang mengambil keputusan untuk mengerjakannya, jadi kita pada akhirnya bikin pesta serta musik didalam aula rekreasi orang-orang. Tom suka pada ide itu sebab dia tidak sangat sukai pergi ke luar. Makanannya seadanya saja yang dihidangkan seterusnya kita putar satu rekaman tua serta berdansa.

Saya katakan pada diriku supaya tidak mengulangi momen di pesta terlebih dulu, namun waktu Silvi memohon dengan tegas kalau saya mesti memberikan peluang istirahat sesudah berdansa dengan suaminya serta saya tidak dapat katakan tidak kepadanya. Sama dengan dahulu, musik mulai dengan lagu yang cepat serta lalu seorang menggantinya dengan satu nomor lambat. Seolah seperti ada setan kecil yang tengah duduk di bahuku serta berkata, ‘Lakukan Lusi’. Pada akhirnya saya tidak menentangnya dikala Martin menempatkan tangannya pada pinggangku serta mulai kita bergerak di lantai itu. Seorang mematikan lampunya. Waktu ini kita memakai pakaian dengan informal. Jadi ganti setelan yang kaku, Martin kenakan celana enjoy serta kaos polo. Saya pakai satu blus serta rok panjang. Kesempatan ini waktu payudaraku mulai menggosok-gosok pada badannya saya dapat rasakan panas badannya. Puting susuku mengeras serta saya fikir dia tentu dapat merasakannya. Perutku terkadang menabraknya, menabrak kemaluan yang lurus keras yang sempat saya rasa terlebih dulu. Satu lagu bertukar yang beda, satu nomor lambat yang beda.

Setiap saat perutku menggosok-gosok penisnya, saya dapat rasakan tangannya pada pinggangku, dengan perlahan menarikku mendekat. Tidak sempat kasar, tidak sempat lebih dari sebatas satu remasan yang lembut. Selama saat itu dia selamanya bicara seakan-akan itu tidak berlangsung, seakan-akan saya tidak tengah menggosokannya payudaraku pada badannya, seakan-akan kemaluannya yang keras tidak tengah menghimpit ke perutku. Yang pada akhirnya, waktu lagu nyaris selesai, saya mundur dengan kasar serta benar-benar.

“Oops, maafkan saya Lusi. Anda berdansa dengan sangatlah baik bikin saya lupa bila kita belum juga sempat berdansa berbarengan sepanjang bertahun-tahun. Saya tidak punya maksud sedekat ini. ” dia kembali memegang lenganku waktu memandang mataku.

“Maafkan saya. Saya tidak punya maksud untuk melompat mundur seperti barusan. Maksudku saya sungguh-sungguh nikmati berdansa denganmu. Hanya saya, uh… yah, saya tidak mau anda memiliki fikiran yang salah… Maksudku…”

“Itu kekeliruanku Lusi. Saya takut waktu seseorang pria ada dekat dengan seseorang wanita cantik ada seuatu yang berlangsung. Saya percaya anda dengan kebetulan sempat alami itu terlebih dulu. ” dia tertawa kecil.

“Nggak apa-apa. Saya tahu pria tidak dapat menghindarinya. Meskipun seringkali berlangsung. Maksudku saya tidak sering berdansa. ” saya terasa langkah bicaraku gagap.

“Kita dapat pergi duduk jikalau anda menginginkan berhenti. Namun saya mesti menyebutkan pada anda itu juga akan akhiri dansaku malam hari ini. Mata kakinya Silvi sakit serta dia mengatakan padaku bila dia tengah tidak mau berdansa. ”

“Yahh, saya tidak mau jadi ratu pesta. Saya cuma tidak mau anda memiliki pemikiran yang salah. ”

“Aku cuma memiliki kesan yang paling baik terkait anda Lusi. Betapapun, kita berdua yaitu orang dewasa serta mengerti momen yang spesifik itu cuma reaksi biologis yang lumrah. Saya tidak dapat menghindarnya serta mesti kuakui ini ialah satu kehormatan ada seseorang wanita cantik yang ingin berdansa denganku malam hari ini. Namun saya berjanji untuk melindungi batas di antara kita. ” kata-katanya mengalir keluar disertai oleh tawa kecil.

Musik berbunyi sekali lagi serta dengan automatic kita mulai dansa lambat yang beda.

“Apakah anda sungguh-sungguh berfikir saya pandai berdansa? Atau anda berupaya jadi seseorang gentleman? ”

“Aku fikir anda pandai berdansa Lusi. Jelas riil anda tidak sering berdansa namun iramamu prima. ”

Tubuh kami sama sama bersentuhan. Dia bergerak terang supaya tidak sama sama bersentuhan.

“Jangan kuatir Martin. Kamu tidak mesti demikian setiap saat kita bersentuhan. ”

Saya bergerak merapat kepadanya. Saya menginginkan rasakan badanku yg menghimpit badannya, menghimpit kemaluannya. Selekasnya saja kita berdansa dengan rapat. Waktu saya menggosok-gosok perutku pada “kekerasannya”, tangannya di pinggangku dengan lembut menarikku. Saya dapat rasakan puting susuku mengeras, dia tentu dapat rasakan itu waktu menghimpit badannya. Saya dapat rasakan pergerakan ereksinya waktu perutku menggosok-gosok dia. Saya terasa kehangatan di antara kakiku waktu badanku jadi bergairah. Saya tahu kalau celana dalamku telah jadi basah. Saya terasanya ada di surga kesenangan. Saya terasa seandainya saya begitu jahat namun saya tengah nikmati itu. Lalu musik selesai.

Kami gabung kembali dengan Silvi serta Tom di meja itu. Nyaris larut malam. Pas larut malam semua bersorak serta berteriak. Saya mencium Tom panjang serta dalam, beberapa lantaran saya terasa bersalah mengenai dansa bersama-sama Martin barusan, mengenai gesekan pada ereksinya, serta mengutamakan payudaraku kepadanya. Martin serta Silvi yg ada di samping kami, sama sama berpelukan mesra. Saya dapat tengok tangan Martin pada pantatnya, dengan terang menariknya merapat kepadanya serta saya tahu kalau dia tengah menggelinjang pada ereksinya yg keras. Mereka merenggang serta Silvi merebut Tomku serta memeluknya, dia sudah memutar Tom demikian rupa hingga punggungnya ada di depanku. Martin berbisik “Bolehkah saya” waktu dia buka lengannya. Saya memeluknya serta mengijinkan dia menciumku, lalu waktu saya terasa tangannya pada pantatku. Saya buka mulutku serta memperoleh satu ‘French-Kiss’, rasakan dia menarikku makin merapat kepadanya saya rasakan kembali ereksinya yg keras. Lalu usai.

Malam itu saya mendapatkan mimpi basah yg liar. Saya belum juga sempat punya mimpi sesuai sama itu mulai sejak saya berusia sepuluh th.. Paginya saya memiliki mimpi jelek mengerikan dari apa yg sudah saya jalankan. Terima kasih surga untuk Siska. Saya narasi kepadanya serta dia bahagia mendengarkannya. Kita mengambil keputusan kalau tak ada yg jelek yg sudah berlangsung. Lagi, saya fikir, benar demikian, tak ada. Sekalipun demikian saya masihlah memperoleh diriku pikirkan dansa itu, mengenai ciuman itu.

********

Sepertinya saya berjumpa Silvi serta Martin sangat sering sesudah th. baru. Saya saat ini tahu kalau pekerjaan Martin membuatnya seringkali pergi ke luar kota, untuk masalah perabot mereka. Jadi sampingannya dia beli perhiasan dari daerah yg di kunjunginya, yg dia jual ke sebagian toko lokal. Ini saya kenali waktu saya katakan ke Silvi seandainya ibuku sudah mengirimiku uang untuk beli satu kalung.

“Lusi, datanglah kemari serta tengok apa yg Marty punya. Dia membawa barang-barang dari luar kota. Jika dia miliki suatu hal yg anda sukai, anda dapat membayar seperempat dari apa yg David jual di tokonya. Ini bukanlah barang rongsokan, dilapis perak serta emas. Serta tidak terlihat seperti barang murahan, ini yaitu yg mereka export ke luar negeri. ”

“Aku tidak dapat. ”

“Tentu anda dapat. Saya memaksamu. Jika anda tidak dapatkan yg anda gemari, jangan sampai terasa kayaknya anda mesti beli apa pun. Dia tidak miliki persoalan jual barang barang ini ke David. Dia dapat pulang pada siang hari, mampirlah kelak. ”

Saya mengetuk pintu mereka sekitaran jam 12 : 15.

“Masuk, masuk. Saat yg pas. Marty tidak lama tiba di rumah serta saya katakan kepadanya anda bisa saja menginginkan sebagian perhiasan. Marty”. Silvi berteriak waktu dia mengantarku ke meja area makan.

“Tunggu sebentar, saya nyaris keluar dari kamar mandi. ” saya mendengar nada Martin dari atas.

“Sayang, bawa kalungnya supaya dia bisa memandangnya waktu anda usai. ”

“OK, ok. ”

Dengan selekasnya Martin tampil membawa dua buah koper. Rambutnya kusut serta basah serta dia kenakan satu jubah mandi putih yg cuma hingga di lutut.

“Halo Lusi. Saya ingin saya miliki apa yg anda gemari. Saya membawa sebagian emas serta perak. ” tuturnya waktu dia berdiri di seberang meja di depanku buka koper itu. Lalu dia memutar koper ke arahku serta mulai mengambil langkah pergi.

“Oh! Tunggu sebentar sayang. Tunjukkanlah pada Lusi bagaimana caranya membaca sertifikat yg menerangkan isi perhiasan ini. ”

Dia berbalik, duduk di depanku. Dia mengambilt satu kalung bersama satu dokumen kecil.

Saya tidak dapat berkonsentrasi pada kalung, semuanya yg dapat kupikir yaitu narasi mengenai Siska yg memandang menembus kaca meja. Déjà vu!

Martin tengah bicara, saya tidak tengah mendengarkannya. Koper itu membatasi pandanganku. Tanpa ada berfikir, saya menggesernya ke samping. Saat ini dia tengah memegang kalung itu serta saya menatapnya… lebih perhatikan namun betul-betul tengah perhatikan pada kemaluannya. Itu sama sama sepertiseperti yg Siska katakan. Kakinya terbuka lebar, dia duduk di tepi kursi. Kemaluannya bergantung terayun-ayun waktu dia bergerak. Itu tampak begitu besar buatku. Saya terasa wajahku mulai merasa hangat serta mengerti kalau wajahku tentu merah.

Nada Silvi hentikan tatapan mataku.

“Dengar sayang, saya mesti pergi berbelanja. Jika anda sudah bisa apa yg Lusi hendaki tambah baik anda beri kepadanya. Lusi sayang, maafkan saya, saya lupa seandainya saya mesti pergi namun anda ditangan ahlinya dengan Marty. Hingga jumpa sayang, saya dapat kembali sekitaran jam 1/2 tujuh. ” serta dia pergi ke pintu keluar.

“Sampai jumpa sayang. ”

“Katakan padaku kalau anda tengok apa pun yg anda sukai. ” kata Marty waktu dia menebar sebagian kalung diatas meja itu. Menebarnya demikian rupa hingga garis pandangku pada kalung-kalung itu juga searah pada daging pisang berwarna yg panjang berayun dibawah. Siska sudah menyampaikannya mirip satu pisang besar. Itu bahkan juga memiliki satu ujung seperti satu pisang.

“A… a… saya ng… tidak tahu…… ini tambah lebih dari yg saya berharap. ”

“Jangan kuatir Lusi. Jika anda tidak tengok apa yg anda sukai, saya memahami. Saya tidak sempat memaksa barang-barangku pada seorang. Enjoy saja. Terkadang cuma manis untuk diliat saja. ”

Saya tengok dia mengedip waktu saya memandang ke arahnya.

“Ini, bagaimana kalau kita coba yg ini pada lehermu serta anda bisa tengok bagaimana ini tampak di kulitmu? ” tuturnya waktu dia bangkit dengan satu kalung emas besar yg indah di tangannya.

“OK, dapat saja itu satu inspirasi yg bagus. ” saya memandang dia bergerak, jubahnya saat ini sedikit terbuka waktu dia berdiri serta bergerak, penisnya mengayun keluar masuk dari pojok pandangan.

Saya duduk nyaris membeku, perhatikan diriku pada cermin pada dinding. Perhatikan Martin saat ini berdiri didepan bahuku, memasangkan kalung di leherku. Saya memandang di cermin jubahnya yg terbuka, penisnya saat ini tersentuh lengan tanganku, segera bersentuhan lantaran blus tidak berlengan yg saya gunakan.

“Bagaimana, anda sukai Lusi? Mari, peganglah. Telah sempatkah anda memandang yg begini? ”

“Tidak. Belum juga sempat. Ini begitu besar. Saya belum juga sempat memandang yg sebesar ini. ” saya menggerakkan kepalaku ke samping waktu saya bicara, memandang pada kemaluannya yg menggesek bahuku, mencermati kantung buah zakarnya untuk saat kali pertama. Itu juga besar. Besar namun lebih lembut di banding kantong berkerut Tom.

“Terimakasih. Saya fikir kemungilanmu yg cantik membuatnya terlihat semakin besar. Sentuhlah seandainya anda menginginkan. ”

“Kal… eh… benda ini? ”

“Apapun yg anda hendaki, Lusi. Kamu menginginkan merasakannya, ya kan? ”

“Uh huh. ” saya menggenggamkan jariku melingkarinya. Saya merasakannya mulai mengeras pada sentuhanku. Saya sempat dengar kemaluan yg belum juga di sunat namun saya belum juga sempat memandang terlebih dulu. Waktu itu mengeras saya tengok kulitnya membuka. Saya membuka dengan lemah-lembut serta memandang kulitnya menarik kembali perlihatkan satu mahkota yg tinggi.

“Apa itu melukai anda? ”

“Kebalikannya Lusi, sentuhanmu merasa nikmat. Apa anda belum juga sempat memandang satu penis yg belum juga disunat? ”

Saya menatapnya.

“Tidak disunat. ”

“Oh Tuhan. Martin tolong jangan sampai tertawakan saya. Hanya satu kemaluan yg sudah kulihat cuma punya Tom. Serta bahkan juga waktu dia tengah ereksi tidak seperti milikmu. Saya tidak sempat jalankan suatu hal begini terlebih dulu. Apakah itu benar kalau saya cuma rasakan kemaluanmu serta memandangnya? ”

“Lusi, Lusi sayang. Kamu yaitu satu harta karun sepenuhnya. Saya tidak sempat dapat menertawakan anda. Kamu yaitu satu bunga yg menanti untuk mekar. Jalankanlah, remas penisku, rasakan bagaimana anda membuatnya keras, namun tolong sebut ini dengan penis bukanlah kemaluan ”

“Oh brengsek, anda tentu berfikir saya yaitu orang bodoh atau yg seperti itu. Saya terasa seperti seseorang idiot. Maafkan saya, saya tidak mau menggoda, betul-betul tidak. Bukanlah bermakna saya tidak dapat terkait sex atau apa pun yg sesuai sama itu. Cuma saja saya tidak sempat ada didalam kondisi begini. ” saya terangkan panjang lebar saat ini, menjatuhkan penisnya seperti satu kentang panas.

“Lusi, tenang. Yakinlah padaku, saya tidak berfikir anda yaitu seseorang yg bodoh atau apa pun yg sesuai sama itu. Jalankanlah, ini yaitu kesempatanmu untuk rasakan satu penis. Ambillah kesempatanmu. ” dia tempatkan tanganku kembali ke penisnya, menggenggam jarinya ke jariku.

“Katakan penis, Lusi. Katakanlah apa yg tengah anda fikirkan. Cuma kocok sedikit” disaat tangannya memandu tanganku dalam satu pergerakan mengocok.

Saya melihat dengan tertarik waktu tangannya memandu tanganku yg pelan-pelan mengocok ke atas-bawah pada batang yg keras itu. Saya memandang kulitnya membuka perlihatkan area atas kepala yg dimahkotai waktu kocokanku bergerak ke bawah serta lalu pada kocokan ke atas, kulitnya membungkus kepalanya serta membuat satu ujung yg berkerut. Tangannya melepas lenganku. Saya meneruskan mengocok penisnya seperti terhipnotis. Saya menekannya. Saya dapat rasakan penisnya sebagai lebih keras. Saya meremasnya lebih keras serta dalam fikiranku saya tengah berkata ‘ penis’ berkali-kali.

Lalu saya ucapkannya. “Penismu jadi begitu keras. Rasanya begitu hangat. Saya menginginkan meremas penismu. ” serta mendadak saya menginginkan katakan semuanya kalimat yg sampai kini ku tabukan. Pengucapan penis terlihat membuatnya lebih erotis kembali.

“Ummm, ya. Remas Lusi. ” tangannya waktu ini meluncur ke balik blusku. Desakan lengan tangannya pada wajahku membawa pipiku bersentuhan dengan penisnya.

Saya memandangi cermin di seberang kami. Saya belum juga sempat memandang diriku yg tengah terkait sex. Saat ini saya jadi begitu terangsang waktu saya memandang diriku menggosok-gosok penisnya pada pipiku, memandang kancing blusku terbuka waktu tangannya menuju ke payudaraku. Blusku terbuka. Tangannya menyelusup masuk braku. Jarinya menjepit puting susuku.

Saya tidak dapat yakin bagaimana nikmatknya rasa-rasanya. Bagaimana begitu erotisnya. Bagaimana begitu sangat bersalah namun begitu sangat menggairahkan. Tangannya memaksa braku turun, puting susuku jadi tampak. Saya memandang ke atas serta memandang Martin yg tengah memandang ke cermin juga.

“Kamu memiliki puting susu yg menarik Lusi. Mereka begitu keras, begitu besar. Mereka seperti permata merah muda diatas bukit. Apakah anda sukai mereka dijepit? ”

“Ya. Itu rasa-rasanya enak. Saya sukai mereka dijepit dengan keras. ”

Saya lihat didalam cermin, blusku terungkap sampai perut, samping payudaraku terekspose penuh tengah braku terus tutup yang sampingnya. Tangan Martin memegang putingku, ibu jari serta jari telunjuknya berputar-putar, menarik, menghimpit puting susuku. Saya lihat tanganku yang mengocok penis tebalnya, menggosoknya pada pipiku. Saya lihat cairan pre-cumnya keluar sedikit dari lubang kencingnya lalu dia mencermati waktu saya memoleskan pre-cumnya ke pipiku..

Saya memalingkan wajahku menghadap penisnya, mencermati pre-cum yang pelan-pelan membuat tetesan yang beda. Saya menggosokannya ibu jariku di ujung penisnya, nikmati genangan dari pre-cum itu saat saya menghimpit kepala penisnya. Jadikan kepala penisnya berkilauan. Saya menggosok-gosok penisnya pada pipiku sekali lagi.

Saya terasa tangan Martin yang bebas ada di kepalaku, terasa dia memutar kepalaku dengan lembut. Penisnya meluncur melalui pipi serta menggosok-gosok bibirku. Secara perasaan saya buka mulutku, mulai menjilat kepala kerasnya yang hangat. Saya meneruskan mengocok penisnya saat mulutku mengulum kepala itu. Itu bahkan juga tampak semakin besar mulai sejak saya mengisapnya.

“Umm, yaa. Gerakkan lidahmu Lusi. Tuhan, rasa-rasanya enak. Bermain-mainlah dengannya sayang. Jilat naik turun batang itu. Umm, nikmat. ”

Kujalankan lidahku naik turun selama batang itu. Penisnya saat ini berkilauan dengan air liurku. Saat mulutku ada pada buah zakarnya, dia mengangkat penisnya demikian rupa jadi buah zakarnya menggosok-gosok daguku. Saya belum juga sempat menjilat buah zakar seorang, tapi saya tahu apa yang dia kehendaki. Itu apa yang saya kehendaki. Saya menginginkan bermain-main dengan kantong besar itu. Saya mulai menjilat buah zakarnya waktu penisnya ada pas di wajahku. Saya dapat rasakan panas dari penisnya di wajahku.

Martin menarik blusku yang tersisa melalui bahu. Ketika melepaskannya dari tubuhku, dia membiarkan braku juga, yang ikuti blusku jatuh ke lantai.

Saya mengerling ke cermin itu. Melihat serta terasa tangan besarnya meliputi payudara kecilku. Saya kembalikan tatapanku pada penisnya, saat jarinya dengan lembut mulai mengitari puting susuku. Saya lihat pembuluh darah biru yang panjang di selama batang itu. Saya oleskan lidahku selama pembuluh darahnya, serta lalu menghimpit kepala penisnya untuk buka lubangnya demikian rupa jadi saya dapat memeriksanya dengan lidahku.

“Tuhan anda memiliki puting susu yang keras Lusi. Apa anda sukai mereka dihisap? Katakanlah apa yang anda kehendaki, saya menginginkan buat anda rasakan nikmat seperti yang anda kerjakan untukku. ”

“Dijepit, ya yang keras. Dan hisap, gigit putingku. ” saya berbisik dengan penisnya yang menyentuh bibirku.

“Bagus. Saya sukai mengisap puting. ” dia tertawa waktu menarikku berdiri pada kakiku. Saat saya membiarkan genggamanku pada penisnya dia berlutut di depanku. Mulutnya menelan satu payudara, dia mulai mengisap pada saat lidahnya menjilat puting susuku. Tangannya pada punggungku, memelukku erat, membelaiku waktu dia mengisap payudara yang kiri lalu bertukar yang samping kanan. Saat dia mengisap dalam mulutnya, saya dapat rasakan lidahnya yang menjilat, lalu saat mulutnya mundur, giginya dengan lembut menggigit puting susuku. Dia memegang puting susuku di antara giginya serta menggerakkan ujung lidahnya. Tuhan, itu merasa nikmat.

Saat dia bekerja pada putingku, tangannya meluncur menuju ke pinggulku. Kulepas kancing celana panjangku. Celana panjang serta celana dalamku dilepasnya sekalian. Sama sekali tanpa ada berfikir mengenai itu, saya mengambil langkah keluar dari bajuku yang paling akhir. Dia masih tetap mengisap, menggigiti puting susuku waktu tangannya saat ini membelai kaki serta pantatku. Secara perasaanah saya memperlebar kakiku, mengundang tangannya pada vaginaku. Larangan terkhirku menguap saat Martin mulai mengelus vaginaku.

Saya memandangnya, lihat bibirnya bekerja di sekitaran payudaraku. Saya lihat putingku tertarik keluar waktu ia mengisap serta menggigit serta menarik puting susuku dengan mulut serta giginya. Saya lihat tangannya menggosok-gosok vaginaku. Saya lihat jarinya menghilang lenyap kedalam rimbunan rambut lebatku. Terasa jarinya meluncur menyentuh vaginaku.

Saat dia menggerakkan jarinya keluar masuk, saya menggelinjang.

“Terasa enak? ” dia tersenyum.

“Ya, ya. ”

“Umm, serta rasa-rasanya enak juga. ” tukasnya waktu menarik jarinya serta menjilatnya, serta lalu menyodorkan jarinya kepadaku untuk dijilat.

Saya belum juga sempat rasakan diriku sendiri. Jika itu sempat berlangsung kepadaku, saya percaya saya juga akan berpikiran itu yaitu satu aksi yang menjijikkan. Tetapi saat ini saya menjilat jarinya serta terasa terpesona kalau saya suka pada itu.

“Aku fikir vagina ini membutuhkan satu jilatan yang bagus. Anda sukai vaginamu dioral, ya kan? Tidak sempat ada seseorang wanita yg tidak menyukainya”

Saya sukai itu. Cuma saja itu tidak kerapkali berlangsung. Tetapi saat ini saya menginginkannya lebih dari yang sempat ada.

Dia mengangkatku ke atas meja, mendudukkanku pada pinggirnya. Saya buka lebar kakiku mengundang mulutnya pada bibirku. Meletakkan jariku pada vagina, saya melebarkannya terbuka, menarik rambutnya ke samping. Saya terasa begitu erotis waktu saya memikirkan pandangannya pada vaginaku, daging merah muda yang basah yang saat ini terpampang karna bibirnya yang terbuka.

Saya gemetaran waktu rasakan lidahnya mulai menjilat celahku. Lidahnya menghimpit kedalam vaginaku serta memukul-mukul ke atas membuat getaran yang begitu indah saat diseret melalui kelentitku.

“Oh, Tuhan, ya, ya ya. ”

Dia membenamkan berwajah kedalam vaginaku, lidahnya manari di dalamnya. Dia mulai menggosok-gosok kelentitku sejalan dengan jilatannya pada vaginaku. Saya mendorong pinggulku menekannya, menggeliat diatas meja.

Kulingkarkan kakiku di lehernya, lebih mendorongnya padaku. Saya lihat dia menguburkan berwajah kedalam vaginaku makin dalam. Saya mendengar bunyi dia hirup, mengisap cairanku.

“Oohhh. ” saya menjerit serta menggelinjang. Saya memperoleh satu orgasme yang begitu indah. Ini membuatnya bekerja lebih keras pada vaginaku, saat ini menghisap kelentitku saat jarinya disodokkan kedalam vaginaku.

Saya terasa seperti terbakar. Sekujur badanku merasa geli. Vaginaku tengah diregangkan. Saya tahu kalau dia tengah menghimpit jari yang beda kedalam vaginaku. Ketika vaginaku pelan-pelan menyerah pada jari yang ditambahkannya, saya tahu apa yang selanjutnya. Saya inginkan itu. Saya menginginkan rasakan penis besarnya di dalamku. Saya tahu dia perlanan mempersiapkan saya karena itu.

“Martin. Saya menginginkannya. Saya inginkan anda. Saya takut itu sangat besar namun saya inginkan itu. ”

“Jangan takut Lusi. Saya begitu lembut. ” Dia mengangkatku, membawa saya menuju satu kamar.

Saya melingkarkan lenganku kepadanya. Saya menciumnya selama jalan menuju kamar, mengisap lidahnya, mendorong lidahku kedalam mulutnya.

Dia meletakkanku diatas tempat tidur, ambil satu gel pelumas dari almari kecil di samping tempat tidur

“Buka kakimu melebar, ” dia berkata waktu menghimpit pelumas dari tabungnya lalu menggosokkan kedalam vaginaku. Merasa dingin, serta dia menyisipkan dua jari kedalam vaginaku. Mereka masuk dengan gampang. Saya memegang tangannya serta menunjang jarinya bekerja didalam vaginaku.

“Sekarang giliranmu. ” dia berkata waktu berbaring pada punggungnya. “Lumasi mainanmu. ” dia tersenyum.

Saya lihat pada penisnya. Itu masih tetap tampak begitu besar buatku. Masih tetap 1/2 ereksi. Itu terdapat lurus ke arah kepalanya, kepala penisnya hingga menyentuh pusarnya.

Saya menyemburkan gel ke penisnya, buat satu garis zig-zag selama batangnya, seperti hiasi satu kue fikirku. Dia tertawa. Saya mulai menebarkan gel dengan jari tengahku. Penisnya merasa hangat, jariku menghimpit kedalam daging itu. Saat saya menggerakkan jariku naik turun pada batangnya, saya terasa penisnya jadi lebih keras. Saya suka pada itu. Saya suka pada jadikan penisnya keras. Saya menggenggam penisnya dengan ibu jari serta jari tengahku, menghimpit gel semakin banyak sekali lagi serta melumuri semua penisnya.

Cerita Seks Perselingkuhan Lusi

“Ke atas. ” dia memberikan instruksi.

Saya memandangnya.

“Kamu ke atas, begitu anda bisa mengontrol penisku. Gosok saja ke vaginamu, bermainlah dengan itu, kerjakan pelan-pelan. ”

Saya mengayunkan kakiku di atasnya, mengangkanginya, saya menunduk untuk menciumnya.

“Itu merasa nikmat. Gosokkan puting susumu yang keras padaku. Gesekkan vaginamu selama penisku. ” lengannya melingkariku, menarikku mendekat, dengan lembut tapi kuat, memaksa puting susuku ke dadanya.

Puting susuku jadi begitu keras serta peka. Saya menggerakkannya pelan-pelan maju-mundur, membelainya dengan puting susuku serta nikmati kehangatan dari tubuhnya. Saya dapat rasakan penisnya beradu dengan pantatku. Saya bergerak mundur untuk membiarkan penisnya meluncur di antara kakiku. Saya dapat rasakan batang itu meluncur selama bibir vaginaku. Tidak menembus, saya cuma menggesek naik turun batang yang keras itu, nikmati sensasi yang baru ini dari penis keras serta besar yang menghimpit kedalam bibir vagina telanjangku, nikmati rasa dari puting susuku yang menyentuh selama tubuhnya.

Lalu dia mendorongku kembali ke urutan duduk. “Masukkan Lusi. ”

Saya mengangkat batang tidak tipis itu serta menggosok-gosok kepalanya pada vaginaku, lalu menekannya berupaya untuk memasukkannya. Saya lihat kepala yang tidak tipis membelah bibirku cuma untuk menyodok masuk dalam lubangku. “Oh Tuhan, Martin, ini sangat besar. Saya akan tidak sempat bisa menampungnya di dalamku. ”

Dia meletakkan satu jari didalam vaginaku serta pelan-pelan mulai mengocok jarinya waktu saya terus memegangi penisnya. Saat saya mencermati, saya tengok dia dengan lemah-lembut menghimpit jari keduanya kedalam vagina basahku. Saya dapat rasakan peregangan serta mulai “mengendarai” jarinya. Lalu dia memasukkan jari yang ke tiga, memutar jarinya waktu dia meregangkan vaginaku. Lalu dengan satu pergerakan lembut, dia menarik jarinya, memegang tanganku yang tengah menggenggam penisnya serta membimbingnya ke arah lubangku yang telah buka.

“Lakukan saat ini Lusi. Duduk di atasnya. Vaginamu sudah siap, biarlah saja masuk. ”

Saya mengerjakannya. Ketakutanku kalau itu juga akan menyakitkan lenyap waktu saya terasa kepalanya membelah vaginaku. Dibanding rasa sakitnya, saya beroleh rasa yang begitu nikmat dari desakan pada vaginaku. Satu perasaan jadi terbentang serta di isi. Dia mulai memompa ke dalamku dengan dorongan dangkal, tiap-tiap dorongan menghimpit masuk makin kedalam vaginaku. Penisnya tampak bergerak lebih dalam serta makin dalam, menyentuhku dimana saya belum juga sempat disentuh. Lalu saya sadar kalau penisnya tengah memukul leher rahimku.

Saat ini penisnya terkubur di dalamku dia menggulingkan saya, menarik kakiku pada bahunya. Saya belum juga sempat memikirkan bagaimana erotisnya ini, lihat serta mencermati penis yang besar pelan-pelan meluncur keluar masuk badanku. Tetapi lalu, saya jadi lebih terbakar pada tiap-tiap hentakan.

Dia mulai ke menyetubuhiku lebih cepat, lebih keras, dengan sela sebentar-sebentar waktu penisnya dikuburkan dalam di dalamku. Dan setiap saat dia berhenti dengan penisnya jauh di dalamku, saya juga akan menggetarkan diriku ke dia hingga pada akhirnya saya beroleh orgasme keduaku hari ini, Satu orgasme yang hebat sekali! Dan saya menginginkan lebih. Dan saya puas rasakan penisnya masih tetap keras, masih tetap menyetubuhiku.

“Gadis baik Lusi. Lepaskanlah. ”

“Oh Tuhan ya. ”

“Kamu menyenanginya kan sayang, senang satu penis yang besar isi vagina kecilmu yang ketat. ” dia saat ini menyetubuhiku dengan hentakan yang panjang serta kuat.

“Oh ya, benar, benar. Setubuhi saya. Kerjai vaginaku. Setubuhi saya, setubuhi saya, setubuhi saya. ”

“Aku dapat keluar didalam badanmu. Katakan anda pingin spermaku. ”

“Ohhhh Tuhan, saya pingin anda orgasme, saya ingin spermamu. Ohhhh itu begitu besar. Rasanya nikmat. Ya, keluarlah! Oh brengsek, saya orgasme kembali Martin. Setubuhi saya dengan keras. Kumohon, lebih keras. ”

Ia mengerang, hentikan kocokan penisnya keluar masuk, serta cuma menguburkan dianya begitu dalam di vagina basah panasku. Ia mengandaskan dianya ke dalamku serta saya tahu dia lagi tengah orgasme. Saya berbalik menekannya, berupaya untuk beroleh penisnya sedalam-dalamnya padaku. Kemudian saya keluar kembali. Ombak kesenangan yang begitu indah menggulung semua badanku.

Saya terasa badannya melemah, namun dia tidak keluarkan penisnya dariku. Saya fikir saya dapat rasakan penisnya melembut didalam vaginaku meskipun demikian vaginaku masih tetap merasa nikmat serta penuh, begitu hangat serta basah. Saya memperlihatkan kepadanya dengan satu ciuman.

Kami cuma rebah disana. Saya tahu saya lagi tengah “terkunci”. Saya dapat rasakan sedikit rasa bersalah yang merambat kedalam fikiranku namun saya tahu kalau saya suka pada disetubuhi oleh penis yang besar. Saya tahu saya suka pada berkata kotor.

Kemudian gelembung itu terlihat meretak.

“Baiklah, apa pendapatmu perihal Lusi? Apa Marty merasa manis seperti nampaknya? ”

Baca Juga : Cerita Selingkuh dengan Teman Suamiku

Silvi, berdiri di pintu.

“Astaga… Silvi… a… aku…” saya masih tetap belum juga bisa melukiskan semuanya. Semuanya yang dapat kupikir yaitu kalau saya barusan tidur dengan suami wanita beda.

“Lusi, tenang sayang. ” Silvi memotongku. “Aku tidak berang. Saya bahagia lihat anda udah mengerti seandainya anda senang penis yang besar. ” dia tersenyum. “Andai saya dapat tinggal untuk melihat keseluruhnya momen ini namun kami fikir anda dapat jadi tambah nyaman lewat cara begini. ”

“Sebagian orang tidak terima sex cuma untuk kesenangan tapi Silvi serta saya telah menemukannya berhasil buat kami. Dia fikir kalaua anda yaitu seseorang wanita yang lagi tengah kekurangan kesenangan jadi kami piker mengapa tidak buka pintu serta lihat jikalau anda pingin masuk. Saya mengharapkan anda tidak berang. Saya mengharapkan anda dapat kembali. ” Martin menggulingkan saya serta saat ini membelai tubuhku selagi dia serta Silvi bicara.

Saya berusaha untuk katakan suatu hal, “Aku bukanlah wanita begitu. Ini yaitu satu kesalahan. Saya sangka kita mesti melupakan seandainya ini sempat berjalan. ” namun tiada kalimat yang keluar dari mulutku. Saya cuma mencapai serta membelai penis Martin yang besar serta lembut.

Silvi duduk ditempat tidur, menciumku perlahan. “Berbagi yaitu mengasyikkan Lusi. Serta kita semuanya yaitu “pelacur kecil” jauh didalam bawah sana, ya kan? ”

“Pelacur” kata itu berderik didalam fikiranku. Tuhan, saya yaitu seseorang pelacur, ya kan? Serta saya tidak perduli, saya cuma tahu kalau saya pingin terkait sex dengan penis yang besar ini kembali.

Maka demikianlah bagaimana narasi ini berawal. Tom yang malang tidak paham mengapa saya berteman baik dengan Martin serta Silvi. Tom masih tetap senang terkait tubuh setiap satu minggu sekali atau 2 x tapi saya masih tetap susah rasakan dia di dalamku.

Bunga99.com Agen Bola Online BandarQ Poker Domino99 Togel Casino Terpercaya
BungaQQ Situs Domino99 BandarQ Dan Poker Online Terpercaya 2017
KepoQQ Situs BandarQ Domino99 AduQ Poker Online Terpercaya
7 Situs BandarQ AduQ DominoQQ Online Terpercaya 2017
Situs BandarQ Poker Domino Online Terpercaya Terbaik 2017
Agen Situs Poker BandarQ Online Terpercaya Terbaik Tahun Ini

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *