Bunga99 agen bola online
Kegelisahan Nafsu Seorang Istri

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Kegelisahan Nafsu Seorang Istri

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirKegelisahan Nafsu Seorang Istri – Sesudah demikian lama saya tekuni hidup dengan dua orang suami disisiku serta sudah banyak kesenangan duniawi yang saya dapatkan, pada akhirnya ada pula rasa gelisahku. Perasaan gelisahku muncul terlebih apabila Duta datang dari Jakarta tengah saya tidak dapat melayaninya di ranjang karna kodratku jadi wanita yang perlu terima tamu”jepang”, saya terasa bersalah sekali.

Kegelisahan Nafsu Seorang Istri

Sedang Mas Pujo karna setiap hari ada disisiku saya tidak terasa demikian terbebani dengan perasaan bersalah. Sebetulnya dua-duanya cukup sabar serta jelas kondisiku, bahkan juga Mas Pujo dengan suka-rela mengalah untuk berikan peluang pada Duta memuaskan dirinya”menyetubuhi” diriku apabila Duta akan pergi agak lama, demikian sebaliknya demikian pula bila Mas Pujo akan dinas luar. Ada hasratku untuk mencarikan pengganti peranku jadi isteri buat mereka berdua saat-saat tamu”jepang” itu datang. Hasrat itu demikian besarnya menghimpit jiwaku karna didorong rasa sayangku pada keduanya.

Sesudah menimbang baik-buruk serta untung rugi, jalan untuk wujudkan hasratku itu pada akhirnya ada pula. Dengan kebetulan saya tengah ikuti arisan ibu-ibu yang teratur ditunaikan tiap-tiap bln. di kantor suamiku. Biasanya jadi isteri bos saya agak melindungi jarak dengan ibu-ibu yang beda, tapi tak tahu sesudah hadirnya Duta saya jadi lebih PD serta dekat sama mereka. Salah satu ibu yang turut arisan teratur itu adalah isteri seseorang manajer menengah, kami memamggilnya Bu Jhoni (nama samaran suami). Wanita keturunan Manado dengan Madura kulitnya tidaklah terlalu putih seperti wanita Manado biasanya tapi tambah mendekati mulato tapi terlihat bersih serta kemel, tingginya kurang lebih 165 cm, serta bodynya lumayan ramping biarpun telah miliki anak 2 orang. Yang istimewa sebetulnya bentuk perutnya yang rata terlebih sisi bawah pusar tidak seperti wanita yang telah miliki anak saja serta umurnya baru 35 tahunan. Dia termasuk juga tidak cantik tapi ayu dadanya cukup besar apabila dipandang dari luar bahkan juga semakin besar dari ukuran saya.

“Mbak Rien saat ini lebih seger lho.? ” bisiknya satu saat ditengah acara arisan yang riuh oleh nada ibu-ibu.
“Ah jeng Meta (samaran) ini dapat saja, Mbak dari dahulu kan begini-begini saja to. ” jawabku biarpun ada rasa GR juga dalam hati.
“Benar lho Mbak, Mas Jhony saja kerapkali komentar bila dikantor ini Mbak termasuk juga orang yang masih tetap semlohai (semok molek aduhai) biarpun sudah berumur” terusnya.
“Itukan bisa-bisanya Dik Jhony” jawabku sekenanya.
“Tapi benar lho Mbak, apa sich resepnya? Mbok saya diberi tahu jamunya” bisiknya memohon.
“Aa.. H jeng Meta ada-ada saja, kelak bila Mbak kasih tahu juga sia-sia wong tidak dapat disebarkan” jawabku sembari tertawa.
“Yang benar Mbak..? Apa sich Mbak saya kok penasaran” ubernya.
“Benar pengin tahu..? ”
“Ya.! ”
“Minum Air liur burung” bisikku sembari mendekat ke telinganya.
“Burung apa Mbak” kejarnya penasaran.
“Burung.. Burungnya Mas Pujo” bisikku kubuat serius.
“AH! Mbak guyon! ”
“Betul jeng, ini benar lho jeng” jawabku.
“Itukan umum Mbak”
“Biasa bagaimana, bila sebatas ML selalu usai ya umum jeng tapi ada caranya” jelasku.
“Jeng Meta ML dengan Dik Jhony berapakah kali satu minggu? ” lanjutku.
“Paling sekali ya terkadang 2 x Mbak” jawabnya.
“Kalau ML apa sajakah yang jeng Meta laksanakan? ” tanyaku sekali lagi.
“Ya umum Mbak bercumbu selalu gitulah..! Selalu usai ya telah demikian aja” jawabnya.
“Lho ya telah bagaimana to jeng, harusnya kan ada pemanasan, permainan selalu pendinginan serta apakah jeng Meta selamanya bisa capai puncak? ”
“Itulah Mbak problemnya, saya kerapkali ditinggal menggantung” jawabnya sembari menerawang.
“Terus”
“Ya bila telah demikian paling saya yang uring-uringan serta rata-rata hanya dapat melampiaskan ke pekerjaan tempat tinggal Mbak” terusnya.
“Nah tersebut jeng bedanya, Mbak dengan Mas Pujo selamanya puncak bahkan juga berulang-kali lho” jawabku.

Kulihat berwajah terlihat takjub serta tampak rasa menginginkan taunya yang terpancar dari matanya.

“Jeng ML itu bila ditunaikan dengan benar serta suka hati dapat buat kita awet muda, karna kerja hormon-hormon pada badan kita jadi optimal” lanjutku menerangkan bak seaorang dokter.
“Oooh itu to Mbak rahasianya..! ” celetuknya.
“Makanya saya katakan, biarpun Mbak kasih tahu kan jeng Meta belum juga pasti dapat.. Bahkan juga.. ” jelasku berniat memancing reaksinya.
“Bahkan apa Mbak.? ” Tanyanya tidak sabar.
“Bahkan bila jeng Meta Mbak suruh belajar sama Mas Pujo juga belum juga pasti mau” lanjutku sembari berbisik.
“Ahh Mbak” jawabnya sembari mencubit lenganku.

Cerita kami selesai dengan selesainya acara arisan, sebelumnya pergi Meta pernah berbisik setiap waktu pengin konsultasi kujawab ya setiap saat. Bahkan juga kubisiki kelak belajar segera saja ama Mas Pujo.

Satu minggu kemudian saat itu jam 19. 00 malam, Duta baru datang dari Jakarta tengah saya sekali lagi ada tamu jepang jadi saya punya maksud berikan blowjob Duta tengah Mas Pujo masih tetap malas-malasan didekat kami berdua, mendadak telepon berdering, karna saya serta Duta telah nyaris telanjang jadi Mas Pujo yang mengangkat telepon.

“Halo selamat malam” salam Mas Pujo, saya tidak tahu apa jawaban disamping sana, tapi,
“Ya benar, pengin bicara dengan Mbak Rien..? Sebentar ya, dari siapa? Meta! Oh jeng Meta, Meta Jhony? ” bertanya Mas Pujo, mendengar itu saya bangkit, Duta sangat terpaksa melepas dekapannya padaku. Sebetulnya skenario ini saya yang buat, karna saya menginginkan Meta bisa main kerumah hingga kuminta Mas Pujo memberikan tugas Jhony keluar kota untuk supervisi sepanjang 3 hari.

“Halo jeng Meta kok tumben nelpon malam-malam” sapaku mulai pembicaraan.

Kami ngomong panjang lebar hingga pada akhirnya menyinggung perbincangan kami di arisan dahulu. Kuulangi tawaranku untuk belajar pemanasan dengan Mas Pujo, atau lihat saja kami yang mempraktekkannya berdua. Meta penasaran masa saya serta Mas Pujo pengin bercinta dipandang orang yang lain, kujawab kalau saya cuma dapat bila orangnya itu Meta, beda tidak lagian hanya hanya beberapa cara pemanasan. Meta rupanya mulai panas pada akhirnya kuulangi sekali lagi tawaranku serta jawabannya.

“Iya Mbak BT nih anak-anak telah pada tidur, Mas Jhony dinas luar” jawabnya.
“Ya telah to main saja ke tempat tinggal, kami semuanya tengah tidak ada aktivitas kok lagian masih tetap sore” jawabku.
“Tapi Mbak, ”
“Apa? ”
“Aku malu sama Mas Pujo, .. ” jawabnya.
“Nggak pa-pa kami hanya berdua kok, janganlah was-was kelak pulangnya kami antar” jawabku.
“Baiklah Mbak tapi janji lho.. tidak usah dipraktekin sama saya.. ” pintanya akhiri perbincangan.

Kemudian kami tutup perbincangan, tempat tinggal Meta kurang lebih 15 menit dengan naik kendaraan. Kuminta Duta bersabar serta sembunyi di kamar sesaat saya serta Mas Pujo yang juga akan terima Meta. Gagasan ini sempat kuutarakan terlebih dulu sama suami-suamiku. Kurang lebih 25 menit kami menanti ada orang memencet bel pintu pagar, Mas Pujo yang waktu itu hanya gunakan piyama tanpa ada dalaman yang membukakan pintu.

“Malam Mbak, ” sapa Meta demikian masuk pintu tempat tinggal dibarengi Mas Pujo.

Meta gunakan baju agak ketat hingga dadanya yang membusung tampak samar tapi saya meyakini lelaki manapun juga akan penasaran menginginkan tahu berisi, terlebih dengan kancing depan serta belahan dada yang agak kebawah tengah bawahan ia gunakan celana jean terlihat seksi sekali bokongnya.

“Malam, wah.. Jeng Meta tidak nyagka lho bila dapat main kerumah tidak kesasarkan? ” tanyaku.

Sesudah menyilahkan Meta duduk kami bercakap ngalor-ngidul hingga juga pada akhirnya menyinggung problem ranjang, Mas Pujo bisa lihat air muka Meta yang jengah tahu bila ia juga mulai terpancing birahinya. Karna omongan kami yang merangsang saraf telinga Meta serta kami tetaplah tidak menyebutkannya dengan vulgar, tanpa ada merasa jam membuktikan angka 9 malam, Meta gelisah.

“Mbak telah malam nih Meta pengin mohon pamit” pintanya tapi matanya terlihat sayu.
“Jangan dahulu tuturnya pingin belajar rahasianya Mbak” jawabku sembari melihat Mas Pujo penuh makna.
“Ah Mbak.. Malu ah sama Mas Pujo”

Saya mendekati Mas Pujo serta kucium dia dibibirnya denga mesra serta lembut.

“Nggak pa-pa kan Mas? ” pintaku Mas pujo menganggangguk sembari memelukku, kami berciuman, serta sama-sama raba dimuka Meta, sesaat Meta kulihat merah padam mukanya lihat adegan kami, meski begitu saya mengerjakannya dengan halus serta hati-hati sekali.

“Beginilah kami mengerjakannya jeng, ” kataku menerangkan seperti dosen saja.
“Ah.. Mbak, Meta jadi bingung nih.., Meta pulang saja ya Mbak” pintanya tapi tidak beranjak.
“Ayolah.. tidak pa-pa” kami berpelukan mendekati Meta yang mulai seperti cacing kepanasan. Mas Pujo tahu kondisi selekasnya mendekat hingga duduk berdampingan di sofa panjang yang diduduki Meta, selalu dipegangnya ke-2 tangan Meta, Meta menunduk malu-malu.

“Mbak.. Tapi cu ma se ba.. tas langkah pemanasan saja lho Mbak” pintanya sembari memandangku.
“Ya, Mas hanya juga akan mempertunjukkan langkah pemanasan saja sama jeng Meta” jawab Mas Pujo sabar.

Perlahan disentuhnya dagu Meta dipandangnya matanya dalam-dalam penuh perasaan, memperoleh perlakuan sesuai sama itu dari Mas Pujo Meta pejamkan mata, perlahan-lahan Mas Pujo mencium bibirnya tanpa ada melumatnya. Ahh! Meta mendesah, diulanginya ciuaman itu oleh Mas Pujo dengan tempelkan bibirnya agak lama, Meta mulai bereaksi dengan mengulum bibir Mas Pujo serta Mas Pujo mulai tingkatkan aksinya, tangannya beralih ke bawah ketiak Meta serta menarik tubuh Meta kepelukannya. Semuanya ditunaikan di sofa ruangan tamu, sembari duduk bedempetan.

Mas Pujo mulai meraba dada Meta yang membusung, serta Meta mulai mendesah-desah mereka masih tetap berciuman sama-sama lumat serta sama-sama hisap (masalah bersilat lidah memanglah Mas Pujo begitu lihai). Sesudah nyaris sepuluh menit mereka sama-sama raba Mas Pujo tingkatkan aksinya dari meraba sisi luar selalu melepas kancing atas baju Meta jari-jari tangannya mulai menyisir pinggir BHnya menuju ketengah. Meta melenguh seperti sapi disembelih demikian tangan Mas Pujo mancapai putingnya serta menjepinya dengan dua jari. Disamping itu mulut Mas Pujo mulai merambat ke bawah ke arah belahan dadanya yang sekal.

Tanpa ada diakui Meta tangan kanan Mas Pujo sudah menyelusup ke punggung Meta serta melepas kait BH Meta jadi tampaklah buah dada Meta yang kencang serta menantang, tanpa ada buang peluang segera Mas Pujo melumat putingnya. Meta mulai tidak bisa mengatur diri, dia lupa dengan janjinya sendiri, tangannya dengan cara reflek menggerayang sisi depan Mas Pujo serta mulai lakukan pijatan-pijatan halus mulai dada, pusar serta selalu ke bawah pusar. Tanpa ada menampik Mas Pujo jadi berikan peluang pada Meta menyorongkan tubuhnya, sembari mulutnya tetaplah bergelayut di puting Meta, tapi tanggannya telah mulai menarik resleting celana jeannya. Meta tidak henti-henti mendesah, perlahan-lahan saya ke saklar lampu kukecilkan hingga situasi terlihat redup serta makin lama romantis.

Meta telah meluruskan kakinya di sofa sembari kepalanya bersangga di tanganan sofa, sesaat tinggal kenakan CD warna merah, Mas Pujo belum juga melepas piayamanya dengan tempat di atas Meta tapi batangnya telah tampak mengacung karna diurut-urut Meta. Perlahan-lahan Mas Pujo menggigit pinggir CD Meta serta menariknya kebawah hingga bugil Meta masih tetap tenang kemungkinan karna lihat Mas Pujo tidak melepas piyamanya. Mas Pujo mulai mejilati perut Meta turun ke arah pusar selalu menciuminya serta meleletkan lidahnya kebawah mencium rambut kemaluan Meta, diperlakukan sangat Meta meracau tidak karuan.

“Aduh Mas.. Mbak Meta tidak tahan.. oh Mas Pujo”

Saya berikan kode pada Duta, selagi itu Mas Pujo sudah membenamkan mukanya di selangkangan Meta, menjilati klitoris Meta, Meta dengan tempat buka ke-2 pahanya pinggulnya terganjal pegangan kursi hingga saat ini kepalanya ada di bawah. Dengan tempat ini jadi nampaklah gundukan bukit venus yang indah serta merekah merah hingga meringankan buat penetrasi.

Perlahan-lahan Mas Pujo mundur serta Duta yang sudah telanjang bulat maju dengan palkon siap serbu, Meta masih tetap terbenam dalam kesenangan yang didapatnya nyaris satu jam dicumbu Mas Pujo, tidak menganggap kalau ada perubahan tempat di bawah. Duta segera mengenggam palkonnya serta mengarahkan ke lubang surga Meta, dengan presisi Duta menghentak serta bles..!

“Ahh Mas saya tak ingin.. tidak mau” sembari meronta tapi secepat kilat saya membelai serta mengulum putingnya, tengah Duta segera mengunci kaki Meta jadi Meta cuma dapat mendesis serta ingin berontak tapi karna serangan rasa nikmat yang mengagumkan ia cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ahh Mbak.. Mas.. Kalian curang aduhh.. Oh.. Mengapa ini ohh.. Ohh.. Mbak saya tidak tahan.. Nggak ta.. Hhaan.. ”jerit Meta sembari mengejang nafasnya memburu semua otot-otot tubuhya meregang tandanya orgasme hingga.

Duta menyeimbangi dengan kocokan-kocokan perlahan-lahan serta teratur bahkan juga dibiarkannya Meta nikmati orgasmenya yang pertama yang nyaris membuatnya tidak sadarkan diri. Setelah nafas Meta aga teratur perlahan-lahan Duta mulai memompa lantaran itu perlahan-lahan Meta mulai buka matanya serta..

“HAAH Mbak kok bukanlah Mas Pujo..! ” teriaknya cemas sembari ingin berontak tapi kuncian Duta serta kocokan-kocokan palkon Duta di memeknya buat dia tidak berdaya.
“Gimana Mbak? Saya tak ingin Mbak, saya ingin sama Mas Pujo saja, ” teriaknya kembali.
“Tenang jeng, tenang..! ” kucoba menenangkannya, sembari kukedipi Mas Pujo buat persiapan menukar tempatku.

Mas Pujo mendekat serta mulai melumat puting Meta yang samping kiri sesaat tangan kirinya meremas-remas puting yang samping kanan. Memperoleh serangan bertubi-tubi dari bawah serta atas Meta jadi naik birahi kembali..

“Ahh.. Mbak, Mas bagaimana ini kok begini to, ahh nikmat Mbak.. Meta tidak tahan Mas, mari selalu Mas.. Yang keras.. ” ceracaunya Meta mengejang kembali menapaki orgasmenya yang ke-2.

Dutapun terlihat mulai berkerenyit dahinya serta makin lama keras kocokannya, tandanya ingin menjangkau orgasme jadi cepat-cepat saya tarik sesaat Mas Pujo segera menukar tempat Duta mengocok vagina Meta dengan palkonnya tanpa ada berikan peluang pada Meta buat mengatur nafas. Kucium serta kukulum kepala kontol Duta dimuka Meta sembari mengocok-ngocok batangnya.. Serta..

Creett.. Crett.. Cret..

Kuminum sperma Duta yang tumpah dimulutku. Meta lihat semuanya sembari mendelik menahan nikmat karna kocokan Mas Pujo. Setelah nyaris 1/2 jam mereka sama-sama genjot pada akhirnya mulai ada sinyal tanda Mas Pujo serta Meta juga akan menjangkau puncaknya serta..

“Aaahh Mas saya tidak kuat.. Saya.. ” sangat teriak Meta menapaki orgasmenya yang ke-3. Mas Pujo berikan peluang buat ambil nafas sembari kadang-kadang masih tetap mengocok vagina Meta pelan-pelan.

“Sini Mas.. Sini Mas.. ” pinta Meta pada Mas Pujo sembari tangannya menggapai-gapai.

Mas Pujo akhiri kocokannya serta mencabut kontolnya serta menyorongkannya ke mulut Meta, sembari tetaplah tiduran terlentang di sofa dikulumnya kontol Mas Pujo yang telah bengkak serta berenyut-denyut. Pada akhirnya..

Crett.. Crett.. Crett

Muncratlah sperma Mas Pujo di mulut Meta, Meta menelannya sembari membeliakkan mata, kemungkinan belum juga umum tapi lalu dijilatinya sisa-sisa sperma diujung kontol Mas Pujo.

Setelah itu mereka bertiga istirahat mengatur nafas, sembari nikmati sisa-sisa orgasme yang mereka alami. Meta mengerling padaku. Saat itu telah jam 11-an malam.

“Mbak Rien nakall..! ” rengeknya manja, sembari memukul bahuku.
“Lho kan jeng Meta sendiri yang keterusan.. ” jawabku.
“Ahh Mbak ni lho, Meta jadi malu ama Mas Pujo.. Eh.. Mas yang satu siapa Mbak? ” tanyanya sembari mengerling ke Duta.
“Adiknya Mas Pujo! Duta” jawabku.
“Jeng Meta ingin pulang..? ” tanyaku kembali.
“Ya deh Mbak, telah malam nih kelak anak-anak mencari” jawabnya.

Saya serta Duta mengantar Meta pulang tengah Mas Pujo tunggulah tempat tinggal, di jalan Meta berterimakasih sama Duta, tuturnya baru kesempatan ini dia alami multiorgasme yang sampai kini cuma angan-angan saja. Meta bahkan juga berani mencium Duta di depanku selagi ia turun dari mobil. Setelah mengantar Meta pulang saya memperoleh ciuman istimewa dari Mas Pujo serta Duta tuturnya mereka tidak sempat memikirkan wanita beda sampai kini karna sesungguhnya sampai kini mereka telah terasa cukup hanya pelayananku. Tapi hadirnya Meta buat mereka lebih bahagia. Serta sepanjang tiga hari mereka berdua senantiasa bisa memuaskan Meta bahkan juga selagi hari paling akhir Meta minta nginap di rumah serta mereka main hingga empat kali. Sebagai isteri saya tetaplah gelisah lihat keperkasaan mereka berdua, tetapi hadirnya Meta bisa sedikit menyembuhkan kegelisahanku.

Pembaca yang budiman hingga sekarang ini telah nyaris setahun saya Meta, Duta serta Mas Pujo tanpa ada Jhony lakukan ini. Meta lebih rajin pelihara dianya serta ia makin lama berbinar ia sangatlah senang pada Mas Pujo walaupun itu kami semuanya bahagia. Ada pembaca yang tawarkan kepadaku buat ML tapi minta maaf saya tidak dapat karna saya cuma dapat buat Dutaku serta Mas Pujoku, hadirnya Meta sesungguhnya tidak mereka dambakan juga tapi karna telah terlanjur jadi kami setuju melanjutkan tak tahu hingga kapan yang pasti kami sama-sama mengasihi.

Baca Juga : Gak Sanggup Bayar Hutang Aku Di Perkosa

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *