Bunga99 agen bola online
Ngentot dengan Guru Bahasa Inggris

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Ngentot dengan Guru Bahasa Inggris

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirNgentot dengan Guru Bahasa Inggris – Searah dengan saat, saat ini saya dapat kuliah di kampus hasratku. Namaku Jack, saat ini saya tinggal di Yogyakarta dengan sarana yang begitu sangat baik. Kupikir saya cukup mujur dapat bekerja sembari kuliah hingga saya memiliki pendapatan tinggi.

Ngentot dengan Guru Bahasa Inggris

Bermula dari reuni SMA-ku di Jakarta. Kemudian saya bersua dengan guru bhs inggrisku, kami bercakap dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih tetap fresh bugar serta sangat menggairahkan. Penampilannya sangat menarik, menggunakan rok mini yang ketat, kaos top tank hingga lekuk badannya kelihatan sangat terang. Jelas saja dia masih tetap muda sebab pas saya SMA dahulu dia yaitu guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu hanya terbagi dalam dua kelas, umumnya siswanya yaitu wanita. Cukup lama saya bercakap dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar saat jalan secepatnya hingga banyak undangan mesti pulang. Lantas kami juga jalan munuju ke pintu gerbang sembari menyusuri ruangan kelas tempatku belajar saat SMA dahulu.

Mendadak Ibu Shinta teringat kalau tasnya ketinggalan didalam kelas sehinga kami sangat terpaksa kembali pada kelas. Saat itu lebih kurang nyaris jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di dalam lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta juga ambil tasnya lalu saya teringat juga akan waktu dulu bagaimana rasa-rasanya di kelas dengan rekan-rekan. Lamunanku buyar kala Ibu Shinta menyebutku.

“Kenapa Jack”
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebenarnya situasi hening serta sangat merinding itu buat keinginanku naik-turun terlebih ada Ibu Shinta di sampingku, buat jantungku senantiasa berdebar-debar).
“Ayo Jack kita pulang, kelak Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Jack”.

Tanpa ada berniat saya mengungkapkan isi hatiku pada Ibu Shinta kalau saya gemar padanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata kondisi berkata beda, Ibu Shinta terdiam saja serta segera keluar dari ruangan kelas. Saya cemas serta mengupayakan mohon maaf. Ibu Shinta nyatanya telah cerai dengan suaminya yang bule itu, tuturnya suaminya pulang ke negaranya. Saya tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sesaat dimuka kantornya lantas Ibu Shinta keluarkan kunci serta masuk ke kantornya, kupikir utk apa masuk kedalam kantornya malam-malam begini. Saya makin penasaran lantas masuk serta punya maksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menampik. Saya berasa tidak enak lantas menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, secepatnya Ibu Shinta akan menampik akan tetapi ada peristiwa yang tidak terduga, Ibu Shinta menciumku serta saya juga membalasnya.

Ohh.., alangkah sukanya saya ini, lantas secepatnya saya menciumnya dengan semua kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tidak ingin kalah, ia menciumku dengan keinginan yang begitu besar menginginkan kehangatan dari seseorang pria. Dengan berniat saya menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah hingga ciuman kami jadi bertambah panas lalu berlangsung pergumulan yang begitu seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku hingga saya begitu terangsang. Lantas saya memohon Ibu Shinta buka pakaiannya, satu persatu kancing pakaiannya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh keinginan. Ternyata kiraanku salah, dadanya yang kusangka kecil nyatanya sangat besar serta indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang stylenya sangat seksi.

Karena tidak sabar jadi kucium lehernya serta saat ini Ibu Shinta 1/2 telanjang, saya tidak ingin segera menelanjanginya, hingga perlahan kunikmati keindahan badannya. Saya juga buka baju hingga tubuhku yang tegap serta atletis menghidupkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu ingin bercinta denganmu saat ini.., Jack, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan nada agak bergetar, mungkin saja menahan birahinya yang mulai naik.

Tanpa ada diminta 2 x, secepat kilat saya selekasnya tutup pintu depan. Pasti supaya kondisi aman serta teratasi. Kemudian saya kembali pada Ibu Shinta. Saat ini saya jongkok di depannya. Mengungkap rok mininya serta merenggangkan ke-2 kakinya. Wuih, begitu mulus ke-2 pahanya. Pangkalnya kelihatan menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang sangat minim. Sembari mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya serta klitorisnya yang besar. Lidahku semakin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sembari mendesah halus. Pada akhirnya jilatanku hingga di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sembari memegangi kapalaku erat-erat.
“Ooo… oh.. oh.. ”, desis Ibu Shinta keenakan kala lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan walau masih tetap dibatasi celana dalam.

Serangan juga kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Saat ini fitur rahasia kepunyaannya ada dimuka mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai sama kiraanku. Di sekitarnya ditumbuhi rambut yg tidak sangat lebat. Lidahku lalu bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk kedalam dengan beberapa gerakan melingkar yang buat Ibu Shinta semakin keenakan, hingga mesti mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pandai sekali. Belajar dari tempat mana hh…”

Tanpa ada sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lantas tangannya menyentuh celanaku yang menonjol karena batang kemaluanku yang ereksi maksimum, meremas-remasnya sebagian waktu. Begitu lembut ciumannya, walau masih tetap polos. Saya selekasnya menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti akan tersendak. Semula Ibu Shinta seperti juga akan memberontak serta membiarkan diri, tapi tidak kubiarkan. Mulutku seperti menempel di mulutnya. “Uh anda pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu? ”, tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara serta mulai liar. Saya tidak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke-2 payudaranya yang kelihatan menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Saat ini dia telanjang dada. Tidak senang, selekasnya kupelorotkan rok mininya. Nah saat ini dia telanjang bulat. Begitu bagus badannya. Padat, kencang serta putih mulus.

“Nggak adil. Anda harus telanjang.. ” Ibu Shinta juga menanggalkan kaos, celanaku, serta paling akhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh selekasnya diremas-remasnya. Tanpa ada dikomando kami rebah diatas ranjang, berguling-guling, sama-sama menindih. Saya menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kesenangan kepunyaannya. Tanpa ada ampun sekali lagi mulut serta lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai keluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Nyaris lima menit kami nikmati permainan itu. Setelah itu saya merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong.. ” Tanpa ada tunggu jawabannya selekasnya kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesusahan, akan tetapi lama-lama dia dapat beradaptasi hingga tidak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru di situ enaknya.., Sampai kini sama suami main seksnya bagaimana? ”, tanyaku sembari menciumi payudaranya. Ibu Shinta tidak menjawab. Dia jadi mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku juga dengan bertukaran memainkan ke-2 payudaranya yang kenyal serta selangkangannya yang mulai basah. Saya tahu, wanita itu telah kepengin disetubuhi. Namun saya berniat membiarkan dia jadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama saya tidak tahan juga, batang kemaluanku juga telah menginginkan selekasnya menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan saya mengarahkan barangku yang kaku serta keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan badan Ibu Shinta agak gemetar. “Ohh…”, desahnya kala sedikit untuk sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah semua barangku masuk, saya selekasnya bergoyang naik turun diatas badannya. Saya semakin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan dan ke-2 payudaranya yang turut bergoyang-goyang.

Tiga menit sehabis kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan ke-2 kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Nampaknya dia juga akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan badan menggelinjang menahan kesenangan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian waktu. Kuciumi pipi, dahi, serta semua berwajah yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging diatas meja.., saat ini kita main dong diatas meja ok! ” Saya mengatur tubuhnya serta Ibu Shinta menurut. Dia saat ini bertumpu pada siku serta kakinya. “Gaya apa sekali lagi ini? ”, tanyanya.

Setelah siap saya juga mulai menggenjot serta menggoyang badannya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit serta mendesah rasakan kesenangan yang tidak ada taranya, yang mungkin saja sampai kini belum juga sempat dia peroleh dari suaminya. Setelah dia orgasme hingga 2 x, kami istirahat.
“Capek? ”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Hingga ingin remuk tulang-tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu.. ”, jawabku sembari kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Ya deh apabila lelah. Tapi tolong lagi, saya pengin masuk supaya spermaku keluar. Nih telah tidak tahan sekali lagi batang kemaluanku. Saat ini Ibu Shinta yang di atas”, kataku sembari mengatur urutannya.

Saya terletang serta dia menempati pinggangku. Tangannya kubimbing supaya memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk badannya kunaik-turunkan selaras genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak ikuti irama goyanganku yang semakin lama semakin cepat. Payudaranya yang turut bergoyang-goyang menaikkan gairah nafsuku. Terlebih disertai dengan lenguhan serta jeritannya waktu mendekati orgasme. Ketika dia meraih orgasme saya belum juga apa-apa. Urutannya selekasnya kuubah ke tipe konvensional. Ibu Shinta kurebahkan serta saya menembaknya dari atas. Mendekati klimaks saya menaikkan frekwensi serta kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., saya ingin keluar nih ahh.. ” Tidak lama lalu spermaku muncrat didalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta lalu menyusul meraih klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya sangat hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam urutan santai sesuai sama itu.

Kami berpelukan, berciuman, serta sama-sama meremas sekali lagi. Seperti tidak puas-puas rasakan kesenangan beruntun yang barusan kami rasakan. Kemudian kami bangun pada pagi hari, kami pergi mencari sarapan serta terlibat percakapan kembali. Ibu Shinta mesti pergi mengajar hari itu serta sorenya baru dapat kujemput.

Sore sudah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall serta kami juga beranjak pulang menuju tempat parkir. Ditempat parkir tersebut kami beraksi kembali, saya mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sembari pejamkan mata, serta tanganku juga mulai meremas ke-2 buah dadanya. Nafas Ibu Shinta semakin terengah, serta tanganku juga masuk diantara ke-2 pahanya. Celana dalamnya telah basah, serta jariku mengelus belahan yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh.. ”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku telah tiba ke ubun-ubun serta saya juga buka dengan paksa baju serta rok mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan urutan yang menantang di jok belakang dengan menggunakan BH merah serta CD merah. Saya selekasnya mencium puting susunya yang besar serta masih tetap terbungkus dengan BH-nya yang seksi, bertukar-ganti kiri serta kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus area belakang kepalaku serta erangannya yang tersendat membuatku semakin tidak sabar. Saya menarik terlepas celana dalamnya, serta nampaklah bukit kemaluannya. Akupun selekasnya membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh.. ”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku serta pinggulnya bergetar kala bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berganti ke perutnya serta menjilatinya dengan perlahan-lahan.

“Ooohh.., aduuuhh.. ”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya kala lidahku menyelusup diantara belahan kemaluannya yang masih tetap sangat rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah serta bibir kemaluannya mulai buka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang buat badan Ibu Shinta terlonjak serta nafas Ibu Shinta seolah tersendak. Tanganku naik ke dadanya serta meremas ke-2 bukit dadanya. Putingnya menjadi membesar serta mengeras. Ketika saya berhenti menjilat serta mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa saya buka semuanya kemejaku, serta kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm.. ”. Ketika Ibu Shinta buka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, saat ini iapun mulai menyedot. Tanganku bertukaran meremas dadanya serta membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Shinta selalu menghisap batang kemaluanku sembari tangannya menyeka liang kenikmatannya yang sudah banjir lantaran terangsang melihat batang kemaluanku yang sangat besar serta perkasa baginya. Nyaris 20 menit dia mengisap batang kemaluanku serta tidak lama merasa sekali suatu hal di dalamnya menginginkan meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia paham apabila saya ingin keluar, jadi dia menguatkan hisapannya serta sembari menghimpit liang kenikmatannya, saya saksikan dia mengejang serta matanya terpejam, kemarin.., “Creet.., suuurr.., ssuuur.. ”

“Oughh.., Jack.., nikmat.. ”, erangnya tertahan lantaran mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Serta lantaran hisapannya terlampau kuat pada akhirnya saya juga tidak kuat menahan ledakan serta sembari kutahan kepalanya, kusemburkan maniku kedalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot.. ”, banyak maniku yang tumpah didalam mulutnya.

“Aaahkk.., ooough”, ujarku senang. Saya masih tetap belum juga berasa lemas serta masih tetap dapat sekali lagi, akupun naik ke atas badan Ibu Shinta serta bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku berada di mulut Ibu Shinta serta aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar waktu lidah kami sama-sama membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, serta sebentar lalu kurasakan tangan Ibu Shinta menghimpit pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan-lahan kemaluanku mulai menyusup masuk ke liang kemaluannya serta Ibu Shinta makin mendesah-desah. Selekasnya saja kepala kemaluanku merasa tertahan oleh suatu hal yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Saya menghimpit lebih dalam sekali lagi serta mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., selalu.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack”

Saya merangkulkan ke dua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lantas membalikkan ke dua badan kami hingga Ibu Shinta saat ini duduk diatas pinggulku. Terlihat kemaluanku menancap sampai pangkal di kemaluannya. Tanpa ada butuh diajari, Ibu Shinta selekasnya menggerakkan pinggulnya, sesaat jari-jariku berubahan meremas serta menggosok-gosok payudaranya, klitoris serta pinggulnya, serta kamipun berlomba menggapai puncak.

Lewat sekian waktu, pergerakan pinggul Ibu Shinta tambah menggila serta iapun membungkukkan badannya dengan bibir kami sama sama melumat. Tangannya menjambak rambutku, serta pada akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Merasa cairan hangat membalur semua batang kemaluanku. Sesudah badan Ibu Shinta melemas, saya mendorongnya sampai kepandaianng, serta sembari menindihnya, saya menguber puncak orgasmeku sendiri. Ketika saya menggapai klimaks, Ibu Shinta semestinya rasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, serta iapun mengeluh lemas serta rasakan orgasmenya yang ke dua. Demikian lama kami diam terengah-engah, serta badan kami yang basah kuyup dengan keringat masih tetap sama sama bergerak bergesekan, rasakan sisa-sisa kesenangan orgasme.

Baca Juga : Cerita Pemerkosaan

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *