Bunga99 agen bola online
Pengalaman Pertama Sex Bertiga

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Pengalaman Pertama Sex Bertiga

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita Lendir – Pengalaman Pertama Sex Bertiga. Saya bekerja di satu perusahaan Even Orgenizer yang cukup populer di Jakarta. Di sana saya bekerja jadi Senior Akun Executive. Client terbesarku yaitu U*******r. Saya udah banyak menggoalkan proposal even yang kukerjakan dengan timku, tetapi ketika presentasi umumnya saya sendirian atau berdua dengan staffku seseorang junior akun executive atau salah seseorang dari tim kreatif.

Pengalaman Pertama Sex Bertiga

O ya, namaku Aryo, umum dipanggi Ari. Usiaku 29 th. belum juga menikah, belum juga mempunyai pacar, sekarang ini. Asli Bandung tetapi saya mengontrak tempat tinggal kecil, dekat yang dengan kantorku di bilangan Gatot Subroto. Penghasilanku lumayan, hasil tabunganku 4 th. bekerja di 3 perusahaan periklanan, bisa beli mobil yang kuidamkan, satu Mercy Tiger th. 1986, warna hitam serta type custom pelek lebar 18 inch, body ceper gaul, serta audio dengan sound quality yang memanjakan telinga. Cukup pas memberi dukungan pekerjaan serta penampilanku. Setidaknya orang bisa menilaiku seseorang eksekutif menengah di satu perusahaan.

Senin pagi itu saya ada janji berjumpa dengan Brand Manager U******r, untuk product shampo populer, terkait dengan pitching even shampo itu yang cukup mengambil alih saat istirahatku. Pergi pagi pulang subuh, sepanjang dua minggu walaupun diselingi dugem di HR atau di daerah Kemang jadi pelepas letih.

“Selamat siang, ada yang dapat dibantu? ” gadis manis receptionist menegur dengan senyum ramah di berwajah.
Lumayan, agak turunkan tensi, lantaran selalu jelas hari itu saya terasa tegang sekali terkait dengan proposal even yang pernah saya presentasikan satu minggu yang kemarin.

“Bisa berjumpa dengan Ibu Silvy? Saya ada janji berjumpa dengan beliau, Saya Ari, dari I*****”, sembari tunjukkan name tag-ku.
“Mohon ditunggu-tunggu sebentar, Ibu Silvy tengah ada tamu”, sembari mempersilahkan duduk, Cinthya tersenyum kembali.
Kutahu namanya dari name tag-nya.
“Revi kemana Mbak? ” tanyaku bertanya receptionist yang sempat kutemui pas saya presentasi.
“Dia telah resign, persis 1 minggu yang lalu”.
Ooo.. bermakna waktu saya presentasi, hari itu yaitu hari terakhirnya Revi.

Imut sekali. Lebih cantik dari Revi Tidaklah terlalu tinggi, namun tampak manis dengan blazer coklat, blouse krem serta rok sepaha, yang cukup lumayan tinggi, sampai kulit pahanya yang mulus tampak dengan terang. Sepatu hak tinggi menaikkan seksi kaki mungil cinthya. Usianya kurang lebih 24 atau 25 th.. Ah,.. sudahlah, sekurang-kurangnya dengan lihat Cinthya fikiran ku agak sedikit santai, berhubung minggu lantas saya dibantai habis-habisan oleh Ibu Silvy, dimulai dari rencana even sampai anggaran yang kuajukan. Tidak serupa dengan brand manager product yang lain, Ibu Silvy agak sedikit dingin tetapi gawat sekali dalam menilainya satu proposal. Pertanyaan yang bertubi-tubi ketika presentasi pertanda beliau begitu memiliki pengalaman sekalidalam menghandle product. Saat fantasiku melayang-layang pikirkan Cinthya dengan lingeries (basic cowok), mendadak nada Cinthya memecah konsentrasiku..

“Pak Ari, silahkan, ditunggu-tunggu di ruangan kerja Ibu Silvy”, sembari berdiri dekatku yang duduk di sofa ruangan tunggulah.
Bau Cool Water women tercium harum sekali menaikkan tajamnya fantasiku mengenai Cinthya, yang kusimpan dahulu sesaat untuk dilanjutkan sesudah berjumpa Ibu Silvy. Cinthya jalan dimuka mengantarku menuju raung kerja Ibu Silvy. Roknya cukup ketat, sampai menghadirkan garis CD yg tidak umumnya ku tengok.. G-String! Woow.. Kalau saya Ryo Saeba (City Hunter) pastinya saya udah dibuatnya mimisan. Tamu Ibu Silvy tampak keluar dari ruang Ibu Silvy. Sososk yang mustahil kulupakan, Hendra! bajingan itu mengambil rencanaku dua th. waktu lalu waktu keduanya sama kerja di B**O. Kurang ajar.. ngapain dia ketemu Ibu Silvy? Apakah dia lakukan project yang persis seperti saya tangani saat ini? Diakah musuh pitchingku? Who cares! Ketika sama-sama papasan kami cuma sama-sama pandang sebentar serta berlalu sangat saja..

“Ibu, Pak Ari dari I*****”, Cinthya memberi kabar Ibu Silvy yang tengah duduk menghadap jendela kaca.
Begitu membalik, Ibu Silvy tengah memegang proposalku serta melemparnya ke meja didepan beliau. Glek! This could be the end of the world.. Perasaanku makin tidak enak, lantaran pengalamanku sepanjang lakukan 19 proposal project even atuapun Integrated Marketing Communication, cuma 2 yang tidak diterima, itupun kalah pithcing denga agensi beda. Bermakna ini yang ke tiga dari 20.. que sera sera.. what ever will be, will be.

“Duduk Ri,.. ” sejalan pintu ditutup Cintya dari luar.

Kurang lebih 3 menit ruang itu hening. Terus jelas saya makin grogi dibuatnya. Tidak terpikirkan satu katapun untuk di luncurkan buka kebekuan ini. Ibu Silvy lihat proposalku sembari kadang-kadang melirik padaku. Gilaa.. Saya makin salah tingkah dibuatnya.. tidak sempat sebelunya saya terasa setegang ini serta jadi tidak percaya diri.

“Ha.. ha.. ha.. ha.. tidak usah tegang gitu deh Ri! ” sembari berdiri serta jalan ke almari es kecil di samping sofa di ruangnya.
“Mau minum apa Ri..? ” sembari buka almari beliau berkata.
Puihh.. tensiku sedikit alami penurunan.

“Ehm.. anything you drink.. same as you I guess”, masih tetap beku lidahku, meskipun di almari es itu kulihat Vodka Cruiser, minuman kegemaranku.
Beliau ambil 2 Coke kaleng dingin. Satu diposisikanya di depanku sebelumnya setelah beliau buka.

“Honestly.. I do like your proposal.. very much! ” sembari selanjutnya meneguk Coke dari kalengnya.
Sedikit mengibaskan rambutnya sebelumnya minum, leher jenjangnya tampak putih, begitu seksi..

Hampir loncat dari kursi saya mendengarnya serta berteriak hore.. Tetapi tidak kulakukan.. Jaim.. jaim Ri..

“O ya..? How could you posibbly like my proposal? Perasaan saya bikinnya tidak sangat percaya diri bu, ” kataku merendah, sembari kumundurkan tubuhku menyentuh sandaran, sampai terasa santai.

“Oo.. jadi jika percaya diri, mungkin saja tambah bagus kembali yaa..? Ah, lu dapat saja deh Ri”, sembari sedikit tertawa.
Hari itu Ibu Silvy yang kukenal waktu pertama kalinya presentasi begitu tidak serupa. Imageku mengenai Bu Silvy segera beralih 180 derajat. She’s so lovely today.

“Mmm, sini deh Ri..! ” kembali berdiri serta jalan menuju sofa.
Sedari barusan baru saat ini saya tampilan Ibu Silvy yang sangat menggairahkan, lantaran konsentrasiku masih tetap tertuju pada proposal. Blouse putih, tidak tebal ketat, menghadirkan garis bra hitam yang sangat menggoda. Rok tinggi hitam serta stoking hitam tidak tebal membungkus kakinya, ditambah sepatu hak tinggi bergaya stilletto makin menaikkan beliau seksi.

Saya jalan ikuti beliau duduk di sofa. Beliau duduk di one piece sofa sedang saya duduk di sofa besarnya. Saya duduk agak di tengahnya serta beliau duduk di sofa sisi sofaku serta membuat pojok 90 derajat kurang lebih.

“I like the idea about hair test.., hal tersebut bisa menghidupkan ketergantungan customer pada product S*****k. I mean, we can find the reason why people must use certain variances.. ”, kulihat semangat di matanya, menandakan proposalku di terima. Bahasanya campur aduk Inggris-Indonesia, lu gue, serta semua kosa kata yang masih tetap kumengerti.

Pembicaraan itu makin hangat. Gestur Ibu silvy makin enjoy dengan berlain-lainan tempat. Sekali-kali bersender, selanjutnya maju kembali. Seringkali menyilangkan kakinya bolak-balik, buat saya sedikit melirik ke arah pahanya serta pikirkan apa yang berada di balik roknya, membuatku makin tidak enak duduk, lantaran burungku telah menginginkan terlepas dari sangkarnya. Apalagi beliau kerap sekali menepuk pahaku, meskipun saya telah berupaya untuk menjauh sedikit, lantaran menginginkan merawat imageku. Sampai selanjutnya dudukku makin ketengah sofa, yang automatis buat jarak duduk cukup satu orang di sampingku. Konsentrasiku makin terpecah, ya dengarkan Ibu Silvy, sembari kadang-kadang membalas pembicaraan, serta lihat beberpa sisi badan Ibu Silvy, muali dari kancing atas blousnya yg tidak tertutup, yang dengan terang mempertunjukkan dua bukit tertutup bra berlace hitam, serta ke arah sisi paha sampai dalamnya rok atasnya.

“But, before I accept this proposal, ada banyak hal yang ingin gue omongin sama elu”, sembari menarik tubuhnya bersender pada sofa.
Jarak duduk dia yang agak jauh dengan senderan sofa, buat dia agak sedikit berbaring. Ke-2 pahanya terbuka, buat saya makin penasaran daerah yang pada mulanya gelap. Tanggannya menarik sedikit roknya ke atas. Jantungku sedikit berdegup keras, sembari menelan ludah mataku terkonsentrasi pada daerah barusan.

“Gue dari barusan merhatiin elu liatin tubuh gue.., lu sukai khan..? ” sembari senyum sedikit menggoda.
“Eehhm.. mm.. mmaksud Ibu..? ” tergagap saya mendengar pertanyaan itu.
“Gak usah panggil gue Ibu, panggil gue Silvy”, sembari berubah tempat duduknya di sebelahku.
Hilang ingatan.. pengin ngapain nih si Ibu? Fikirku dalam hati. Terus jelas, keinginan kelelakianku tambah kuat.
“Don’t be so naive.. Ini khan yang lu tunggulah..? ” bibirnya mendekati mukaku.

Kontan saya menyambutnya. Hilang telah perasaan sungkanku pada beliau. Yang ada cuma nafsu yang menginginkan kupuaskan, sesudah 2 minggu puasa kepentingan biologis, lakukan proposal project ini. Bibir kami menyatu, lidah kami sama-sama menyusup masuk kedalam rongga mulut. Sambil mendorong tubuhku sampai selanjutnya tiduran di sofa panjang itu, Silvy, demikianlah kupanggil namanya saat ini tanpa ada atribut Ibu, makin agresif meraba burung yang masih tetap dalam sangkar tetapi telah berdiri tegak. Rasa pegal di burung selanjutnya hilang waktu kusadari Silvy udah buka celanaku, serta keluarkan penis yang berdiri tegak, mencari sangkar hangat.

“Jika lu pengin project ini goal, puasin gue saat ini.. ngerti? Gue tidak ragu-ragu untuk tunda atau menampik porposal lu, jika lu tidak puasin gue hari ini.. ”, ancaman itu terdengar menantang sekalian anugrah yang tidak terkira.
Bajuku udah terbuka, Silvy menjilati serta mencium leherku, selanjutnya turun menyebar ke bawah, centi untuk centi dadaku, sampai selanjutnya menjilati serta menciumi putingku. Putingku digigitnya, mengakibatkan sensasi luarbiasa. Saya berupaya melepas baju yang digunakan Silvy, sampai selanjutnya kulempar tidak tahu kemana. Tinggallah silvy cuma memakai bra hitam seksi, sembari masih tetap menjilati tiap tiap centi dadaku.

“Oooh.. Sil.. god.. mmh” saya meracau nikmati permainan lidahnya.
Silvy sangat buas menjilati dadaku yang ditumbuhi sedikit bulu. Tanganku mencapai pengait bra, serta lepas. Kulepaskan serta kulempar kembali tidak tahu kemana. Saat ini dua daging kembar itu menyentuh perutku. Makin Silvy bergerak kebawah, merasa gumpalan daging itu memijat penisku serta makin memberi sensasi mengagumkan. Tiba-tiba, Silvy hentikan kesibukannya, serta berdiri.

“Tunggu, gue mempunyai surprise penambahan buat lo.. ”, sembari jalan menuju telepon.
“Cin, ke ruang ku sebentar,.. gantiin pekerjaan mu sama Marini. Minta sama dia, Gue tidak pengin terima telepon, gue tidak terima tamu hari ini sampai jam 5. Is that clear? ” jawaban Cinthya di speaker phone akhiri keinginan Silvy.
Saya kaget 1/2 mati, serta cepat-cepat mengancingkan bajuku serta berupaya membereskan celanaku.

“Ri, tidak butuh deh lu rapiin, .. ”, tutur Silvy, seraya pintu di buka oleh Cinthya.
Cinthya tersenyum ke arahku, sembari mengunci pintu dari dalam serta lantas hampiri Silvy yang masih tetap berdiri dekat meja. Kekagetanku makin tambah, waktu mereka berpelukan serta sama-sama cium ala french kiss. Cinthya meremas payudara Silvy, sembari berciuman.

“Cin, pengin kan nemenin saya muasin diriku bareng Ari? ” mendadak Silvy beralih jadi romantis.
Cinthya mengangguk tanda sepakat serta tersenyum ke arahku. Fantasiku jadi realita, selanjutnya saya bisa nikmati badan Cinthya.

Mereka berdua menghampiriku. Silvy kembali menciumku, bibir kami sama-sama berpagut. Sesaat Cinthya keluarkan batang penisku, yang selanjutnya dihisapnya. Woow sensasi mengagumkan.

Gantian kuhisap payudara Silvy, serta dia juga melenguh.
“Eughh.. hmm.. Ari.. ahh.. ”, ceracau Silvy, sembari kuremas pantatnya.
Kusingkapkan roknya, serta nyatanya Silvy menggunakan pantyhose, stoking celana. G-String hitam membayang menaikkan gairah. Sesaat Cinthya masih tetap repot dengan penisku. Hisapan begitu enak, menandakan dia juga pengalaman. Sambil buka satu-persatu bajunya, Cinthya menjilati zakarku, ujung penisku juga tidak luput dibikin geli olehnya, sampai selanjutnya tinggal g-stringnya yang masih tetap melekat.

Saya selanjutnya berbaring di sofa panjang, gantian Silvy menjilat serta mengisap penisku, sesaat vagina Cinthya ada diatas mukaku. Kujilati vagina yang telah mulai becek dari sela g-string yang masih tetap melekat.

“Ahh, .. Ehm.. nikmath sekalihh.. uhh.. ”, lidahku menari di vagina Cinthya.
Cinthya membungkuk sampai selanjutnya kami membuat tempat 69, join dengan Silvy yang tengah mengisap penisku. Berubahan mereka menjilat serta mengisap penisku, serta terkadang mereka sama-sama menjilat lidah semasing, mau pun berciuman.

“Slurp.. Slurp.. mmcup.. ahh.. slurp.. ”, bunyi hisapan bercampur air liur mereka yang membasahi penisku.

“Aaach.. Arii.. ohchh.. aahh”, Cinthya berteriak, tanda orgasme.
Mulutku juga belepotan oleh cairan vagina Cinthya. Cinthya beranjak dari mukaku serta duduk di sofa satunya sekali lagi.

“Sekarang giliranmu Sil”, kataku mulai berani untuk menyeimbangi permainannya.
Rasa sungkan itu hilang bersamaan timbulnya nafsu menggebu untuk ikut nikmati vagina Silvy. Silvy berbaring di sofa panjang. Terlihat noda basah di sekitaran pantyhose yang menutupi g-string serta vaginanya.

Kujilati perlahan-lahan pantyhosenya, menaikkan lebarnya noda basah itu. Kuakui, pada akhirnya saya suka pada wanita dengan pantyhose terpasang seperti Silvy. Silvy menggelinjang keenakan. Kugigit sampai sobek pantyhosenya, sampai buat lubang serta dengan terang memperlihatkan CD hitam seksinya. Kusingkapkan ke tepi, sampai celah vagina Silvy kelihatan. Perduli sangat saya mesti ganti atau tidak pantyhosenya. Seribu pantyhose juga yang dia minta tentu kuganti.. mercy saja saya dapat beli terlebih yang begituan.

Pengalaman Pertama Sex Bertiga

Penetrasi lidahku makin buas, buat Silvy mengerang kesenangan, serta kadangkala berteriak. Kutahu tentu area itu kedap nada, karna pintunya juga begitu tidak tipis, duakali tidak tipis pintu umum kali. Disamping itu Cinthya yang masihlah kelelahan, memainkan vaginanya dengan jari, sembari nikmati permainanku dengan Silvy.

Erangan kuat Silvy menandai dia sudah menjangkau puncaknya, makin besar juga lah, noda basah di pantyhose sekitaran vaginanya.

“Ari.. saya senang banget, Ri benar-benar.. ”, Silvy memberikan pujian pada permainan lidahku.
“Just wait ladies, you haven’t seen it all.. ”, kataku sembari melepas baju yang telah lepas kancingnya.
Kuturunkan juga celana lea permanent pressku serta CDnya.

Perlahan-lahan ku hampiri Silvy yang masihlah terbaring. Kuraih kaki indah yang masihlah terbungkus pantyhose hitam. Kujilati ujung kakinya, sembari kadangkala kukgigit perlahan-lahan, mengundang rasa geli yang tidak bisa ditahan Silvy, sampai badan indah Silvy bergerak ke kanan serta ke kiri. Kaki Silvy mengundang bau harum ciri khas yang menaikkan naiknya libidoku ke ubun-ubun. Ku sususri betis sampai paha dengan lidahku, sampai pada akhirnya hingga pada vagina basahnya. Sekitaran lima menit kujilati, lantas saya berdiri tegak. Bagai pedang terhunus, ku dekatkan penis tegak ini ke vagina Silvy. Lewat lubang pantyhose yang kubuat serta celah g-string yang terungkap, ku mainkan penisku, menyeka labia mayora Silvy yang telah becek.

Baca Juga : Nikmatnya Gadis Bali

“Masukin.. Ri.. Ayoo.. Masukin sayang, saya telah gak tahan.. janganlah sikhsa akuhh Rii.. Ingat proposalmu sayang.. ohh.. ” dalam kondisi terangsangpun Silvy masihlah dapat meneror.

“Siap ya sayang.., ” serta perlahan-lahan centi-demi centi batang penisku amblas di vagina hangat serta sempit ini.
Bless.. semua batangku dilahap vagina Silvy. Rasa hangat serta geli makin merasa. Terlebih vagina Silvy seperti memijat penisku. Perlahan-lahan kucabut serta kumasukkan kembali dengan tempo yang makin cepat. Tangan Silvy merangkul leherku. Pergerakan pantatku maju mundur dengan irama yang semakin cepat.

“Oh.. Oh.. Oh.. Good.. ah.. aa.. aahh” kalimat itu tampil selaras dengan keluar masuknya penisku di vagina Silvy.
Smentara itu Cinthya yang sejak dari barusan memainkan vaginanya, hampiri Silvy. Bibir mereka sama-sama berpagut, lalu lidah Cinthya menyebar ke leher sampai payudara Silvy. Dihisapnya puting Silvy sembari kadangkala digigitnya.

“Damn it, You fuck me ghhoodd.. occhh.. Shit! ” Silvy kembali meracau.
“I wanna cum.. I wanna cumm.. AAHH.. Shit.. You’re really good honey.. ”.
Tidak sia-sia saya menjaga badanku di Gym hotel Mulia Senayan. In fact, saya juga miliki berlangganan tetaplah penyaluran nafsuku disana. Seseorang Instruktur aerobic cewek.

Kucabut perlahan-lahan penisku dari vagina Silvy. Saya hampiri pantat Cinthya yang masihlah repot menjilat puting payudara Silvy. Kuturunkan CD-nya, serta kulepas dari kakinya. Kuciumi sebentar, serta aromanya buat libidoku makin meledak. Kugigit g-string warna krem barusan sembari kuarahkan penisku, mencari lubang anus Cinthya. Kubasahi penisku dengan ludahku sendiri. Cinthya terlihat agak keberatan karna pantatnya bergerak-gerak selalu kiri kanan. Namun sekali peluang kupegangi kuat-kuat pantanya. Kumasukkan perlahan-lahan. Cinthya menjerit. Pertama akupun terasa perih, akan tetapi lama-lama, bersamaan dengan adanya banyak ludah kuoleskan di penis, semain licin juga jalan masuk. Cinthya juga terasa keenakan, memperoleh sensasi baru ini.

“Ari.. Achh.. Nikmat sekali.. aduuhh.. Ari.. cepetin dong.. achh” racau Cinthya.

“Yes, fuck her in the ass baby! ”, seru Silvy sembari merubah tempat dengan vagina menghadap muka Cinthya.
Cinthya tidak melepas peluang untuk menjilat vagina Silvy. Permainan tetaplah jalan bertiga. Sesekali kutampar pantat Cinthya, buat Cinthya melenguh kesakitan, akan tetapi suaranya menaikkan sensasi.

Geli di ujung penisku makin kuat. Tidak berapakah lama ku cabut batang penisku. Cinthya membalik menghadap penisku sembari duduk di sofa. Demikian halnya Silvy. Kukocok cepat penisku, sesaat mulut mereka sudah siap terima spermaku.

“Give it to me darling.. yes.. shake it..! seru Silvy menyemangati kocokanku.
“Ayo Ri.. saya telah lama gak minum sperma.. c’mon Ri”, Cinthya juga ikut menyemangati juga bersahut-sahutan dengan Silvy.

“I’m Cumming.. oh.. oh.. oh.. AARGHH..! ”, teriakku, bersamaan dengan keluarnya sperma, menyemprot muka mereka berdua silih bertukar.
Cinthya serta Silvy menjilati leleran spermaku di mukanya, kadangkala mereka juga sama-sama menjilat. Oooh, pengalaman pertama orgyku yang hebat.

Saya terduduk lemas, mereka menghampiriku sembari lalu menjilati batang penis yang masihlah penuh dengan sisa-sisa sperma. Pastinya perbuatan mereka membuatku menggelinjang.

“Ok, Ri, .. you’re the best fucker I’ve ever know.. and proposal lu juga gue terima”, kata Silvy sembari duduk di samping kananku.
Sesaat Cinthya ada di samping kiriku. Kesenangan ganda yang tidak ada duanya.
“Ri, thank you very much”, papar Cinthya sembari lalu melumat bibirku.

Situs Agen BandarQ Online Poker Domino QQ 99 Terpercaya
8 Situs Agen Poker Online BandarQ Domino QQ 99 Terpercaya
7 Situs BandarQ AduQ DominoQQ Online Terpercaya 2017
Situs BandarQ Poker Domino Online Terpercaya Terbaik 2017
Agen Situs Poker BandarQ Online Terpercaya Terbaik Tahun Ini

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *