Bunga99 agen bola online
Naksir si Rita eh malah dapat Ibunya

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Naksir si Rita eh malah dapat Ibunya

Naksir si Rita eh malah dapat Ibunya. Waktu itu saya Ronny masihlah kuliah serta saya memiliki rekan karib namanya Mona, dari Sumatera, dia menumpang dirumah tantenya. Kebetulan pada saya serta Mona memiliki kegemaran yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik, lempar lembing. Saya seringkali berkunjung ke tempat tinggalnya, jadi lama jadi seringkali. Karna saya juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak tantenya. Walaupun saya telah jadi akrab dengan keluarganya, tetapi Rita tidak kunjung kupacari.

Naksir si Rita eh malah dapat Ibunya

Sesudah usai SMA Mona meneruskan studi di Kota beda, tetapi saya berusaha untuk berkunjung ke tempat tinggal Rita, tetapi tidak sering ketemu. Namun perjalanan saat memastikan beda untuk Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu wafat. Saat ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang sebagian perusahaannya yang memanglah telah dirintis cukup lama, sebelumnya dipilih jadi wakil rakyat. Keinginanku memacari Rita tetaplah berada di dada, walaupun waktu saya bertandang, malah bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang seringkali menemuiku. karna Rita ada aktivitas di Jakarta, berkenaan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di satu stasion teve swasta disana. Tapi memang bila ingin jujur Rita masihlah kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih cantik., kulitnya lebih putih bersih, dewasa serta tenang karakternya. Sesaat Rita agak sawo masak, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita seperti ibunya : tenang karakternya, keibuan serta penuh perhatian, baik juga.

Saat ini, dirumah yang cukup elegan itu cuma ada bu Ita serta seseorang pembantu. Mona telah tidak di situ, sesaat Rita sekolah di ibukota, paling-paling satu minggu pulang. Pada akhirnya saya diminta bu Ita untuk menopang jadi karyawan tidak tetaplah mengelola perusahaannya. Untungnya saya mempunyai kekuatan di bagian pc serta manajemennya, yang saya jalani mulai sejak SMA. Sesudah mengerti manajemen perusahaan bu Ita lantas saya menawari program akuntansi serta keuangan dengan pc, serta bu Ita sepakat bahkan juga puas. Merencanakan hitung cost project yang dikerjakan perusahaannya, dll. Saya suka pada pekerjaan ini. Yang pasti dapat menaikkan uang saku saya, dapat untuk menopang kuliah, yang waktu itu baru semester dua. Bu Ita berikan honor lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu Ita ada tiga cewek di kantor, lebih saya, belum juga termasuk juga di lapangan. Saya seringkali bekerja sesudah kuliah, sore sampai malam hari, datang mendekati pegawai yang beda pulang. Itupun bila ada project yang penting ditangani. Part time demikian. Untuk saya ini cuma kerja sampingan tetapi dapat menaikkan pengalaman.

Karna hubungan kerja pada majikan serta pegawai, hubungan saya dengan bu Ita makin akrab. Awal mulanya sich umum saja, lambat-laun seperti teman dekat, sharing, dsb. Saya seringkali dinasehati, bahkan juga karena amat akrabnya, bercanda, saya seringkali pegang tangannya, mencium tangan, pastinya tanpa ada di ketahui kawan kerja yang beda. Dan rupanya dia puas. Tapi saya tetaplah melindungi kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan jantungku, betapapun serta siapa saja bu Ita, dia dapat menggetarkan dadaku. Walaupunpun telah cukup usia wanita ini tetaplah jelita. Saya sangka siapa saja orangnya tentu menuturkan orang ini cantik bahkan juga cantik sekali. Basic pintar menjaga badan, karna ada dana karena itu, rajin fitnees, dirumah di siapkan perlengkapannya. Bila tengah fitnees menggunakan baju fitnees ketat begitu enak dilihat. Ini telah saya mengerti mulai sejak saya SMA dahulu, tetapi karna saya kepingin mendekati Rita, hal tersebut saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita saya ketahui benar karna seringkali kerjakan biodata terkait dengan project-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya waktu cerita ini berlangsung 37 th., lima bulan serta berat tubuhnya 52 kg. Cukup baik.

Pada satu hari saya lembur, karna ada pekerjaan project serta paginya mesti didaftarkan untuk diikutkan tender. Jam 22. 00 pekerjaan belum juga usai, tetapi saya agak terhibur bu Ita ingin temaniku, sembari mengecek pekerjaanku. Dia cukup cermat. Bila kerja lembur begini ia jadi seringkali bercanda. Bahkan juga bila minumanku habis dia tidak segan-segan yang menuang kembali, saya jadi jadi kikuk. Dia tidak segan pegang tanganku, mencubit, tapi saya tidak berani membalas. Terlebih apabila tengah mencubit dadaku saya sekalipun bakalan tidak membalas. Dan yang cukup kejutan tanpa ada sangsi memijit-pijit bahuku dari belakang.

“Capek ya..? Saya pijit, nih”, tukasnya.
Saya cuma tersenyum, dalam hati puas juga, dipijit janda cantik. Terlebih yang kurasakan dadanya, tentu teteknya menyenggol kepalaku area belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku berencana saya pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa ada rambut itu. Saya jadi cukup puas. Nyaris jam 23. 00 baru usai seluruh pekerjaan, saya bersihkan kantor serta masihlah dibantu bu Ita. Wah wanita ini benar-benar seseorang pekerja keras, gumanku dalam hati.

Saya bersiap-siap untuk pulang, tetapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.
“Kamu telah punyai pacar Ron? ”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., tentu kamu telah punyai. Cewek mana yang tidak ingin dengan cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, benar-benar kok”, kataku sekali lagi. Kami duduk bersebelahan di sofa ruangan tengah, dengan penerangan yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami berdua sama sama berpegangan tangan sama sama meremas lembut. Yang pasti awal mulanya saya berencana menyenggol tangannya…

Mungkin karna terikut situasi malam yang dingin serta situasi ruang yang syahdu, serta terdengar nada mobil melintas di jalan raya dan sayup-sayup nada binatang malam, saya serta bu Ita tenggelam terikut oleh situasi romantis. Bu Ita yang malam itu menggunakan gaun warna hitam serta sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita entrepreneur ini jadi mendekatkan badannya ke arahku. Dalam keadaan yang baru saya alami ini saya jadi begitu kikuk serta canggung, tetapi anehnya nafasku jadi memburu, kejar-kejaran serta bergelora seperti gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya jadi bergemetaran, serta tidak dapat banyak berbuat, walaupun tanganku tetaplah memegang tangannya.
“Dingin ya Ron..?! ”, tukasnya sendu.
Sesaat tangan kiriku ditarik serta mendekap lengan kirinya yang memanglah tanpa ada lengan pakaian itu.
“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.
Merasa dingin, sesaat tangannya juga merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak di lebih kurang, saya duduk, menaikkan situasi romantis
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), bagaimana Bu? ”, kataku gemetar.
“Darti bakalan tidak masuk kesini, pintunya terkunci”, tukasnya.
Saya jadi aman. Lantas saya coba mengecup kening wanita lincah ini, dia tersenyum lantas dia menengadahkan berwajah. Tanpa ada diajari atau diperintah oleh siapa saja, kukecup bibir indahnya. Dia menyongsong dengan senyuman, kami sama sama berciuman bibir sama sama melumat bibir, lidah kami berjumpa berburu mencari kesenangan di tiap-tiap sudut-sudut bibir serta rongga mulut semasing. Tangankupun mulai meraba-raba badan sintal bu Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku serta bahkan juga menyelinap di balik kaosku. Saya jadi makin terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sesaat jeda, kami sama sama berpandangan dia tersenyum manis bahkan juga benar-benar manis, ketimbang waktu-waktu terlebih dulu. Kami berangkulan kembali, seakan-akan dua sejoli yang tengah mabuk asmara tengah bermesraan, walau sebenarnya pada majikan serta pegawainya. Dia mulai mencumi leherku serta menggigit lembut semantara tanganku mulai meraba-raba badannya, pertama pantatnya, lalu menyebar ke pinggulnya.
“Sejak kamu ke sini dengan Mona dahulu, saya telah berfikir : “Ganteng banget ini anak! ””, tukasnya 1/2 berbisik.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku menghindar walaupun saya puas beroleh sanjungan.
“Saya tidak merayu, sungguh”, tukasnya sekali lagi.
Kami jadi merangsek bercumbu, birahiku jadi menanjak naik, dadaku makin bergetar, demikian pula dada bu Ita. Diapun terlihat bergetaran serta suaranya agak parau.

Kemudian saya beranjak, berdiri serta menarik tangan bu Ita yang agar turut berdiri. Dalam tempat inilah saya dekap dengan hangatnya. Keinginan kelakianku jadi bertambah bangkit serta merasa seperti membelah celana yang saya gunakan. Lantas saya bimbing dia ke kamarnya, seperti kerbau dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami berbaring dengan di spring bed, kembali kami bergumul sama sama berciuman serta becumbu.
“Gimana bila saya tidur disini saja, Bu”, pintaku lirih.
Ia berfikir sesaat lantas mengangguk sembari tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju almari serta ambil baju sembari menyodorkan pada saya.
“Ini gunakan punyaku”, dia menyodorkan baju tidur.
Lantas saya turun celana panjangku serta kaos lalu menggunakan kimononya.

Saya jadi terlena. Dalam dekapannya saya tertidur. Baru lebih kurang 1/2 jam saya terbangun sekali lagi. Dalam keadaan begini, terang saya sulit tidur. Udara merasa dingin, saya mendekapnya jadi kencang. Dia menyelinapkan kaki kanannya di selakangan saya. Penisku jadi bergerak-gerak, sesaat cumbuan berjalan, penisku makin menjadi-jadi kencangnya, yang sebenarnya mulai sejak barusan di sofa.

Saya berfikir bila telah begini bagaimana? Apakah saya teruskan atau diam saja? Lama saya berpikir untuk menuturkan tidak! Tapi tidak dapat tertutupi kalau keinginan, nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku bercampur aduk hingga pada ubun-ubunku. Walaupunpun saya diamkan sebagian waktu, tetaplah saja kejaran libido yang merasa lebih kuat. Memanglah saya sadar, wanita yang ada didekapanku yaitu majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tetapi jadi pria normal serta dewasa saya juga rasakan kesenangan bibir serta rasa perasaan bu Ita jadi wanita yang sintal, cantik serta mempesona. Sekurang-kurangnya saya telah rasakan kehangatannya badannya serta perasaannya, walau pengalaman ini baru pertama kalinya kualami.

Saya tidak kuasa berkeputusan, dalam keadaan begini saya makin bergemetaran, pada menghindar serta nafsu yang menggelora. Saya cermati berwajah dibawah sorot lampu bed, berniat saya tengok lama dari dekat, berwajah pancarkan penyerahan jadi wanita, didepan lelaki dewasa. Pelan-pelan tanganku menyelisip dibalik gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat perlahan, saya tidak paham apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Saya cium lembut bibirnya, serta dia menyambutnya. Bermakna dia tidak tidur. Ku singkap gaun tidurnya selanjutnya kulepas, dia memanfaatkan beha warna putih serta cedenya juga putih. Saya jadi jadi takjub lihat kemolekan badan bu Ita, putih serta indah banget. Ku raba-raba badannya, dia mengeliat geli serta buka matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyelisip ke balik pakaian tidur yang kupakai serta menarik talinya di bagian perutku, lantas kemejaku lepas. Kini akupun cuma gunakan cede saja.
“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi tubuhmu berapakah, ya? ”, bisiknya. Saya tersenyum suka.
“Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia cuma tersenyum.

Naksir si Rita eh malah dapat Ibunya

Saya berupaya buka behanya dengan buka hubungannya di punggungnya, selanjutnya keplorotkan cedenya hingga saya makin takjub lihat keindahan alam yang tidak ada tara ini. Hal ini jadikan dadaku makin bergetar. Bagaimana tidak?! Saya bertemu segera dengan wanita tanpa ada baju yang bertubuh indah, yang sampai kini cuma kulihat lewat gambar-gambar orang asing saja. Kini segera mencermati dari dekat sekali bahkan juga dapat meraba-raba. Wanita yang sampai kini saya tengok berkulit putih bersih cuma di bagian muka, sisi kaki serta sisi lengan ini, saat ini terlihat semuanya tidak ada yang tersisa. Menarik! Darahku makin mendidih, lihat panorama nan indah itu. Di selagi saya masih tetap bengong, pelan-pelan saya berubah cedeku, saya serta bu Ita keduanya sama tidak memakai pakaian. Penisku betul-betul maksimum kencangnya. Kami berdua berdekapan, sama-sama meraba serta membelai. Kaki kami berdua sama-sama menyilang yang berpangkal di selakangan, sama-sama mengesek. Penisku yang kencang turut membelai paha indah bu Ita. Disamping itu ia membelai-belai lembut penisku dengan tangan halusnya, yang membawa resiko nikmat mengagumkan.

Baca Juga : Cerita Seks Permainan Terlarang

Tanganku membela-belai pahanya selanjutnya kucium dari mulai lutut merambat perlahan ke pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku jadi bergetaran dikarenakan kami sama-sama mencumbu, saya meraba selakangannya, ada rerumputan disana, tidaklah terlalu lebat jadi enak dilihat. Dia mengerang lembut, disaat jemariku menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya dengan lembut serta mengedot puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan, lantas membenamkan wajahku diantara ke-2 susunya. Sesaat tangan kiriku meremas lembut teteknya. Desisan serta erangan lembut keluar dari mulut indahnya. Saya makin bernafsu walaupun terus gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan selakangannya, yang nyatanya basah itu. Saya penasaran, lantas kubuka ke-2 pahanya, selanjutnya kusingkap rerumputan di sekitaran kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu saya belai-belai dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan, menggembirakan sekali. Bu Ita mengerang lembut sembari menggerakkan perlahan kaki-kakinya. Lantas jariku kumasukkan keterowongan pink itu serta menari-nari di dalamnya. Dia makin bergelincangan. Lanjutannya ia menarikku.
“Ayo Ron”aku tidak tahan”, tuturnya berbisik
Serta merangkulku ketat sekali, hingga sisi yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.

Saya mulai menindih badan sintal itu, sembari bertumpu pada ke-2 siku-siku tanganku, agar ia tidak berat menompang badanku. Disamping itu senjataku terjepit dengan ke-2 pahanya. Dalam tempat begini saja nikmatnya telah bukanlah main, getaran jantungku jadi tidak teratur. Sembari menciumi bibirnya, serta lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut), selanjutnya turun berulang kali Selang beberapa saat kakinya direnggangkan, lantas pinggul kami berdua beringsut, untuk ambil tempat pas pada senjataku dengan lubang kewanitaannya. Sekian kali kami beringsut, namun belumlah juga hingga terhadap sasarannya. Penisku belumlah juga masuk ke vaginanya
“Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih tetap di bawahku tersenyum.
“Sabar-sabar”, tuturnya. Lantas tangannya memegang penisku serta membimbing memasukkan ke arah kewanitaannya.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, tuturnya. Akupun menuruti saja, menghimpit pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, namun tanpa ada kendala. Nyatanya gampang! Pada selagi masuk tersebut, rasa enaknya sangat begitu. Seolah saya baru masuk dunia beda, dunia yang sekalipun baru bagiku. Saya memanglah sempat lihat film orang beginian, namun untuk lakukan sendiri baru kesempatan ini. Nyatanya berasa enak, nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Bagaimana tidak, dalam usiaku yang ke 23, baru rasakan kehangatan serta kesenangan badan wanita.

Pergerakanku ikuti perasaan lelakiku, mulai naik-turun, naik-turun, kadang kala cepat kadang kala lambat, sembari melihat ekspresi muka bu Ita yang merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sembari keluar nada tidak disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya sendiri.
“Ah… uh… eh… hem””
Ketika saya utamakan pinggulku, dia menyongsong dengan menghimpit juga ke atas, agar penisku masuk menghimpit hingga ke basic vaginanya. Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan serta rasa kesenangan jalan merangkak hingga berlari-lari kecil berkejar-kejaran. Di dalam momen itu bu Ita berbisik
“Kamu janganlah sangat keburu nafsu, kelak kamu cepat lelah, enjoy saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, disaat saya mulai menggenjot dengan semangatnya.
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

Lantas saya cuma menggerakkan pinggulku ala takarannya ikuti pergerakan pinggulnya yang cuma kadang-kadang dikerjakan. Nyatanya tipe ini tambah nyaman serta gampang di nikmati. Kadang-kadang ke-2 kakinya diangkat serta hingga diletakkan diatas bahuku, atau selanjutnya di buka lebar-lebar, bahkan juga kadang kala dirapatkan, hingga merasa penisku terjepit ketat serta makin seret. Gerak apa pun yang kami kerjakan berdua membawa resiko kesenangan sendiri. Sesudah lebih dari sepuluh menit, saya nikmati badannya dari atas, dia buat satu pergerakan serta saya tahu tujuannya, dia minta diatas.

Saya tidur terlentang, selanjutnya bu Ita ambil tempat tengkurap di atasku sembari menjadikan satu alat vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali. Ia memasukkan penisku berasa ketat sekali menghujam hingga dalam. Hingga sebagian selagi bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya bergelantungan terlihat indah sekali, kadang kala menyapu wajahku. Saya meremas kuat-kuat bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang. Payudaranya disodorkan kemulutku, segera kudot. Pergerakan wanita memiliki rambut sebahu ini jadi menarik diatas badanku. Kadang seperti orang berenang, atau menari yang berpusat pada pergerakan pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang pergerakan itu terlihat indah di cermin samping ranjang. Badan putih nan indah perempuan 1/2 baya menaiki badan pemuda agak coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

Adegan ini berjalan lebih dari lima belas menit, semakin lama semakin kencang serta cepat, pergerakannya. Nafasnya semakin tidak teratur, sedikit liar. Seperti menguber setoran saja. Tanganku mempererat rangulanku pada pantat serta pinggulnya, sesaat mulutku kadang-kadang mengulum punting susunya. Rasanya enak sekali. Sesudah usaha keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”
“Ah… uh, eh… saya, ke.. luaar.. Ron.. ”, rupanya ia orgasme.
Puncak kenikmatannya dicapainya diatas badanku, nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah rasakan keenakan yang meraih klimaknya. Nafasnya berkejar-kejaran, pergerakannya makin lama berangsur melemah, pada akhirnya diam. Ia jadi lemas di atasku, sembari mengatur nafasnya kembali. Saya mengusap-usap punggung mulusnya. Kadang-kadang ia menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan, perlahan sekali, rasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya. Sebagian menit dia masih tetap menindih saya.

Sesudah sembuh tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap buat saya tembak sekali lagi. Saat ini giliran saya menindihnya, serta mulai melakukan kerjaan seperti barusan. Pergerakan ku lambat juga, dia merangkul saya. Naik turun, keluar masuk. Saat masuk tersebut rasa nikmat mengagumkan, terlebih dia dapat menjepit-jepit, hingga sekian kali. Benar-benar saya nikmati semuanya badan bu Ita. Ruaar umum! Mendadak satu dorongan tenaga yang kuat hingga diujung senjataku, aliran darah, daya serta perasaan terpusat disana, yang menyebabkan kemampuan dahsyat tidak ada tara. Daya itu menekan-nekan serta penuhi lorong-lorong rasa serta perasaan, sama-sama memburu serta kejar-kejaran. Didorong oleh gairah mengagumkan, menyebabkan dampak pergerakan semakin keras serta kuat menekan badan indah, yang menyeimbangi dengan pergerakan gemulai menarik. Pada akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar membawa kesenangan luar biasa”, nada tidak disengaja keluar dari mulut dua insan yang tengah dirundung kesenangan. Air maniku merasa keluar tanpa ada kendali, menyemprot penuhi lubang kesenangan punya bu Ita.
“Ahh… egh… egh… uhh”, nada kami bersaut-sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat semakin seru, diapun semakin merapatkan badannya terlebih di bagian bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semua,
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar sekali lagi, barusan kan telah?! Kok dapat keluar sekali lagi?! ”, tanyaku agak heran.
“Ya, dapat dua kali”, jawabnya sembari tersenyum senang.

Kami berdua berkeringat, meskipun udara diluar dingin. Rasa-rasanya cukup kuras tenaga, seperti habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan jauh, namun saya masihlah dapat rasakan sisa-sisa kesenangan dengan. Selang sebagian menit, sesudah kesenangan berangsur menyusut, serta merasa lembek, saya mencabut senjataku serta berbaring terlentang di sisinya sembari menghela nafas panjang. Senang rasa-rasanya nikmati semua kesenangan badannya. Perempuan miliki bentuk badan indah itupun tampak senang, seolah lepas dari dahaganya, yang tampak dari guratan senyumnya. Saya saksikan selakangannya, ada ceceran air maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan juga ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu begitu menarik, sampai hingga berapakah kali saya menaiki bu Ita, saya lupa. Yang pasti kami beradu nafsu nyaris selama malam serta kurang tidur.

Esok harinya. Busa-busa sabun penuhi bathtub, saya serta bu Ita mandi dengan, kami sama-sama menyabun serta menggosok-gosok, semua sisi-sisi badannya kami susuri, termasuk juga sisi yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga waktu dia menyabun penisku serta mengocok-kocok lembut. Saya puas sekali serta telah barang pasti membawa dampak nikmat.
“Saya heran barang ini semalaman kok tegak selalu, seperti tugu Monas, besar sekali lagi. Ukuran jumbo sekali lagi?! ”, ujarnya sembari menimang-nimang tititku.
“Kan Ibu yang buat begini?! ”, jawabku. Kami tersenyum dengan.

Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti tengah nyapu halaman depan, bila saya keluar tempat tinggal mustahil, dapat ketahuan. Saat baru jam 1/2 enam. Tetapi senjata ini belum turun, mendadak keinginan lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung berdetak semakin kencang. Lagi-lagi saya mendekati janda yang telah kenakan pakaian itu, serta kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karna saya lebih tinggi. Bau aroma semerbak disekujur badannya, rasa-rasanya lebih fresh, setelah mandi. Lantas ku terlepas gaunnya, ku tanggalkan behanya serta kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria serta menuju tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini sama-sama bercumbu, mengulangi kesenangan semalam.

Ia terbaring dengan manisnya, panorama yang indah gabungan pada pinggul depan, pangkal paha, serta rerumputan sedikit di dalam tutup samara-samar huruf “V”, tak ada gumpalan lemaknya. Saya buka dengan lambat ke dua pahanya. Saya ciumi, dimulai dari lutut, selanjutnya merambat ke paha mulusnya. Sesaat tangannya mengurut-urut lembut penisku. Badanku mulai bergetaran, lantas saya buka selakangannya, menyibakkan rerumputan disana. Saya menginginkan lihat dengan terang barang punyanya. Jariku menyentuh benda yang berwarna pink itu, mulai sisi atas membelai-belainya dengan lembut, kadangkala mencubit serta membelai kembali. Bu Ita bergelincangan, tangannya semakin erat memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke lorong, selanjutnya menari-nari disana, seperti malam barusan. Namun bibir, serta terowongan yang didominasi warna pink ini lebih terang, seperti bunga mawar yang merekah. Beberapa waktu saya lakukan permainan ini, serta jadi memahami serta terang benar susunan kewanitaan bu Ita, yang menghebohkan semalam.

Gelora nafsu semakin menggema serta menyebar seantero badan kami, sama-sama mencium serta mencumbu, semakin memanas serta lari kejar-kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir menimpa pantai. Tidak ada kendali yang bisa mengekang dari kami berdua. Terlebih waktu puncak kesenangan mulai terlihat serta mendekat ketat. Sebuah surprise, tanpa ada saya sangka diawalnya penisku yang mulai sejak barusan di urut-urut selanjutnya dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati kepalanya, lantas dimasukkan ke rongga mulutnya. Rasa-rasanya saya di ajak melayang-layang ke angkasa tinggi sekali menuju bulan. Saya jadi kelelahan. Sesi selanjutnya dia ambil tempat tidur terlentang, sesaat saya gunakan kuda-kuda, tengkurap yang bertumpu pada ke dua tangan saya. Saya mulai memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ita yang barusan telah saya “pelajari” bagian-bagiannya dengan cermat itu. Benda ini memanglah rasa-rasanya tidak ada tara, waktu kumasukkan, bukan sekedar saya yang rasakan nikmatnya penetrasi, akan tetapi juga bu Ita rasakan kesenangan yang mengagumkan, tampak dari ekpresi berwajah, serta desahan lembut dari mulutnya.
“Ah”, desahnya tiap-tiap saya menghimpit senjataku ke arah selakangannya, sembari mengutamakan juga pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi samodra birahi yang menarik, pagi itu.

Semua telah usai, saya keluar tempat tinggal sekitaran jam 1/2 delapan, waktu Darti membersihkan di belakang. Dalam perjalanan pulang saya termenung, Begitu peristiwa semalam bisa berjalan demikian cepat, tanpa ada liku-liku, tanpa ada terpikirkan diawalnya. Sebuah wisata sex yang tidak terduga diawalnya. Kesenangan yang kuraih, akhirnya mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat serta mengalir demikian saja, tapi membawa kesenangan yang menghebohkan. Begitu saya dapat rasakan kehangatan badan bu Ita dengan utuh, orang yang sampai kini jadi majikanku. Melihat rona muka bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya dalam ketelanjangannya, tunjukkan kedagaan seseorang wanita yang mebutuhkan belaian serta kehangatan seseorang pria.

Hari bertukar minggu, minggu bertukar bulan, si kumbang muda semakin seringkali mendatangi bunga untuk menghisap madu. Serta bunga itu masihlah fresh saja, bahkan juga rasa-rasanya semakin fresh menggairahkan. Memanglah bunga itu masihlah mekar serta belum layu, atau memanglah tidak ingin layu.

Bunga99.com Agen Bola Online BandarQ Poker Domino99 Togel Casino Terpercaya
BungaQQ Situs Domino99 BandarQ Dan Poker Online Terpercaya 2017
KepoQQ Situs BandarQ Domino99 AduQ Poker Online Terpercaya
7 Situs BandarQ AduQ DominoQQ Online Terpercaya 2017
Situs BandarQ Poker Domino Online Terpercaya Terbaik 2017
Agen Situs Poker BandarQ Online Terpercaya Terbaik Tahun Ini

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *