Bunga99 agen bola online
Kupasrahkan Perawanku Untuk Guruku

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Kupasrahkan Perawanku Untuk Guruku

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirKupasrahkan Perawanku Untuk Guruku – Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

Kupasrahkan Perawanku Untuk Guruku

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.

Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.
Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.

“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.

Saya serta rekan-rekan mengajak, “Di sini saja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia sepakat.
“OK, boleh-boleh saja apabila kalian tidak keberatan”!
Saya serta rekan-rekan mengatakan, “Tidak, Pak. ”, selanjutnya saya menimpali sekali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, selanjutnya rekan-rekan yang beda, “Naa.. aa, betuu.. uul. Setujuu.. ”.
Ketika Pak Freddy ambil urutan untuk duduk segera saya mendekat karna memanglah saya suka dapat kegantengannya serta kontan rekan-rekan ngatain saya.
“Alaa.., Etty, segera deh, deket-deket, janganlah ingin Pak”.
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Lalu berniat saya menggoda sedikit pandangannya dengan menambah salah satunya kakiku seakan dapat membenarkan sepatu olah ragaku serta karna masih tetap memakai celana pendek, terang tampak keindahan pahaku. Terlihat Pak Freddy tersenyum serta saya berpura-pura mohon maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Didalam hati saya tertawa karna telah dapat memengaruhi pandangan Pak Freddy.
Di satu hari Minggu saya punya niat pergi ke tempat tinggal Pak Freddy serta pamit pada Mama serta Papa untuk main ke tempat tinggal kawan serta pulang agak sore dengan argumen ingin melakukan PR bersama. Dengan kebetulan juga Mama serta papaku mengizinkan saat saja. Hari ini memanglah hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba dirumah Pak Freddy, dia baru tuntas mandi serta kaget memandang kedatanganku.
“Eeeh, anda Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian? ”.
Saya menjawab, “Ah, tidak iseng saja. Sekedar ingin tahu saja tempat tinggal bapak”.
Lalu dia mengajak masuk kedalam, “Ooo, saat. Ayolah masuk. Maaf tempat tinggal saya kecil begini. Tunggulah, ya, saya paké baju dulu”. Memanglah terlihat Pak Freddy cuma memakai handuk saja. Selang beberapa saat dia keluar serta ajukan pertanyaan lagi terkait keperluanku. Saya sekadar menerangkan, “Cuma ingin bertanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.
Dia tersenyum, “Saya kost disini. Sendirian. ”
Selanjutnya kita berdua diskusi masalah bhs Inggris hingga tiba saat makan siang serta Pak Freddy bertanya, “Udah laper, Et? ”.
Saya jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggulah sebentar ya, dirumah. Saya ingin ke warung di ujung jalan situ. Ingin beli nasi goreng. Anda ingin kan? ”.
Segera kujawab, “Ok-ok saja, Pak. ”.
Pada saat Pak Freddy pergi, saya di tempat tinggalnya sendirian serta saya berjalan-jalan hingga ke ruangan makan serta dapurnya. Karna bujangan, dapurnya cuma terisi seadanya saja. Tetapi tanpa ada disengaja saya memandang kamar Pak Freddy pintunya terbuka serta saya masuk saja kedalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rack serta meja tulisnya, mulai dari majalah hingga buku, nyaris semua dari luar negeri serta nyatanya ada majalah porno dari luar negeri serta segera kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukanlah main. Cowok serta cewek yang tengah bersetubuh dengan beragam urutan serta tak tahu mengapa yang paling menarik bagiku adalah gambar dimana cowok dengan asiknya menjilati vagina cewek serta cewek tengah menghisap penis cowok yang besar, panjang serta kekar.
Tidak diduga-sangka nada Pak Freddy mendadak terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, kelak keburu dingin nasinya”.
Astaga! Betapa kagetnya saya sambil melihat ke arahnya tapi terlihat berwajah biasa-biasa saja. Majalah selekasnya kulemparkan ke atas tempat tidurnya serta saya selekasnya keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti.. ti.. tidak, eh, eng.. ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa.. aa.. aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy cuma tersenyum saja, “Ya. Telah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk diliat-lihat. Kita makan saja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak berang serta membentak, hatiku terasanya tenang kembali tapi rasa malu belum juga dapat hilang dengan selekasnya.
Ketika makan saya ajukan pertanyaan, “Koleksi bacaannya sangat banyak Pak. Memang pernah di baca semuanya, ya Pak? ”.
Dia menjawab sembari memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa.. aah, belum juga semuanya. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu saya memancing, “Kok, barusan ada yang begituan”.
Dia ajukan pertanyaan sekali lagi, “Yang begituan yang mana”.
Saya ajukan pertanyaan dengan agak malu serta tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuch. Emm.., Majalah jorok”.
Lalu dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dahulu oleh-oleh dari kawan saya saat dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruangan depan sekali lagi serta kebetulan sekali Pak Freddy tawarkan saya untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia tawarkan diri, “Kalau anda serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun segera beranjak kesana. Saya selekasnya ke kamarnya serta kuambil sekali lagi majalah porno yang tergeletak diatas tempat tidurnya.
Begitu tiba didalam kamar, Pak Freddy ajukan pertanyaan sekali lagi, “Betul anda tidak malu? ”, saya cuma menggelengkan kepala saja. Mulai waktu itu juga Pak Freddy dengan enjoy buka celana jeans-nya serta tampak olehku suatu hal yang besar di dalamnya, lalu dia menindihkan dadanya serta selalu makin kuat makanya menyentuh vaginaku. Saya menginginkan merintih tapi kutahan.
Pak Freddy ajukan pertanyaan sekali lagi, “Sakit, Et”. Saya cuma menggeleng, tak tahu mengapa mulai sejak itu saya mulai pasrah serta mulutkupun terkunci sekalipun. Makin lama jilatan Pak Freddy makin berani serta menggila. Rupanya dia telah benar-benar terbius nafsu serta tidak ingat sekali lagi dapat kehormatannya jadi Seseorang Guru. Saya cuma dapat mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.

Pada akhirnya saya lemas serta kurebahkan badanku diatas tempat tidur. Pak Freddy juga naik serta ajukan pertanyaan.
“Enak, Et? ”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa ada ajukan pertanyaan sekali lagi segera Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitu juga saya melayaninya dengan nafsu sambil satu diantara tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Merasa keras sekali serta rupanya telah berdiri prima. Mulutnya mulai mengulum ke-2 puting payudaraku. Praktis kami berdua telah tdk bicara sekali lagi, semua telah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku serta ambil majalah porno yang masih tetap tergeletak diatas tempat tidur serta ajukan pertanyaan kepadaku sambil satu diantara tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya kedalam vagina seseorang cewek yang nampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya begini, Et? ”.
Saya tdk menjawab serta cuma mengedipkan ke-2 mataku perlahan-lahan. Mungkin saja Pak Freddy berasumsi saya sepakat serta segera dia mengangkangkan ke-2 kakiku lebar-lebar serta duduk dihadapan vaginaku. Tangan kirinya mengusahakan buka belahan vaginaku yang rapat, sedang tangan kanannya menggenggam penisnya serta mengarahkan ke vaginaku.
Terlihat Pak Freddy agak sulit untuk memasukan penisnya kedalam vaginaku yang masih tetap rapat, serta saya terasa agak kesakitan karna mungkin saja otot-otot kurang lebih vaginaku masih tetap kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Saya tdk menjawab karna menahan selalu rasa sakit serta, “Akhh.., bukanlah main perihnya saat batang penis Pak Freddy telah mulai masuk, saya cuma meringis namun Pak Freddy nampaknya telah tidak perduli sekali lagi, ditekannya selalu penisnya hingga masuk semuanya serta segera dia menidurkan badannya diatas badanku. Ke-2 payudaraku agak tertekan namun merasa nikmat serta cukup untuk menyeimbangi rasa perih di vaginaku.
Semakin lama rasa perih beralih ke rasa nikmat searah dengan pergerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Saya terengah-engah, “Hah, hah, hah,.. ”. Pelukan ke-2 tangan Pak Freddy jadi lebih erat ke badanku serta spontan juga ke-2 tanganku memeluk dianya serta mengelus-elus punggungnya. Semakin lama pergerakan penis Pak Freddy jadi lebih berikan rasa nikmat serta merasa didalam vaginaku menggeliat-geliat serta berputar.
Saat ini rintihanku adalah rintihan kesenangan. Pak Freddy selanjutnya agak mengangkatkan tubuhnya serta tanganku ditelentangkan oleh ke-2 tangannya serta telapaknya mendekap ke-2 telapak tanganku serta menghimpit dengan keras ke atas kasur serta ouwww.., Pak Freddy jadi lebih menguatkan serta mepercepat kocokan penisnya serta di berwajah kulihat raut yang gemas. Semakin kuat serta selalu jadi lebih kuat hingga badanku bergerinjal serta kepalaku menggeleng kesana ke mari serta pada akhirnya Pak Freddy agak merintih berbarengan dengan rasa cairan hangat didalam vaginaku. Rupanya air maninya telah keluar serta selekasnya dia keluarkan penisnya serta merebahkan badannya di sebelahku serta nampak dia masih tetap terengah-engah.
Setelah semua tenang dia ajukan pertanyaan padaku, “Gimana, Et? Anda tdk apa-apa? Maaf, ya”.
Sambil tersenyum saya menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.
Dia berkata sekali lagi, “Sama, saya juga”.
Kemudian saya agak tersenyum serta tertidur karna memanglah saya capek, namun saya tidak paham apakah Pak Freddy juga tertidur.
Sekitar waktu 17 : 00 saya dibangunkan oleh Pak Freddy serta rupanya pada saat saya tidur dia menutupi sekujur badanku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy cuma memakai handuk serta berkata, “Kita mandi, yuk. Anda mesti pulang kan? ”.
Tubuhku masih tetap agak lemas saat bangun serta dengan tetaplah dalam kondisi telanjang bulat saya masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk pribadi untukku. Di situlah kami berdua sama-sama berpindahan bersihkan badan serta akupun tidak canggung sekali lagi saat Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memanglah di sekelilingnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin saja luka dari selaput daraku yang robek. Demikian halnya saya, tdk terasa jijik sekali lagi memegang-megang serta bersihkan penisnya yang perkasa itu.
Setelah semuanya usai, Pak Freddy membikinkan saya teh manis panas secangkir. Merasa sangat nikmat serta merasa badanku jadi fresh kembali. Sekitar jam 17 : 45 saya pamit untuk pulang serta Pak Freddy berikan ciuman yang cukup mesra di bibirku. Saat saya mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana kondisi Papa serta Ibu serta nama baik sekolah apabila peristiwa yang menurutku paling bersejarah barusan ketahuan. Namun saya cuek saja, kuanggap ini jadi pengalaman saja.
Semenjak tersebut, apabila ada waktu senggang saya berkunjung ke tempat tinggal Pak Freddy untuk nikmati keperkasaannya serta saya bersukur juga kalau rahasia itu tidak sempat hingga bocor. Hingga sekarangpun saya tetap masih nikmati genjotan Pak Freddy walau saya telah jadi mahasiswa, serta seakan-akan kami berdua telah pacaran. Sempat Pak Freddy tawarkan padaku untuk mengawiniku apabila saya telah usai kuliah kelak, namun saya belum juga sempat menjawab. Yang mutlak bagiku saat ini adalah nikmati dahulu keganasan serta keperkasaan penis guru bhs Inggrisku itu.

Baca Juga : Guru Idamanku

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *