Bunga99 agen bola online
Salah Sasaran

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Salah Sasaran

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita Lendir – Salah Sasaran. Narasi ini berasal dari satu kebetulan yg tidak disengaja. Hingga sekarang ini saya sukai tertawa sendiri apabila mengingat awal peristiwa ini. Berasal dari satu Sabtu siang, saya janjian ketemu dengan salah seseorang kawan chat-ku. Namanya Fenny, mahasiswi tingkat akhir di satu diantara PTS di Jakarta Barat. Kawan chat-ku yang satu ini cukup misterius. Saya tidak sempat tau dia tinggal di mana, dengan siapa, bahkan juga saya tidak sempat dikasi nomor telepon tempat tinggalnya. Kampusnya juga saya tidak percaya apabila yang disebutnya benar.

Salah Sasaran

Saat janjian dengan Fenny juga cuma lewat SMS. Umumnya saya tidak sempat meladeni rekan-rekan chat yang janjian ketemu lewat SMS. Kapok, dahulu sempat dibo’ongin. Namun tak tahu mengapa saya penasaran sekali dengan Fenny. Pada akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mal Kelapa Gading, persisnya di Wendy’s. Resenya, Fenny juga tidak ingin kasi tau baju apa yang dia gunakan serta ciri-cirinya. Pokoknya kejutan, tuturnya.

Itulah mengapa hari Sabtu siang hari ini saya bengong-bengong ditemani baked potatoenya Wendy’s sembari tunggu kehadiran Fenny. Sudah nyaris satu jam saya tunggu namun tdk ada berita. SMS-ku tidak dibales-bales, ingin telepon pulsa telah sekarat. Saya cuma duduk sembari menyimak sekitarku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada orang wanita keturunan Chinese berusia kurang lebih 30-an yang duduk sendirian di satu diantara pojok. Herannya mulai sejak barusan wanita itu menyimakku selalu. Saya pernah berfikir apa dia yang bernama Fenny. Namun berasa bukanlah. Pada akhirnya dikarenakan bete tunggu saya juga meninggalkan Wendy’s.

Mendadak saya terasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Saya melihat serta lihat wanita yang kuperhatikan barusan tersenyum ke arahku.
“Rio ya? ” tanyanya. Saya terperanjat. Kok dia tau namaku. Jangan-jangan wanita ini benar Fenny. Saya mengangguk.
“Iya, mm.. Fenny? ” tanyaku. Wanita itu menggeleng sembari mengerutkan kening.
“Bukan, kok Fenny sich? Anda Rio yang di Kayuputih kan? ” saya lebih bingung mendengarnya.
“Bukan, lho tante bukanlah Fenny? ”.

Lalu wanita itu mengajakku berteduh di satu diantara pojok sembari menerangkan maksud yang sesungguhnya. Saya dengerin, hingga saya juga gantian menerangkan. Pada akhirnya kami keduanya sama tertawa terbahak-bahak sesudah tau duduk persoalannya. Wanita itu bernama Linda, serta dia juga tengah janjian dengan kawan chat-nya yang bernama Rio, seperti namaku. Pada akhirnya kami jadi berteman dikarenakan beberapa orang yang kami tunggulah tidak kunjung datang juga. Saya menyebutnya Ci Linda, dikarenakan dia menampik di panggil tante. Kesannya tua tuturnya.

Siang itu Ci Linda jadi mengajakku berjalan-jalan. Saya turut dengan Altis-nya dikarenakan saya tdk membawa mobil. Ci Linda mengajakku ke butik kawan maminya di daerah Permata Hijau. Tante Wiwin, sang yang memiliki butik yaitu seseorang wanita yang telah berumur diatas 50 th., badannya cukup tinggi serta agak montok. Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar serta celana biru tua berbahan yang sama juga dengan pakaiannya. Agak-agak eksentrik. Basic desainer fikirku. Karena hari itu butik Tante Wiwin tdk demikian ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sembari minum teh di satu diantara area enjoy.

“Aduh Yo.. maaf.. ” seru Tante Wiwin. Wanita itu menumpahkan teh yang juga akan dituangnya ke cangkirku pas di celanaku sisi pangkal paha. Saya sedikit mengentak dikarenakan tehnya agak panas.
“Nggak pa-pa Tante.. ” jawabku seraya menepuk-nepuk bajuku yang terkena tumpahan teh. Tante Wiwin reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi cenalaku. Ups.. tanpa ada berniat jemari lembutnya menyentuh batang kemaluanku.
“Eh.. kok keras Yoo? Hihihi.. ” goda Tante Wiwin sembari memijit-mijit kemaluanku. Saya jadi tersenyum. Ya bagaimana tidak keras sejak dari bercakap barusan mataku tidak terlepas dari bahu Tante Wiwin yang mulus serta ke dua belah paha Ci Linda yang putih.
“Iya.. Tante sich numpahin.. ” jawabku 1/2 bercanda.
“Idih.. Tante Wiwin kumat genitnya deh.. umum Yo, telah lama tidak.. aww!! ” Ci Linda tidak pernah selesaikan celetukkannya dikarenakan Tante Wiwin mencubit pinggang wanita itu.
“Iya nih Tante, telah numpahin digenitin sekali lagi. Pokoknya bales tumpahin juga lho hihihi.. ” saya gantian menggoda wanita itu. Tante Wiwin jadi tersenyum sembari merangkul leherku.
“Boleh, namun janganlah ditumpahin pakai teh ya.. ” bisiknya di telingaku. Saya pura-pura bego.
“Abis ingin ditumpahin apa Tante? ” tanyaku. Tante Wiwin meremas batang penisku dengan gemas.
“Ya sama ‘teh alami’ dari anda dong sayang.. mmhh.. mm.. ” Tante Wiwin segera mengecup serta melumat bibirku. Saya yang memanglah sejak dari barusan telah horny menyongsong lumatan bibir Tante Wiwin dengan penuh nafsu. Kedua tanganku memeluk pinggang wanita 1/2 baya itu dengan tempat menyamping. Sesaat tangan Tante Wiwin yang lembut merangkul leherku. Ah.. lembut sekali bibirnya.

Ci Linda yang lihat adegan kami tdk tinggal diam. Wanita berkulit putih mulus itu mendakati badanku serta mulai memainkan kancing celana jeansku. Tidak hingga semenit wanita itu telah berhasil melepaskan celana jeansku sekalian dengan celana dalamnya. Tanpa ada ampun sekali lagi batang penisku yang telah mulai mengeras itu berdiri tegak seakan menantang Ci Linda untuk menikmatinya. Ci Linda turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. Jemarinya yang lembut perlahan menyeka serta memijit tiap-tiap centi batang penisku. Ugghh.. birahiku makin naik. Lumatan bibirku di bibir Tante Wiwin makin bernafsu. Lidahku mejajaki rongga mulut wanita 1/2 baya itu. Tante Wiwin terasa keasyikan.

Saya yang makin terbakar nafsu coba menyebarkan gairahku ke Tante Wiwin. Dari bibir, lidahku beralih ke telinganya yang dihiasi anting perak. Tante Wiwin menggelinjang keasyikan. Dia memohon saat sebentar untuk melepas anting-antingnya supaya saya lebih leluasa. Lidahku makin liar mejajaki telinga, leher serta bahu Tante Wiwin. Tampaknya wanita itu mulai tidak kuasa menahan birahinya yang makin mencapai puncak. Dia membiarkan diri dari badanku serta memohonku untuk melorotkan celananya. Tanpa ada diminta ke dua kalinya saya juga segera melepaskan Tante Wiwin sekalian dengan pakaiannya, sampai badan wanita itu bersih tanpa ada sehelai benang juga.

Salah Sasaran

Hilang ingatan, telah kepala empat namun badan Tante Wiwin masih tetap kencang. Kulitnya yang putih benar-benar merasa halus mulus. Sembari bersender pada pegangan sofa, Tante Wiwin melebarkan ke dua belah pahanya yang mulus serta memohonku melumat kemaluannya yang bersih tanpa ada bulu. Tanpa ada basa-basi saya segera mendekatkan wajahku ke vaginanya serta mulai menjilati daerah tepi kemaluannya.

“Hhhmm.. sshh.. teruss Yoo.. ” desah Tante Wiwin keasyikan. Saya selalu menjilati vaginanya sembari tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Dibawah, Ci Linda masih tetap asik mempermainkan kemaluanku. Ke-5 jemarinya yang lentik lincah sekali membelai serta mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Kadang-kadang lidahnya membasahi permukaan penisku. Beberapa batang penisku kelihatan merah terserang lipstik Ci Linda. Kepala wanita itu naik turun ikuti ayunan kesenangan di penisku. Ahh.. lembut sekali mulut Ci Linda mengulumnya. Saking asiknya tidak sadar saya hingga hentikan permainanku dengan Tante Wiwin untuk rasakan kesenangan yang didapatkan Ci Linda. Tante Wiwin tersenyum lihat ekspresiku yang mengejang menahan nikmat. Wanita itu merengkuh kepalaku untuk menambahkan tugasku berikan kesenangan untuk dia.

Saya makin buas melumat kemaluan Tante Wiwin. Jemariku mulai turut menolong. Liang kemaluan Tante Wiwin telah kutembus dengan jari tengahku. Sembari kukocok-kocok, saya menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tidak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya yang lembut menjambak rambutku.

Tanpa ada kusadari, Ci Linda telah melepaskan dianya hingga telanjang bulat. Mendadak wanita itu naik ke atas badanku serta bersiap mengurung penisku dengan vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku. Badannya mulai merendah sampai ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan pertolongan tangan kiriku, perlahan-lahan penisku mulai masuk kedalam liang kesenangan itu, serta.. ssllpp blleess.. Amblas telah penisku di liang kemaluan Ci Linda. Sembari memeluk bahuku, badan Ci Linda naik-turun. Ugghh.. sangat nikmat. Saya hingga tidak dapat konsen ngelumat vagina Tante Wiwin. Namun saya tidak ingin kalah. Yang perlu Tante Wiwin harus diberesin dahulu.

Sembari menahan birahiku yang telah di ubun-ubun dikarenakan Ci Linda, saya selalu melumat vagina Tante Wiwin. Jari tengahku yang saat ini telah dibantu jari manis makin cepat mengocok-ngocok didalam vagina Tante Wiwin. Lidahku makin liar mejajaki klitoris serta bibir vaginanya. Badan Tante Wiwin juga makin menggelinjang tidak karuan. Kelihatannya wanita itu telah tidak kuasa sekali lagi menahan kesenangan yang kuberikan. Saya juga mulai terasa dinding vaginanya berdenyut.

“Ssshh.. oohh.. Riioo.. aahh.. ” Tante Wiwin mendesah meregang nikmat sembari meremas kepalaku yang masih tetap melekat ketat di vaginanya. Saya rasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana. Hmm.. aroma vagina yang demikian ciri khas selekasnya tercium. Saya juga hirup lendir-lendir kesenangan itu sembari menjilati sisa-sisa yang melekat di vagina Tante Wiwin. Sesudah suka melepas kenikmatannya, Tante Wiwin mengangkat ke dua pahanya dari badanku serta membiarkan saya leluasa nikmati permainan dengan Ci Linda.

Bebas dari badan Tante Wiwin, saat ini Ci Linda yang mendekap badanku erat. Payudaranya yang bulat serta montok melekat ketat di dadaku. Ahh.. kenyal sekali. Saya makin rasakan kekenyalannya dikarenakan badan Ci Linda naik-turun. Sesaat bibir kami asik sama-sama melumat.
“Mmhh.. ssllpp.. aahh.. mm.. ” berisik sekali kami berciuman. Tante Wiwin hingga geleng-geleng lihat kami berdua yang keduanya sama dipacu birahi.

Lalu kami bertukar tempat. Badan kami berguling ke arah berlawanan makanya saat ini badan Ci Linda duduk bersender di sofa dengan tempat ke dua kaki mulusnya yang mengangkang. Sembari bertumpu pada lutut di lantai, saya bersiap memasukkan penisku sekali lagi kedalam liang kemaluan Ci Linda. Ugghh.. kesempatan ini lebih gampang dikarenakan vagina Ci Linda telah basah. Pantatku maju mundur bersamaan kesenangan yang dirasa Ci Linda. Wanita itu bahkan juga telah tidak kuasa memeluk badanku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Saya makin menggoyang pantatku dengan keras. Saya tahu kalau sebentar sekali lagi Ci Linda juga akan menggapai klimaks, tetapi saya juga paham kalau Ci Linda tidak ingin kalah denganku. Saya lihat ekspresinya yang berupaya menahan nikmat.

“Terus Yo.. bentar sekali lagi tuch.. hihihi.. ” goda Tante Wiwin. Saya tersenyum lalu mengecup bibir wanita yang tengah duduk di samping Ci Linda itu. Tante Wiwin jadi membantuku dengan menjilat, menghisap serta mengulum payudara serta puting Ci Linda.
“Aahh.. Yoo.. sshh.. ” pada akhirnya Ci Linda meregang kenikmatannya. Saya rasakan cairan hangat membasahi penisku didalam vaginanya. Saya mendekap badan Ci Linda yang hangat.
“Hh.. hilang ingatan anda Yo, saya fikir akan anda duluan.. ” tutur Ci Linda. Saya tersenyum sembari melirik ke arah Tante Wiwin.
“Ya kan karena pertolongan Tante Wiwin.. ” jawabku seraya mencubit hidung Tante Wiwin. Wanita itu memelukku.
“Nah, saat ini giliran saya sekali lagi Yo, anda kan belum juga puasin saya dengan pentunganmu itu hihihi.. Mari, kesempatan ini pastinya anda telah tidak tahan.. ” Tante Wiwin menantangku bermain sekali lagi. Tanpa ada disuruh 2 x saya segera menjawab tantangannya. Saya juga lakukan hal yang seperti sama dengan Ci Linda barusan. Kesempatan ini saya mengaku permainan Tante Wiwin yang tambah lebih liar serta mempunyai pengalaman. Pada akhirnya kami klimaks bersama. Saya klimaks didalam vagina Tante Wiwin yang hangat.

Ruang enjoy itu memanglah benar-benar hebat. Tidak seseorang karyawan juga yang ketahui apa yang barusan kami kerjakan. Sesudah suka bermain, kami bertiga mandi dengan. Semula sesudah mandi kami ingin menambahkan sekali lagi di kamar tidur Tante Wiwin. Namun dikarenakan telah sore, sebentar sekali lagi suami Tante Wiwin pulang. Untungnya Ci Linda miliki inspirasi untuk menambahkan di hotel. Tante Wiwin juga sepakat, tetapi saya serta Ci Linda pergi duluan.

Baca Juga : Bermain di Sekolah ku

Malam itu kami check-in di satu diantara hotel di daerah Thamrin. Saya serta Ci Linda lebih dahulu menambahkan permainan. Satu jam lalu Tante Wiwin baru datang lengkapi kesenangan kami. Serta yang buat saya kejutan, malam itu Tante Wiwin mengajak kawan seprofesinya yang umurnya kurang lebih lebih muda 3 atau 5 th., namanya Tante Ida. Malam itu saya benar-benar suka bersenang-senang dengan mereka bertiga. Kami melepas birahi hingga jam 3 pagi. Lalu kami tidur hingga jam 9 pagi, hingga kembali menyelesaikan permainan. Saya benar-benar tdk menganggap apabila dikarenakan salah orang dapat sampai sesuai sama ini.

Hingga saat ini saya tidak sempat ketemu dengan Fanny, kawan chat-ku. Kami juga tidak sempat SMS-an sekali lagi. Tak tahu kemana perginya Fanny. Namun yang pasti sejak peristiwa itu, saya selalu keep kontak dengan Ci Linda, Tante Wiwin serta Tante Ida. Saat ini Ci Linda telah menikah serta tinggal di Australia dengan suaminya. Namun kami masih tetap seringkali kontak. Sedangkan dengan Tante Wiwin serta Tante Ida, saya masih tetap selalu terjalin untuk kadang-kadang sharing kesenangan. Semula mereka menginginkan memeliharaku jadi gigolo, tetapi saya menampik dikarenakan saya mengerjakannya bukanlah untuk uang serta materi, namun untuk kesenangan saja. Terkadang apabila Ci Linda tengah di Indonesia, kami meluangkan diri untuk berkunjung ke butik Tante Wiwin bersama untuk melepas birahi. Tempat Tante Wiwin seringkali jadikan tempat affair kami supaya suaminya tdk berprasangka buruk.

Oke, segitu dahulu pengalamanku. Salam manis buat Ci Linda yang sekali lagi hamil 3 bulan. Semoga kesampean mampu anak lelaki. Buat Tante Wiwin serta Tante Ida, thank’s buat kehangatan yang didapatkan. Juga buat Fanny, my mysterious friend yang telah buka jalan hehehe.. Lain waktu apabila ada pengalaman yang terkesan, saya juga akan beritahukan sekali lagi di website ini. Salah Sasaran

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *