Bunga99 agen bola online
Dokter Pemuas Seks

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Dokter Pemuas Seks

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirDokter Pemuas Seks – Saya jadi dokter yang dipilih mewakili organisasi project perbaikan gizi orang-orang di satu kepulauan. Tempat saya bekerja jaraknya cuma satu jam pelayaran serta terdapat dalam satu provinsi dengan rumah kami. Atas perjanjian suami, kami berpisah serta tiap-tiap dua minggu saya pulang ke tempat tinggal.

Dokter Pemuas Seks

Sepeninggalku, nyata-nyatanya suamiku tunjukkan dianya sendiri jadi gay. Dia punya pemuda simpanan rekan tidur serta pemuas seks. Sepanjang saya dinas di kepulauan, pemuda itu sekian kali dibawa pulang bermalam dirumah. Untuk sembunyikan sikapnya, keseharian rekan gaynya disimpan diluar, disewakan tempat tinggal. Peristiwa ini memukul perasaanku. Semua usaha untuk menyadarkan suamiku nyata-nyatanya tidak membawa hasil.

Saya membawa kedukaanku di pulau melalui cara melayani orang-orang setempat. Untuk isi kekosongan saat, saya buka praktik jadi dokter umum. Satu hari saat jam praktik nyaris selesai, seseorang pasien lelaki tegap berkumis serta bercambang datang minta supaya di check. Ia mengenalkan namamanya Hamid. Yang dirasakannya kerapkali pusing.
“Silakan Pak Hamid naik ke tempat tidur agar saya periksa”.
Segera saya mengecek pernapasan, desakan darah serta lain-lainnya. Ketika tanganku memegang tangannya yang berbulu lebat, ada perasaan canggung serta geli. Pada saat Pak Hamid pamit, dia meninggalkan amplop cost kontrol. Ternyata berisi lebih dari kewajaran tarip seseorang dokter umum.
Hari berlalu, saat satu malam waktu saya juga akan mengunci kamar praktik, di hadapanku sudah berdiri Pak Hamid.
“Dokter, apakah masih tetap ada saat untuk check saya? Maaf saya datang sangat malam karena ada pekerjaan tanggung”.
Saya kaget karena kemunculannya tanpa ada saya kenali. Dengan senyum geli saya buka kembali ruangan praktik sembari mempersilakan masuk.
“Dok, saya tidak punya yang dirasakan. Cuma saya menginginkan tahu apakah desakan darah saya normal”.
Demikian Pak Hamid memulai perbincangan.
“Saya dapat tidur pulas sesudah makan obat dokter”.
Sembari memerika, kami berdua tampak perbincangan enteng, dari mulai sekolah hingga kegemaran. Dari situ saya baru tahu, Pak Hamid sudah dua tahun menduda ditinggal mati istri serta anak tunggalnya yang kecelakaan di Solo. Mulai sejak waktu itu hidupnya membujang. Ketika pamit dari ruangan praktekku, Pak Hamid tawarkan situasi enjoy sembari menyelam di kepulauan karang.
“Dok, panoramanya begitu indah, pantainya juga bersih lho”.
Saya sepakat atas tawaran itu serta Pak Hamid juga akan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.
Dalam speed boath yang menyeberangkan kami, cuma diisi saya, Pak Hamid serta pengemudi kapal. Sesampainya di sana, saya terasa canggung saat mesti bertukar kemeja selam dihadapan lelaki. Tapi saya juga belum juga tahu langkah kenakan pakaian selam apabila tanpa ada pemberian Pak Hamid. Terpaksa dengan kemeja bikini saya dibantu Pak Hamid pakai kemeja renang. Tangan kekar berbulu itu sekian kali menyentuh pundak serta leherku. Ada perasaan merinding.
Tanpa ada merasa kesibukan menyelam jadi kesibukan teratur. Bahkan juga pergi ke tempat penyelaman kerapkali cuma dilaksanakan kami berdua, saya serta pak Hamid. Makin hari jarak hubungan saya dengan Pak Hamid jadi lebih akrab serta dekat. Kami telah sama-sama terbuka membicarkan keluarga semasing s/d keluahanku tentang suamiku yang gay. Dia tak akan menyebutku Bu Dokter, tapi cukup namaku, dik Nastiti.
Musim barat nyaris tiba, kami berdua ditengah perjalanan ke tempat penyelaman. Mendadak turun hujan serta angin maka gelombang laut naik-turun cukup besar. Saya mual, maka kapal dibelokkan Pak Hamid ke arah bagian pulau yang terlindung. Kami turun ke pantai, duduk di bangunan kayu beratap rumbia tempat beberapa penyelam umum istirahat sembari nikmati bekal. Cuma ada dua bangku panjang serta meja kayu ditempat itu. Angin kencang membawa dampak badan kami basah serta dingin. Saya duduk mepet ke Pak Hamid. Saya tidak menampik saat Pak Hamid memelukku dari belakang. Tangan berbulu lebat itu melingkar dalam dada serta perutku. Dekapan itu merasa hangat serta erat. Saya pejamkan mata sembari merebahkan kepalaku di pundaknya, maka rasa mabuk laut mulai reda.
Sebuah kecupan enteng menempel di keningku, lalu berubah ke bibir, saya berupaya menampik, tapi tangan yang melingkar di dadaku beralih tempat maka dengan gampang menyelinap dalam BHku. Mendadak tubuhku merasa lemas waktu jari tangan itu buat putaran halus di puting susuku. Bibir berkumis lebat itu menelusuri ke sisi sensitip di leher serta belakang telingaku. Persasaan nikmat serta merinding menyebar dalam badanku. Bibir itu kembali berubah lambat menyusur dagu, bergerak ke leher, pundak serta selanjutnya berhenti di buah dadaku. Saya tidak paham kapan kaitan BH itu terbuka. Dorongan kuat keluar di vaginaku, menginginkan rasa-rasanya ada benda dapat mengganjal masuk.
Tangan kekar itu selanjutnya membopongku serta letakkan diatas meja kayu. BHku sudah jatuh diatas pasir, mulut serta tanggan Pak Hamid bertukaran mengisap serta meremas ke-2 gunungku, kanan kiri. Saya seperti melayang-layang, ke-2 tanganku menjambak rambut Pak Hamid. Kepalaku tanpa ada tertanggulangi bergerak ke kanan serta kiri makin liar dibarengi nada eluhan nikmat. Oooohhhhh……oohhhh… ooooohhhh……aauuhhhhhh. Ke-2 tangannya makin kencang meremas buah dadaku. Mulutnya berubah perlahan-lahan ke bawah menelusur pusar…….. terus…. vaginaku. Ahhh…… husss……. ahh…… aahhhhhh.
Ketika mulut itu menemukannya klitorisku, jeritanku tidak tertahan Auh.. h…h… aahhh….. husss….. satu benda lunak menyusup bibir vaginaku. Bergerak perlahan-lahan dalam usapan halus dan putaran pada dinding dalam, membuatku makin melayang-layang. Tanpa ada merasa eranganku makin keras. Untuk menaikkan kesenangan, saya angkat tinggi pantatku ke atas. Menginginkan rasa-rasanya benda itu masuk lebih dalam. Tapi saya cuma beroleh dipermukaan. Ooohhhh…….. haahh…… haaahh…huuu……………. t.. e…r…u…. s….. se.. se.. se.. diki t…atas. Ooohhh……. aahhh ……….. Sebuah hisapan kecil di klitorisku menguatkan cengkeraman tanganku di tepi meja. Hisapan itu makin lama makin kuat…. kuat serta kuat….. jadikan kesenangan tidak terhingga…. memuncul denyutan orgasme. Otot-otot di sekitar vaginaku mengejang nikmat serta sangat nikmat. Sesekali nafasku tersengal aaa……….. hhhhhh……………huuu………….. a ahhhhh…. aahhhh……… aaaahhhhhhhh……. ahhhh…… huhhhhhhh…ehhhhhh. Denyut itu menyebar dintara pangkal paha serta pantat ke semua badan. Orgasme yang prima sudah saya peroleh. Puncak kesenangan sudah saya rasakan.
Lemas sekujur badanku, saya menginginkan dipeluk erat, saya menginginkan ada satu benda yang masih tetap ketinggalan dalam vaginaku untuk mengganjal sisa denyutan yang masih tetap merasa. Tapi saya cuma menemukannya kekosongan. Tangan-tangan berbulu itu dengan perlahan buka kembali pahaku. Ke-2 kakiku diangkat di antara bahunya. Lalu merasa satu benda digeser-geser dalam vaginaku. Awal mulanya merasa geli, tapi lalu saya sadar Pak Hamid tengah membasahi penisnya dengan cairan kawinku. Seketika saya bangun sembari tutup ke-2 kakiku. Saya mendorong tubuhnya, serta saya menangis. Sembari buang muka saya sesenggukan. Ke-2 tanganku tutup dada serta selangkangan. Pak Hamid tertunduk duduk dibangku menjauhi saya. Ia sadar saya tidak ingin dijamah lebih dari itu. Sembari menelungkupkan tubuh di meja, tangisku tetahan. Pak Hamid mendekati serta dengan lembut ia membisikkan kata keinginan maaf. Diapun menyorongkan BH dan celana dalamku. Saya tetaplah menangis sembari tutup muka dengan ke-2 tanganku. Akhirnya pak Hamid pergi menjauh menuju kapal ambil bekal.
Kami duduk berjauhan tanpa ada kalimat. Sekali sekali lagi Pak Hamid memajukan keinginan maaf serta berjanji tidak mengulang peristiwa itu. Ia menyerahkan botol air mineral kepadaku.
“Maafkan saya dik Nastiti, saya khilaf, saya sudah lama tidak rasakan begini maka saya khilaf. Saya mohon maaf yah, saya berharap peristiwa ini tidak mengganggu persahabatan kita. Yuk kita makan dan minum siang, selalu pulang”.
Saya terasa iba pada Pak Hamid. Ternyata dengan tulus dia masih tetap dapat menahan syahwatnya. Walau sebenarnya mungkin memaksa serta memperkosaku.
Kesadaranku mulai sembuh, emosiku mereda. Saya mulai berfikir pada peristiwa barusan, tidakkah saya sudah terlanjur basah waktu ini? Tidakkah sisi dari kehormatanku sudah dijamah Pak Hamid? Tidakkah badanku yang paling peka sudah di nikmati Pak Hamid? Apa berarti menjaga kesucian perkawinan? Tidakkah saya tidak sempat nikmati rasa begini dengan suamiku? Tidakkah saya sudah kawin dengan seseorang gay? Yah saya sudah diusir dari rumahku oleh rekan gay suamiku. Tapi itu bukanlah salah suamiku. Ia terlahir dengan kelainan jiwa. Ia jadi gay dengan memikul penderitaan. Ia sangat terpaksa memperistri saya cuma untuk menutupi gaynya. Saya menginginkan rasakan kesenangan, tapi saya tidak mau jadi korban, saya tidak mau miliki anak dari hubungan ini dengan Pak Hamid.
Keberanianku mulai keluar. Saya melompat serta memeluk Pak Hamid. Terlihat Pak Hamid sangsi pada sikapku maka tangannya tidak bereaksi memelukku. Saya bisikan kata mesra.
“Pak, saya kepingin sekali lagi, seperti barusan, tapi saya minta kesempatan ini janganlah di keluarkan di dalam”.
“Maksud dik Nastiti….. ”
Sebelumnya dia merampungkan kata-katanya, tanganku meraba ke penisnya. Lalu tanganku menyelinap dalam celana renangnya. Sebuah benda yang tidur melingkar, mendadak bangun karena sentuhanku…
”Tapi janganlah di keluarkan didalam ya Pak…. ”.
“Terima kasih dik…. ”.
Senyum Pak Hamid berkembang. Kembali saya didekap, saya dipeluk erat oleh ke-2 tangan kekar. Saya benamkan mukaku di dada bagian berbulu.
Tanpa ada komando saya duduk diatas meja sembari tetaplah memeluk Pak Hamid. Saya diam, mataku terpejam saat pelan-pelan saya direbahkan diatas meja. Satu persatu pengikat BHku terlepas maka tampaklah susuku yang masih tetap begitu padat lengkap dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan serta telah berdiri dengan pongahnya. Ke-2 tangannya mencapai dadaku, mulut hangat menyelusur gunungku, perlahan berubah ke bawah, makin ke bawah gerakkannya makin liar. Gesekan kumis selama perut membuatku menegang. Saya pasrah saat celana dalamku ditarik ke bawah terlepas dari kaki maka saat ini saya telah betul-betul seperti bayi yang baru lahir tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi badanku. Mulut hangat itu kembali bermain lincah di antara bibir bawahku yang tertutupi rambut-rambut kemaluan yang berwarna hitam legam serta tumbuh dengan lebatnya di sekitar lubang kawinku serta clitorisku merasa telah mengeras tandanya saya telah dirundung nafsu kawin yang sangat menggelegak.
Kesenangan kembali menyebar di rahimku. Auh…. e. e. e. e. e. e. e….. haaah…haa ah…haah. Auhhhhsss…… saya mengerang. Pak Hamid sembari berdiri di pinggir meja mengusapkan benda panjang serta keras di klitorisku. Aa……hhhh….. uhhh.. jeritan kecil tertahan memulai dorongan penis Pak Hamid menyelinap vaginaku. Pantatku diangkat tinggi dengan ke-2 tangannya saat benda itu makin dalam tenggelam. Tanpa ada kendala penis Pak Hamid masuk lebih dalam menelusuri vaginaku. Dimulai dengan pergerakan pendek maju mudur memiliki irama makin lama jadi panjang. Nafasku tersengal menahan tiap-tiap gerak kesenangan. Aaah…. ahh….. ahh……. haaaa………………… ….. haassss…….
Entah berapakah lama saya terima irama pergerakan maju mundur benda keras dalam vaginaku. Saya sudah rasakan denyut orgasme. Auuuuuuuuhhhhh………… Jeritan serta cengkeraman tanganku di pundak belakang pemberi tanda saya menjangkau puncak orgasme. Pergerakan benda itu dalam vaginaku masihlah memiliki irama, tegar maju mundur serta buat gesekan dengan sudut-sudut peka. Mendadak irama pergerakan itu beralih jadi cepat, makin cepat….. nada eluhan Pak Hamid terdengar serta otot vaginaku kembali turut menegang, yah… saya ingin kembali orgasme… aaahhhhhhhhhhhh……. aahhhh…. Mendadak benda dalam vaginaku ditarik keluar. Semprotan cairan hangat tentang pahaku serta meleleh diatas meja. Pak Hamid menjangkau puncak kesenangan. Pak Hamid penuhi janjinya, tidak keluarkan cairan mani dalam vaginaku. Saya lemas….. lemas sekali seperti tidak bertulang. Saya didekap lembut serta satu ciuman di kening menaikkan menyusut daya kemampuanku.
Tiga tahun setelah peristiwa di pulau itu, saya sudah nikmati hari-hari bahagiaku. Saya saat ini sudah jadi nyonya Hamid. Di pelukanku ada si mungil Indri, buah hati kami berdua. Sesudah perceraian dengan suamiku, setahun lalu saya menikah dengan Pak Hamid. Bekas suamiku kirim berita ia saat ini sekolah di Australia. Tapi saya tahu semuanya itu cuma kamuflase, seperti dalam pengakuannya lewat telepon, bekas suamiku tinggal di Sydney supaya bisa beroleh kebebasan jadi Gay.

Baca Juga : Wanita Pelampiasan Nafsu ku

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *