Bunga99 agen bola online
Kisah Pertemuan Pertama

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Kisah Pertemuan Pertama

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirKisah Pertemuan Pertama – Sore yang cerah, saya duduk gelisah sembari kadangkala memandang jam dinding kantor pemberangkatan bus yang dapat membawaku ke kota persinggahanku lalu. Menanti yaitu pekerjaan yang menggelisahkan bagiku terlebih menanti suatu hal hal yang baru begini. Perjalanan dengan bus dari Balikpapan ke Banjarmasin adalah perjalananku pertama. Kulihat beberapa orang disekitarku dengan beraneka kesibukan mereka, terdapat banyak calon penumpang yang sama-sama terlibat percakapan, bahkan juga bersendau gurau keduanya. Karna sendirian jadi yang bisa kulakukan hanya menanti dan perhatikan mereka. Waktu sudah perlihatkan 17. 15 serta tempat pemberangkatan mulai dipadati calon penumpang, tapi saya tidak tahu apakah mereka dapat seperjalanan dengan saya karna telah ada 3 bus yang siap pergi dengan arah yang berlainan.

Kisah Pertemuan Pertama

Kulihat ticket keberangkatan serta jalan mendekat nomor bus yang disebut dalam ticket. Sesudah masuk bus tanpa ada kesusahan kutemukan tempat dudukku no 33. Saya agak lega nyatanya nomorku pas selain jendela jadi hasratku agar bisa lihat panorama luar terkabul walau saya sadar kalau tidak banyak yang dapat kulihat karna ini adalah perjalanan malam hari serta jendela bus ber-AC dengan permanen tidak bisa di buka. Kulihat keluar jendela serta dengan tidak berniat saya peroleh pandangan yang beri kesegaran. Sebagai seseorang pria sekali lagi bujang yang berusia 28 th., pandangan yang beri kesegaran otakku yaitu wanita. Telah mulai sejak barusan kucari panorama begini tapi baru kudapatkan ketika busku dapat selekasnya pergi.

“Kenapa cewek-cewek itu tak ada sejak dari barusan? ”, umpatku dalam hati.
Kulihat cewek-cewek itu dari kaca jendela bus sembari mengira-ngira usia mereka, “yang rambut pendek kira-kira 20-an, yang baju coklat kira-kira 25-an, yang modis di sana tidak lebih dari 25-an, selalu.. ”, lalu otakku berfantasi andaikata saja satu diantara mereka ada yang duduk di sebelahku tentu perjalananku ini jadi asik. Tapi saya sadar saat itu juga kalau fantasiku itu tidak mungkin saja jadi fakta dikala seseorang pria berusia 50-an letakkan suatu tas selain tempat dudukku dengan kasar. Belum juga hilang rasa kagetku pria itu meneriakkan suatu nama sembari ngeloyor keluar bus.
“Busyet, sial banget hari ini! ”, umpatku dalam hati.

Awak bus telah bersiap-siap utk memberangkatkan bus dengan berikan peringatan pada calon penumpang supaya selekasnya naik. Kulihat di dalam bus juga mulai penuh, tapi pria yang mengagetkanku barusan belum mendiami kursinya disampingku. Bus mulai bergerak tapi kursi disampingku cuma masih tetap terisi tas dari pria barusan. Saya tidak perduli sekali lagi dengan siapa saja yang dapat duduk disampingku, terlebih saya berfikiran apabila benar-benar cuma terisi tas saja tambah bisa memberiku keleluasan dalam perjalanan ini, saya dapat buat bantal tasnya serta nikmati perjalanan ini dengan tidur pulas dengan 2 kursi. Perhatianku saat ini ada pada panorama yang keluar di jendela. Tapi tidak berapa lama saya dikagetkan dengan nada wanita yang bersusah payah mengubahkan tas selain tempat dudukku dengan dibantu seseorang awak bus serta lalu wanita itu duduk disebelahku sembari berkata, “permisi ya, bang”, saya cuma tersenyum serta tidak keluarkan kalimat karna masih tetap bingung dengan apa yang berlangsung.

Lantas dengan rasa penasaran saya ajukan pertanyaan pada wanita itu, “Mbak, apa bener nomor tempat duduknya?, soalnya barusan yang letakkan tas di sini cowok. ”
Sembari tersenyum wanita itu menjelaskan apabila pria yang letakkan tas itu barusan yaitu suaminya yang cuma mengantarkan hingga ke bus saja.
Lalu dia menyambung dengan pertanyaan, “Apa abang keberatan saya duduk di sini? ”.
Spontan segera kujawab “Wah, tidak kok Mbak”.
“Jangan pura-pura, tentu anda kecewa yang duduk disebelahmu wanita tua yang telah bertemumi sekali lagi! ”, kujawab dengan muka merah, “Nggak kecewa kok, lagipula Mbak juga terlihat masih tetap muda”.
“Jangan basa-basi, umurku telah 35 th. kok disebut muda. ”, tukasnya.
“Tapi muka Mbak terlihat masih tetap 25-an th.. ”, kilahku.

Sepintas kulihat senyum di bibirnya serta selekasnya kutolehkan wajahku ke jendela utk hindari bertanya jawab sekali lagi karna saya terasa malu dengan tanya-jawab yang barusan berlangsung. Panorama di luar bus mulai gelap serta lampu di dalam bus jelas benderang jadi terpantullah muka wanita yang duduk disampingku di jendela kaca. Kuperhatikan dengan cermat, perawakannya ciri khas wanita kalimantan, tinggi kira-kira 160cm, kulit kuning agak kecoklatan, rambut hitam sebahu agak berombak, muka lumayan, berat kuperkirakan kira-kira 60 kilo-an, serta dengan kenakan kaos ketat warna biru tua lekuk-lekuk badannya yang lumayan menggoda terlihat, celana jeans yang ketat menaikkan daya tariknya, “Tak salah saya barusan apabila katakan ia seperti masih tetap 25 tahun-an”, gumamku dalam hati.

Sesudah 30 menit perjalanan, bus masuk antrian kedalam fery. Bus berhenti serta sopir serta awak bus turun dibarengi oleh berapa penumpang yang mau ke toliet. Saya duduk enjoy dengan pandangan lurus kemuka serta berupaya pejamkan mata, tapi tidak berhasil. Kucoba merebahkan kursiku tanpa ada mengganggu wanita disebelahku yang sekarang ini sekali lagi asik membaca majalah. Dalam kondisi bus berhenti, kegiatan yang kubuat-buat dengan bertukar-ganti tempat duduk agar tidak jemu nyatanya tanpa ada kusadari mengundang perhatian wanita disampingku.

“Ngantuk ya? ”, tanyanya
“Iya tapi tidak dapat tidur, Mbak”, jawabku polos
“Masih sore gini kok dapat ngatuk? Seperti anak kecil aja”, ejeknya.
“Capek Mbak, sepanjang hari berjalan-jalan di Balikpapan”, jawabku seenaknya.
“Jalan-jalan? Apa hari ini berlibur sekolah? Sekolah di mana anda? ” tanyanya sekali lagi.
“Saya telah lulus kok”, kujawab dengan tenang tapi dalam hatiku terasa dilecehkan seperti anak kecil.
“Oh, kukira masih tetap sekolah. Kelihatannya anda masih tetap muda sekali! ”, saya sekedar tersenyum saja mendengar argumennya, karna muka & penampilanku perlihatkan lebih muda dari umurku yang nyaris kepala 3 serta hal semacam ini kerapkali berlangsung.
“Darimana asalmu? ”
“Saya dari Surabaya, satu minggu waktu lalu datang ke Tarakan, tempo hari balik serta singgah ke Balikpapan, saat ini ingin berjalan-jalan ke Banjarmasin”, jawabku dengan sopan.
“Enak ya dapat berjalan-jalan keliling! ”
“Nggak Mbak, berjalan-jalan ini karna kerjaan saja, kebetulan kerjaan selanjutnya berada di Banjarmasin serta masih tetap 3 hari sekali lagi, dari pada pulang balik saatnya saya gunakan utk berjalan-jalan lihat kota-kota di Kalimantan. ”
“Umurmu berapakah? ”, tanyanya sembari tutup majalah yang ada dipangkuannya sembari melihat kepadaku.
“28″, jawabku serta segera dibalas, “Masa telah 28, nampaknya masih tetap 20-an”.
“Percaya atau tidak, pokoknya 28″, sembari berdiri dari tempat dudukku serta minta jalan utk selekasnya turun dari bus. Nyatanya udara di luar bus lebih hangat dari pada di dalam karna AC bus tidak dimatikan pada saat berhenti.

Sesudah turun dari bus, saya jalan ke kerumunan awak bus serta bertanya kapan giliran busku masuk ferry serta menyeberangi Teluk Balikpapan yang lebar ini. Sesudah mendengar jawaban dari awak bus serta petugas ferry kalau busku cuma dapat masuk ferry yang besar jadi mesti nunggu hingga 2 jam sekali lagi, jadi dengan perasaan jengkel saya jalan ke arah sungai sembari keluarkan rokokku dari dalam jaket. Sembari mengisap rokokku dalam-dalam kurogoh jam di sakuku serta kulihat saat telah perlihatkan 20. 00. Dibarengi terpaan angin serta udara sungai yang ciri khas, kunikmati kesendirianku dengan sebatang rokok.

Dari terlalu jauh kulihat busku memperoleh penambahan penumpang serta sebagai perhatianku yaitu seseorang gadis cantik bersama ibunya naik lewat pintu belakang bus. Fikiranku kembali melayang-layang memikirkan duduk disamping gadis cantik itu, tapi fikiran sadarku melenyapkan lamunanku serta memaksa terima fakta kalau yang duduk disampingku yaitu wanita ber-suami berusia 35 th.. Sesungguhnya saya tidak menyesal duduk selain wanita itu tapi obrolannya sering berasumsi saya anak kecil, maka itu saya turun dari bus sesungguhnya utk hindari percakapan dengannya. Kekuranganku yaitu begitu kaku dengan orang yang baru kukenal terlebih wanita jadi obrolanku hanya soal-soal remeh saja karna takut menyinggung perasaan, terlebih sekarang ini saya ada di daerah yang adatnya lain denganku walau saya telah beberapa kali ke berapa kota di Kalimantan.

Sesudah letih keliling didaerah penyeberangan ferry, saya kembali naik ke dalam busku. Saya kaget dikala merasakan tempat dudukku telah diduduki wanita yang duduk disebelahku barusan.
Dengan tenang dia berkata dengan logat Banjar, “Ekam (anda) duduk di tempatku lah! ”.
Karna tidak mau ribut masalah tempat duduk saya menuruti saja kemauannya. Saat ini wanita itu duduk disamping kiriku dekat jendela serta saya disamping kanannya dekat lorong bus.
“Berani benar wanita ini, apabila demikian saya mesti berlaku sama dengannya”, umpatku dalam hati.
Belum juga habis kedongkolanku dia mengulurkan tangannya padaku sembari katakan namanya, “Iswani, namamu siapa? ”.
Dengan malas kujabat tangannya, “Antok”, jawabku singkat sembari menarik tanganku.
Tapi genggamannya erat seolah tidak ingin melepas tanganku, saya terasa dia berupaya rasakan kepalan tanganku. Lalu dia melepas sembari berkata, “Tanganmu halus sekali seperti tangan cewek”, dengan tersenyum.
“Emangnya mengapa? ”, tanyaku dengan ketus.
“Kerjamu apa? Tentu bukanlah kerja kasar”, tanyanya kembali dengan suara halus.
“Memang bukanlah, selalu mengapa? ”, berniat kujawab dengan pertanyaan sekali lagi.
“Ya, tidak kenapa-kenapa, apabila tidak mau jawab tidak apa-apa! ”, dengan suara jengkel.

Lihat raut mukanya yang jengkel dapat jawabanku saya tersenyum dalam hati sembari memandang berwajah agak lama serta baru kusadari apabila berwajah cukup menarik. Baru saja kunikmati berwajah, dia melihat padaku, selekas mungkin kualihkan perhatianku pada majalah yang dipegangnya. Terasa gugup serta salah tingkah, saya tidak bisa keluarkan sepatah kata-pun serta cuma memandang majalah yang berada di pangkuannya.
“Pingin pinjam? ” tanyanya.
“Iya, iya.. ”, jawabku patah-patah.
“Suka saksikan cewek telanjang ya? ”, tanyanya.
Seperti disambar gledek, saya terhenyak sadar kalau sampul depan majalah gossip yang tengah kutatap yaitu gambar cewek berbikini dengan pose menantang ditepi kolam renang. Saat itu wajahku memerah.
“Ah, Iya.. mm.. tidak kok Mbak”, sembari tersenyum malu.
Dia cuma tersenyum lihat tingkahku, “Nih majalahnya, janganlah malu-malu, dong”.
Dengan perasaan campur aduk pada malu serta bingung kuterima majalahnya, lantas selekasnya kubuka ke halaman tengah utk hindari gambar seronok, tapi malah yang kubuka yaitu halaman poster di mana type yang ada dicover depan berpose lebih menantang sekali lagi.
“Cakep ya! ”, gumam Iswani yang turut lihat halaman yang tengah kubuka.
“Eh, iya Mbak, sip banget”, jawabanku polos serta tidak termonitor sekali lagi, tapi dalam hatiku mengumpat, “Sial, sial, sial.. ”
“Dasar cowok, apabila telah saksikan cewek cakep tentu lupa istrinya”, celoteh Iswani.
“Jangankan istri, pacar saja saya belum juga miliki kok”, jawabku sembari tutup majalah.
“Nggak usah bohong, Tok”
“Terserah Mbak, ingin yakin bisa, tidak juga tidak apa-apa”
Lalu kami mengobrol panjang lebar dengan beragam masalah hingga tidak merasa apabila bus telah masuk ke dalam ferry.

Sesudah ferry jalan, sopir bus mematikan mesin dan semuanya lampu bus serta menyilahkan penumpang naik ke ferry, tapi karna malas keluar saya berupaya merebahkan tempat dudukku supaya dapat tertidur. Iswani ajukan pertanyaan padaku, “Nggak turun, Tok? ”. “Malas, ingin tidur saja disini”. “Dasar bayi, kerjanya tidur melulu”, olok Iswani padaku sembari berdiri serta berupaya melalui kakiku. Tanpa menyahutinya kupejamkan mataku, kurasakan kakiku mulai dilalui Iswani dengan sulit payah karna sempitnya ruang pada kakiku dengan tempat duduk depanku, tapi hal semacam itu tidak membuatnya menyerah atau membangunganku memohon jalan sesaat. Akupun cuek saja sembari buka sedikit mataku serta kulihat Iswani melaluiku dengan membelakangiku jadi pantatnya yang seksi ada pas dimukaku. Sesungguhnya saya mau memegangnya tapi saya masih tetap tahu diri. Tanpa berniat langkahnya tersandung pahaku jadi sandalnya terlepas. Dengan agak berjongkok dia berupaya kenakan kembali sandalnya serta mataku terbuka lebar karna pantatnya menggeser-geser pahaku.

“Kenapa tidak lewat-lewat? ”, tanyaku pura-pura tidak tahu kendalanya.
“Sandalku terlepas, nah ini baru bisa! ”, berbarengan dengan itu terdengar nada perahu mesin berpapasan dengan ferry hingga berlangsung gelombang yang buat ferry sedikit mengayun. Ayunan gelombang yang sesungguhnya tidak seberapa itu buat Iswani yang ada berdiri di depanku kehilangan keseimbangan serta jatuh menimpaku yang sekali lagi duduk. Karena kesigapanku saya berhasil menahan punggungnya hingga dia terduduk dipangkuanku. Pantatnya menempati daerah kemaluanku sampai secara cepat burungku berdiri serta menonjolkan sisi depan celanaku.
“Nggak apa-apa, Mbak? ”, tanyaku pas diteliga kanannya.
“Nggak apa-apa, terima kasih ya! ”, jawabnya sembari melihatkan berwajah ke mukaku.

Karena pergerakannya melihat barusan, tanganku yang menahan punggunya terlepas serta tentang sisi samping payudaranya. Dalam remang-remang dalam bus berwajah bertatapan dengan wajahku sembari menanti redanya ayunan karena gelombang.
Waktu itu saya berasa tegang tapi Iswani kelihatannya jadi nikmati duduk dipangkuanku. Setelah kurasakan agak reda dari ayunan gelombang, saya menariknya berdiri sekali lagi. Akhirnya ia bisa berdiri sekali lagi dengan membelakangi saya tapi dikarenakan area sempit jadi sisi depan celanaku yang menonjol menggeser selakangan belakangnya. Kurasakan nikmatnya sampai dengan berniat saya sedikit jongkok serta menggesek pantat serta selakangan belakangnya. Bukannya selekasnya lewat dari depanku akan tetapi Iswani jadi merapatkan gesekan sembari sedikit mengerang lirih “mmh.. ”, untungnya di dalam bus tiada siapa saja. Mengerti setiap waktu ada orang yang bisa masuk bus jadi kutarik tubuhya kekanan sampai terlepas himpitan tubuhku. Lalu saya duduk kembali tanpa ada berani memandang berwajah serta dia ngeloyor turun dari bus. Kupejamkan mata serta selekasnya kulupakan peristiwa mengasyikkan yang baru berlangsung.

Samar-samar dalam tidurku terdengar nada gaduh penumpang yang kembali pada bus. Rupanya ferry sudah tiba serta bus juga akan selekasnya meneruskan perjalanannya, tapi mataku masih tetap susah terbuka. Baru sesudah rekan dudukku melalui kakiku buat saya terbangun, 1/2 sadar saya menanyakan, “Jam berapakah saat ini? ”
“Baru jam 21. 00″, jawabnya.
Dengan 1/2 sadar kutegakkan kembali kursiku supaya penumpang dibelakangku tidak terganggu. Bus bergerak keluar dari ferry serta dalam 30 menit berbelok ke kanan serta berhenti di satu tempat tinggal makan.

Kali ini saya selekasnya turun dikarenakan telah lapar sekali. Saya segera ambil makanan yang sudah di siapkan dan menyerahkan sobekan tiketku pada pegawai yang memberikan makanan. Selesai makan saya selekasnya ke toilet untuk buang air kecil, selanjutnya kembali pada bus dengan mengisap sebatang rokok. Saya berasa fresh kembali, sembari menanti untuk pergi kembali, saya jalankan stretching selain pintu masuk bus supaya tubuhku tidak pegal segala dikarenakan sangat lama duduk. Mendadak saya berasa punggungku ditepuk orang, saya toleh kebalakang yang kulihat yaitu Iswani.
“Kalau acara makan anda cepat sekali, turun duluan, tidak nunggu aku”, ucapnya tanpa ada memberiku peluang bicara.
“Turun duluan saja bisa makan sedikit, lebih-lebih nunggu Mbak, tentu keburu habis”, gurauku untuk menangkis olokannya.
Sambil mendorongku minggir untuk masuk dalam bus dia berkata “Awas, ya! ” dengan muka masam.

Perjalanan berlanjut melalui jalan aspal yang mempunyai ukuran cocok untuk 2 kendaraan seukuran kijang, beruntunglah dalam perjalan ini condong sepi, tapi apabila berpapasan dengan truk atau sesama bus jadi satu diantaranya mesti turun dari jalanan aspal. Hal semacam ini buat bus bergoyang keras kekiri serta kekanan. Kali ini rekan dudukku begitu diam, tapi saya tidak paham apakah dia tidur atau masih tetap terbangun dikarenakan lampu di dalam bus dimatikan. Setelah 2 jam jalan bus mulai masuk daerah tanjakan dengan jalan yang berlika-liku. Goyangan bus begitu keras sekali saat menikung dikarenakan sopir tidak kurangi kecepatan sekalipun. Beberapa barang di bawah kursi penumpang mulai berantakan tidak kecuali sandal serta sepatu penumpang yang dilepaskan. Saya sekalipun tidak cemas dengan hal semacam itu dikarenakan sepatuku tidak sempat kulepas, tapi tidak buat rekan dudukku. Dia terlihat bingung mencari sandal kanannya yang hilang gak tahu kemana.

Saya coba menentramkan, “Mbak, kelak saja di cari bila bus berhenti serta lampunya dinyalakan, tentu ketemu. ”
Bukannya tenang tapi dia jadi geram, “Jangan bercanda, mari bantuin mencari. ”
“Percuma gelap Mbak, tidak terlihat apa-apa”, jawabku.
“Belum berupaya sudah nyerah”, bentaknya padaku sembari membungkukkan tubuhnya.
“Bukannya menyerah, Mbak, tapi saya kan tidak turut punyai sandal, bila kaki Mbak dapat juga dilepaskan mungkin saja juga turut hilang ya, hehehe.. ”, jawabku dengan bercanda.
Dalam remang-remang kulihat dia mendongkakkan kepala hentikan pencariannya serta secara cepat tangannya memegang sisi dalam pahaku selanjutnya mencubitnya. Untung dapat kutahan jeritanku, tapi rasa cubitan itu betul-betul menyakitkan. Iswani ganti tersenyum serta tidak melewatkan cubitannya berkata perlahan, “Untuk tanganku ini tidak dapat dilepaskan, bila dapat tentu telah merah segala sekujur badanmu dikarenakan cubitannya”.

Kupegang tangannya yang mencubit sembari memohon, “Maaf Mbak, tolong bebaskan cubitannya kelak saya bantuin”.
“Kalau anda bohong juga akan kucubit sekali lagi ya”, ancamnya sembari melewatkan cubitannya.
“Iya, iya”, jawabku sembari menengok kebagian belakang bus kalau-kalau ada kursi kosong untuk ganti tempat serta hindari cubitan selanjutnya, tapi tidak kutemukan.
“Cari apa Tok? Kursi belakang sudah penuh tinggal sisi sopir bila pengin pindah”, bisik Iswani di telinga kiriku.
“Ah, tidak kok Mbak”, sembari mengelus sisa cubitannya yang masih tetap sakit walau sebenarnya saya pakai celana jeans tidak tipis. Nyatanya siasatku telah terbaca, “Sial”, ungkapku dalam hati.
“Ayo cepat carikan sandalku sebelumnya betul-betul hilang”, perintahnya padaku.
“Sebentar Mbak, cubitan Mbak masih tetap sakit nih”, jawabku tidak pengin kalah.
“Ooo, pingin dicubit sekali lagi ya? ”, ancamnya sekali lagi.
“Iya-iya”, selanjutnya kurogoh saku jaketku untuk ambil senter kecil yang umum kubawa serta menyalakannya. Kuarahkan senterku ke sandal kirinya untuk lihat memiliki bentuk selanjutnya kubungkukkan tubuh kebawah kursiku, dengan senterku selanjutnya tampak sandal kanan Iswani ada di bawah tempat duduknya terjepit oleh kaki belakang kursinya serta dinding bus.

“Sudah ketemu Mbak”, kataku sembari menegakkan sekali lagi punggungku.
“Mana? ”, tanyanya. “Kejepit di bawah kursi Mbak, dari bawah kursiku tanganku tidak hingga, cobalah Mbak rogoh sendiri, mungkin saja tangan Mbak hingga. ”
Belum juga tuntas keteranganku dia telah membungkukkan tubuh serta berupaya mencari-cari dengan tangannya. Tapi usahanya tidak sukses.
“Tok, cobalah anda saja yang ambillah tapi lewat sini”, sembari menunjuk area di antara ke-2 belah paha kakinya yang telah dilebarkan.
“Yang bener Mbak? ”, walau dia pakai celana jeans tapi tetaplah saja rasa-rasanya tidak benar.

Dengan berbisik dia menenangkanku bila hal semacam itu tidak apa-apa dikarenakan lampu di dalam bus gelap hingga tidak lagi ada yang lihat. Akhirnya kuturuti kemauannya, kubungkukkan tubuhku ke pangkuannya serta kumasukkan tanganku kebawah tempat duduknya untuk menggapai sandal yang terjepit. Usaha pertama tidak sukses dikarenakan tanganku tidak hingga, selanjutnya makin kubungkukkan tubuhku sekali lagi sampai mukaku nyaris menyentuh resleting celananya. Tangan kananku telah menyentuh sandal yang terjepit tapi masih tetap belum juga bisa meraupnya. Makin kubenamkan mukaku di antara ke-2 pahanya sampai daguku menggeser selakangannya serta mendadak bus bergoyang agak keras hingga saya nyaris terjatuh, untungnya tangan Iswani secara cepat menarik kepalaku serta ke-2 pahanya mengapit tubuhku hingga kepalaku terlepas dari sisi belakang kursi dimuka Iswani. Tapi mengakibatkan mulutku menyentuh daerah kemaluannya serta walau pakai celana jeans tapi saya percaya dia rasakan sentuhan itu dikarenakan tarikan tangannya di sisi belakang kepalaku jadi tambah erat walau bus telah tidak bergoncang sekali lagi. Serta selanjutnya kudapatkan sandal yang terjepit itu. Dengan menopangkan tangan kiriku pada paha kanannya saya bersusah payah untuk berdiri serta selanjutnya berhasil kembali ketempat dudukku kembali selanjutnya keberikan sandalnya yang masih tetap kugenggam dengan tangan kananku. Saya duduk lega sembari hirup udara sebanyak mungkin serta kulihat dia pakaikan sandal itu dikaki kanannya dan mengikatkan talinya dengan cermat sembari berbisik, “Terima Kasih, ya! ”

Setelah minum dari botol aqua yang berada di tasku, tangan kananku kembali mengelus pahaku sisa terkena cubitan Iswani yang masih tetap sedikit perih.
Tanpa ada kusadari nyatanya Iswani memandangnya serta berkata lirih, “Masih sakit ya, maaf ya! ”.
Tapi saya tetaplah diam.
“Aku elus kelak tentu pulih”, bisiknya sembari mengelus sisi dalam paha kiriku.
Burungku yang sejak dari barusan tidur tenang mulai menggeliat bangun terangsang oleh elusannya yang makin lama makin menuju pangkal paha. Elusannya saat ini beralih arah sisi celana pas di mana burungku bersembunyi.

Malam makin larut serta Iswani makin berani, badannya makin mendekat ke badanku. Tangan kanannya yang sejak dari barusan diam mulai bergerilya buka resletingku serta mulai masuk celana dalamku. Kumiringkan badanku agak kekiri serta kutatap berwajah. Ke-2 tangannya tetaplah menggenggam burungku sembari kadang-kadang memainkan telornya. Tanganku tidak pengin kalah, kuletakkan tanganku di atas kaosnya di mana payudaranya ada serta kumainkan jari-jari menggoda daerah putingnya. Kulihat bibirnya mulai buka dikarenakan mendesah lirih, tidak kusia-siakan peluang ini untuk menyodorkan bibirku ke bibirnya serta melumatnya dengan dengan penuh semangat. Lidahku mulai bersentuhan dengan lidahnya, kadang-kadang kusedot lidahnya dengan bibirku dalam mulutku serta demikian sebaliknya. Disamping itu tangannya memainkan burungku dengan pergerakan mengocoknya. Tangan kiriku tetaplah mengelus-elus payudaranya sedang yang kanan bergerak kebawah untuk buka resleting celananya.

Setelah berhasil, kuraba sisi luar celana dalamnya pas didaerah besarang kemaluannya serta telah merasa agak basah. Lalu kumasukkan tangan kananku dalam celana dalamnya serta jariku mulai bermain-main dengan di sekitar vaginanya. Jari telunjukku mulai temukan klistorisnya serta memejetnya dengan halus. Berbarengan dengan itu dia melewatkan ciuman dibibir dan melepas tangan kanannya serta tetaplah meninggalakan tangan kirinya di celana dalamku. Tangan kanannya mulai merangkul sisi belakang leherku sampai kepalaku tertarik ke sisi lehernya. Secara cepat kusedot leher kirinya yang hasilkan reaksi makin liar. Jari jemariku tetaplah bermain di dalam celana dalamnya sampai pantatnya terangkat sedikit yang disebut sinyal bila vaginanya telah tidak sabar dimasuki jariku. Dua jariku segera dengan gampang masuk dalam vaginanya yang telah licin dengan gampang.

“Ahh.. ”, desahnya lirih
Desahannya seperti bensin yang membakar semangatku untuk memainkan 2 jemariku dalam liang kenikmatannya semakin cepat serta cepat. Akhirnya 2 jariku rasakan banjirnya cairan hangat yang dibarengi dengan tarikan ke-2 tangannya pada pergelangan tangan kananku supaya ke-2 jariku tetaplah menancap tidak bergerak di dalam liang kenikmatannya yang terdalam. Dengan napas yang berat serta suara yang putus-putus, Iswani mendesah.
“Mmh.. Hmm.. Tok.. Terima kasih ya.. ”

Setelah melewatkan pergelangan tanganku, dia kembali tenang serta kutarik 2 jemariku yang masih tetap basah meninggalkan vaginanya selanjutnya keluar dari celana dalamnya. Saya kembali duduk serta melihat kekanan lihat situasi seputar dalam bus yang tetaplah melaju dengan kencang. Kulihat penumpang disekitarku masih tetap terlelap. Kulihat jam di saku jaketku memperlihatkan 01. 00. Kurasakan ujung burungku yang masih tetap tegang serta terjepit oleh karet celana dalamku berasa kedinginan oleh udara AC bus. Punya niat memasukkan burungku dalam celana dalam kulihat Iswani tertlungkup lunglai membelakangiku.

Mendadak bus berbelok ke kanan hingga badanku mengayun kekiri serta merangsek ke badan Iswani. Toleh kanan-kiri dan serta sedikit berdiri untuk lihat situasi penumpang seputarku masih tetap terlelap bahkan juga bangku belakangku kosong tidak berpenumpang. Keberanianku semakin tambah. Kupelorot celana dalamku sampai semua batang kemaluanku bisa mendongkak dengan bebas. Sisi depan badanku telah menggeser punggung Iswani, tapi dia tetap masih bereaksi, mungkin saja dikarenakan telah lemas. Tanganku bergerak cepat, kurasakan resleting Iswani masih tetap terbuka, tangan kananku kembali masuk celananya tapi tetaplah di luar celana dalamnya sembari menekan-nekan sisi celana dalamnya yang begitu basah pas dimuka lubang kemaluannya. Pantat Iswani mulai sedikit bergoyang serta menggeser batang kemaluanku. Telah tidak tahan sekali lagi jadi selekasnya kutempatkan ke-2 tanganku pada bagian pinggul celana jeansnya untuk melorotkannya. Usahaku nyatanya tidak dihalanginya terlebih dia cukup menolong dengan sedikit menopangkan pantatnya pada kakinya sampai celananya tidak terjepit oleh tempat duduknya.

Sekarang celana dalam serta jeansnya telah turun hingga paha. Tempatnya yg membelakangiku membuat pergeseran nikamat pada batang kemaluanku dengan pantat serta selakangannya. Badanku senantiasa merangsek ke badannya serta ke-2 tanganku telah ada dalam kaosnya meremas-remas ke-2 payudaranya biarpun masih tetap dilindungi Bhnya. Kurasakan ujung burungku menggeser bagiannya yg telah sangat basah. Kukeluarkan tangan kananku serta memegang batang kemaluanku untuk kuarahkan ke tujuan yg benar. Dengan tempat duduk membelakangi saya dia agak menelungkup bertopang bagian kiri badannya, pantat kiri tetaplah di atas kursi, pantat kanan sedikit terangkat hingga lubang vaginanya siap jadi tujuan misilku. Kudekatkan kepalaku pada telinga kanannya, kuciumi pangkal lehernya. Nafas beratnya semakin terdengar bersamaan dengan desahan halusnya, “Akh.. Ayo Tok, masukin.. ”

Tanpa ada menanti aba-aba ujung misilku yg sudang ada di ambang kesenangan menerobos masuk. Satu jeritan lirih bikin tangan kananku segera tutup mulutnya, untungnya nada mesin bus masih tetap sangatlah menguasai situasi. Misilku masih tetap belum pula bergerak, 3/4 bagiannya telah masuk, bekasnya menanti usahaku. Iswani telah tidak sabar, dia mulai memaju-mundurkan pantatnya tapi tidak berhasil karna terdesak tubuhku serta kursi. Mendadak bus bergoncang sesudah berpapasan dengan truk hingga turun-naik dari aspal. Akibat goncangan, batang kemaluanku makin dalam menancap dalam liangnya serta kuteruskan dengan pergerakan maju mundur. Kulepas tanganku dari mulutnya, terdengar desahan halus, “Hmm.. Akh.. ah.. Ah.. ” Kulihat samar-samar Iswani menggigit bibir bawahnya dengan gigi atas kala bus melalui rumah-rumah yg berlampu. Tangan kanannya menggengam tangan kiriku.

Pergerakanku makin cepat bersamaan dengan makin erat genggaman tangannya. AC bus yg dingin tidak bisa menahan butiran keringatku. Sedikit untuk sedikit Iswani mengganti tempatnya serta berupaya duduk di atas ke-2 pahaku. Kubantu dia dengan mengangkat pinggulnya sampai ia betul-betul mendudukiku, celana dalam serta jeansnya yg kupelorot barusan telah turun hingga pangkal kaki hingga sisi bawah ke-2 pahanya yg mulus sama-sama berubah dengan sisi atas pahaku yg berbulu. Sekarang saya tidak bisa bergerak tertumpuk olehnya. Dengan berpedoman pada kursi didepannya dia laksanakan pergerakan naik turun yg memiliki irama bersamaan dengan goncangan bus. Kesenangan yg kurasakan betul-betul tidak ada bandingannya. Cengkeraman dinding vaginanya memberi sensasi yg fantastis pada perasaanku. Tiap-tiap pergerakan naik, ke-2 pahanya mengapit ke-2 pahaku, serta batang kemaluanku merasa disedot. Lantas pergerakan turunnya menimbulkan ujung kemaluanku merasa dipaksa buka sampai sisi mulut ujung kemaluanku melekat pada organnya yg lembut serta basah, serta pangkal batang kemaluanku ikut nikmati sentuhan bibir vaginanya.

Gesekan pada paha, pantat dan usapan-usapan telapak tanganku di bagian depan daerah kemaluannya yg memiliki rambut percepat klimaksnya. Iswani mulai perlambat pergerakannya, tutup apitan ke-2 pahanya, merebahkan punggungnya pada dadaku serta menengadahkan kepalanya dipundak kananku. Karna letak mulutku cocok pada telinga kirinya jadi kuserobot telinganya dengan ciuman mulutku. Ke-2 tangannya menggennggam erat ke-2 tanganku. Bersamaan dengan desahan halus yg keluar dari mulutnya, kurasakan otot-otot pahanya mulai menegang, jepitan vaginanya pada batang kemaluanku memberi denyutan-denyutan yg dibarengi rasa hangat keluarnya cairan yg membasahi seluru batang kemaluanku. Denyutannya bersambut dengan denyutanku sampai misilku memuntahkan seluruh amunisinya dengan desakanan yg hebat. Tiga hingga empat kali tembakan misilku di dalam liang kenikmatannya dibalas dengan denyutan vaginanya seperti menyedot batang kemaluanku untuk kuras seluruh isi misilku. Batang kemaluanku kembali berdenyut serta keluarkan seluruh sisa amunisinya sampai betul-betul habis.

Baca Juga : Birahi Wanita Karir

Berdua kami menghela napas panjang pada saat penisku beristirahat dalam liang kesenangan kepunyaannya. Iswani lalu menegakkan tubuhnya serta ambil sebagian lembar tissu lantas menarik badannya dari pangkuanku ke samping kiriku, ke tempat duduknya. Sembari bersihkan kemaluannya dengan tissu dia mengulurkan sisa tissunya untukku. Sesudah bersihkan serta kenakan kembali celana kami, saya pernah menyaksikan jam di sakuku, kulihat pk 02. 51, sebelumnya pada akhirnya tertidur nyenyak. Terbangun oleh nada gaduh awak bus dan penumpang yg bersiap turun kulihat jendela bus telah jelas benderang. Kuambil botol aqua dari tas serta minum hingga tidak tersisa berisi. Kupandang Iswani yg duduk disamping kiriku masih tetap pejamkan mata dengan raut muka kenikmatan yg melelahkan. Kulihat busku melalui kota Martapura serta jam disakuku tunjukkan jam 07. 26. Sisa perjalanan kuperkirakan tinggal 1 jam sekali lagi.
“Jam berapakah Tok? ”, bertanya Iswani mengagetkanku.
“Setengah delapan”, jawabku.
“Di Banjarmasin kelak anda nginap di mana Tok? ”, tanyanya sekali lagi.
“Nggak tahu Mbak, bila telah nyampai baru mencari penginapan”, jawabku enjoy.
“Aku turut anda, ya? ”, bertanya sembari tersenyum menggoda.

Pertanyaan Iswani barusan tutup narasi perjalananku Balikpapan-Banjarmasin dengan bus AC. Jawabanku juga akan pertanyaannya yg paling akhir juga akan memastikan ceritaku setelah itu di kota Banjarmasin kedepannya.

Shares 0
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *