Bunga99 agen bola online
Party Sex Dengan 3 Gadis Desa

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Party Sex Dengan 3 Gadis Desa

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirParty Sex Dengan 3 Gadis Desa – Cenit bersangga pada dinding, gadis itu duduk sembari memeluk ke-2 lututnya. 1/2 baju atasnya masih tetap rapi tapi semua rok serta celananya telah terbuka. Memperlihatkan ke-2 paha yang putih mulus serta montok. Sesaat tumpukan daging putih kemerahan menyembul di sela rambut-rambut hitam yang terlihat baru dicukur.

Party Sex Dengan 3 Gadis Desa

Sedikit tengadah serta dengan tatapan mata sendu ia berujar lirih…

“Masukkanlah, Kak! Saya juga menginginkan menikmatinya…. ”

Saya cuma terdiam.. kami saling telah buka baju sisi bawah, sebagian menit lalu kami bergelut dipojok area itu. Dengan penuh nafsu ku tekankan badanku ke badan gadis itu. Ia membalas dengan merengkuh leherku serta menciuminya penuh nafsu.
Badannya merasa panas serta membara oleh gairah, bertubi-tubi kuciumi leher, pundak serta buah dadanya yang kenyal serta besar itu. Ia cuma melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Tiap-tiap remasan serta kuluman… disertai dengan erangan penuh kesenangan.

Tanpa ada kusuruh ia buka beberapa kancing pakaiannya. Memperlihatkan onggokan buah dada yang membulat serta putih. Tanpa ada buka tali beha ia keluarkan buah dadanya itu serta mengasongkannya ke mulutku.

Dengan rakus kukulum buah dada besar Cenit sepenuh mulutku. Ia mengerang pada sakit serta enak. Nafasku pum makin tersendat, hidungku sekian kali tenggelam ke bulatan kenyal serta hangat itu.

Puncak dadanya basah oleh air liurku yang meluap lantaran nafsu. Licin serta agak sulit mencapai puting susunya yang mungil kemerahan itu. Terang sekali kulihat sistem peregangannya. Semula puting susu itu tenggelam, tetapi dalam waktu relatif cepat saja dia keluar menonjol serta mengeras.

Cenit tahu sulit mengulumnya tanpa ada memegang lantaran saya mencengkram erat leher serta pinggang gadis itu. Tanpa ada menanti saat ia memegangi buah dadanya serta mengarahkan putingnya ke mulutku.

Saya juga mengulumnya seperti bayi yang kehausan. Mengulum serta menyedot hingga terdengar berbunyi mendecap-decap. Kulihat gadis itu, dalam sayu matanya rasakan kesenangan, bibirnya tersungging senyuman serta tawa kecil. ‘Gigit sedikit, Kak. ’ pintanya padaku.

Saya menuruti kemauannya, dengan gigiku kugigit sedikit puting susunya. ‘Aih…. ’ Jeritnya lirih sembari menggigit bibir. Barangkali ia tengah rasakan sensasi rangsangan nikmat mengagumkan dibagian itu. Kurasakan badannya melunglai menahan nikmat.

Lalu badan kami sama-sama mendekap makin rapat. Gairah serta rangsangan nikmat menyebar serta memompa alirah darah makin kencang. Dengan instingah saya menyelusuri badan sintal Cenit.

Mulai dari leher, senantiasa ke punggung, meremas daging hangat di pinggul… senantiasa ke sisi bawah. Pada akhirnya menyelip diantara paha. Gadis itu buka pahanya sedikit, mengizinkan tanganku menggerayangi daerah itu.

Dalam pelukan erat, tanganku coba masuk… ehm.. sisi itu merasa hangat serta basah. Cenit menggeser pantatnya sedikit. Ke-2 matanya memejam sambil menggigit bibir, desah-desah halus keluar tidak tertahankan. Detak jantungku makin kencang saat kubayangkakn apa yang berlangsung di’sana’.

Gadisku menggelinjang, nafasnya kadangkala tertahan, kadangkala ia seperti menerawang, apa yang dia berharap? Saya tahu, dia ingin itu, dia mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, supaya sisi itu lebih tersentuh oleh jemariku.
Dengan penuh pengertian saya juga turun… dari leher… buah dada.. wajahku terbawa ke bawah, nikmati tiap-tiap lekuk liku badannya yang hangat. Tiap-tiap sentuhan serta gesekan menyebabkan rintihan lirih dari mulutnya. Berwajah menengadah, matanya 1/2 terpejam, bibir agak terbuka, serta sedikit air liur menetes dari satu diantara sudutnya.

“Teruskan, kak… janganlah hentikan..! ” pintanya. “Puaskan aku….? ” tuturnya sekali lagi tanpa ada rasa sungkan. Yah, tidak ada rahasia diantara kami. Apa yang dia kehendaki untuk memuaskan keinginannya, tentunya dia minta, setiap saat kami bersua. Demikian halnya aku… bila sekali lagi pingin, dia tentunya kasih.

Perlahan-lahan saya menyusuri badannya ke sisi bawah. Saat ini saya telah diatas perutnya yang mulus. Saya bermain-main sebentar disana. semua badan Cenit amat menggairahkan. Tidak ada lekuk badannya yg tidak indah. Saya begitu nikmati semua.

Mendadak Cenit memegang kepalaku, meremas sedikit rambutku serta mendorong kepalaku ke bawah. “Ayo, Kak, telah tidak tahan nih..! Janganlah di situ saja dong…. Aih.. ” Saya menurut…. Dahulu saya katakan saya menginginkan rasakan serta menjilati kemaluannya, dia katakan hal tersebut menjijikkan. Dalam situasi terangsang dia begitu menginginkanya.
Sesampai dibagian itu… saya terpana melihat panorama indah terbentang pas di muka mataku. Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di celah-celahnya …

Sisi itu, bibir kemaluan Cenit yang merah serta basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan ke-2 jari telunjuk ku buka celah itu lebih lebar… Klentitnya menyembul… terlihat berkedut lantaran rangsangan nikmat tidak terkira.

Berulang-kali ia berkedut… tiap-tiap denyutan ikuti dengan nafas serta rintih tertahan gadis itu. Saya melihat ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya makin mengeras. Nafasnya terengah-engah, buah dada Cenit yang putih itu terlihat naik turun secara cepat. Kulihat sekali lagi kemaluan gadisku itu… makin merah serta merekah. Kubuka sekali lagi dengan dua telunjukku… cairahn kental juga mengalir deras. Meluap serta merembes hingga ke sela paha, sama seperti orang yang tengah ngiler.
Cairan itu senantiasa mengalir perlahan… hingga ke arah anus. Lalu perlahan-lahan berkumpul serta pada akhirnya menitik ke lantai. Makin lama makin banyak titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar itu.

Terasa ia merenggut rambutku… serta mengedepankan kepalaku ke arah vaginanya yang tengah terangsang itu. Saya juga makin bernafsu…. Dengan penuh semangat saya juga mulai mengulum serta menjilati semua pojok kemaluan Cenit…

“Ahh…. Ahhhh… sangatlah nikmat, Kak! ” Cenit merintih, badannya menegang, cengkramannya di kepalaku makin kuat. Pahanya mengempot menghimpit ke arah mukaku, sesaat kemaluannya makin merah serta penuh dengan lendir yang begitu licin.

Saya juga makin dalam menusuk-nusukkan lidahku ke liang senggamanya. Sekian kali klentitnya tersentuh oleh ujung gigiku, tiap-tiap sentuhan berikan dampak yang hebat. Gadis itu melolong menahan nikmat… saya senantiasa menyelusuri sisi terdalam vaginanya. Oh… hangat serta sangat-sangat basah. Tidak dapat kubayangkan kesenangan apa yang dirasakannya sekarang ini. kemungkinan sama enaknya dengan rangsangan yang kuperoleh dari kemaluanku yang telah mengeras dari sejak barusan.

Rasanya begitu nikmat serta tergelitik khususnya dibagian pangkal… berasa menginginkan saya melepas nikmat di kala itu juga. Tapi saya mesti selesaikan permainan awal ini dahulu, gadis ini minta untuk selekasnya di selesaikan.

Makin saya memainkan kemaluannya, makin ia mengempot serta mengedepankan kepalaku ke arahnya. Sesekali saya menengadah memandang berwajah yang merah. Terlihat ia menghapus air liurnya yang mengucur dengan lidahnya yang merah itu.
Mendadak ia tertawa mengikik… seperti ada yang lucu. Ia menyeka wajahku yang bergelimang cairan vaginanya. Sembari memandangku penuh pengertian. “Lagi, Kak” pintanya.

Saya mengulangi sekali lagi aktivitas itu, ia juga kembali merintih-rintih menahan rangsangan hebat itu di kemaluannya. Sekian kali klentit itu kusentuh dengan ujung gigi….
Tiba waktunya, dia telah tiba mendekati puncak. Nafas makin memburu serta badannya menegang hebat sekian kali. Tanpa ada sungkan sekali lagi, ia keluarkan lolongan penuh kesenangan saat rasa enak itu tiba…

“Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya terlepas. “Enak sekali…”

Pantatnya mengempot ke depan tiap-tiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… serta tiap-tiap denyutan disertai dengan keluarnya cairan yang semakin banyak sekali lagi. Sebagian cairan itu seperti menyembur dari liang senggamanya, saya mundur sebentar, lihat bagaimana memiliki bentuk vagina yang tengah alami orgasme.
Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan juga membanjir hingga ke ke-2 pahanya….. mengalir dengan ada banyak hingga ke mata kaki… Saya juga tidak tahan lihat situasi itu, cepat saya berdiri… mengasongkan kemaluanku yang telah tegang itu ke arahnya.

Ia memelukku, merasa badannya bersimbah peluh, berwajah yang memerah lantaran baru melepas nikmat itu disusupkannya ke leherku. Memelukku makin kuat…

“Puaskanlah dirimu, Kak! ”

Saya juga mendekap badan sintal itu makin erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluanku. Terasa makin menegang serta mengeras…. Tapi saya menginginkan rasakan sensasi yang beda.

Kuturunkan kepala gadis itu ke sisi itu. Ia menurut, perlahan-lahan ia menyusuri badanku dari dada senantiasa turun ke bawah. Seperti yang kulakukan barusan, mulutnya menciumi perutku serta senantiasa turun… sesampai dibagian itu ia memandangi penis yang sampai kini selamanya dia sukai.

Ia menengadah.. memandangku dengan senyuman nakal…. “Besar sekali punyamu, Kak! Ini untukku untuk selama-lamanya, ” tuturnya sembari mengelus serta mulai meremas pangkalnya. Saya terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluanku dengan penuh cinta.

“Nikmatilah, Kak! Saya menginginkan anda nikmati serta rasakan kesenangan seperti yang saya rasakan, anda milikku, tidak bisa untuk orang lain…. ” Saya mengangguk sembari tersenyum, wanita bila telah cinta serta menginginkan tentunya ingin lakukan apa sajakah.
Perlahan-lahan ia mulai mengocok pengkal kemaluanku… kadangkala ia mengecup sisi kepalanya yang seperti topi baja itu. Lembut serta penuh kasih sayang. Sekian kali juga ia melekatkannya di pipi sembari matanya terpejam.

“Ohh.. berikut yang saya inginkan sampai kini. Milikku punya kekasihku yang perkasa…”

Lalu ia tingkatkan kocokannya, ke-2 jemari tangan menggenggam serta meremas-remas menyebabkan rasa geli mengagumkan. Kemaluanku makin menegang menahan nikmat.. keras serta enak.

Gadis itu begitu lihai mempermainkan jemarinya, seakan dia ikut rasakan apa yang kurasakan. Sembari senantiasa jongkok serta menciumi pangkal kemaluanku jemarinya senantiasa juga digesekkannya.

Akhirny saya juga tidak tahan lagi… saya merenggut rambut di kepalanya, badanku juga menegang. Saya mendorong pantatku ke depan, pahaku mengejang menahan suatu hal yang akan kukeluarkan.

“Cenit…” kataku sembari mencengkram rambutnya. Ia menatapku, berwajah pas di ujung kemaluanku yang tengah dicengkeramnya. Gadis itu tersenyum kecil…. Dia bahagia menatapku yang tengah dalam puncak nikmat.

Jadi, sembari 1/2 terpejam, saya juga keluarkan semuanya, kemaluanku meledak dalam genggaman tangan Cenit, menyemburkan air manikyang begitu banyak, tentang semua muka gadis itu. Beberapa ada yang menyembur serta terkena ke rambutnya. Kelopak mata gadis itu berkedip menahan serangan air mani yang mendarat di wajahnya…

“Hhhh…hhhh. hh, ” perlahan-lahan nafasku mulai teratur… puncak itu telah tiba, nikmat tidak terlukiskan kalimat.

Cenit bangkit berdiri serta menuju sudut ruang. Paha serta pantat mulusnya terlihat gemulai waktu ia mengambil langkah. Gadis itu ambil baju, mengusapkannya di muka yang penuh cairan mani. Melihat ke arahku sembari tersenyum, lalu jalan ke arahku. Melebarkan ke dua tangan, memelukku serta tempelkan pipinya di pipiku.

“Enak ya, Kak”

Saya mengangguk, memeluk badan yang masihlah bersimbah peluh itu. Melihat matanya lekat-lekat. Ia membalas tatapanku, “Aku begitu mencintaimu, Kak. Kaulah milikku serta milikilah saya selamanya…”

Tak tahu berapakah lama kami berpelukan sembari berdiri.

Ketika angin berdesir lewat kisi-kisi jendela, merasa seluruhnya telah mengendur. Jiwa serta raga telah terpuaskan. Saat ini saatnya membereskan busana, duduk mengobrol di area tamu. Sebentar sekali lagi rekan-rekan kost kekasihku mau pulang. Kami mau mengobrol di area tamu, bercanda, seperti tak ada peristiwa apa-pun terlebih dulu.

Mendadak gadis itu berdiri seperti tersentak kaget. Ia memandangku sembari tersenyum kecil. Saya tidak sadar waktu ia menunjuk dengan pojok matanya ke arah lantai. Ha ha ha… nyaris lupa, cairan itu masihlah berserak di lantai. Buru-buru ia pergi ke belakang serta kembali dengan secarik kain. Perlahan-lahan dia lap lendir-lendir itu dengan kain barusan.

“Ini punyaku…” tukasnya sembari menunjuk setitik cairan. “Dan ini punyamu, Kak! ” hehe saya tersenyum. “Dari mana anda membedakan keduanya? ” tanyaku sembari ambil sebatang rokok.

Seraya bangkit serta tertawa… “Punya wanita serta lelaki terang lain. Punyaku lebih bening…”

“Tapi punyaku lebih enak kan? ” kataku bercanda.

“Iya dong sayang…. ” tukasnya seraya menghampiriku serta menyeka wajahku penuh kasih serta sayang. “lain kali kita masukin ya. Kak. Saya menginginkan lebih menikmatinya.. ” bisik gadis itu, “Aku ikhlas untuk Kakak…” bisiknya sekali lagi di telingaku. Ia melingkarkan tangannya di leherku, saya juga memeluk badan sintal serta bermandi peluh itu lebih erat.

Malam belum juga saat larut waktu saya serta Liani tengah asik bercinta di area tamu tempat tinggal kostnya. Badan montok gadis itu terbaring pasrah diatas dipan simpel yang terdapat di salah satunya pojok ruang. Sejak dari barusan punyaku keluar masuk menyelusuri semua lipatan kemaluan gadis itu.

Berulang-kali gadis itu menggeram menahan rasa. Lipatan basah serta hangat itu merasa kadang-kadang menyempit. Dia benar-benar menikmatinya gesekan-gesekan itu, saya juga. Yang hebatnya, gadis satu ini kelihatannya tdk membutuhkan foreplay. Kami segera mengerjakannya saat saja. Cukup dengan tatapan mata, kami telah mengetahui apa yang kami hendaki, kenikmatan pada malam yang basah oleh rintik hujan ini.

Jam delapan malam saya ada janji dengan Cenit kekasihku untuk berjumpa dirumah kost spesial putri ini. Walau sebenarnya ini malam bukanlah malam minggu seperti umumnya kami berjumpa. Tapi dia sms saya minta ketemuan, ada yang terutama tukasnya. Saya memahami yang terutama apa itu.

Yang saya tdk sadar waktu saya tiba dirumah kost itu, nyatanya dia tak ada. Liani rekan sekost nya yang menyambutku. Dia suruh saya masuk serta waktu kutanyakan kemana Cenit, dia menyebutkan tengah keluar sebentar, ada butuh serta dia pergi dengan Rinay kawan sekampungnya. Dia menyebutkan, kata Liani, suruh tunggulah saja tidak mau lama kok. Liani, gadis beda desa yang bertubuh tinggi semampai berkulit putih serta memiliki rambut panjang itu menyuruhku duduk.

Tidak lama dia pergi ke belakang, ingin buat minum tukasnya. Saya manut saja seraya ambil sebatang rokok. Diam-diam kerhatikan badan gadis itu dari belakang waktu berlalu. Cukup lumayan, tinggi serta lumayan montok. Terlebih ini malam dia cuma memakai sehelai baju tidur hanya lutut tanpa ada lengan. Memperlihatkan gumapalan-gumpalan indah ciri khas gadis desa yang punya kebiasaan bekerja cukup keras.

Tidak merasa saya menghela nafas sembari melihat panorama badan Liani yang gemulai menuju ke area belakang yang agak gelap itu. Pantatnya lumayan besar serta diisi, sesaat ke dua betis terlihat putih mulus dengan tumitnya yang kemerahan. Kalau tdk ingat Cenit kekasihku, mungkin saja gadis ini juga telah kupacari, tapi tukasnya dia telah mempunyai pacar, tak tahu siapa saya belum juga sempat ketemu dengan lelaki yang tukasnya jadi pacarnya itu.

Tidak lama lalu gadis itu kembali sembari membawa nampan dengan satu gelas air putih. “Maaf, Bang, hanya ini yang saya siapkan, ” tukasnya sembari 1/2 embungkuk menempatkan gelas itu di meja dihadapanku.

Tanpa ada sadar belahan dada gaun tidur gadis itu agak bergeser, memperlihatkan dua bulatan putih yang harus merasuk ke mataku. Kuakui badannya begitu sintal. Walaupunpun tinggi semampai, badan itu terlihat padat serta diisi. Buah dadanya terlihat menantang ketika ia berdiri.

Liani mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depanku. Bibirnya tersenyum. “Ada butuh apa, Bang? Kok tumben tidak malam mingguan kesininya? ” tanyanya sembari mengatur rambutnya yang indah itu. Ia menatapku dari pojok matanya.

Gadis yang satu ini memanglah menyebutku dengan sebutan ‘Bang’, tdk seperti yang beda menyebutku’Kakak’. Aduhai badanmu Liani begitu sintal serta lagak lagumu ini malam seperti bukanlah pada orang-orang saja.

Gadis itu duduk dengan santainya di depanku sambil memegangi nampan di perutnya. Tidak ada canggung sedikit juga waktu mengangkat ke dua kakinya serta membiarkan gaunnya yang selutut itu tertarik hingga ke batas paha. Saya menelan air liur ku sendiri. Dirumah kost yang sepi ini cuma kami berdua sesaat Cenit serta Rinay tak tahu ke mana….

“Masih lama mereka kembali, Liani? ” tanyaku asal saja sembari mendapatkan gelas minumku. Gadis itu menatapku lurus-lurus di mataku. Tak tahu apa yang ada pada benaknya ini malam. “Entah. ” Katanya sembari menggeliat, melebarkan tangannya, ke dua pangkal lengannya terangkat ke atas memperlihatkan ketiaknya yang bersih.

“Mungkin dua puluh menit atau 1/2 jam sekali lagi mereka kembali. Katanya ada butuh, Bang. ” Gadis itu menguap dengan nikmatnya di depanku. Lalu ia menengadah memperlihatkan lehernya yang putih mulus itu. Hmm.. gadis ini agak-agak serupa Chinese walaupun sejujurnya bukanlah. Tapi selalu jelas saya cukup tertarik dengan kesintalannya.

“Kenapa gitu, Bang? Bosen ya… Tidak sabar menginginkan cepat ketemu. ”

“Tahu saja perasaan orang…” jawabku sembari tertawa kecil.

“Hmm… tahu dong. Tidak sabar pengen… ”

“Pengen apa, hayo! ”

“Pengen … ‘itu’ ya… ” tukasnya nakal sembari terkekeh.

“Itu apa? Itu … seandainya itu anda juga mempunyai kan? ” kataku agak sembrono. Gadis itu
membereskan tempat duduknya agak cepat. Tapi lalu dia enjoy sekali lagi sembari selalu menggeliat, seakan ada kepenatan yang akan dilepaskan dari badannya itu. Dua gundukan dada itu menyembul dari balik gaun tidurnya yang berwarna biru itu. Terlihat tali behanya yang berwarna hitam.

“Ngeliatin apa sich? ” tukasnya sembari melakukan perbaikan tali kutang yang agak bergeser di bahunya. “Nggak. ” Jawabku sekenanya. Ku saksikan ia menatapku tajam. Saya balas memandang. Berwajah terlihat memerah. Saya menahan nafas. Apa rasa-rasanya gadis ini? apa bedanya dengan Cenit kekasihku?

Fikiran-pikiran itu berkelebat cepat saat saja. Seakan dunia telah jungkir balik. Tidak ingat sekali lagi dengan Cenit, dengan Rinay rekannya yang mungkin mau pulang. Saya juga bangkit, mendapatkan tangan gadis itu. Liani diam saja, tapi dia tersenyum sembari tertawa sedikit.

“Nggak ada saat, Kak…” tukasnya perlahan tapi membalas remasan tanganku. Kuselipkan jemariku di jemarinya, dia membalas. Matanya menatapku seakan menyampaikan, seandainya menginginkan mengerjakannya kerjakanlah saat ini juga mumpung Cenit serta Rinay belum juga pulang. Dan itu tidak jadi masalah apakah mereka mau tahu atau tdk, saya pintar melindungi rahasia.

Bisikan-bisikan itu mengiang di telingaku makin buat gairahku bangkit. Terlebih jikalau kulihat badan Liani yang montok serta dadanya yang naik turun menahan nafas yang mulai terengah.

Makin lama remasan makin erat. Badan kami makin merapat serta merasa badan gadis itu memanas. Tak tahu oleh nafsu tak tahu oleh nafsu yang tertahan. Tidak, saya akan tidak menyia-nyiakan kehangatan yang disuguhi gadis ini, walau bukanlah kekasihku, tapi… perselingkuhan senantiasa merasa nikmat.

Dia memanglah lebih dari setahun lebih tua dari gadisku, relatif lebih dewasa, tapi tidak kusangka dia menaruh kehangatan serta nafsu memadu cinta yang saat terpendam serta panasnya memancar di ini malam.

“Kak… di dipan itu saja, yuk. ” Ajaknya. Senyumannya dari berwajah yang memerah terlihat agak genit. Saya sepakat, walaupun juga hanya dipan beralas kasur tidak tebal jadilah. Yang terutama saya dapat nikmati badannya ini malam.

Jadi, seperti orang kesetanan sembari berpeluk erat kami mengambil langkah ke arah dipan. Di tepi dipan ia membebaskan pelukanku, serta perlahan-lahan tapi tentunya turunkan gaun tidurnya.

Saya cuma dapat melihat kagum pada badannya yang putih mulus serta penuh padat diisi itu. Sesaat turunkan celana dalamnya ia memandangku sambil memandang ke arah bawah. Oh, saya belum juga buka celana panjangku, sangat kagum pada kemolekannya….

Tidak lama lalu kami telah berpelukan nyaris tanpa ada baju. Dia ada dibawah dalam tempat tradisionil. Siap serta menunggu untuk dimasuki oleh lelaki yang bukanlah kekasihnya ini.

Kalau Cenit membutuhkan fore play yang cukup lama sebelumnya terbangkitkan, dia mungkin tdk membutuhkan itu. Atau… “Kalau malam begini… saya senantiasa mengayalkan bersamamu, Bang. Bisiknya di telinga, ke dua tangan melingkar erat di leherku. Pipinya melekat erat dipipiku.

“Benarkah? ” jawabku sembari mencium pipi hangat itu. Liani mengangguk. “Kadang bayanganmu begitui terang seakan merasuki badanku…. Kalau saat saya suka… emmh.. basah, Bang. ”

“Oh, ya? ”

“Iya… cobalah anda rasakan, Bang. ” Katanya sembari menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan kemaluannya di batang penisku. Ya, merasa hangat serta basan…

“Sebelum anda datang, saya telah memikirkan dirimu.. emhhmmm… tanpa ada sadar ‘dia’ juga … telah basah… Saya mencium telinga Liani, dia seperti merinding., badannya menggelinjang karna merinding kegelian.

“Kadang…” bisiknya sekali lagi, “Keluar banyak, hingga membasahi celanaku… saat ini juga telah demikian, Bang. ”

Ya, saya rasakan itu, begitu hangat serta begitu basah. Penasaran saya menyelusupkan jemariku ke daerah itu. Ya ampun! Sepertinya saya memasukkan tanganku ke seember lumpur yang hangat. Tak diduga, gadis pendiam ini nyatanya menaruh bara demikian panas. Satu rahasia yang sampai kini dia pendam…

“Masukkan punyamu, Bang! ” pintanya … “Aku telah tidak tahan sekali lagi, sejak dari barusan saya menahan rasa terhadapmu… janganlah sia-siakan malam ini… walaupun sebentar, saya juga akan puas…. ”

Gadis itu menggelinjang lagi, membenarkan tempat berbaringnya serta buka pahanya sedikit lebih lebar supaya gampang saya menggelosorkan kemaluanku ke liang senggamanya yang hangat itu.

Merasa meluncur dengan lancar masuk kemaluan gadis itu. Selalu masuk serta membenam sembari ke celah yang terdalam. Gadis itu mengetatkan pahanya serta pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan.

Badannya merasa makin memanas. Pelukannya demikian erat serta buah dadanya yang melekat menghimpit ke dadaku. Dia telah demikian bernafsu, nafsu yang di simpan lama serta pingin di bebaskan dalam pelukanku ini malam juga.

Selalu jelas di menit-menit penuh cinta itu saya tidak ingat sekali lagi dengan Cenit. Gadis ini perlu dipuaskan. Keinginan yang telah menyisip tidak dapat sekali lagi ditarik surut ke. Semua rem telah di terlepas serta kami juga melayang-layang tanpa ada kendali nikmati semua malam ini….

Kurasa hujan diluar makin deras. Titik air yang berjuta-juta itu seakan berlomba terjun ke bumi menyebabkan nada gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tidak sedahsyat gemuruh nafsu kami berdua, saya serta Liani yang tengah nikmati cinta.

Entah telah berapakah kali batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. Sudah berapakah kali juga dia menggepit-gepit serta memelukku dengan erat dengan ke-2 tangannya. Entah berapakah kali ia terengah serta menggelinjang menggeram penuh nikmat.

“Hhhhhh… ehhhhhhh.. hhhhhh…. ” erangnya tiap-tiap kumainkan serta kutekan pantatku ke kemaluannya. Mengagumkan, tiap-tiap desakan ke bawah di balasnya dengan desakan ke atas.

Kurasa telah sepuluh menit saya mengayun pinggul diatas badannya. Liang kemaluannya merasa makin rapat serta begitu licin, mencengkram kuat batang kemaluanku yagn menegang.

Saya kendurkan sedikit pergerakanku. Mengalihkan perhatian ke badan sisi atas. Liani mengetahui, ia meregangkan badannya menarik kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat itu meenyeruak dari pelukanku. Buah dada gadis desa yang besar serta kenyal, tidak seperti payudara anak-anak kota yang besar tapi loyo….

Dua gumpalan kenyal itu juga kusergap dengan mulutku. Ku lahap serta kukunyah-kunyah sepuas hati. Putting susunya yang merah itu ku kulum serta kuhisap-hisap sembari kugigit sedikit.

Cuma sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….

“Ohhh.. geli, Bang! ” saya selalu mengulum…. Bertukar ke kiri serta ke kanan, lalu tanganku juga meremas-remas pangkal payudara Liani dengan gemas. Begitu kenyal, hangat serta enak rasa-rasanya.

“Aku telah tidak tahan lagi… Bang, ” rintihnya lirih, badannya makin panas serta berkeringat, badanku juga sama. Dalam udara malam yang cukup sejuk karna hujan itu seakan badan kami keluarkan uap. Badan bugil bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tidak tertahankan.

Sesudah senang dengan buah dada kenyal itu, saya memeluk punggung gadis itu. Kurasa dia mengangkat lututnya, menggepitnya di pantatku. Lalu ia turunkan ke-2 tangannya serta memelukku di pinggang.

“Tekan-tekan sekali lagi, BAng. ” pintanya.

Saya juga telah pingin rasakan gesekan kemaluannyai. Sembari sama-sama berpagut erat saya mengayunkan sekali lagi pantatku diatas rengakahan pahanya yang montok itu. Dia juga makin menggepitk-gepitkan kakinya.

Saat ini kami konsentrasi ke tiap-tiap gesekan, tiap-tiap lipatan, tiap-tiap senti dari liang kemaluan Liani. Malam ini sunguh cuma punya kami berdua. Gesekan-gesekan itu makin lama makin mempunyai irama. Sesaat Liani lakukan perbuatan yang menaikkan kesenangan, ia menggepit… lantas menahan. Gepit tahan gepit tahan…. Oh tidak terlukiskan nikmatnya bercinta dengan gadis ini.

Gesekan itu makin intens kami kerjakan. Hingga kami tidak sadar bila hujan telah berhenti. Malam diluar merasa hening…. Tapi diatas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua badan sama-sama memompa berpacu menguber saat. Takut bila Cenit serta Rinay keburu pulang.

Saya juga percepat ayunanku… hingga pada malam sebagai sunyi ini terdengar terang nada penisku yang keluar masuk ke kemaluan Liani. Beradu rsa dalam limpahan cairan kemaluan Liani..

‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek….

Kejantananku naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar terang sekali di telinga kami berdua. Sesekali kutekan juga akan kuat, gadis itu membiarkan serta terima desakan itu, menggeolkan pantatnya beberapa kali supaya kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluanku yang keras.

“Tekan selalu, Bang.. aihh…”

Saya menghimpit sekali lagi sembari menggerakkan pantat ke kiri serta ke kanan. Mungkin dia berasa gatal serta pingin gatal itu digaRinay hingga selesai…. PenggaRinaynya yaitu batang kemaluanku yang dia cengkram serta dia benamkan sedalam-dalamnya.

“Ohhh.. ohhhhhhhhh, ” lolong gadis itu melepas nikmat. Semua liang senggamanya berkedut-kedut serta sambil menggepit kuat. Badan Liani menggelinjang serta menegang menahan rasa enak saat ia keluarkan air mani kewanitanya.

“Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sembari menyurupkan berwajah ke leherku, lehernya nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.

Waktu tersebut saya juga bersiap akan keluar serta menyemburkan kesenangan di kemaluanku. Tapi suatu hal mengakibatkan saya berhenti …Masih dalam kondisi bersetubuh dengan Liani… ada sekelebat bayangan melintas. Saya melihat dengan ujung mataku, di lantai terlihat ada dua bayangan seperti diam terpaku. Saya juga terperanjat … bayangan siapa itu?

Perlahan kulihat muka Liani yang matanya masih tetap 1/2 terpejam. Lalu matanya pelan terbuka… Dia juga lihat bayangan itu serta memandang segera ke area tengah. Samar-samar di bola matanya yang hitam itu kulihat dua sosok berdiri memandang ke arah kami.

Itu bayangan Cenit serta Rinay! Rinayanya telah berapa menit barusan mereka berdiri disana, memandang kami yang tengah asik memagut cinta. Apakah mereka barusan mendengar juga.. bunyi crek…crekk. crekk.. alat kelamin kami yang tengah berkelindan? Entahlah, saya tidak berani memikirkan hal tersebut.

Anehnya, walau juga Liani sudah mengetahui hadirnya mereka, dia diam saja. Tidak berikan sinyal kalau kekasihku serta rekannya telah pulang. Bahkan juga seakan membiarkan mereka lihat kami yang tengah beradegan mesra diatas ranjang.

Terdengar bunyi deheman kecil, dehem ciri khas nada wanita. Seakan menyadari kami yang tetap dalam tempat senggama ini. hmmm… saya tahu itu nada Cenit, saya dapat membedakannya.

Sedetik dua detik saya tidak tahu apa yang perlu kuperbuat, lalu Liani lakukan sersuatu yg tidak kuduga. Dia seperti melambaikan tangan dari balik punggungku. Menyuruh ke-2 ‘adik’ kostnya itu masuk ke kamar…

“Teruskanlah, Bang. Tidak apa-apa, kok…. ” Bisiknya di telingaku. “Ngapain malu.. kita kan tengah enak, anda enak saya enak…. Mereka pasti juga maklum…. ”

Oh, ya? Bercinta dengan orang yang bukanlah pacar, serta diliat oleh mereka juga? Apa juga ini? Exibit kah ini? Ya, telah! Saya tidak pernah pikirkan sejauh itu. Bila untuk Liani tidak apa-apa, serta Cenit dan Rinay juga malah nikmati panorama ini…. kuteruskan saja.

Perlahan dua gadis itu berlalu, seperti tidak berlangsung apa-apa, terkecuali tawa kecil Rinay yang terdengar. Saya memandangi mereka yang pergi menjauh, mendadak Cenit melihat ke belakang. Dia memandang mataku segera, di bibirnya tersungging senyuman yang aneh … di kondisi seperti ini… senyum yang terlihat nakal.

Saya tidak tahu apa juga akan berlangsung setelah ini, bagaimana hubunganku dengan Cenit? Bagaimana juga saya juga akan menjumpai mereka sesudah ‘permainan’ penuh keenakan ini? Tak dapat sekali lagi saya bertandingk seperti seseorang lelaki yang setia cuma pada satu wanita. Tapi nampaknya Cenit juga tidak keberatan kalau saya mengencani kakak kostnya Liani.

Ah. Dunia ini benar-benar aneh… ditempat yang nampaknya biasa-biasa saja nyatanya tersimpan bakat-bakat cinta yang terpendam yang mengharap untuk di keluarkan serta di nikmati tiap-tiap lelaki seperti saya. Saya tidak tahu mesti bergembira atau… entahlah!

Saya melanjutkan permainanku dengan Liani. Gadis itu telah tiba ke puncak syahwatnya… waktu ini giliran saya. Perlahan saya mulai memompa sekali lagi … kemaluanku naik turun menggesek kemaluan Liani yang basah itu. Bunyi crek.. crek.. crek.. creeeek… terdengar ke seluruh tempat.

Saya agak termangu mendengar nada itu… tidaklah juga akan hingga ke telinga mereka berdua yang saat ini telah berada di kamarnya?

“Terusin saja, Bang….. Kalo enak ngapain juga di berhentiin” bisik Liani seakan akan menghapus keraguanku. Maka saya juga melanjutkan sekali lagi, kesempatan ini dengan irama yang lebih cepat dan… selang beberapa saat creett…cretttt… sembari menghimpit saya mengeluarkan air maniku didalam kemaluan Liani yang mencengkram erat itu. Oh enaknya.

Sebagian menit sudah berlalu. Setelah menghapus keringat di dadaku Liani kenakan bajunya. Lalu sembari bernyanyi-nyanyi kecil ia membereskan rambutnya yang kusut masai. Berwajah terlihat senang. Begitu senang sudah memperoleh kesenangan yang sampai kini didambakannya. Seraya membenarkan tali beha serta menyempalkan payudara besarlnya ia berkata.

“Bang, saya masuk dahulu ke dalam…. Kelak Cenit kusuruh keluar, ya! ”

Saya cuma mengangguk mengiyakan, gadis itu juga bangkit serta berlalu dari hadapanku. Sesaat saya duduk termangu sembari mengisap sbatang rokok. Selang beberapa saat Cenit keluar menemuiku, kesempatan ini tidak menggunakan baju yang dipakainya barusan, tapi telah bertukar dengan gaun tidurnya yang berwarna pink. Berbahan yang halus memperlihatkan lekuk badannya yang seksi. Saya menelan ludah… tentu dia akan geram karna perbuatan kami barusan.

Dia cuma tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya. Tak terlihat sinyal tanda emarahan disana. sesaat dia cuma diam.. lalu mendadak dia bangkit serta ‘menyerbu’ ke arahku.

Melingkarkan tangannya di leherku serta menciumiku penuh nafsu. Aneh, dia tidak geram, bahkan juga sesudah lihat kami bercinta seakan nafsunya bergelora menginginkan dipuaskan juga.

“Cenit… maafkan.. saya telah…” belum juga pernah kuselesaikan kalimatku dengan bernafsu dia mencari bibirku serta menciuminya dengan garang. Oh, … gelagapan saya dibuatnya. Saya tidak paham, apakah dia geram atau telah terangsang…. Saya balas ciuman itu, lidahnya terjulur serta berjumpa dengan lidahku. Beberapa waktu lamanya lidah kami berjalin berkelindan seperti tidak ingin terlepas. Dengan rakus juga dia hirup air liurku, meneguk serta menelannya. Sesudah senang giliran saya yang mengisap cairan mulut itu. Sesudah itu kami melepas ciuman serta sama-sama melihat sepanjang sebagian waktu.

Tanpa ada banyak berbicara dia turunkan gaunnya ke bawah, memperlihatkan dua gumpal buah dada yg tidak menggunakan beha. Putting susunya meruncing serta tegang.

“Aku terangsang sekali lihat kalian berdua tadi…. ” tuturnya terengah sembari mengasongkan ke-2 susunya ke arahku. Saya juga menyongsong, tangan kiriku meremas serta mulutku mengulum puting susu yang satunya. Mendadak pergerakankuterhenti. Dengan muka kaget Cenit menatapku heran. Saya lupa mematikan puntung rokok yang ku hisap barusan. Gadis itu tersenyum serta kamipun meneruskan permainan hangat ini. Buah dada besar montok serta kenyal itu kukunyah sepuas hati.

Cenit mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepalaku, mengusutkan rambutku. Tetap dalam urutan duduk ia mengangkang.. melepas gaunnya yang telah 1/2 terbuka…. Dia juga tidak bercelana dalam makanya gundukan vaginanya yang tidak tipis serta tidak punya rambut itu merekah di depanku.

Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela celah kemaluannya. Di tidak pedulikannya. Dilewatkan lendir bening itu mengalir…. Bahkan juga dia menyuruhku utk memegangnya… jemariku menyelusup ke liang senggama Cenit, hangat serta begitu basah oleh cairan pelicin.

Kusentuh klentitnya yang merah dengan ujung jemariku. “Akhh…. ” Cenit melolong tertahan. “Geli, Kak! ” desahnya tersentak. Kemudian sambil memeluk leherku, serta mencium keningku dia mengajakku ke dipan tempat saya serta Liani barusan bercinta.

Tidak banyak cingcong kurengkuh serta kugendong badan hangatnya ke dipan itu. Disana dia kubaringkan. Tapi waktu saya akan buka celana, mendadak ia mendudukkan badannya yang telah bugil itu. Saya heran, apa yang dapat dia perbuat.

“Bukalah celanamu, Kak! ” tuturnya tidak sabar sambil menarik resleting celana panjangku. Setela memelorotkan celana dalamku, dengan begitu bernafsu ia memegangi pangkal kemaluanku yang kembali menegang.

“Besar serta nikmat…. ” Seru Cenit sembari meremas-remas kemaluanku.

“Sekarang giliranku…” tuturnya agak keras.

Ia turun dari dipan serta berdiri di sampingku, di dorongnya dadaku ke arah dipan, menyuruhku berbaring di sana. Saya menurut. Sesudah saya berbaring, Cenit juga menambah samping kakinya serta mengangkang diatas. Perlahan-lahan dia menekuk badannya serta memelukku dari atas.

“Masukkan, Kak. ” Pintanya dengan suara gemas. Ia memegang batang kelaminku itu serta memasukkannya kedalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak kasar dia menghenyakkan pantatnya ke bawah supaya kemaluanku masuk lebih dalam ke badannya.

“Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya. Dalam urutan diatas dia menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluanku di cengkram serta di gesek-gesek sesuai sama itu. Geli rasa-rasanya.

Urutan dibawah tidak sering saya laksanakan…. Tapi kesempatan ini saya terima saja, karna barusan telah lumayan lelah meladeni Liani. Kesempatan ini Cenit yang giat menekan-nekankan pantatnya, tujuannya agar punyaku masuk lebih dalam.

Sambil memelukku erat, ia selalu mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi… kesempatan ini bahkan juga di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihku.

Saya selalu berbaring sambil meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina merasa selalu merembes dari kemaluan Cenit. Dia sangatlah terangsang. Liang kemaluannya begitu basah serta panas. Sesekali ia menghimpit serta menahan. Seakan akan melumat habis semua kemaluanku dengan vaginanya. Jelas saja saya juga jadi tambah keenakan.

Diam sebagian waktu menahan desakan, dia juga mengendurkan serta mulai sekali lagi pergerakan naik turunnya. Saya selalu meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menghimpit ke arah dadaku, nyaris membuatku sesak nafas. Tapi saya pasrah.. lha wong enak rasa-rasanya.

Sepanjang sepuluh menit Cenit bergerak naik turun, tidak cape-cape nampaknya. Badannya jadi tambah basah oleh keringat, bahkan juga berwajah telah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Beberapa mengalir ke ujung hidung serta menitik menerpa wajahku. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai..

Saya coba memiringkan kepala coba kurangi titikan keringat di wajahku. Ketika tersebut kembali saya terkesiap. Di ujung tempat, di pintu kamar Cenit, tegak sesosok badan wanita memandang kami dengan matanya yang bulat.

Mata besar punya Rinay, rekan sekost Cenit. Dia memandang kami tanpa ada berkedip. Tangan kanannya tertangkup di dada. Sesaat yang kiri terlihat meremas-remas ujung gaun tidurnya yang diatas lutut.

Ketika kami sama-sama memandang… dalam urutan Cenit masih tetap diatas serta asik dengan empotan-empotannya. Perlahan-lahan tangan kiri Rinay mengangkat ujung gaun merahnya. Selalu terangkat ke atas memperlihatkan paha gadisnya yang padat…

Entah sadar tidak tahu tidak gaun itu telah demikian terangkat, makanya saya dapat lihat celana dalam yang terungkap. Kemudian ia menarik tepi celana dalam itu… memperlihatkan segumpal tumpukan daging berbulu dengan celah merah di tengahnya.

Ujung jemari menyentuh sisi tengah celah itu. Menekannya serta memutar-mutarnya sedikit. Ya ampun… selanjutnya dia menatapku.. dengan mata 1/2 terpejam.

Saat tersebut Cenit menengadah…. Serta menyurukkan kepalanya ke leherku, memelukku kuat serta mulai mendesah berkelanjutan. Pantatnya menghimpit kuat hingga seakan kemaluanku ingin ditelannya hingga habis.

“Kak.. enak sekali.. ahh” merasa kemaluan Cenit berdenyut hebat, badannya bergetar tidak kuasa menahan nikmat… nafasnya begitu memburu… serta..

Dia juga lunglai dalam pelukanku…. Sesaat air mani gadis itu mengalir tidak tertahankan, meluap serta mengalir membasahi hingga sisi perutku.. saya peluk gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf sesudah ia barusan begitu tegang nikmati puncak orgasmenya.

***

Hingga sebagian menit kami masih tetap berpelukan, kejantananku yang masih tetap tegang itu masih tetap ada didalam ’sangkar’-nya. Cenit diam tidak bergerak dalam pelukanku, kayaknya dia lupa ada suatu hal yang bersemayam dalam badannya.

Perlahan-lahan gadisku ini mengatur nafasnya yg tidak teratur. Sesudah agak reda… perlahan-lahan dia bangkit serta melepas persetubuhan kami. Lambat ia mengangkat pantatnya ke atas. Perlahan-lahan alat kelaminku itu keluar dari vagina Cenit. Ketika telah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental terlihat melumuri batang kemaluanku. Ketika sisi ‘kepala’-nya dapat keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah dapat di terlepas..

Clep.. crrrllek. Cenit tersenyum mendengar nada itu. Entah nada lipatan kemaluannya atau karna lendir yang demikian banyak melumuri batang kemaluanku.

Ia pergi ke tengah tempat serta menggunakan gaunnya kembali, rona berwajah memperlihatkan kenikmatan yang tidak ada terkira. Sembari bernyanyi kecil, seperti baru telah pipis, ia memebenahi rambutnya yang kusut masai. Serta jalan ke belakang tempat tinggal, meninggalkanku yang akan kenakan celana dalam ku.

Belum juga pernah saya menggunakan celana itu, mendadak Cenit telah kembali. Membawa sehelai kain sarung serta menyuruhku mengenakannya. “Pakai ini saja, Kak! ” tuturnya seraya ambil celana panjang serta kolorku, melipatnya serta merengkuhnya dalam dada. Kemudian ia juga kembali pada belakang.

Tidak lama selanjutnya ia datang sekali lagi, membawaku satu gelas minuman, apabila barusan Liani membawakanku satu gelas air putih, kesempatan ini Cenit menyuguhiku dengan teh manis. Saya selekasnya mereguknya karna terasa kehausan, pikirkan saja melayani dua wanita dengan bergilir tanpa ada istarahat sekalipun. Lelah donk!

Ketika saya meminumnya, alis mataku terangkat, minuman apa ini? Rasa-rasanya kok pahit banget? Sebelum pernah ajukan pertanyaan Cenit berkata perlahan-lahan, “Itu sari dari akar Pasak Jagad Kak! ”

“Haa?

Kekasihku tersenyum, itu kan obat kuatnya lelaki, apabila minum jamu itu tentu akan melek semaleman, kataku setelah menelan tegukan paling akhir. Gadis itu cuma tertawa kecil. ‘Biar saja tidak tidur semaleman… besok anda kan tidak kerja, tidur saja sepuasnya disini.

1/2 jam selanjutnya kami masih tetap bercakap di ruangan tamu. Masih tetap terbayang-bayang permainan kami berdua baru saja. Tidak diduga demikian bernafsunya Cenit, hingga kuat main diatas nyaris 1/2 jam lamanya, sesaat saya anteng saja dibawah.

Mendadak Cenit bangkit…”Kak, ” tuturnya, “Aku kedalam sebentar. ” Saya mengiyakan saja, kupikir dia bisa saja ingin sedikit membereskan dandanannya yang agak amburadul itu.

Saya dapat menghela nafas waktu terdengar dia menyebutku dari kamar.

“Sini sebentar, Kak! ”

Saya juga bangkit serta jalan menuju ke kamarnya, sebelum saat tiba di pintu kamarnya saya melalui kamar Liani yang cuma dihalangi secarik kain tirai, diam-diam ku singkap gorden kamar itu. Terlihat Liani tertidur nyenyak, masih tetap kenakan gaun yang barusan, pahanya yang terbuka terlihat putih serta mulus.

Kamar selanjutnya yaitu kamar Rinay, hmmm… jantungku berdegup agak kencang. Apa yang dijalankannya barusan waktu saya serta Cenit tengah nikmati sex? Entahlah, saya tidak tahu. Tapi saya ingin tahu tengah apa dia saat ini?

Perlahan-lahan kusingkapkan juga gorden pintu kamarnya itu. Kasur tempat tidurnya masih tetap terlihat rapi, bantal tersusun di tempatnya. Ke mana cewek itu? Kok tidak berada di biliknya? Sedikit heran saya selalu mengambil langkah menuju kamar Cenit.

“Masuklah, Kak! Janganlah malu-malu, saya tahu anda telah ada di situ. ” Kata Cenit sekali lagi, bergegas saya juga masuk ke kamarnya…

Oh disini rupanya Rinay, dia tengah tidur telungkup di dipan Cenit, sesaat cewek ku itu tengah menyisir rambutrnya menghadap ke cermin. Tanpa ada mengacuhkan saya dia juga menyuruhku duduk di dipan dengan pergerakan tangannya.

Dipan ukuran single itu lumayan sempit, terlebih saat ini telah ada Rinay yang tidur disana. Cenit berbalik menghadapku, ditatapnya saya dengan tajam. Kemudian perlahan-lahan dia mengalihkan pandangannya ke badan rekannya yang masih tetap telungkup itu.

“Terserah anda, Kak. Ingin disini atau di kamarnya…. Saya ikhlas saja, yang utama…. Dia bisa pula turut rasakan …. ”
Saya melongo? Dia suruh saya nikmati juga badan Rinay!? Badan wanita sintal yang tengah tertelungkup ini? Cenit mengangguk tentu.

“Kami simak apa yang kalian kerjakan, Rinay juga simak kita tadi… kami bertiga bersahabat, resminya anda memanglah punya aku… tapi.. sharing antar teman dekat tiada kelirunya, bukan? Sekali lagi juga saya ikhlas kok, sepanjang tdk dengan yang beda terkecuali mereka. ”

Dalam hati saya hanya dapat mengangkat bahu. Kalau dia telah mengikhlaskan rekannya, dia tdk geram terlebih jadi membenci saya, sekali lagi juga apabila begitu dia jadi terangsang serta nikmati juga, apa kelirunya.

Saya berfikir cepat, katakanlah malam hari ini yaitu seperti seks party, serta saya jadi rajanya sesaat jadi ratuku yang wajib kupuaskan, oke saja sich. Hehehe. Kebetulan saya menginginkan cobai juga badan Rinay yang berkulit sawo jelas ini.

“Aku menanti di kamarnya, ” kataku pada Cenit, cewek itu mengangguk sepakat.

Dipan singel Rinay merasa cukup nyaman. Bantalan busanya masih tetap cukup baru, dia memanglah baru saja kost dirumah ini, bisa saja baru 1/2 th.. Saya berbaring dengan santai. Memandangi dinding kamar yang dipenuhi poster Cenit sembari pikirkan apa yang sudah kudapat malam hari ini.

Awal mula Liani menyerahkan dianya kepadaku, lalu Cenit yang memohonku untuk memuaskannya, serta saat ini Rinay, gadis paling pendiam yang tidak sering bercakap denganku. Gadis ini juga inginkan ku pula… hehehe.. basic gede punya, yeuh

Semilir halus wangi parfum masuk ke hidungku. Terdengar pintu kamar terbuka, pelan Rinay masuk ke kamar itu. Seperti orang baru bangun tidur. Ia segera duduk di dipan itu, “Ada apa, Kak? ” tanyanya seakan tidak paham. Saya tersenyum, pintar juga dia sembunyikan perasaan memang.

“Eh, kain sarung siapa yang anda gunakan itu, Kak? ”

“Hehe.. ini pemberian Cenit barusan.. ”

Ke-2 bola mata gadis itu membulat… menatapku seakan tidak yakin. Selalu jelas saja, dia cantik juga. Rambutnya yang ikal itu dibiarkannya tumbuh hingga sekedar punggung. Walau baru bangun ‘tidur’ tapi tidak kurangi kesegaran serta pesona cantik yang terpancar di berwajah.

Saya menarik gadis itu ke pelukanku, badannya merasa berat lantaran ia seperti menampik, tapi lalu jadi dia yang merangsek dalam dekapanku.

“Jangan, Kak! Kelak Cenit geram.. ” tuturnya berbasa-basi.

“Dia geram apabila saya tdk menayangimu juga…. ”

“Kamu dapat saja, Kak! ” tuturnya sembari menengadah serta menyentuh pipiku. Saya mengecup bibirnya, dia begitu menikati kecupan kecil itu, matanya terpejam, badannya melunglai, serta saya juga memeluk badan sintal itu lebih erat.

Ia membalas pelukanku serta membiarkan bibirnya kulumat… sekian kali ia mengeluh nikmat. Merasa badannya bergetar dikala saya mulai merengkuhnya. Kemudian saya juga mulai menyusuri semua lekuk serta liku badan gadis itu. Makin lama badan itu merasa panas, tiap-tiap gumpalan serta benjolan dagingnya merasa sangat membara dipenuhi gairah terpendam.

Saya membaringkan badannya sesaat ke-2 tangannya selalu melingkar di leherku. Nafasnya terdengar agak memburu, gadis ini telah mulai terangsang. Kuperiksa sisi kemaluannya dengan jemariku. Nyatanya belum juga cukup basah, masih tetap merasa agak kering. Kucumbu dia selalu agar gairahnya lebih menggelora….

Tak tahu berapakah lama kami sama-sama mencium sama-sama menyelinap serta berkelindan, saya pulang sukai buah dadanya. Sangat kenyal, besarnya juga tengah saja, tapi putting susunya begitu kecil, cuma sebesar biji kacang hijau. Terlihat sekali putting itu telah mengeras.

Ketika kuremas-remas buah dadanya, muka gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat, bibir agak terbuka. Tiap-tiap remasan yaitu rangsangan untuk badan fresh ini. Makin intensif saya meremas, makin intens juga dia menikmatinya. Ketika kuraba kemaluannya, lendir pelicin yang kental telah mulai keluar.

Perlahan saya mengusap-usap jembut halus yang tumbuh disana. Kadang-kadang agak kutekan supaya menyentuh sisi klentitnya. Tuibuhnya menggelinjang lantaran geli.

Perlahan tapi tentu cairan pelicin itu mulai keluar, merembes ke permukaan serta menyebabkan jembut-jembut halus itu merasa mulai kuyup. Hmmm.. Rinay telah siap untuk dimasuki. Sembari memegang pangkal kemaluanku saya juga memasukkannya. Merasa licin serta rapat. Batang kemaluanku seperti menembus lipatan daging hangat yang basah oleh lendir.

Creep…. Masuklah saya ke badan Rinay. Gadis itu melepas nafas panjang, rasakan enaknya gesekan di kemaluannya. Tak tahu mengapa saya sangat-sangat terangsang dengan gadis ini, bisa saja ini bukanlah yang pertama baginya, tapi… dia mengerjakannya seperti baru untuk pertama.

Sepuluh menit pertama kami mengadu rasa, menggesek-gesekkannya dengan pergerakan teratur. Sesaat Rinay pasrah saja sembari memelukku serta membenamkan berwajah di leherku. Nafasnya makin lama makin memburu, badannya makin panas. Titik-titik keringat mulai keluar serta lama-lama peluhnya makin membanjir.

Kota kecil ini memanglah lumayan panas walau pada malam hari, terlebih tempat tinggal kost itu tdk berAC, badanku juga kembali berkeringat. Tapi kami tidak perduli, kami selalu berpelukan nikmati pergumulan itu.
Kami masih tetap bergumul dikala pada akhirnya masuk step ke-2. Kukeluar-masukkan penisku dengan memiliki irama di liang kemaluannya yang pasrah itu. Gadis itu memelukku lebih kuat. Tidak perduli dengan badan yang bersimbah peluh.

‘Crekecrekecrek…’. Sepuluh menit lamanya saya menggesek-gesek kemaluan Rinay dengan kemaluanku. Merasa punyaku makin menegang keras. Kemudian saya menekan… Rinay membalas dengan mengempot ke atas. Menggerakkan pinggulnya berputar, ganas sekali putarannya. Saya naik turunkan sekali lagi pantatku sekian kali, lalu kutekan dalam-dalam….

“Ahhh…, ” gadis itu mendesah nikmat. Kemudian membalas sekali lagi dengan dorongan ke atas, sembari menggoyang pantatnya ke kiri serta kekanan. Lipatan kemaluannya yang hangat merasa makin kenyal serta licin.

Sekian kali kami lakukan itu, saya juga jadi tidak tahan. Tapi dia belum juga meraih puncak. Saya juga akan buat dia duluan rasakan kesenangan.

Saya juga makin aktif mengocok serta menghimpit memek Rinay. Tulang kemaluan kami beradu, bibir kemaluanya yang tidak tipis menahan dorongan itu dengan nafsu, merasa hangat serta begitu basah lantaran lendir mani Rinay telah melimpah sejak dari barusan.

Dua menit lalu gadis itu melolong rasakan vaginanya berdenyut nikmat.. “Ooohhhhh…. ”

Saya membantunya dengan menghimpit makin dalam. Rinay juga membenamkan badannya ke kasur, menahan tindihanku sembari melepas nikmat, bersamaan dengan mengalirnya air mani prempuan itu dengan lebih deras. Merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.

“Enak sekali, Kak…eigh oh…! ”

Berbarengan dengan itu juga akan juga meraih puncak. Kemaluanku merasa berkedut bersamaan dengan menyemburnya air maniku di liang senggama gadis itu. Sesaat liang senggama Rinay juga menggepit-gepit tidak terlewati lantaran tidak kuasa menahan nikmat yang mengagumkan.

Kami masih tetap berpelukan dikala rasa nikmat itu terwujud telah. Gadis itu diam dalam pelukanku, badannya begitu basah oleh peluh. Hawa panas juga merasa menyergap. Berangsur kami sama-sama melepas pelukan.

Perlahan gadis bangkit itu duduk dari urutannya. Gurat-gurat kenikmatan terpancar di berwajah yang cantik. Sepintas ku simak memek Rinay yang masih tetap merah serta bibirnya terlihat membengkak, cairan-cairan lendir masih tetap menetes dari sela kemaluannya.

“Enak, Rinay? ” gadis itu mengangguk. Kemudian ia menyeka keringat yang menitik di dadaku. “Dadamu penuh dengan peluh, Kak. Sini kuusap, ” tuturnya sembari mengelus lembut dadaku yang memanglah penuh dengan keringat.

Beberapa waktu lamanya kami lalu berbaring bersama-sama di kasurnya yang sempit itu. Rambutnya yang ikal serta panjang itu kubelai. Ia bergerak, menyelinapkan tangannya di leherku, lalu memohonku terlentang, dia menginginkan tidur di dadaku, tuturnya. Beberapa waktu lalu Rinay juga jatuh tertidur, tidak mengerti air liurnya yang menitik dari pojok bibir. Saya juga selekasnya terbang ke alam mimpi.

Tak tahu jam berapakah kami terbangun. Ketika itu saya serta Rinay masih tetap berpelukan, sesaat diluar terdengar suara-suara seperti tengah bernyanyi. Oh, nyatanya hari telah siang. Itu yaitu nada Cenit yang tengah bernyanyi kecil, sesaat dari kejauhan terdengar nada orang tengah mandi, dapat saja Liani tengah bersihkan badannya.

Rinay juga telah mulai terbangun, ia masih tetap memelukku, buah dadanya yang kenyal itu melekat erat di dadaku. Dari ruangan tengah terdengar Cenit kelihatannya tengah menyapu lantai. Sesaat dari bibirnya terdengar nyanyian yang saat ini tengah popular.

Mendadak terdengar nada pintu di buka, lalu tirai disingkapkan, serta masuklah Cenit kedalam kamar, memandang kami yang masih tetap bugil cuma berselimut kain sarung.

“Hei, bangun! Belum juga bahagia juga ya! ”

Saya pura-pura tidur sembari memeluk Rinay lebih erat. Gadis itu terkikik… tapi dia juga pura-pura melanjutkan tidurnya. Cenit bertandingk geram serta menarik kain sarung penutup badan kami.

“Apa pengin diteruskan sekali lagi tidurnya? Telah siang tauu, ”

Saya menarik kain sarung itu, malu lantaran kemaluanku tengah menegang sesudah beristirahat keseluruhan sebagian jam. Tapi kalah cepat, Cenit telah menangkap batang kemaluanku serta mengusap-usap dengan jemarinya.

“Oh, jauh semakin besar dari gagang sapu ini… pantesan enak sekali. ” Guraunya sembari tergelak sendiri. “Ya telah, bila anda pingin sekali lagi, Rinay. Tuch mumpung sekali lagi berdiri…”

Nyaris tdk kuat saya menahan tawa dengan canda Cenit, tapi terlihat Rinay menanggapinya dengan serius, dia menggerakkan pantatnya, memelukku dari atas serta mengempot ke bawah. Bibir kemaluannya merasa melekat di batang kemaluanku.

“Tuuh, kan! Pasti pengin sekali lagi deh! Terusin saja, Rinay. Enak kok! ” sergah Cenit sembari memegangi pinggang gadis itu, menolongnya mengangkat panta, saya juga memegang pangkal kemaluanku, menghadapkannya ke memek Rinay yang hangat.

“Udah cocok belum pula? ” bertanya Cenit, Rinay mengangguk, perlahan-lahan Rinay turunkan pantatnya, maka…. Srrluuuup.. batang kemaluanku masuk sekali lagi ke memek Rinay. “Main dari atas enak, lho Rinay! Tekan saja agar lebih kerasa…” bisik Cenit agak keras.

Seperti tdk perduli hadirnya Cenit di kamar ini, kami mengulangi permainan semalam, tapi kesempatan ini Tempat Rinay ada diatas. Kusuruh gadis itu menegakkan badannya. Ia menurut serta mendorong badannya dengan menempatkan telapak tangannya di dadaku.

Saat ini tempatnya beralih, saya berbaring sesaat Rinay duduk mengangkang di atasku. Alat kelamin kami sudah menyatu, saat ia telah duduk dengan benar, tampak memeknya seperti tengah mengulum kemaluanku hingga ke pangkalnya. Kelentitnya tampak menonjol serta cairan itu kembali mengalir membasahi jembut-jembut halusnya.

Kami sama-sama pandang sesaat masih tetap menyatu, bibir Rinay tersenyum, berapakali ia menyibakkan rambutnya yang kusut. Perlahan-lahan dia mulai mengayun, pergerakanya seperti orang tengah naik kuda. Naik turun memiliki irama.

Semenit saya lupa dengan hadirnya Cenit disana. nyatanya ia berdiri di belakang Rinay, perhatikan kami yang tengah bercinta dengan style sesuai sama itu. Gadis itu menyeringai lebar memperlihatkan sederetan giginya yang putih bersih.

Lalu mendadak ia buka busananya, memperlihatkan beha putih dengan buah dada besar di baliknya. Ia juga buka beha itu, melemparkannya ke pojok kamar, menarik rok panjang, buka celana dalam hingga pada akhirnya bugil samasekali.

Ia juga menyerbu ke arahku, membenamkan wajahku di susunya yang besar serta kenyal, meremas-remas kepalaku dengan jemarinya. Sesaat Rinay selalu asik mengayun-ayunkan pantatnya naik turun.

Saya memeluk punggung Cenit, mengulum serta kunyah susunya yang kenyal. Cewek itu mendengus-dengus saat putting susunya tergigit lembut.

Lama kami bercinta segitiga sesuai sama itu, barangkali ada seperempat jam.

“Kita enak-enakan bareng, Kak. ” Bisik Cenit sembari meremas. Saya sepakat, dia telah nyaris hingga puncak, saya juga tdk tahan dengan tingkah Rinay, yang mengocok-ngocok dari atas….

Cenit melepas pelukannya serta naik ke atas ranjang, mendudukkan pantatnya di dadaku mengangkang lebar memperlihatkan memeknya yang tercukur rapi. Gundukan dagingnya putih mulus serta kemerahan, bibir kemaluannya tidak tipis serta dipenuhi cairan kental serta hangat.

Ia memajukan memeknya maka hingga di mulutku. Lalu mulai menghimpit ke arah mukaku. “Ahh… mari Kak! Saya telah tidak tahan sekali lagi nih. ”

Sembari meremas pinggang serta pantatnya saya juga beraksi. Mengganyang habis kue pie lembut serta basah itu. Cenit selekasnya merintih-rintih menginginkan selekasnya melepas nikmat. Sementar di belakangnya Rinay mendadak mengempot serta menghimpit ke bawah,. Badannya ambRinay ke depan, menerpa punggung Cenit yang tengah menghimpit mukaku.

Wajahku makin tertekan oleh gumpalan memek Cenit, sesaat pahanya menggepit ke dua pipiku dengan kuatnya. Akkkh… saya nyaris tdk dapat bernapas. Ya ampun!

“Keluarin bareng, Kak! Aghhh.. ahhh! ”

Cenit menghimpit, Rinay mengempot, dan… saya sesak nafas!

Terdengar nada rintihan panjang barengan, Cenit serta Rinay tengah dirasuki kesenangan. Merasa memek Rinay berdenyut-denyut sambil melewatkan cairan kewanitaannya, sesaat mulutku makin basah oleh cairan memek Cenit yang berdenyut melepas nikmat.

Kedua badan cewek itu lunglai sesudah nikmati semuanya. Mereka ambruk barengan ke badanku. Berat sekali terasa menahan dua badan wanita sekalian, montok-montok sekali lagi.

Seperti mengerti hal tersebut, Cenit serta Rinay juga bangkit, perlahan-lahan Cenit turun dari ranjang, sesaat Rinay juga perlahan-lahan mengangkat pahanya, ke dua tangan bertumpu pada dadaku.

Saat tersebut kemaluanku keluar dari liang sanggamanya, cleep.. terdengar seperti bunyi plastik lengket yang tengah di buka. Terlihat kemaluanku masih tetap menegang serta basah bergelimang cairan memek Rinay.

Saya terdiam sesaat, tdk tahu mesti melakukan perbuatan apa, lantaran saya belum juga menjangkau puncak gadis-gadis ini telah hentikan permainnya, saat tersebut mendadak Liani masuk kedalam kamar, lihat pada Rinay serta Cenit yang tengah kenakan bajunya kembali.

Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, matanya terpaku memandang kejantananku yang masih tetap berdiri dengan perkasa, merah serta mengkilat bermandikan cairan kemaluan Rinay.

“Kasihkan sama Liani, Kak! ” kata Cenit sembari menyempalkan susunya yang montok itu ke balik beha. Muka Liani semprotat memerah. Mungkin dia barusan mendengar lolongan Cenit serta Rinay yang barengan menahan geli serta enak. Saya tdk tahu apakah dia juga telah terangsang serta menginginkan di gelitik nikmat sekali lagi?

Tampaknya iya, ia mengangkat roknya memperlihatkan ke dua paha yang padat serta putih mulus. Sesaat Rinay serta Cenit bergegas keluar kamar, meninggalkan kami berdua saja disana. semerbak wangi harum badan Liasni menusuk hidungku. Gadis ini baru usai mandi.

Liani naik ke ranjang bersiap-siap akan memasukkan kejantananku ke memeknya yang, ya ampun, nyatanya telah bengkak merekah merah serta basah juga. Tapi siapa tahan menahan badannya yang tinggi montok itu sesudah barusan ditindih oleh dua gadis montok sekalian.

Saya bangkit duduk, mendorong sedikit badan Liani, gadis itu seperti kaget. Tapi dia menurut. Lalu kusuruh ia berdiri serta … inilah saya menginginkan rasakan suatu hal yang beda.

Kusuruh ia berdiri membelakangiku serta menumpukan tangannya di dipan. Tempatnya saat ini menungging di depanku, Liani tahu, ia mengangkat pantatnya sekali lagi, dari belakang disela-sela bongkahan pantatnya, tampak kemaluannya membelah. Cairan kental menitik-nitik banyak.

Meski nafasnya ditahan, saya tahu gemuruh di dadanya telah demikian hebat. Terlihat dari buah dadanya yang menggelantung itu bergetar-getar menahan dentaman jantungnya yang bertambah dahsyat.

Saya menginginkan masuk dari belakang serta kemaluan Liani telah siap untuk kutusuk dari arah itu. Liani makin menunggit memperlihatkan bongkahan pantat serta memek yang merekah. Saya maju menyorongkan kejantananku ke arah belahan nikmat itu. Creepp.. kejantanankupun cobalah menerobos serta mengusahakan keras masuk liang senggama Liani yang terbuka. Tapi gumpalan pantat Liani cukup menahan pergerakananku.

Egghh.. saya coba sekali lagi serta menghimpit lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, terasa seperti dipilin-pilin. Saya menghimpit lagi… kemaluan kami makin berjalin, tapi bongkahan pantat Liani seakan menahan pergerakanku maka saya mesti menghimpit agak lebih kuat.

“Emhh…. ” rintih Liani tertahan. “Tekan, Bang…. Emmghhh”

Saya bergerak maju mundur serta menekan-nekan, sekujur batang kemaluanku terasa seperti dicengkram. Sembari agak membungkuk saya coba beroleh buah dada Liani, meremas keduanya dari belakang. Hangat besar serta begitu kenyal. Putingnya kuputar-putar dengan dua ujung jari. Buat gadis itu menggelinjang hebat serta makin mengangkat pantatnya tinggi-tinggi supaya kejantananku masuk lebih dalam.

Badan kami makin berkeringat saat rasa enak itu makin mencapai puncak. Saya juga menghimpit serta menggosoki sekali lagi dinding memek Liani yang merapat. Sedikit susah main dari belakang, tapi kami menikmatinya. Sebagian manit kami nikmati permainan itu. Badan Liani maju mundur tertekan oleh pergerakan badanku.

Ketika tengah asik mendadak tirai kamar kembali terkuak. Sosok badan Rinay masuk berkelebat, seperti tdk perhatikan kami gadis itu menuju ke ujung dipan, nyatanya celana dalamnya ketinggal disana.

Kami tdk mengindahkan kemunculannya serta selalu sama-sama menghimpit. Saya menghimpit ke depan sesaat Liani menghimpit ke belakang. Kemaluan kami telah sangat menyatu erat bermandikan cairan kental. Badan kami juga menegang serta basah oleh keringat yang membanjir. Rasa nikmat makin bertambah, makin lama makin hebat.

“Aghhh…hhhh” saya menggeram menahan rasa. Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang kemaluanku. Liani merintih tdk kalah dahsyat… bahkan juga lebih hebat dari erangan Cenit serta Rinay barengan.

“Bang… agh! Enak banget, …oh Saya tidak tahan sekali lagi! ”

Samar kulihat Rinay kenakan celana dalamnya…. Ketika itu juga saya serta Liani sama-sama menghimpit hebat… menahannya serta rasakan detik-detik penuh kesenangan. Nafas Liani melenguh-lenguh, keringat bercucuran dari sekujur badannya. Memeknya menyempit serta … srrr….. keluar banjir yang hebat. Badannya bergetar menahan rasa geli yang mengagumkan. Saya juga menghimpit makin dalam.

Mmhhh… beberapa kali kemaluanku seperti meledak dalam cengkraman memek Liani. Berkali-kali juga lipatan kemaluan gadis itu menyempit serta menggenggam kemaluanku kuat-kuat saat ia juga melepas nikmat pada pagi nan cerah itu.

Rinay mendehem kecil saat kami menyudahi permainan itu dengan rasa senang. Liani menjatuhkan badannya yang basah oleh titik keringat di dipan, menelentang dengan nafas masih tetap terengah-engah. Bibir kemaluannya tampak membengkak, merah serta berkilat penuh dengan lendir. Rinay juga diam-diam keluar dari kamar, di dekat pintu ia menyibakkan rambut ikalnya, menjeling ke arahku, kemudian ia juga berlalu.

Baca Juga : Hubungan Gelap Dengan Istri Tetangga

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *