Bunga99 agen bola online
Nafsu Besar Penyanyi Klub Malam

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Nafsu Besar Penyanyi Klub Malam

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirNafsu Besar Penyanyi Klub Malam – Malam itu saya dinner dengan clientku di satu cafe. Satu band tampak menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Saya menyimak sang penyanyi. Seseorang gadis berumur kurang lebih 26 th.. Suaranya benar-benar sangat jazzy. Gadis ini berwajah tidaklah terlalu cantik. Tingginya lebih kurang 160 cm/55 kg. Badannya padat diisi. Ukuran payudaranya sekitaran 36B. Keunggulannya yaitu lesung pipitnya. Senyumnya manis serta matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Buat telingaku fresh.

Nafsu Besar Penyanyi Klub Malam

“Para pengunjung sekalian.. Malam hari ini saya, Felicia berbarengan band juga akan temani anda semuanya. Jika ada yang menginginkan bernyanyi berbarengan saya, mari.. saya persilakan. Atau bila menginginkan request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang nyata-nyatanya bernama Felicia itu mulai menegur pengunjung Cafe. Saya cuma tertarik mendengar suaranya. Pembicaraan dengan client mengambil alih perhatianku. Hingga selanjutnya telingaku menangkap perubahan langkah bermain dari sang keyboardist. Saya lihat ke arah band itu serta lihat Felicia nyata-nyatanya bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard sembari menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang begitu simpel. Saya nikmati semuanya tipe musik serta mengusahakan tahu semuanya tipe musik. Termasuk juga jazz yang memanglah ‘brain music’. Musik cerdas yang buat otakku berfikir tiap-tiap mendengarnya. Felicia nyata-nyatanya bermain begitu aman. Saya terkesima temukan seseorang penyanyi cafe yang dapat bermain keyboard dengan baik. Mendadak saya jadi begitu tertarik dengan Felicia. Saya menuliskan request laguku serta memberi lewat pelayan cafe itu.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy. ”, tulisku di kertas request sekalian menuliskan nomor HP-ku. Saya menambahkan pembicaraan dengan clientku serta selang beberapa saat saya mendengar nada Felicia.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..? ”

Bhs badan Felicia membuktikan kalau dia menginginkan tahu di mana saya duduk. Saya melambaikan tanganku serta tersenyum ke arahnya. Urutan dudukku pas dimuka band itu. Jadi, dengan terang Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya. Sembari bermain serta bernyanyi, matanya menatapku. Saya juga menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Saya kembali bicara dengan clientku. Tidak lama kudengar nada Felicia menghilang serta berpindah dengan nada penyanyi pria. Kulihat sekejap Felicia tidak terlihat. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia. ” kelihatan pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Saya Boy. Kau di mana, Felicia? ”
“Hi Boy. Saya di belakang. Ke kamar mandi. Mengapa menginginkan tahu HP-ku? ”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku selalu jelas. Kudengar tawa enteng dari Felicia.
“Rayuan ala Boy, nih? ”
“Lho.. Bukanlah rayuan kok. Tetapi pujian yang layak buatmu yang memanglah sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapakah? Saya antar pulang ya? ”
“Jam 24. 00. Bisa. Tapi kulihat kau dengan rekanmu? ”
“Oh.. dia clientku. Sebentar sekali lagi dia pulang kok. Saya cuma mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana? ”
“Okay.. Saya tunggulah ya. ”
“Okay.. See you soon, sexy.. ”

Saya menambahkan sebentar pembicaraan dengan client serta selanjutnya mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Sesudah clientku pulang saya kembali pada cafe. Saat masih tetap membuktikan jam 23. 30. Masih tetap 30 menit sekali lagi. Saya kembali duduk serta pesan hot tea. 30 menit saya butuhkan dengan melihat Felicia yang menyanyi. Mataku selalu memandang matanya sembari kadangkala saya tersenyum. Kulihat Felicia dengan yakin diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik sampai membuatku menginginkan mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya berniat menyalakan AC mobil cukup besar hingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia kelihatan menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah? ” tangan Felicia sembari mencapai tombol AC untuk menambah suhu. Tanganku lekas menahan tangannya. Peluang untuk memegang tangannya.
“Jangan.. Telah dekat rumahmu kan? Saya tidak tahan panas. Suhu segini saya baru dapat. Bila anda naikkan, saya tidak tahan.. ” argumenku.

Saya memanglah menginginkan buat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat tahu. Tangan kiriku masih tetap memegang tangannya. Kuusap perlahan-lahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat.. ” kataku datar. Saya memberikan stimuli enteng. Felica tersenyum. Dia tidak menampik.
“Ya.. Bisa. Habis dingin banget. Oh ya, anda sukai jazz juga ya? ”
“Hampir semuanya musik saya sukai. Oh ya, baru kesempatan ini saya lihat penyanyi jazz wanita yang dapat bermain keyboard. Mainmu asik sekali lagi. ”
“Haha.. Ini malam pertama saya main keyboard sembari menyanyi. ”
“Oh ya? Tapi tidak tampak canggung. Oh ya, kudengar barusan mainmu banyak menggunakan scale altered dominant ya? ” saya selanjutnya memainkan tangan kiriku di tangannya seakan-akan saya bermain piano.
“What a Boy! Kamu paham.kamu mengerti jazz scale juga? Anda dapat main piano yah? ” Felicia kelihatan terperanjat. Mukanya tampak penasaran.
“Yah, dahulu main classic. Lantas tertarik jazz. Belum juga mahir kok. ” Saya berhenti dimuka tempat tinggal Felicia.
“Tinggal dengan siapa? ” tanyaku kala kami masuk ke tempat tinggalnya. Ya, saya terima ajakannya untuk masuk sebentar walau ini telah nyaris jam 1 pagi.
“Aku kontrak tempat tinggal ini dengan sebagian rekanku sesama penyanyi cafe. Yang lain belum juga pulang semuanya. Mungkin saja sekalian kencan dengan pacarnya. ”

Felicia masuk kamarnya untuk ganti baju. Saya tidak mendengar nada pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia memanglah memancingku? Saya lekas berdiri serta nekat buka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma dengan bra serta celana dalam. Di tangannya ada satu kaos. Kukira Felicia juga akan berteriak terperanjat atau berang. Ternyata tidak. Dengan enjoy dia tersenyum.

“Maaf.. Saya ingin bertanya kamar mandi di mana? ” tanyaku mencari argumen. Malah saya yang gugup lihat panorama indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk saja. ”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya lihat ada satu keyboard. Saya tidak jadi ke kamar mandi jadi memainkan keyboardnya. Saya memainkan lagu “Body and Soul” sembari menyanyi lembut. Suaraku umum saja juga permainanku. Tapi saya percaya Felicia juga akan tertarik. Sebagian kali saya buat kekeliruan yang kusengaja. Saya menginginkan lihat reaksi Felicia.

“Salah tuch mainnya. ” komentar Felicia. Dia turut bernyanyi.
“Ajarin dong.. ” kataku.

Dengan lekas Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Saya duduk sedang Felicia berdiri membelakangiku. Dengan urutan seperti memelukku dari belakang, dia membuktikan sekejap notasi yang benar. Saya dapat rasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Saya menimbang-nimbang apa yang perlu saya kerjakan. Saya memalingkan mukaku. Saat ini mukaku serta Felicia sama-sama bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Bila tidak diterima, bermakna dia tidak punya maksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, saya bisa meneruskannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Saya tidak diterima.

“Katanya ingin ke kamar mandi? ” tanyannya sembari tersenyum. Oh ya.. Saya melupakan argumenku buka pintu kamarnya.
“Oh ya.. ” saya berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku terima penolakannya. Tapi saya tidak menyerah. Segera kuraih badannya serta kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini? ” Felicia terperanjat. Saya tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi serta kusiram dengan air! Biarlah. Bila ingin berang ya saya terima saja. Yang pasti saya selalu mengusahakan memperolehnya. Ternyata Felicia jadi tertawa. Dia membalas menyiramku serta kami keduanya sama basah kuyup. Segera saya menyandarkannya ke dinding kamar mandi serta menciumnya!

Felicia membalas ciumanku. Bibir kami sama-sama memagut. Benar-benar nikmat bercumbu di suhu dingin serta basah kuyup. Bibir kami sama-sama berlomba berikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya serta membukanya. Kemudian bra serta celana pendeknya. Sesaat Felicia juga buka kaos serta celanaku. Kami keduanya sama tinggal cuma menggunakan celana dalam. Sembari selalu mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut serta merangsang payudaranya. Sesaat tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya serta kadangkala menyelusup ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya dapat mencapai vaginanya. Menggosokinya dengan jariku.

“Agh.. ” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat serta basah. Perlahan-lahan saya rasakan penisku ereksi.
“Egh.. ” saya menahan nafas kala kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku serta meremasnya.

Tidak lama dia mengocok penisku sampai membuatku makin lama terangsang. Badan Felicia kuangkat serta kududukkan di bak air. Cukup susah bercinta di kamar mandi. Licin serta tidak dapat berbaring. Pada saat Felicia duduk, saya cuma dapat merangsang payudara serta mencumbunya. Sesaat pantat serta vaginanya tidak dapat kuraih. Felicia tidak ingin duduk. Dia berdiri sekali lagi serta menciumi puting dadaku!

Ternyata enak juga rasa-rasanya. Baru kesempatan ini putingku di cium serta dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tidak sempat melepas penisku. Terus dikocok serta diremasnya. Sembari melaksanakannya, tubuhnya bergoyang-goyang seolah-olah dia tengah menari serta nikmati musik. Terasa terganggu dengan celana dalam, saya melepasnya dan melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku menghimpit lidahnya. Kami sama-sama menjilat serta mengisap.

Rintihan kecil serta desahan nafas kami sama-sama berpindahan buat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin buat kami sama-sama merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang tidak serupa bercinta kala dalam kondisi basah. Saat bercumbu, ada rasa ‘air’ yang buat ciuman tidak serupa rasa-rasanya dari umumnya.

Saya menyalakan shower serta selanjutnya dibawah air yang mengucur dari shower, kami jadi tambah hangat merapat serta sama-sama merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, muka serta semua badan, buat badan kami makin lama panas. Makin bergairah. Ke-2 tanganku mencapai pantatnya serta kuremas agak keras, sesaat bibirku melumat makin lama ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan-lahan tanganku merayap naik sembari memijat enteng pinggang, punggung serta bahu Felicia. Dari bhs badannya, Felicia begitu nikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och.. ” Felicia mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya turut meremas pantatku. Saya rasakan payudara Felicia makin lama tegang. Payudara serta putingnya tampak demikian seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasa-rasanya.. ” candaku sembari tertawa enteng. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan saja seandainya sukai.. ” bisiknya di telingaku.
“Enak lho.. ” sambungnya sembari menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan-lahan ujung lidahku mendekati putingnya. Saya menjilatnya persis di ujung putingnya.
“Ergh.. ” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Dari mulai ujung lidah hingga pada akhirnya dengan semua lidahku, saya menjilatnya. Kemudian saya mengisapnya dengan lembut, agak kuat serta pada akhirnya kuat. Selang beberapa saat Felicia lalu buka kakinya serta menuntun penisku masuk vaginanya.

“Ough.. Enak.. Mari, Boy” Felicia memohonku mulai beraksi.

Penisku pelan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar-putar, Sembari bibir kami sama sama melumat. Aku berupaya keras membuatnya rasakan kesenangan. Felicia dengan trampil ikuti tempo kocokanku. Anda bekerja sama juga dengan serasi sama sama berikan serta memperoleh kesenangan. Vaginanya masih tetap rapat sekali. Serupa dengan Ria. Apakah begini rasa-rasanya perawan? Entahlah. Aku belum juga sempat bercinta dengan perawan, terkecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh.. ” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya semakin keras.
“Come on, Boy.. Fuck me.. ” ceracaunya.

Rupanya Felicia yaitu type wanita yang berjumpara keras saat bercinta. Bagiku mengasyikkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku semakin cepat. Beberapa pas lalu saya berhenti. Mengatur nafas serta merubah tempat kami. Felicia menungging serta saya ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy model. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, lalu memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau! ” teriak Felicia. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir enak rasa-rasanya.. ” Aku hentikan memasukkan jari ke anusnya tapi tetaplah bermain-main di sekitaran anusnya sampai membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku rasakan saat-saat orgasmeku nyaris tiba. Aku berupaya keras mengatur ritme serta nafasku.

“Aku ingin nyampe, Felicia.. ”
“Keluarin didalam saja. Telah lama saya tidak rasakan semprotan cairan pria” Aku agak berhenti. Hilang ingatan, keluarin didalam. Bila hamil bagaimana, fikirku.
“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok.. ” Felicia meyakinkanku. Aku yg tidak percaya. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menanggung, kan? Kukocok sekali lagi dengan gencar. Felicia berteriak semakin keras.
“Yes.. Aku juga nyaris sampai, Boy.. come on.. come on.. oh yeah.. ”

Saat-saat itu semakin dekat.. Aku mengubernya. Kesenangan tidak ada tara. Buat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sebentar lalu kurasakan badan Felicia semakin bergetar hebat. Aku berupaya keras menahan ereksiku. Badanku terkejang-kejang alami puncak kesenangan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh.. ” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit kuat sekali lalu membalikkan tubuhnya serta memelukku. Kami lalu bercumbu sekali lagi. Waktunya after orgasm service. Tanganku memijat badannya, memijat kepalanya serta mencumbu hidung, pipi, leher, payudara serta lalu perutnya. Aku membuatnya kegelian saat hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Ambil handuk serta mengeringkan badan kami berdua. Sembari selalu mencuri-curi ciuman serta rabaan, kami sama sama menggosok-gosok badan kami. Dengan badan telanjang saya mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya serta kembali menciumnya. Felicia tersenyum senang. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Telah lama sekali saya tidak bercinta. Anda berhasil memuaskanku.. ”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku berasa belum juga hebat bercinta. Aku cuma berupaya melayani tiap-tiap wanita yang bercinta denganku. Perhatikan kebutuhannya.

Aku begitu terperanjat saat mendadak pintu kamar terbuka. Sial, kami barusan lupa mengunci pintu!! Seseorang wanita terlihat. Aku tidak pernah sekali lagi menutupi badan telanjangku.

“Ups.. Gak usah terperanjat. Dari barusan saya telah dengar teriakan Felicia. Barusan jadi telah mengintip kalian di kamar mandi.. ” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa bisa bikin. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy. ” saya menganggukkan kepalaku kepadanya.
“Hi Gladys.. ” sapaku.

Kemudian saya berdiri. Dengan penis lemas terayun saya mencari kaos serta celana pendek Felicia serta memanfaatkannya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Fikirku. Telah jam 2 pagi. Aku mesti pulang.

Baca Juga : Bersetubuh Dengan Lulu Teman Kantorku

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *