Bunga99 agen bola online
Ibu Sekdes Yang Cantik

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Ibu Sekdes Yang Cantik

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirIbu Sekdes Yang Cantik – Pada saat KKN di satu daerah terpencil di Jawa Tengah (Di satu desa kecil yang belum pula terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan juga utk menjangkau jalan raya yang dilewati mobil angkutan, mesti jalan kaki sepanjang 2 jam), kukira warganya masih tetap terbelakang serta kurang pergaulan. Maklum di satu diantara dusun, yang di huni sekitaran 100 keluarga, cuma satu yang miliki TV dengan memakai aki. Tetapi sebenarnya beda. Berikut pengalamanku hidup ditengahnya masyarakat itu, sudah pasti pengalamanku dibagian sex.

Ibu Sekdes Yang Cantik

Aku kebetulan bermalam dirumah Sekdes, yang nyatanya seseorang ibu muda berusia saya taksir kurang dari 40 th.. Langsing, kulitnya mulus serta rupawan. Memanglah beda dibanding dengan masyarakat umumnya di sekelilingnya. Dan yang jadikan saya sangatlah bernafsu yaitu dikarenakan statusnya yang janda beranak satu.

Disuatu sore, saat malam, waktu baru datang dari universitas utk konsultasi skripsi, kudapati tempat tinggal Mbak Yati (demikianlah panggilan Sekretaris Desa yang tempat tinggalnya kutempati itu) nampaknya sepi. Tubuhku basah kuyup, dikarenakan kehujanan selama perjalanan kaki dari jalan raya. Aku dorong pintunya serta nyatanya tidak terkunci. Aku selekasnya menuju ke kamarku, kulepas segala bajuku serta kukeringkan dengan handuk. Mendadak ada satu langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik tirai, Mbak Yati mendekat ke kamarku. “Ini peluang, ” fikirku.

Aku selalu mengeringkan kepalaku dengan handuk hingga mataku tertutup serta pura-pura tidak jelas bila Mbak Yati mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja kemaluanku menjadi tambah besar. Bergantung ke sana-kemari waktu badanku tergoncang dikarenakan gosokan yang keras di kepalaku.

Benar saja Mbak Yati menyingkapkan tirai, tetapi saya pura-pura tidak memandangnya, biarpun dari pori-pori handuk saya lihat Mbak Yati dengan raut berwajah agak terperanjat, tapi dia diam saja. Bahkan juga kelihatannya dengan cermat menyimak alat vitalku yang semakin lama semakin besar oleh tatapan Mbak Yati. Aku pura-pura terperanjat waktu kulepas handukku dari kepalaku. “Oh, Mbak Yati, kirain siapa, ” Aku berencana membiarkan kemaluanku tidak kututupi, ada perasaan bangga mempertontonkan kemaluanku sewaktu tengah gagah-gagahnya.

“Dik Windu, datang kok tidak bilang-bilang, ” bicaranya cukup tenang, seolah-olah tidak melihatku aneh.
“Iya Mbak, baru datang selalu kehujanan. ”
“Aduh, kelak masuk angin, saya ambilkan minyak angin ya. ”
“Nggak usah Mbak, takut panas. ”
“Lha iya agar anget gitu lho. ”
“Maksud saya, taku panas bila terkena ini, lho Mbak. ”
“Ah Dik Windu dapat saja, mikiran apa sich kok ngacung-ngacung seperti gitu, ” kesempatan ini Mbak Yati ingin lihat terpedoku, saya bahagia sekali.
“Ih, gede banget sich Dik. ”
“Pernah saya ukur 17 cm kok Mbak, ” Aku jalan mendekatinya.
“Dik Windu dapat saja, pakai diukur-ukur semua, ” kupegang pundaknya, serta dia diam saja.
“Kok sepi Mbak, kemana anak-anak beda. ”
“Anu.. khan, kembali berjumpa Ayah Bupati, ” nampaknya ia agak gugup serta seperti ingin mengambil langkah ke belakang. Tetapi kutahan dia, bahkan juga waktu kucium pipinya ia diam saja. Kulanjutkan dengan bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan juga berikan sambutan yang hangat.

Kini Mbak Yati yang aktif menciumi badanku dengan gemasnya, saya diam saja, serta kulucuti bajunya. Ketika kubuka BH-nya, saya tertegun, payudaranya masih tetap kencang serta mulus, ukurannya tengah. Perutnya ramping, cembung dibawah, sedikit diatas jembutnya. Mbak Yati selalu menyerangku dengan kecupan-kecupan yang membuatku kewalahan serta jatuh ke tempat tidur dikarenakan terdorong oleh kuatnya tekanan Mbak Yati yang telah telanjang bulat itu. Aku cuma dapat memegang payudaranya sembari memijat, mengelus serta memelintir putingnya.

Mbak Yati selalu mengecup tiap-tiap inci dari badanku, dadaku, lenganku, perutku serta pahaku. Kejantananku yang sangatlah keras dipegangnya selalu seolah telah jadi hak punyanya saja. Dikecupnya ujung kemaluanku, saya mengelinjang kegelian. Tetapi Mbak Yati tidak melanjutkan. Sembari tersenyum manis ia berkata, 1/2 berbisik, “Nanti saja.. ” Sembari memeluk serta menciumku dengan hangat serta membalikkan tempatnya hingga saya ada di atasnya. Kini tempatku lebih leluasa, saya dapat pandangi kemolekan badan Mbak Yati, tiap-tiap senti dari permukaan badan itu kuciumi dengan penuh nafsu. Nafas Mbak Yati semakin memburu, lama kutempelkan pipiku pada perutnya. Perasaan puas gemilang menyelimutiku. Sembari tanganku selalu meremas-remas payudaranya. Kuturunkan kepalaku ke bawah, kuciumi paha samping dalam Mbak Yati, sampai sampailah ke jaringan lunak yang ada di dalam selangkangannya. Kujilati benda itu, sampai Mbak Yati menjerit kecil sembari mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, seolah-olah inginkan saya menjilatinya. Liang kewanitaan Mbak Yati sangatlah basah, saya selalu menjilati daging kecil yang berada di sisi atas kemaluannya, yang menurut dia bernama “itil” ya bisa saja bhs kerennya ya “klitoris” itu.

Sesudah jemu saya menjilati liang kewanitaannya, saya bersiap-siap mengarahkan batang kejantananku ke liang senggamanya, Dengan cekatan ia bimbing batang kejantananku sampai dimuka gerbang kewanitaannya. Dengan sekali sentak masuklah kepala burungku. Tampak masih tetap lumayan seret, hingga tidak semua segera dapat menghujam dalam liang kewanitaannya. Sesudah berkali-kali maju mundur baru semua terbenam sampai kurasakan ujung kemaluanku menyentuh dinding kewanitaannya yang terdalam. Mbak Yati melenguh, menjerit serta semakin memelukku dengan kuat. “Terus Dik.. selalu Dik.. Tahan Dik, saya.. ingin.. keluar, Ohh.. ” Dia memelukku dengan kuat sembari meluruskan kakinya, sampai batang kejantananku merasa terjepit. Dengan enaknya. Sampai akupun tidak tahan kembali membendung air maniku bertahan. Aku selekasnya mencabut kejantananku serta kukocok-kocok sampai muncratlah air maniku diatas perutnya.

Sebagian detik lalu heninglah kondisi di kamar itu. Nampaknya hari telah mulai malam, hujan selalu turun dengan derasnya. Tetapi nafas Mbak Yati yang memburu serta badannya terbaring dengan lunglai. Aku terlentang di sebelahnya. Dia selekasnya tertidur dengan kepala diatas perutku, menghadap ke kemaluanku. Akupun nampaknya terlena juga. Pada saat Mbak Yati membangunkanku, utk makan malam. Aku menggunakan piyamaku serta menuju ke area makan, Mbak Yati kenakan daster yang tidak tebal. Ketika kurogoh dari bawah dasternya, nyatanya ia tidak menggunakan celana dalam. Mbak Yati menghindar dengan genit walau pernah tersentuh juga.

Dalam perbincangan sepanjang makan malam, baru kutahu kalau dia miliki anak wanita yang tengah sekolah di Sekolah Pekerja Sosial di Semarang. Tiap-tiap minggu ia pulang ke tempat tinggal. Nani, anak Mbak Yati, memanglah manis serta supel. Disuatu hari minggu ia memanglah datang serta saya pernah bercakap dengan Nani. Saat itu ibunya tengah ada pekerjaan mengikuti Pak Kades terima kunjungan anggota DPRD. Saking akrabnya saya bercakap dengan Nani, sampai tidak canggung-canggung kembali ia masuk keluar kamarku ataupun demikian sebaliknya. Bahkan juga waktu Nani memohonku utk buat satu diantara pekerjaan teks pidato, saya tanpa ada sungkan-sungkan masuk ke kamarnya. Dengan tidak berencana saya temukan amplop kecil diatas meja belajarnya. Ketika kubuka nyatanya gambarnya yaitu gambar porno kelompok XX. Nani cuek saja waktu kuamati gambar-gambar itu. Tidak merasa sisi bawahku mulai berontak.

Mendadak Nani membungkukkan tubuh di depanku, sembari turut lihat gambar-gambar porno itu. “Nani, tidak gunakan BH lho.. ” Aku kaget bukanlah kepalang, mendengar nada manja itu, serta kulihat berwajah sangatlah dekat dengan wajahku. Dan yang lebih dahsyat kembali yaitu, dengan tempat menduduk itu jadi payudaranya yang bebas tidak terbungkus BH itu bergantung indah.

Aku selekasnya mendapatkannya, sembari kucium bibirnya. Sebagai aksi perasaan serta refleks priaku saja. Nani membalasnya dengan tak mau kalah lahapnya. Kubuka T-shirtnya, serta kuciumi putingnya yang kecil tapi panjang, seperti puting ibunya. Dan kulepas segala bajunya, paling akhir yaitu celana dalamnya. Kuraih kemaluannya, jembutnya masih tetap tidak sering, hingga belahan liang kewanitaannya yang berwarna merah jambu mampu tampak dengan terang. Ia susupkan tangannya dalam celana pendekku. Begitu temukan batang pelerku yang sangatlah tegang ia lemas serta menarikku ke tempat tidurnya.

Aku membiarkan bajuku, sampai telanjang bulat. Aku baringkan ditempat tidurku, dengan tempat kemampuanng, berikan peluang untuk Nani utk nikmati sisi badanku yang sangatlah kubanggakan itu. Benar saja, ia dengan sigap mencapai kemaluanku serta mengulumnya, walau masih tetap sangatlah tidak profesional, tapi kuhargai juga keberaniannya. Mungkin ia cuma menginginkan mempraktekkan apa yang sempat ia saksikan pada photo porno. “Jangan terkena kena gigi, ” seruku waktu giginya menggesek ujung kemaluanku, yang membuatku nyengir. “Eh sorry, Mas.. ” Lantas ia jilati semua permukaan batang kejantananku, sampai ke-2 pelerku tidak luput dari serangan ini. Aku cuma meringis menikmatinya.

Sesudah tak ada kembali macam darinya memperlakukan kemaluanku, kubimbing dia utk terlentang. Ia menurut waktu kubuka pelan-pelan pahanya, waktu ini dengan terang liang kewanitaan yang manis memiliki bentuk itu. Ketika kusibakkan, kulihat warna merah menantang, sedang lendirnya telah banyak mengalir ke sprei batiknya. Tempatku telah siap utk menyetubuhinya. Batang kemaluanku telah pas dimuka mulut liang kewanitaannya.

“Nan, masih tetap perawan tidak, saya masukin ya? ” pintaku.
Nani tidak menjawab tetapi dengan kuat ia menarik bokongku, sampai amblaslah batang kejantananku masuk lokasi terlarangnya. Memanglah baru separuh, sempit sekali, saya nyaris tidak tega waktu Nani meringis sembari pejamkan matanya.
“Kenapa Nan, Mas cabut ya.. ”
“Jangan, ” bisik Nani sembari menjepit punggungku dengan ke-2 kakinya.

Kugerakkan maju mundur pelan-pelan, dikarenakan sempitnya liang kewanitaannya. Buat Nani mengeleng-gelengkan kepalanya kekiri serta kekanan sampai satu jeritan panjang. Tetapi selekasnya kuciumi mulutnya supaya jeritan itu tidak terdengar tetangga.

Orgasme Nani lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi kuat-kuat supaya mulutnya tidak terlepas dari ciumanku. Hingga nada jeritan itu tertelan sendiri. Tubuhnya kejang, pelukannya kencang sekali.

Akhirnya tumpahlah kesenangan Nani. Aku sangatlah senang dapat memuaskannya. Biarpun maniku belum pula keluar, saya senang sekali. Nani tertidur, saya selekasnya kenakan pakaian, serta dengan berjingkat ke arah kamarku dekat kamar Mbak Yati. Dimuka kamar Mbak Yati kudengar nada, waktu kusingkap serta saya terperanjat ternyatan ada Mbak Yati. Aku ketakutan serta nyaris tidak dapat bicara. Dengan nada seadanya saya mendesis, “Oh, Mbak kok telah pulang. ” Tidak kusangka Mbak Yati tersenyum manis, mendekatiku serta mencium bibirku. “Jangan buat anakku hamil, ya. ”
“Jadi, Mbak tahu bila akau habis begituan sama Nani? ”
“He eh, anak saat ini memanglah beda dengan zaman saya dahulu, baru kenal telah tidur bareng. ”
Aku nyaris tidak yakin ini, kemaluanku masih tetap belum pula lemas, dikarenakan memanglah belum pula keluar. Mbak Yati tahu itu. Ia bebaskan celanaku serta selekasnya dihisap-hisapnya kejantananku dengan lihainya sampai keluarlah maniku dalam mulutnya. Mbak Yati tersedak, serta selekasnya menuju dapur meminum air kendi. Aku cuma bengong saja. Lama tidak bergerak dari tempatku berdiri. Kemaluanku bergantung dengan santainya.

Baca Juga : Pagi Ika Asistenku, Malam Pemuas Birahiku

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *