Bunga99 agen bola online
Guru Dosen Yang Bohay

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Guru Dosen Yang Bohay

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirGuru Dosen Yang Bohay. Benar apa yang di ucapkan banyak orang-tua dahulu, kalau semua suatu hal berlangsung tanpa ada kita bakal menyadarinya. Begitu halnya diriku banyak pembaca, semua suatu hal yang kualami demikian berlangsung tanpa ada saya bisa mengerti terlebih dulu. Dari sinilah saya bakal mulai kisahku.

Guru Dosen Yang Bohay

Saya dilahirkan di kota M di provinsi Jawa Timur, kota yang panas karna terdapat di dataran rendah. Selain tinggi tubuh seukuran beberapa orang bule, kata rekanku wajahku lumayan. Mereka mengatakan saya hitam manis. Jadi lelaki, saya juga bangga karna saat SMA dahulu saya banyak mempunyai rekan-rekan wanita. Meskipun saya sendiri tak ada yang tertarik satupun diantara mereka. Kembali kenang saat-saat dahulu saya terkadang tersenyum sendiri, karna meski bagaimanapun kisah lama yaitu suatu hal yang bernilai dalam diri kita. Apalagi kisah lama manis.

Sekarang saya belajar di satu diantara perguruan tinggi swasta di kota S, ambil jurusan pengetahuan perhotelan. Saya duduk di tingkat akhir. Sebelumnya pergi dahulu, orangtuaku berpesan mesti bisa selesaikan studi pas pada saatnya. Maklum, kondisi ekonomi orangtuaku juga biasa-biasa saja, tidak kaya juga tidak miskin. Apalagi saya juga mempunyai 3 orang adik yang nanti akan kuliah seperti saya, hingga butuh cost juga. Saya camkan kalimat orangtuaku. Dalam hati saya bakal berjanji bakal penuhi keinginan mereka, usai pas pada saatnya.

Namun banyak pembaca, telah kutulis diatas kalau semua suatu hal yang berlangsung padaku tanpa ada saya bisa menyadarinya, hingga sekarang ini juga saya masih tetap belum juga bisa selesaikan studiku cuma dikarenakan satu mata kuliah saja yang belum juga lulus, yakni mata kuliah yang berhubugan dengan kalkulasi berhitung. Meskipun telah kuambil sepanjang empat semester, namun akhirnya belum juga lulus juga. Untuk mata kuliah yang beda saya bisa selesaikannya, namun untuk mata kuliah yang satu ini saya serius terasa susah.

“Coba saja anda konsultasi pada dosen pembimbing akademis.., ” kata rekanku Andi saat kami berdua tengah sekedar duduk dalam kamar kost.
“Sudah, Di. Namun beliau juga terlepas tangan dengan persoalanku ini. Kata beliau ini ditetapkan oleh dirimu sendiri. ” kataku sembari mengisap rokok dalam-dalam.
“Benar juga apa yang disebutkan beliau, Gi, semuanya ditetapkan dari dirimu sendiri. ” sahut Andi sembari termangu, tangannya repot memainkan korek api di depannya.
Lama kami repot terbenam dalam fikiran kami semasing, hingga pada akhirnya Andi berkata, “Gini saja, Gi, anda segera saja menghadap dosen mata kuliah itu, katakan kesulitanmu, mungkin saja beliau ingin menolong. ” kata Andi.

Mendengar pengucapan Andi, saat itu juga saya segera teringat dengan dosen mata kuliah yang mengesalkan itu. Namanya Ibu Eni, umurnya kurang lebih 35 th.. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, namun banyak rekanku demikian halnya saya menyampaikan Ibu Eni yaitu dosen killer, banyak rekanku yang di buat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Eni belum juga berkeluarga dengan kata lain masih tetap sendiri, wanita yang masih tetap sendiri gampang tersinggung serta peka.

“Waduh, Di, bagaimana dapat, dia dosen killer di universitas kita.., ” kataku bimbang.
“Iya sich, namun meski bagaimanapun anda mesti berterus jelas tentang kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak ingin menolong.., ” kata Andi berikan anjuran.
Saya terdiam sesaat, beraneka pertimbangan terlihat di kepalaku. Dikejar-kejar saat, pesan orang-tua, dosen wanita yang killer.
Pada akhirnya saya berkata, “Baiklah Di, bakal kucoba, besok saya bakal menghadap beliau di universitas. ”
“Nah demikian dong, semua suatu hal mesti dicoba dahulu, ” sahut Andi sembari menepuk-nepuk pundakku.

Siang itu saya telah duduk di kantin universitas dengan satu gelas es teh di depanku serta sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelumnya berjumpa Ibu Eni saya berniat bersantai dahulu, karna bagaimanapun kelak saya bakal gugup menghadapinya, saya bakal menentramkan diri dahulu sebagian waktu. Tanpa ada saya sadari, mendadak Andi telah berdiri di belakangku sembari menepuk pundakku, sebentar saya kaget dibuatnya.

“Ayo Gi, saat ini saatnya. Bu Eni kulihat barusan tengah menuju ke ruangnya, mumpung saat ini tidak mengajar, temuilah beliau..! ” bisik Andi di telingaku.
“Oke-oke.., ” kataku singkat sembari berdiri, menggunakan sisa es teh paling akhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam saku, kutarik dalam-dalam nafasku.
Saya segera melangkahkan kaki.
“Kalau demikian saya duluan ya, Gi. Hingga ketemu di kost, ” sahut Andi sembari meninggalkanku.
Saya cuma bisa melambaikan tangan saja, karna fikiranku masih tetap berkecamuk bimbang, bagaimana saya mesti menghadapai Ibu Eni, dosen killer yang masih tetap sendiri itu.

Perlahan saya jalan menyelisipi lorong universitas, situasi begitu lengang waktu itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula bila saja saya tidak alami persoalan ini tambah baik saya tidur-tiduran saja di kamar kost, bercakap dengan rekan. Hanya karna persoalan ini saya mesti bersusah-susah menjumpai Bu Eni, agar dapat membantuku dalam persoalan ini.

Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruang Bu Eni terdapat disudut ruang, hingga tak ada orang lewat simpang siur di muka ruangnya. Terlihat sekali kondisi yang sepi.
Fikirku, “Mungkin saja wanita yang belum juga bertemumi inginnya menyendiri saja. ”
Perlahan kuketuk pintu, tidak beberapa lama kemudian terdengar nada dari dalam, “Masuk..! ”
Saya segera masuk, kulihat Bu Eni tengah duduk di belakang mejanya sembari membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Eni memandangku sembari tersenyum, sebentar saya tidak menganggap beliau tersenyum ramah padaku. Sedikit untuk sedikit saya mulai bisa terasa tenang, biarpun masih tetap ada sedikit rasa gugup di hatiku.

“Silakan duduk, apa yang dapat Ibu bantu..? ” Bu Eni segera mempersilakan saya duduk, sebentar saya kagum oleh kecantikannya.
Bagaimana mungkin saja dosen yang demikian cantik serta anggun memperoleh julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, lantas saya duduk.
“Oke, Yogi, ada apa kesini, ada yang dapat Ibu bantu..? ” lagi Bu Eni bertanya hal tersebut kepadaku dengan senyumnya yang masih tetap mengembang.
Perlahan kuceritakan persoalanku pada Bu Eni, dari mulai hasrat orang-tua yang menginginkan saya agak cepat selesaikan studiku, hingga ke mata kuliah yang sekarang ini saya belum juga bisa selesaikannya.

Kulihat Bu Eni dengan telaten dengarkan ceritaku sembari kadang-kadang tersenyum kepadaku. Lihat kondisi yang sekian saya jadi bertambah semangat menceritakan, hingga selanjutnya dengan spontan saya berkata, “Apa saja bakal kulakukan Bu Eni, agar dapat selesaikan mata kuliah ini. Mungkin saja satu waktu menolong Ibu bersihkan rumah, misalnya membersihkan piring, mengepel, atau yah, katakanlah membersihkan baju juga saya bakal melaksanakannya untuk supaya mata kuliah ini bisa saya kerjakan. Saya mohon sekali, tunjukkanlah kemudahan nilai mata kuliah Ibu pada saya. ”

Mendengar kejujuran serta perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Eni tertawa kecil sembari berdiri menghampiriku, tawa kecil yang terlihat misterius, di mana saya tidak bisa jelas apa tujuannya.
“Apa saja Yogi..? ” kata Bu Eni seolah menyatakan perkataanku barusan yang dengan spontan keluar dari mulutku barusan dengan suara ajukan pertanyaan.
“Apa saja Bu..! ” kutegaskan lagi perkataanku dengan spontan.

Sebentar lantas tanpa ada kusadari Bu Eni telah berdiri di belakangku, saat itu saya masih tetap duduk di kursi sembari termenung. Sesaat Bu Eni memegang pundakku sembari berbisik di telingaku.
“Apa saja kan Yogi..? ”
Saya mengangguk sembari menunduk, waktu itu saya belum juga mengerti apa yang bakal berlangsung. Mendadak saja dari arah belakang, Bu Eni telah menghujani pipiku dengan ciuman-ciuman lembut, sebelumnya pernah saya tersadar apa yang bakal berlangsung. Bu Eni mendadak saja telah duduk di pangkuanku, merangkul kepalaku, lantas melumatkan bibirnya ke bibirku. Waktu itu saya tidak mengerti apa yang perlu kulakukan, saat itu juga ke-2 tangan Bu Eni memegang ke-2 tanganku, lantas meremas-remaskan ke payudaranya yang telah mulai mengencang.

Guru Dosen Yang Bohay

Saya tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya.
“Bu, haruskah kita.. ”
Sebelumnya saya selesaikan ucapanku, telunjuk Bu Eni telah melekat di bibirku, seolah menyuruhku untuk diam.
“Sudahlah Yogi, berikut yang Ibu idamkan.. ”
Setelah berkata demikian, kembali Bu Eni melumat bibirku dengan lembut, sembari menuntun ke-2 tanganku untuk masih meremas-remas payudaranya yang montok karna telah mengencang.

Pada akhirnya muncul keinginan kelelakianku yang normal, seolah terhipnotis oleh reaksi Bu Eni yang menggairahkan serta ucapannya yang demikian pasrah, kami berdua terbenam dalam keinginan sex yang begitu menggelora serta panas. Saya membalas melumat bibirnya yang indah merekah sembari ke-2 tanganku selalu meremas-remas ke-2 payudaranya yang masih tetap tertutup oleh baju itu tanpa ada mesti diarahkan sekali lagi. Tangan Bu Eni turun ke bawah perutku, lantas mengusap-usap kemaluanku yang telah mengencang hebat. Dilanjutkan lantas satu-persatu kancing-kancing bajuku di buka oleh Bu Eni, dengan reflek juga saya mulai buka satu-persatu kancing baju Bu Eni sembari selalu bibirku melumat bibirnya.

Setelah bisa buka pakaiannya, begitu halnya bajuku yang telah lepas, gairah kami makin mencapai puncak, kulihat ke-2 payudara Bu Eni yang menggunakan BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah diantara BH-nya. Kuciumi ke-2 payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih serta indah. Kudengar nada Bu Eni yang mendesah-desah rasakan kesenangan yang kuberikan. Ke-2 tangan Bu Eni mengelus-elus dadaku yang bagian. Lama saya menciumi serta melumat ke-2 payudaranya dengan ke-2 tanganku yang kadang-kadang meremas-remas serta mengusap-usap payudara serta perutnya.

Pada akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, sesudah terlepas kubuang BH ke samping. Waktu itu saya serius bisa lihat dengan utuh ke-2 payudara yang mulus, putih serta mengencang hebat, menonjol selaras di dadanya. Kulumat putingnya dengan mulutku sembari tanganku meremas-remas payudaranya yang beda. Puting yang menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Eni yang makin menggelora.
“Oh.., oh.., Yogi.. lanjutkan.., lanjutkan Yogi..! ” desah Bu Eni dengan pasrah serta memelas.
Lihat keadaan begitu, kejantananku makin mencapai puncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, ke-2 puting Bu Eni kukulum berubahan sembari ke-2 tanganku mengusap-usap punggungnya, ke-2 puting yang menonjol pas di wajahku. Payudara yang mengencang keras.

Lama saya melaksanakannya, hingga pada akhirnya sembari berbisik Bu Eni berkata, “Angkat saya ke atas meja Yogi.., mari angkat saya..! ”
Spontan kubopong badan Bu Eni ke arah meja, kududukkan, lantas dengan reflek saya singkirkan beberapa barang diatas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semuanya kujatuhkan ke lantai dng cepat, untung lantainya menggunakan karpet, hingga nada yang diakibatkan tidaklah terlalu keras.

Tetap dalam kondisi duduk diatas meja serta saya berdiri di depannya, tangan Bu Eni segera meraba sabukku, buka pengaitnya, lantas buka celanaku serta menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta saya selekasnya buka celana dalamku, serta melemparkannya ke samping.
Kulihat Bu Eni tersenyum serta berkata lirih, “Oh.. Yogi.., begitu jantannya anda.. kemaluanmu demikian panjang serta besar.. Oh.. Yogi, saya telah tidak tahan sekali lagi untuk merasakannya. ”
Saya tersenyum juga, kuperhatikan badan Bu Eni yang 1/2 telanjang itu.

Kemudian sembari kurebahkan badannya diatas meja dengan tempat saya berdiri diantara ke-2 pahanya yang kekuatanng dengan rok yang tersibak hingga terlihat pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan penuh gairah, sembari tanganku bergerilya diantara pahanya. Saya benar-benar inginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan badan kami yang berkeringat karna gairah yang muncul diantara saya serta Bu Eni. Kutelusuri badan Bu Eni yang 1/2 telanjang serta kekuatanng itu dari mulai perut, lantas ke-2 payudaranya yang montok, lantas leher. Kudengar desahan-desahan serta rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Eni.

Hingga saat Bu Eni menyuruhku untuk buka roknya, perlahan kubuka kancing pengait rok Bu Eni, kubuka restletingnya, lantas kuturunkan roknya, lantas kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka serta kuturunkan juga celana dalamnya. Saat itu juga keinginan kelelakianku makin menggelora untuk lihat badan Bu Eni yang telah telanjang bulat, badan yang indah serta seksi, dengan gundukan daging diantara pahanya yang tertutupi oleh rambut yang demikian rimbun.
Terdengar Bu Eni berkata pasrah, “Ayolah Yogi.., apa yang kau tunggulah..? Ibu telah tidak tahan sekali lagi. ”

Baca Juga : Bercinta Dengan Nenek Nenek

Kurasakan tangan Bu Eni menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat diantara pahanya. Saya ikuti tekad Bu Eni yang telah mencapai puncak itu, perlahan-lahan namun tentu kumasukkan kemaluanku yang telah mengencang keras seperti punya kuda perkasa itu kedalam vagina Bu Eni. Kurasakan punya Bu Eni yang masih tetap agak sempit. Pada akhirnya sesudah sedikit bersusah payah, semua batang kemaluanku amblas kedalam vagina Bu Eni.
Terdengar Bu Eni merintih serta mendesah, “Oh.., oh.., Yogi.. selalu Yogi.. janganlah bebaskan Yogi.. saya mohon..! ”
Tanpa ada fikir panjang sekali lagi dibarengi keinginanku yang telah menggelora, kugerakkan ke-2 pantatku maju-mundur dengan tempat Bu Eni yang kekuatanng diatas meja serta saya berdiri diantara ke-2 pahanya.

Awal mula teratur, selaras dengan goyangan-goyangan pantat Bu Eni. Sering kudengar rintihan-rintihan serta desahan Bu Eni karna menahan kesenangan yang sangat begitu. Demikian halnya saya, kuciumi serta kulumat ke-2 payudara Bu Eni dengan mulutku.
Kurasakan ke-2 tangan Bu Eni meremas-remas rambutku sembari kadang-kadang merintih, “Oh.. Yogi.. oh.. Yogi.. janganlah bebaskan Yogi, kumohon..! ”
Mendengar rintihan Bu Eni, gairahku makin mencapai puncak, goyanganku jadi bertambah ganas, kugerakkan ke-2 pantatku maju-mundur makin cepat.
Terdengar sekali lagi nada Bu Eni merintih, “Oh.. Yogi.. anda memanglah perkasa.., kau memanglah jantan.. Yogi.. saya mulai keluar.. oh..! ”
“Ayolah Bu.., ayolah kita meraih puncak bersama, saya juga telah tidak tahan sekali lagi, ” keluhku.

Sesudah berkata demikian, kurasakan badanku serta badan Bu Eni mengejang, seolah-olah terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kesenangan yang keluar dari kemaluanku, makin kurapatkan kemaluanku ke vagina Bu Eni. Terdengar yang dirasakan serta rintihan panjang dari mulut Bu Eni, kurasakan juga dadaku digigit oleh Bu Eni, seolah-olah nmenahan kesenangan yang sangat begitu.
“Oh.. Yogi.. oh.. oh.. oh.. ”
Sesudah kukeluarkan cairan dari kemaluanku kedalam vagina Bu Eni, kurasakan badanku yang begitu kelelahan, kutelungkupkan tubuhku diatas tubuh Bu Eni dengan tetap dalam keadan telanjang, agak lama saya telungkup di atasnya.

Sesudah kurasakan kelelahanku mulai menyusut, saya segera bangkit serta berkata, “Bu, apakah yang telah kita jalankan barusan..? ”
Kembali Bu Eni memotong perbincanganku, “Sudahlah Yogi, yang barusan itu biarkanlah berlangsung karna kita sama-sama menginginkannya, saat ini pulanglah serta ini alamat Ibu, Ibu menginginkan narasi banyak padamu, anda pengen kan..? ”
Sesudah berkata demikian, Bu Eni segera menyodorkan kartu namanya kepadaku. Kuterima kartu nama yang diisi alamat itu.

Sesaat kutermangu, kembali saya dikejutkan oleh nada Bu Eni, “Yogi, pulanglah, gunakan kembali kemejamu..! ”
Tanpa ada basa-basi sekali lagi, saya segera kenakan kemejaku, lalu buka pintu serta keluar ruang. Dengan gontai saya jalan keluar universitas sembari fikiranku berkecamuk dengan peristiwa yang barusan berlangsung pada saya dengan Bu Eni. Saya udah bermain cinta dengan dosen killer itu. Bagaimana itu dapat berlangsung, semuanya di luar kehendakku. Pada akhirnya walaupun begitu kelak malam saya mesti ke rumah Bu Eni.

Kudapati rumah itu demikian kecil namun asri dengan tanaman serta bunga di halaman depan yang tertib rapi, cocok sekali keadannya. Segera kupencet bel di pintu, selang beberapa saat Bu Eni sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Eni tersenyum serta mempersilakan saya masuk kedalam. Kuketahui nyatanya Bu Eni hidup sendirian dirumah ini. Sesudah duduk, lalu kami juga mengobrol. Sesudah demikian lama mengobrol, pada akhirnya kuketahui kalau Bu Eni sampai kini banyak dikecewakan oleh lelaki yang disayanginya. Semua lelaki itu cuma mendambakan badannya saja bukanlah cintanya. Sesudah jemu, lelaki itu meninggalkan Bu Eni. Lantas dengan jujur juga dia memohonku sepanjang masih tetap selesaikan studi, saya disuruhnya untuk jadi rekan sekalian kekasihnya. Pada akhirnya saya mulai mengerti kalau urutanku tidak lain dengan gigolo.

Kudengar Bu Eni berkata, “Selama anda masih tetap belum juga wisuda, terus jadi rekan serta kekasih Ibu. Apa juga permintaanmu kupenuhi, duit, nilai mata kuliahmu supaya lulus, segala juga akan Ibu penuhi, paham kan Yogi..? ”
Selain lihat kesendirian Bu Eni tidak ada lelaki yang bisa memuaskan keinginannya, saya juga perhitungkan kelulusan nilai mata kuliahku. Pada akhirnya saya juga bersedia terima tawarannya.

Pada akhirnya malam itu juga saya serta Bu Eni kembali lakukan apa yang kami jalankan siang barusan di ruang Bu Eni, di universitas. Namun bedanya kesempatan ini saya tidak canggung sekali lagi melayani Bu Eni dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kenikmatan di muka Bu Eni. Walaupun bagaimanapun serta tak tahu hingga kapan, saya juga akan senantiasa melayani keinginan seksualnya yang terlalu berlebih, karna memanglah ada jaminan tentang kelulusan mata kuliahku yg tidak lulus-lulus itu dari dahulu.

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *