Bunga99 agen bola online
Puncak Kenikmatan Ternikmat

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Puncak Kenikmatan Ternikmat

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirPuncak Kenikmatan Ternikmat – Lembayung mulai melingkupi ufuk langit. Beberapa ratus perdu saat ini tinggal bayang-bayang hitam, seperti serdadu bergerombol dalam diam. Angin tidak sangat kencang, namun sudah pasti dingin. Puncak gunung ini cukup tinggi untuk ukuran beberapa pendaki pemula. Dalam remang yg menemaram, Rima duduk di tanah memeluk lututnya, melihat ke depan sana : kabut tidak tebal di mana-mana. Jaket besar-tebal membungkus badannya, berikan hangat yg lumayan.

Puncak Kenikmatan Ternikmat

Badannya letih, namun hatinya lega. Sesudah mendaki empat jam penuh, Rima berasa nikmat-hikmat duduk melihat Sang Teja yg bersiap menggelap. Sebentar sekali lagi langit juga akan beralih jadi hamparan hitam maha luas. Lantas juga akan ada satu dua bintang, sebelumnya selanjutnya jutaan-milyaran kerlap-kerlip juga akan penuhi semesta maha tinggi itu. Pada waktu seperti tersebut Rima serta selusin pendaki yang lain juga akan berasa sekecil butir debu. Merasa seperti kutu tidak berdaya dibawah naungan alam yg sangat perkasa. Merasa juga akan dengan gampang terhembus lenyap dari muka bumi kalau alam punya niat demikian.

Seseorang pendaki lamat-lamat menyanyikan puja-puji pada alam, disertai harmonika rekannya. Rima turut berbisik mengucap syairnya. Hatinya merasa dipenuhi rasa lega karna nyata-nyatanya bumi begini luas. Ternyata pada kita disiapkan demikian banyak kelapangan-keleluasaan. Tak ada tembok disini. Tak ada atap. Semua terbuka-terhampar.

Begitu bedanya dibawah sana, ditempat yg hiruk-pikuk serta sempit oleh tempat tinggal, gedung, jembatan, pagar-tembok, tangsi militer, toko, rumahsakit… tak tahu apa sekali lagi! Begitu terhimpitnya dibawah sana, serta begitu jumlah permasalahan. Sehari-hari dibawah sana ada permasalahan menyerbu seperti banjir bandang. Kadang-kadang tersebut yg mengakibatkan kita terbenam, atau tenggelam, atau terlindas-tandas. Kita tidak dapat lari, karna ke sana-kesini terbentur tembok. Ada banyak tembok kasat mata. Tidak kurang banyak juga tembok maya-nestapa. Semua siap menghambat sambil turut merajah-rajam.

Rima menarik nafas dalam-dalam, penuhi dadanya dengan udara fresh yg dapat mengusir keluh di hatinya. Kalau hidup ini senantiasa luas-lapang seperti di puncak gunung, pasti tidak juga akan ada gundah. Pasti semua juga akan nyaman belaka. Namun, …. Rima menghempaskan nafasnya kuat-kuat, namun hidup ini dapat jadi bajingan. Life is a bitch!. Hidup ini benar-benar tidak pengin kompromi. Bahkan juga pada seseorang gadis kecil yg kehilangan Ibunya pada saat masih tetap berumur 5 tahun…

******

Rima menggigit bibirnya sendiri tiap saat ingat Ibu. Ia tidak sempat ingat muka Ibu yg sebenarnya, oleh karena itu ia cuma tergantung pada satu photo yg saat ini nyaris lusuh di dompetnya. Dari photo itu Rima dapat senantiasa kembali mengenang matanya yg teduh namun agak sipit. Terlahir dari keluarga paduan, ibunya termasuk juga cantik sekali. Rambutnya yg ikal datang dari Kakek yg datang dari Indonesia Timur. Bibirnya yg tidak tebal serta matanya yg sedikit sipit datang dari Nenek yg masih tetap miliki kerabat di Hong Kong. Foto hitam-putih itu di buat di satu studio, menunjukkan Ibu saat berumur 20-an, sebelumnya menikah dengan Bapak. Cantik sekali, Ibu mengerling tajam, dengan badan putih-mulus dibalut kebaya moderen.

Di tiap-tiap puncak gunung dimana juga Rima mendaki, senantiasa ia luangkan berbisik ke langit, “Ibu, Rima rindu kepadamu. Peluklah Rima dari atas sana. ”.. Serta seperti riil, Ibu juga datang memeluknya berbentuk kabut tidak tebal yg merayap pelan-pelan di sekujur badan. Atau berbentuk kelam-malam yg membungkus seluruhnya isi alam. Atau berbentuk wangi edelweis yg merebak pada pagi hari.

Saat Rima masih tetap kecil, ia tidak sempat tahu apa makna Ibu yg tidak ada. Baru sesudah berumur belasan, sesudah Bapak makin seringkali pulang malam atau tidak pulang sepanjang 3 hari berturut-turut, Rima tahu kenapa Ibu baiknya ada di tiap-tiap rumahtangga. Juga saat salah seseorang kakak pria-nya (Rima yaitu hanya satu wanita) wafat karena over-dosis, Rima juga sadar kalau Bapak yaitu pria yg tidak berdaya. Kakaknya yg tertua menghilang dari tempat tinggal saat Rima berumur 12 serta baru terlihat sekali lagi saat Rima lulus SMA. Ia ingat, kakaknya datang dengan satu motor Harley Davidson, dengan badan penuh tatoo. Lantas ia mendengar kakaknya berkelahi riuh dengan Bapak di ruangan tamu. Lantas Bapak terjengkang ditinju kakaknya, serta Rima berdiri saja di bingkai pintu seperti melihat film Kung Fu.

Kenapa ia tidak menjerit lihat hidung Ayahnya berdarah? Kenapa ia seringkali turut berasa menginginkan memukul hidung itu? Kenapa ia tidak dapat melupakan wanita yg dibawa Bapak serta disetubuhinya di kamar Ibu? Kenapa ia terus berang bila ingat gelas yg dibuangkan padanya saat Bapak mabuk di ruangan tamu? Kenapa ia seringkali tidak pengin menuruti perintah Bapak? Kenapa ia seringkali mengharapkan supaya Bapak masuk penjara atau tewas di jalan raya? Mengapa….?

Rima menunduk, sembunyikan mukanya diantara ke-2 lututnya. Malam di puncak gunung telah makin gelap. Salah seseorang pendaki berteriak menyebutkan kalau api unggun telah menyala. Seseorang yang lain menyapa Rima serta tawarkan rokok. Ada pula suara-suara beda di sekitarnya. Ada tawa. Ada nyanyi. Ada teriakan-lepas. Ada cekakak-cekikik. Rima diam saja membiarkan dianya terbungkus oleh bermacam nada itu.

******

“Aku tidak yakin ungkapan ‘alam yg kejam’…, ” ucapan Kino terngiang di telinga Rima, “Alam senantiasa bersahabat. Lihatlah! ” kata pemuda itu sembari membentangkan tangannya.

Serta Rima ingat, tersebut pertama kalinya ia berdiri di puncak satu gunung yg tidaklah terlalu tinggi. Tersebut waktu ia resmi jadi anggota Pencinta Alam bersama Kino. Tersebut juga waktu ia melirik ke pemuda jangkung di sampingnya serta berbisik dalam hati,.. siapa pacarnya?

Untuk Rima, pemuda atau lelaki atau cowok bukan hanya mahluk asing. Ayahnya yaitu salah satunya contoh mahluk itu. Seluruh kakaknya yaitu mahluk itu juga. Pacar-pacarnya, sejak dari SMP hingga detik ini, yaitu mahluk itu juga. Jadi untuk Rima tak ada yg asing dari pemuda di sampingnya ini. Terkecuali satu… pemuda ini mengajaknya naik gunung, sesaat yg beda umumnya menginginkan menaiki “gunung”-nya yg tidak sangat besar itu!

“Banyak yg mati saat naik gunung, ” kata Rima saat itu, coba mengundang perbincangan.

“Lebih banyak yg mati di jalan raya, ” jawab Kino kalem.

“Kalau orang yg naik gunung sama jumlah dengan yg di jalan raya, mungkin saja yg mati di gunung semakin lebih banyak, ” sergah Rima tidak pengin kalah.

“Kalau orang yg naik gunung segitu banyak, gunungnya meledak serta semua mati! ” kata Kino, serta Rima tertawa tergelak-gelak mendengar jawaban telak itu.

Kino senantiasa dapat membuatnya tertawa. Pemuda itu mempesonanya mulai sejak awal, karna Rima lahir serta besar di dalam kakak-kakaknya yg brengsek. Salah satu kakaknya -yang nomor dua- seringkali menampar. Kakak yg beda sempat menunjukkan buku porno padanya, serta meraba dada serta pantatnya saat ia masih tetap SMP. Kakak tersebut yg lantas tewas OD. Kakak tertuanya -yang memukul Bapak itu- yaitu pemimpin salah satunya group gangster ibukota. Kakak tertua ini yg seringkali memberikannya uang serta mengajarinya minum bir, terkecuali membekalinya dengan pil anti hamil serta sekotak kondom. Untuk Rima, Kino yaitu kebalikannya dari semuanya!

Rima “menemukan” Kino dalam situasi perploncoan yg seru. Pemuda itu tengah duduk dibawah gerbang universitas, membaca Proklamasi keras-keras serta berkali-kali. Sesaat ia sendiri mesti berdiri di seberang jalan sembari berikan hormat ke tiap-tiap angkot yg lewat. Saat hukuman untuk keduanya selesai, mereka jalan bersama-sama tidak berniat, serta sama sama ganti senyum utk sekedar berasa senasib.

Lantas mereka seringkali bersama, serta selanjutnya Kino berhasil membujuknya turut mendaki. Rima ingat sekali, sebelumnya mendaki ia tengah gundah karna Ayahnya berikan berita kalau ia juga akan menikah. Hilang ingatan, telah setua itu pengin menikah. Kenapa tidak selekasnya sesudah Ibu wafat saja ia menikah? Kenapa mesti menanti, serta menyiksa diri sekalian anak-anaknya, sebelumnya mengambil keputusan menikah? Rima emosi sekali saat itu. Demikian emosinya hingga ia berasa putus harapan serta berfikir berkenaan bagaimana langkahnya menjumpai Ibu secepat-cepatnya!

“Ayolah, di gunung kita dapat berfikir lebih jernih! ” desak Kino saat mendengar argumen Rima kalau ia tengah jemu.

“Nggak, ah! Capek jalan jauh.., ” Rima menampik.

“Nanti saya gendong! ” sergah Kino sembari membungkuk memperagakan kesiapan untuk menggendong. Rima tertawa sembari mencubit lengan pemuda itu.

“Tinggi, tidak, gunungnya? ” bertanya Rima mulai sangsi atas penolakannya sendiri.

“Ah, tidak. Terlihat dari sini, kok! ” kata Kino bergairah.

“Dasar bego, … bln. juga terlihat dari sini! ” sergah Rima sembari mencubit sekali lagi. Ia suka sekali mencubiti Kino karna pemuda ini rupanya tahan cubitan.

Akhirnya ia pergi, serta nyata-nyatanya memanglah gunungnya tidak sangat tinggi terkecuali juga landai. Begitu benarnya Kino, puncak gunung nyata-nyatanya memberikannya udara fresh yg secara cepat menjernihkan keruh diingatannya. Puncak gunung nyata-nyatanya dapat menghapus Bapak dari fikirannya. Baru kesempatan ini Rima berasa dapat terlepas dari bayang-bayang lelaki tua itu!

Mulai sejak tersebut ia terpikat pada Kino, senantiasa menginginkan didekatnya, serta mengharapkan pemuda itu juga menyenanginya. Namun Kino nyata-nyatanya hanya suka berdekatan. Kino nyata-nyatanya tidak menyenanginya seperti ia mengharapkan pemuda itu menyenanginya. Kino nyata-nyatanya cuma pengin jadi sahabatnya. Rima pernah terluka, serta berdiri lama dimuka cermin : apakah saya kurang cantik?

Namun lama kelamaan dapat Rima terima penolakan pemuda itu, serta mereka lantas jadi sahabat-karib saja. Itu juga telah cukup untuk Rima.

*****

“Hei, melamun sekali lagi! ” hentak seorang.

Rima mengangkat muka, temukan muka tegar Yardin, sang pemimpin pendakian. Tersenyum, Rima menarik tangan pemuda itu, mengajaknya duduk dekat-dekat.

“Apa yg anda fikirkan? ” bertanya mahasiswa jurusan sipil yg lebih tinggi dua tingkat dari Rima itu. Ia duduk dekat sekali di bagian gadis itu. Bahu mereka bergesekan akrab.

“Macam-macam…. Ujian semester, perang di Timur Tengah, nasib Tim Bulutangkis, dampak gerhana matahari pada kesehatan…, ” kata Rima sembari menelusupkan tangannya dibawah lengan Yardin.

“Tidak satu juga ada yg relevan untukku, ” sela Yardin dengan suara mengeluh.

Rima tertawa. Ia paham, pemuda ini memancing pembicaraan lebih intim. Pasti pemuda ini menginginkan Rima menjawab dengan “memikirkan kamu” atau yg semacamnya. Sayang sekali, Rima memanglah tidak pikirkannya.

“Kenapa, sich, anda tidak sempat pikirkan sesama mahasiswa? ” desak Yardin.

“Lho, kok dapat menyimpulkan demikian. Saya seringkali pikirkan sesama mahasiswa, ” sahut Rima menahan senyum.

“Misalnya, pikirkan saya, …begitu? ” ucap Yardin nekad.

“Ya. Saya seringkali pikirkan anda, ” jawab Rima sembari mempererat pelukannya di lengan pemuda itu. Ia memanglah sayang pada pemuda yg maha-penolong padanya ini. Ia paham pemuda ini tertarik padanya. Begitu tertarik, bahkan juga!

“Apa yang anda fikirkan? ” bertanya Yardin melihat, melihat dari jarak dekat muka Rima yang tomboy namun manis itu. Ia sukai pada mukanya yang halus tidak berjerawat itu, pada hidungnya yang mungil serta lucu itu, pada matanya yang membola-mempesona itu.

“Banyak! ” sergah Rima sembari menumpukan kepalanya di bahu Yardin.

“Tolonglah, ungkapkan satu saja salah satunya, ” kata pemuda itu penuh permintaan.

“Perbuatan anda 1 minggu waktu lalu, umpamanya, ” kata Rima.

Selekasnya Yardin menegakkan duduknya. Sekujur badannya menegang, serta Rima tersenyum sembari tetaplah menyandar di bahu pemuda itu. Saya menyentuh satu titik peka, bisik Rima dalam hati.

“Aku, kan, telah mohon maaf, Rima…, ” kata Yardin dengan nada perlahan.

Rima tertawa kecil, “Dan saya, kan, telah memaafkan. ”

“Tetapi mengapa diungkit sekali lagi? ” bertanya Yardin masih tetap dengan nada perlahan.

Rima tertawa sekali lagi, “Lho, tuturnya pingin tahu apa yang saya fikirkan! ”

“Berarti anda belum juga memaafkan, ” sergah Yardin cepat.

“Memikirkan dengan memaafkan, kan, dapat searah. Bagaimana, sich, anda!? ” sergah Rima tidak kalah cepat.

“Malam itu saya tidak punya maksud begitu…, ” kata Yardin, namun selekasnya dipotong Rima,

“Alaaah! … ngga usah diulang. Saya tahu anda tidak punya maksud meraba-raba serta mengajak bercumbu demikian jauh. ”

“Ssst! ” Yardin tempelkan telunjuk di bibirnya sembari lihat berkeliling-keliling. Ia takut ucapan Rima terdengar yang beda, walaupun sejujurnya kemungkinannya kecil karna angin mulai mengencang keluarkan nada berkesiut.

Rima tertawa kecil serta dengan nada perlahan berkata, “Aku tahu anda sukai, walaupun anda tidak punya maksud. Saya tahu anda pingin kita melakukan perbuatan lebih jauh, walaupun anda tidak punya maksud. Mengapa, sich, harus mohon maaf selalu? ”

“Jadi, apa yang anda ‘pikirkan’ itu? ” desak Yardin.

Rima menarik lengan pemuda itu, merapatkannya lebih dekat ke badannya, lantas mencium sepintas pipinya, sembari berbisik, “Aku tidak keberatan, namun tidak mesti demikian jauh, serta tidak mesti menuntut saya jadi pacarmu. ”

Terdengar Yardin menghela nafas lega serta menundukkan kepalanya. Diambilnya sebutir batu kecil, ditaruhkannya ke depan, ke tempat gelap.

“Satu lagi…, ” kata Rima masih tetap dengan berbisik.

“Apa? ” kata Yardin sembari menengok, temukan sepasang mata bening menatapnya tajam.

“Kalau saya katakan tidak, berarti tidak. Bila saya katakan ingin, bukanlah bermakna selanjutnya ingin, ” ucap Rima tanpa ada berkedip.

Yardin menunduk sekali lagi, lantas berucap perlahan, “Padahal saya harapkan anda ingin jadi pacarku, Rim. Saya bukan hanya pingin bercumbu. ”

“I know.., ” ucap Rima, “Tetapi saya tidak ingin jadi pacarmu. Saya tidak mencintaimu, walaupun saya sukai padamu”

“Apakah karna ada yang beda? ” desak Yardin.

“Ada, ” jawab Rima, namun cepat-cepat ia meneruskan, “Jangan bertanya namanya, karna akan tidak kujawab. ”

Yardin terdiam. Ia mendengar selentingan, satu diantara kawan akrab Rima (semuanya isi universitas tahu empat kawan akrab itu : Rima – Ridwan – Tigor – Kino, R2TK) yaitu kekasih Rima. Namun tidak mungkin, karna Rima tetaplah ingin di ajak naik gunung terpisah dari sahabatnya, serta tetaplah ingin di cium bahkan juga diraba-raba seperti minggu kemarin. Namun Rima juga bukanlah gampangan, serta Yardin sesungguhnya terasa bangga dipilih jadi orang yang bisa mencumbunya, walaupun “serba tanggung”. Ah, rumit sekali gadis ini, keluh Yardin dalam hati.

“Hei, gantian anda yang melamun! ” sentak Rima.

Yardin menghela nafas dalam-dalam, “Makan malam, yuk! ” tangkisnya mengalihkan tema.

“Oke, ” sahut Rima riang, “Tetapi cium dahulu, dong! ”

Yardin mencium pipi Rima yang dingin karna angin gunung itu, lantas bangkit serta menarik gadis itu turut dengannya. Malam itu mereka makan lontong yang dibawa dari tempat tinggal, dengan lauk dua kerat dendeng manis. Sedap sekali!

******

Jadi saat ini ada dua hal utama dalam kehidupan Rima : gunung serta lelaki….

Ia suka pada yang pertama. Sedangkan yang kedua… hmmm… ia seringkali ikut serta kontradiksi serta ironi. Ia kehilangan sosok Bapak selama hidupnya, maka ia berkembang jadi tomboy. Namun pada waktu yang sama ia merindukan pelukan-rengkuhan, maka ia juga seringkali berubah pacar, serta seringkali membiarkan pacar-pacarnya berlaku seperti seperti lelaki terhadap lawan macamnya.

Bagaimana seandainya keduanya -gunung serta lelaki- join? Macam-macam juga dapat berjalan. Ada momen yang paling terkesan disaat Kino mencium namun menampik ajakan bercumbu (baca Serial Kino, episode… mencari ndili, deh!). Ada momen lucu disaat beberapa lelaki berebut membantunya buat menarik perhatiannya. Ada momen sedih disaat seseorang lelaki jatuh serta patah kakinya, sesaat Rima yaitu hanya satu wanita waktu itu. Ada juga momen bergairah, seperti malam itu disaat Yardin kembali menciumnya dibalik batu di seberang api unggun.

“Bibir anda manis sekali, ” bisik pemuda itu disela-sela pagutan-kulumannya.

“Itu, kan, rasa dendeng, ” bisik Rima sembari membiarkan bibir bawahnya digigit perlahan-lahan.

Yardin tertawa perlahan, “Mmmm…, ” ia mengulum bibir Rima, “Boleh saya kunyah bibir ini? ” bisiknya.

“Jangan, ” desah Rima, “Nanti saya beralih jadi kuntilanak, lho! ”

“Mmmm.. buat gemes saja anda, ” Yardin kembali mengulum bibir Rima dengan Semangat Empat Lima.

“Mmmm…, ” Rima mengerang. Tangannya merangkul leher pemuda itu. Badannya tersembunyi jaket besar serta bayang-bayang batu yang bergerak-gerak sesuai sama gerak api unggun.

“Tanganku kedinginan, Rim.., ” bisik Yardin sembari menelusupkan tangannya ke bawah jaket gadis itu.

“Alaah!.. katakan saja pengin memegang-megang, ” sergah Rima sembari menggigit bibir Yardin. Pemuda itu mengaduh, namun secara cepat juga menelusupkan tangan ke bawah kaos wol gadis itu.

“Hiiiy… dingin! ” Rima bergidik rasakan telapak tangan pemuda itu melintas diatas behanya.

“Nanti juga hangat, ” bisik Yardin sembari menciumi leher Rima, bikin gadis itu menggelinjang kegelian.

“Aku kalkulasi hingga tiga, bila tidak selekasnya hangat, anda mesti mengeluarkan sekali lagi tangan itu! ” ancam Rima lantas mulai hitungan, “Satu…. ”

Yardin tertawa tertahan, menggigit dagu Rima, serta cepat-cepat memasukkan tangannya ke balik beha gadis itu. Hmm.. hangat sekali, serta halus sekali. Tidaklah terlalu besar, dada yang senantiasa terbungkus kaos tidak tipis itu. Namun tetaplah saja menggairahkan buat dielus-elus serta diremas.

“Dua…., ” Rima meneruskan hitungan, lantas mengerang, “Oooh…”.

Yardin membawa tangannya ke puncak satu diantara payudara Rima. Dengan jari-jarinya ia meraba-raba puting yang selekasnya tegak-mengeras.

“Ngg.., ” Rima mengerang serta coba mengatur nafasnya yang mendadak memburu, “Dua setengah…., ”

Yardin tersenyum dalam hati, sembari selalu mempermainkan puting Rima yang saat ini telah seutuhnya berdiri. Sembari diselingi meremas-remas. Sembari menciumi selalu leher yang harum. Rima menggelinjang gelisah.

“Aaah,.. Yardin, ” Rima mendesah gelisah, ”Ngga usah dihitung sekali lagi, ya? ”

“Terserah.., ” jawab Yardin sembari menahan senyum serta menciumi bahu Rima dibalik jaketnya.

“Cium, dong.., ” desah Rima.

Yardin mengangkat mukanya dari bahu gadis itu serta mulai mencium bibirnya, namun..

“Bukan cium bibir.., ” sergah Rima sesudah membiarkan pemuda itu sesaat mengulumnya.

“Oh!.. cium yang itu. Sorry! ” kata Yardin sembari melepas ciumannya, lantas menelusupkan kepalanya ke bawah, ke balik jaket Rima.

Gadis itu lihat ke seputar. Sebagian pendaki terlihat asik bernyanyi-nyanyi di sekitaran api unggun. Ada pula yang telah bersiap tidur meringkuk di sleeping bag. Tak ada yang lihat ke arah batu tempat mereka bercumbu. Jadi dengan hati-hati Rima mengangkat kaosnya serta memperlebar jaketnya buat sembunyikan kepala Yardin. Bila ada orang menengok ke arah mereka, serta bila panorama tidak terhambat bayang-bayang, jadi juga akan tampak Rima seperti tengah memeluk suatu hal yang terbungkus jaket!

Demikian Yardin mulai mencium serta menjilat serta mengulum puncak payudaranya, Rima terpejam nikmat sembari menggeliat serta memeluk erat-erat pemuda itu ke dadanya. Ia bertumpu ke batu di belakangnya, membiarkan badannya seperti tersiram air hangat dari ujung rambut hingga ujung jempol kakinya. Nafasnya mulai memburu, lebih-lebih Yardin kadang kala menyedot serta menggigit-gigit kecil. Setiap saat juga Yardin melingkar-lingkarkan lidahnya di pangkal puting susunya yang telah basah itu. Satu getaran halus mulai terjadi di selangkangannya, serta Rima juga merenggangkan kakinya.

Yardin rasakan Rima bergerak-gerak gelisah. Ia menelusupkan satu tangannya ke bawah, menerobos celana jeans yang membungkus ketat pinggang gadis itu. Rima menarik nafas dalam-dalam biar perutnya mengempis serta biar tangan pemuda itu dapat menelusup. Yardin juga tidak tunda sekali lagi, rasakan telapak tangannya meluncur deras diatas kulit mulus, lantas tiba dibalik celana dalam yang hangat.

Rima mengerang disaat jari tengah Yardin mulai dengan nakal serta cekatan lakukan beberapa gerakan mengelus sembari menelusup sembari mengitik. Cepat sekali ia rasakan badannya dipenuhi sinyal tanda orgasme. Semua otot badannya menegang. Jantungnya berdegup lima kali lebih cepat. Nafasnya jadi tambah memburu. Pinggulnya merasa penuh. Kewanitaannya merasa geli-gatal-nikmat. Badannya bergetar seperti mobil yang dilarikan kencang namun dengan persneling rendah.

Sejenak sebelumnya dianya terlena dalam perjalanan menuju orgasme, Rima teringat kalau pemuda itu belum juga memperoleh imbalan atas gairah yang dibangkitkan di badannya. Begitu egoisnya saya, desah gadis itu dalam hati, lantas mulai menelusupkan tangannya ke bawah perut Yardin. Ia temukan kejantanan pemuda itu sudah menegang-menegak memohon perhatian. Dengan konsentrasi yang terdiri pada nikmati serta memberi kesenangan, Rima juga mulai mengelus, meremas, mengurut. Yardin mengerang tanpa ada melepas ciuman serta kulumannya di dada Rima.

Searah dengan malam yang jadi tambah kelam, percumbuan mereka juga jadi tambah bergairah. Beberapa gerakan mereka jadi tambah cepat, berpadu cocok serta tetaplah dalam kurungan jaket besar serta terlindung bayang-bayang batu besar.

Rima menjepit tangan Yardin disaat orgasmenya datang tanpa ada dapat ditahan sekali lagi. Pada waktu yang sama, ia memercepat gosokan tangannya dibalik jeans pemuda itu. Yardin mengerang-erang, serta menyedot payudara gadis itu seperti seseorang bayi yang kehausan. Rima menahan erangannya dengan susah payah, melentingkan badannya, meregang serta meregang….

“Oooh! ” satu jeritan kecil tidak dapat tertahan keluar dari mulut Rima.

“Uuuh! ” Yardin juga mengerang keras disaat ejakulasi yang sangat kuat menyentak badannya seperti orang terkena setrum 1000 volt.

Salah seseorang pendaki samar-samar mendengar jeritan itu diantara nyanyian rekan-temannya. Ia menengok ke arah sumber nada, namun sekedar lihat satu batu besar serta kegelapan di sekelilingnya. Ia mengernyit, coba menembus gelap, namun tidak berhasil lihat apa-apa.

“Paling-paling si Rima serta si Yardin…, ” papar salah seseorang pendaki yang lagi tengah meringkuk didalam sleeping bag saat lihat rekannya celingukan

“Ngapain mereka? ” kata pendaki yang masih tetap coba-coba mengintip dalam gelap itu.

“Main petak umpet” sahut yang didalam sleeping bag sembari tertawa.

Pendaki yang barusan mendengar erangan Rima serta Yardin menggeleng-gelengkan kepala sembari berucap perlahan, “Asal janganlah gituan. Kelak kita seluruhnya kuwalat. ”

Dari dalam sleeping bag, rekannya menyahuti sembari menahan tawa, “Jangan cemas. Paling-paling hanya senggol-senggolan. ”

Rekannya turut menahan tawa sembari mengeluh, “Kapan saya bisa pasangan untuk senggol-senggolan? ”

“Kamu mesti sangat sering mandi pagi, baru dapet! ” sergah rekannya sembari tertawa tergelak.

******

Satu hal yang buat Rima sendiri heran merupakan fakta kalau kendati pacarnya bertukar-ganti tiap tiap th., ia tetaplah dapat menjaga kegadisannya. Ia senantiasa dapat menampik -kadang-kadang dengan kasar- bila ada lelaki yang mengajak bercumbu lebih jauh. Ia nikmati rabaan serta kelitikan dimana saja di badannya, namun ia menampik setiap waktu pacarnya coba all in. Setiap kali pacarnya telah siap meneruskan percumbuan dengan maximum, Rima teringat Bapak serta sebentuk rasa tidak suka selekasnya menyelusup. Jadi, setiap waktu juga gairah gadis itu seperti api disiram air es. Segera padam.

Sia-sia ia diberi pil anti hamil atau sekotak kondom oleh kakaknya yang tertua. Ia tak sempat memanfaatkannya, karna terasa tak memerlukannya. Ia nikmati sex, namun tak punyai cukup argumen untuk bersetubuh. Baginya, bersetubuh dapat mengundang permasalahan besar. Mengapa? Karna setiap waktu gairahnya lagi tengah mencapai puncak, serta setiap waktu ia juga sejujurnya menginginkan meneruskan percumbuan ke tahap paling tinggi, senantiasa terbayang momen itu…

Saat itu ia baru berumur 15 th.. Sepulang sekolah yang lebih awal dari umumnya, Rima temukan tempat tinggal dalam kondisi kosong, namun pintu tidak terkunci. Ia heran, namun tanpa ada wasyangka segera masuk serta menuju dapur untuk minum. Ia benar-benar haus. Bibi Iyem tak ada, mungkin saja lagi tengah ambil jemuran. Mobil BMW Bapak berada di halaman, namun Pak Ujang supirnya tak nampak, mungkin saja lagi tengah tidur-tiduran di gardu jagalah.

Setelah minum, Rima mengambil langkah enteng ke tangga menuju lantai dua. Tempat tinggal mereka besar sekali dengan 7 kamar serta satu ruangan keluarga yang luas. Dari ruangan keluarga ini ada tangga melingkar ke atas. Kamar tidur Rima berada di lantai dua itu, di samping kamar tidur Ibu, yaitu satu kamar besar yang dilewatkan kosong mulai sejak Ibu wafat. Menurut Bapak, kamar itu dulunya kamar tidur paling utama. Saat ini kamar itu sangat banyak meninggalkan kisah lalu terkait Ibu, hingga Bapak ubah tidur di kamar dibawah. Rima menjaga kamar itu, seolah-olah Ibu masih tetap ada.

Sembari menggumamkan lagu kesayangannya, gadis itu mengambil langkah enteng ke kamarnya. Namun langkahnya berhenti saat mendengar erangan serta rintihan dari kamar samping. Sembari mengerutkan dahi karna keheranan, Rima bersijingkat menuju pintu yang kelihatannya tak tertutup dengan baik. Dengan satu tangan ia mendorong pintu itu, serta apa yang tampak membuatnya terkesiap.

Di situ, di ranjang besar yang tidak sering ditiduri itu, tampak Bapak lagi tengah menggumuli seseorang wanita muda yang telanjang bulat. Erangan serta rintihan datang dari wanita itu. Badan Bapak juga telanjang serta berpeluh bergerak naik turun penuh kekuatan. Mereka berdua rupanya lagi tengah dalam puncak birahi, hingga sekalipun tidak tahu ada Rima yang berdiri tertegun di pintu. Segalanya tampak terang oleh Rima.

Panorama itu sangatlah memukul perasaan si gadis remaja. Hatinya hancur luluh sadari kalau Ibu nyatanya sudah tersingkir jauh dari kehidupan Bapak. Sulit baginya untuk tahu, kenapa Bapak mesti lakukan aktivitas menjijikkan itu di ranjang Ibu. Kenapa ia mampu mengerjakannya dibawah poto besar Ibu, diatas seprai putih yang digantinya tiap tiap minggu?

Mulai sejak sementara itu, persetubuhan sepasang manusia punyai konotasi tidak baik diingatan Rima. Namun, karena pergaulannya, Rima juga paham kalau sex itu berikan kesenangan. Terlebih kakak-kakaknya sangatlah liberal, serta membiarkan Rima memirsa koleksi video porno mereka. Rima memirsa beraneka adegan di monitor kaca mulai sejak SMP, namun lihat Bapak mengerjakannya di ranjang Ibu, gadis ini jadi tidak suka pada persetubuhan. Kontradiksi berikut yang terikut hingga saat ini, buat hidup Rima juga penuh ironi serta paradoks.

Rima merupakan gadis tegar serta cerdas kendati tak menampik minum bir hingga mabuk, atau dibawa ke tempat gelap untuk dicumbu. Ia dapat punyai kharisma, serta tak asal-asalan pria dapat jadi pacarnya. Ia sekalian seseorang pemilih, seseorang yang choosy, namun juga seseorang yang setia pada sahabat-sahabat prianya. Ia dapat kagum hingga ke tulang sum-sum pada orang pria (di antaranya Kino), namun dapat juga marah serta menghujat pria (salah nya ialah Ayahnya).

Kekontrasan juga berlanjut di semua segi : Ia anak orang kaya karna Bapak merupakan seseorang entrepreneur berhasil, namun busananya simpel serta hidupnya sama simpel dengan mahasiswa seperti Kino yang datang dari kota kecil. Ia dapat bergaul dengan yuppies di beberapa night club di ibukota, namun tidak juga malu makan di warung kecil di seberang universitas.

******

Lantas terkait Kino. Bila saat ini ia berang besar padanya, itu merupakan karna ia tidak mampu lihat pemuda itu ikut serta dalam penghianatan seseorang istri. Untuk Rima, penghianatan dalam perkawinan merupakan satu kekeliruan besar. Rima tidak pengen terima apapun argumen seorang berhianat pada perkawinan. Kehilangan Ibu serta punyai Bapak yang amburadul buat gadis ini mendamba keutuhan keluarga. Ia tidak ikhlas saat tahu Kino memacari istri orang, karna ia menginginkan pemuda itu tetaplah jadi contohnya.

Dengan getir, Rima sadari, keinginan itu jadi tambah pupus. Dengan getir, Rima sadar kalau ia mungkin saja mesti senantiasa mendaki untuk mencari ketinggian yang paling melegakan. Jadi ia juga senantiasa mendaki serta mendaki sekali lagi. Gunung untuk gunung dikalahkannya. Puncak untuk puncak didudukinya. Setiap kali hatinya gundah, ia dapat mencari gunung untuk didaki. Setiap kali menjangkau puncak gunung, ia memperoleh kelegaan disana, namun setiap waktu juga ia mesti turun ke dunia yang hiruk-pikuk.

Malam itu, saat Rima mendengar berita kecelakaan yang di alami Kino, ia terkesiap serta mengeluh dalam hati, “Mampukah saya mendaki gunung yang satu ini? ”

Baca Juga : Skandal Bersama Tukang AC

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *