Bunga99 agen bola online
Tukang Pijit Yang Bernama Wati

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Tukang Pijit Yang Bernama Wati

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirTukang Pijit Yang Bernama Wati – Satu hari saya di panggil pimpinanku kedalam ruangnya. Saya menduga-duga apa sebenarnya penyebabnya saya di panggil mendadak begini.

Tukang Pijit Yang Bernama Wati

“Duduk, Dik. Tunggulah sebentar ya, ” tuturnya sembari melanjutkan membaca surat-surat yang masuk hari ini.

Sesudah usai membaca satu surat baru dia menatapku.

“Begini Dik Anto, besok hari libur nasional. Hari ini apa yang masih tetap mesti dikerjakan? ” tanyanya.

Saya berfikir sesaat sembari mengingat terlebih pekerjaan yang perlu kuselesaikan selekasnya hari ini.

“Rasanya sich telah tak ada sekali lagi yang mendorong pak, terdapat banyak proposal serta gagasan kerja yang perlu saya bikin, tapi masih tetap dapat di tunda hingga minggu depan. Ada apa Pak? ” tanyaku.
“Anu, ada tamu dari Kalimantan, namanya Pak Jainudin, panggil saja Pak Jay. Sesungguhnya bukan hanya untuk masalah kantor kita sich. Cuma kebetulan saja cocok dia berada di sini, jadinya sekalian saja. Dia bermalam di Bekasi. Barusan dia telpon tuturnya minta tolong supaya diantarkan surat yang tempo hari Dik Anto buat rencananya untuk dipelajari, terangkan saja detailnya. Kelak Dik Anto antar saja kesana serta bayar bill hotel beliau. Layani hingga usai masalahnya, bila butuh kelak tidak usah kembali pada kantor. Besok beliau kembali. Bila mobil kantor cocok kosong, gunakan taksi saja soalnya ini mutlak. Uangnya ambillah di kasir! ” tuturnya sembari memberi memo kepadaku untuk ambillah uang di kasir.

Bergegas saya ke kasir sembari check di resepsionis ada mobil kantor sekali lagi kosong atau tidak. Ternyata semuanya mobil sekali lagi difungsikan. Jadi saya naik taksi ke Bekasi.

Setelah tiba di hotel yang dituju, saya selekasnya menjumpai Pak Jay, serta menyerahkan berkas yang disebut. Sesudah dia ajukan pertanyaan mengenai detil dari berkas barusan, dia katakan kalau dia telah mengetahui dengan berisi serta sepakat. Cuma ada perbaikan redaksional saja.

“OK Dik, kelak saya kabari. Begini saja, rencana ini saya bawa dahulu. Perbaikannya kelak menyusul saja. Cuma redaksional kok. Berisi saya telah memahami serta prinsipnya sepakat, ” tuturnya.
“Oh ya pak, pimpinan saya berikan kalau bill hotel ayah agar kami yang kerjakan, ” kataku.
“Aduh, jadi merepotkan. Berikan terima kasih serta salam untuk pimpinanmu, Pak Is” tuturnya sembari menyalamiku.
“Baik Pak kelak saya berikan, selamat jalan”.

Saya lalu membereskan bill di front office. Mendadak saja petugas hotel menyebutku.

“Maaf Pak Anto ya? Ini Pak Jay ingin bicara, ” tuturnya sembari menyerahkan gagang telepon. Kuterima gagang telepon serta dari seberang Pak Jay berkata”Dik, saya lupa kasih tahu. Kebetulan semuanya masalah saya usai hari ini jadi saya dapat pulang siang kelak. Dik Anto tunggulah sebentar dibawah ya! ”

Saya menanti Pak Jay turun ke lobby. Sebentar lalu dia telah datang serta minta di panggilkan taksi. Kupanggilkan taksi, dia naik serta tuturnya.

“Terima kasih banyak lho bantuannya”.

Saya menggangguk serta tersenyum saja. Sesudah taksinya pergi, saya berfikir bila dia jadi pulang, sesaat bill telah dibayar penuh hingga besok, sayang berasa. Biar saja kuisi kamarnya hingga besok, toh besok juga libur. Saya lapor ke resepsionis.

“Mbak, Pak Jay telah cek out, saya gunakan kamarnya hingga besok. Tapi tolong beresin dahulu kamarnya, saya ingin jalan dahulu sebentar. Boleh kan? ” kataku.
“Boleh pak, silahkan saja, ” tuturnya sembari tersenyum.

Pada akhirnya saya keliling-keliling di Kota Bekasi. Tidak ada yang aneh sich. hanya telah lama saja tidak ke Bekasi. Sesudah lebih dari satu lama, lelah juga berasa tubuhku. Saya pada akhirnya masuk ke satu panti pijat tradisionil. Siapa tahu bisa massage girl yang oke, sesudah dipijat kelak gantian kita yang memijatnya.

Seperti umum sangat masuk di ruangan depan saya disodori foto-foto close up yang cantiknya menaklukkan artis. Mbak yang lindungi memberi komentar sembari sekalian promosi. Si A pijatannya bagus serta orangnya supel, Si B agak cerewet tapi cantik, Si C hitam manis serta ramah serta lain-lainnya. Saya sich tidak tertarik dengan promosinya. Pilihanku umumnya berdasar pada feeling saja.

Pada waktu lihat-lihat photo, ada wanita yang masuk. Kulihat sepintas, bila dia massage girl disini saya tentukan dia saja.

Kutanya pada yang lindungi, ” Mbak, yang barusan baru saja lewat kerja disini juga? ”
“Ya Mas, dia baru minta ijin keluar sebentar barusan. Katanya ada sedikit kepentingan, ” jawabnya.
“Boleh pijat sama dia Mbak? ” tanyaku sekali lagi.
“Boleh saja, tapi tarif untuk dia agak tinggi sedikit, ” tuturnya sembari tersenyum lalu sebutkan rupiah yang perlu kusediakan.

Kuiyakan serta dimintanya saya masuk ke kamar VIP, ada AC-nya meskipun berisik serta tidaklah terlalu dingin. Sembari menanti didalam kamar, kuamat-amati seputarku. Satu kamar memiliki ukuran 3 X 2 mtr. dengan satu spring bed untuk satu orang serta satu meja kecil yang di atasnya ada krim pijat serta handuk. Pintunya ditutup dengan gordin kain hingga ke lantai. Kulepaskan kemejaku tinggal celana dalam saja. Iseng-iseng kubuka laci meja kecil di sampingku. Ada kotak “25″ yang telah kosong.

Selang beberapa saat gadis pemijat yang kupesan telah keluar. Kuamati sekali lagi dengan lebih cermat. Lumayan. Kulitnya putih, tinggi (untuk ukuran seseorang wanita) dengan perawakan seimbang. Ia kenakan celana panjang hitam serta kaus putih. BH-nya yang berwarna hitam terlihat terang membayang di tubuhnya.

“Selamat siang, ” sapanya sembari tutup gordin serta mengikatkan pinggirnya pada kaitan di kusen pintu.
“Siang, ” jawabku singkat.
“Silakan berbaring tengkurap Mas, ingin diurut atau dipijat saja”.
“Punggungku dipijat saja, kaki serta tangan bisa diurut”.

Saya berbaring diatas spring bed. Ia mulai memijat jari serta telapak kakiku.

“Namanya siapa Mbak? ” tanyaku.
“Apa pentingnya Mas tanya-tanya nama semua. Mas kerja di Sensus ya? ” Jawabnya sembari tersenyum. Meskipun jawabannya sangat tapi dari suara suaranya dia tidak geram.

Pada akhirnya sembari memijat saya tahu namanya, Wati, datang dari Palembang. Pijatannya sesungguhnya tidaklah terlalu keras. Kelihatannya dia sempat belajar mengenai anatomi badan manusia jadi pada titik-titik spesifik merasa agak sakit apabila dipijat.

“Aduh.. Perlahan sedikit dong! ” teriakku saat dia memijat area betisku.
“Kenapa Mas, Sakit? Bila dipijat sakit bermakna ada area yang benar-benar tidak beres. Cobalah area beda, meskipun pijatannya lebih keras tapi kan tidak sakit”.

Kupikir benar juga gagasannya. Saya sedikit sempat baca mengenai pijat refleksi yang buka simpul syaraf serta memperlancar aliran darah jadi metabolisme badan kembali normal. Ia memijat pahaku.

“Hmmhh.. Ada urat yang sedikit ketarik Mas. Tentu sekian hari ini adik kecilnya tidak dapat bangun dengan maksimum, ” tuturnya.

Memang sekian hari ini, tak tahu lantaran kelelahan bekerja atau sebab beda jadi saat pagi hari waktu bangun tidur adik kecilku keadaannya kurang tegang. Saya tidaklah terlalu menyimak lantaran fikiran benar-benar sekali lagi konsentrasi untuk merampungkan pekerjaan minggu ini. Tangannya sekian kali mulai menyenggol kejantananku yang terbungkus celana dalam. Tapi herannya saya sekalipun tidak terangsang. Kucoba untuk menambah pantatku dengan keinginan tangannya dapat lebih ke depan sekali lagi, tapi ditekannya sekali lagi pantatku.

“Sudahlah, Mas diam saja kelak tidak jadi pijat, ” tuturnya.

Kesempatan ini tangannya sungguh-sungguh meremas adik kecilku. Tapi lagi saya heran, lantaran tidak dapat terangsang. Tangannya saat ini memijat pinggangku. Ibu jarinya menghimpit pantatku area samping serta jari yang lain memijat-mijat sekitaran kandung kemih.

“Penuh.. Sekian hari tentu tidak di keluarkan ya Mas? Maklum adiknya juga sekali lagi tidak fit, ” komentarnya agak ngeres.

Lagi-lagi tebakannya benar. Saya tidak paham dia asal tebak atau benar-benar ada ilmunya untuk beberapa hal sesuai sama itu.

“Hhh.. ” kataku saat ia mulai menghimpit punggungku, lalu selalu hingga tengkuk.

Saya mulai terasa santai serta mengantuk. Enak juga pijatannya. Kini kakiku diurutnya dengan krim pijat. Hingga di dekat pahaku dia berkata”Tahan sedikit Mas, agak sakit memang”. Tangannya dengan kuat mengurut paha area dalamku. Merasa sakit sekali.

“Uffpp.. Haahh, ” kataku sembari menahan sakit.

Kepalaku kubenamkan ke bantal. Sesudah ke-2 belah pahaku diurut merasa ada ketaksamaan. Kejantananku mulai bereaksi saat tangannya menyelinap ke bawah pahaku. Perlahan tapi tentu kejantananku mulai jadi membesar jadi merasa mengganjal. Saya agak menambah pantatku untuk mencari tempat yang enak. Kesempatan ini dibiarkannya pantatku naik serta tanganku meluruskan senjataku pada arah jam 12.

“Balik tubuhnya, dadanya ingin dipijat tidak? ”

Kubalikkan tubuhku. Kulihat keringat mulai menitik di lehernya. Untung ada AC, meskipun tidak bagus, sedikit membantu. Wati mengusap-usap dadaku.

“Badanmu bagus Mas, dadanya diurut ya? ”
“Nggak usah, tanganku saja deh diurut, ” kataku.

Ia duduk di sampingku dengan kaki menggantung di samping ranjang. Saat ia meluruskan serta mengurut tanganku kupegang dadanya. Lumayan besar, tapi agak kendor.

“Tangannya.. ” tuturnya mengingatkanku.

Tidak berapakah lama ia telah usai memijat serta mengurut tubuhku. Saya meregangkan tubuh. Merasa lebih fresh.

“Sebentar saya ambillah air dahulu Mas, ” ia keluar kamar serta kembali dengan membawa air hangat serta handuk kecil.

Di celupkannya handuk kecil ke air hangat serta dilapnya semua badanku hingga sisa krim pijat hilang. Lalu dilapnya tubuhku lagi dengan handuk yang ada diatas meja kecil. Saya kembali terangsang saat dia melap dadaku. Kuperhatikan dia serta kupegang tangannya diatas dadaku. Ia memutar-mutarkan tangannya yang dibalut handuk.

“Kenapa Mas, ” bisiknya.
“Ingin dikeluarin agar tidak penuh serta meluap terbuang, ” kataku.

Ia menggerakkan tangan, kode untuk mengocok penisku.

“Nggak bisa emangnya di sini ya? Ini apa? ” tanyaku sembari buka laci meja serta memperlihatkan kotak “25″ yang kosong barusan.
“Mas ini tangannya usil deh. Bukan sangat Mas, bos sekali lagi berada di sini. Dia ke sini satu minggu 2 x. Dia melarang kami untuk begituan dengan tamu, tuturnya akhir-akhir ini kerap ada razia, ” jawabnya.

Kami diam lebih dari satu waktu, tensiku telah mulai turun.

“Begini saja Mas, kebetulan saya juga sekali lagi menginginkan serta Mas sesungguhnya sesuai sama seleraku serta berasa dapat memuaskanku. Sesekali menginginkan juga nikmati kesenangan. Kelak malam saja kita ketemu sesudah jam 10 malam, sini telah tutup”.

Kutanya berapakah tarifnya untuk semalam.

“Jangan salah sangka Mas, tidak semuanya wanita pemijat cuma menginginkan uang saja. Telah kubilang bila kita kelak dapat take and give. Juicet for fun”.

Busyet.. Tak tahu benar tak tahu tidak bhs yang disampaikannya saya tidak perduli. Malam hari ini saya bisa pemuas hasratku yang tertahan sepanjang sekian hari. Kukatakan kelak sesudah usai kerja kutunggu di hotel tempatku bermalam.

Saya kembali pada hotel serta mandi. Sepintas ada hasratku untuk berswalayan-ria. Tapi kutahan, takut kelak malam jadi kurang greng. Sesudah mandi saya kembali jalan di sekitaran hotel. Jalan mulai macet, lantaran jam pulang kantor telah lewat. Cuaca agak mendung serta tidak lama turun gerimis. Kupercepat langkahku, tapi gerimis telah mulai lebat. Untung ada satu warung tenda. Sepintas kubaca ada STMJ. Boleh juga nih, hitung-hitung persiapan kelak malam. Kupesan satu gelas. Kuseruput pelan. Rasa hangat menjalari badanku. Jahenya terlampau pedas, kulirik penjualnya.

“Di sini STMJ-nya asli Mas, alami. Bukan buatan pabrik jamu, tetapi saya bikin sendiri. Jahenya benar-benar berniat agak banyak agar tubuh jadi sehat serta tidak enteng masuk angin, ” tuturnya seakan membaca fikiranku. Kutunggu minumanku agak dingin. Ternyata ramai juga warung ini. Mungkin juga karena ramuan Bapak penjualnya yang membuatnya dengan bahan alami.

Kembali pada hotel meskipun dengan kemeja sedikit basah, akan tetapi kesegaran pijatan serta STMJ membuatku tidak takut masuk angin. Saya tidak bawa kemeja ganti lantaran tujuannya tidak bermalam, cuma melayani tamu kantor. Kulepas bajuku serta dengan tetaplah menggunakan celana panjang kubaringkan badanku ke ranjang yang empuk. Enak juga jadi orang kaya. Menginap ditempat yang empuk serta berAC. Namun kupikir sekali lagi, nyatanya hidup ini enak bila ditempuh dengan puas hati. Orang kaya yang miliki jabatan pasti tingkat stressnya lebih tinggi serta belum juga pasti mereka bisa nikmati semuanya yang ada kepadanya. Mungkin pas juga saya jadi filsuf, fikirku sangat sadar dari lamunanku.

Kulihat jam dinding memperlihatkan jam delapan kurang sepuluh menit. Masih tetap ada saat tiduran dua jam sesudah sepanjang hari fikiranku agak lelah. Tubuh sich tidak apa-apa, cuma fikiran yang butuh istirahat.

1/2 tertidur saya mendengar ketukan di pintu.

“Tok.. Tok.. Tok..
“Mas Anto, ini Wati, ” terdengar nada dari luar.

Upss, saya melompat dari ranjang serta buka pintu. Sesudah kubuka pintu saya tertegun sesaat. Wati tetaplah menggunakan kaus yang barusan siang dipakainya dibungkus dengan sweater serta celananya telah ganti dengan jeans. Sepatu dengan hak tinggi buat dia terlihat lebih tinggi serta langsing. Kacamata bening nongkrong di hidungnya yang tengah. Berwajah dihiasi dengan make-up tidak tebal. Bila di lihat sepintas seperti Yurike Prastica.

Wati masuk serta melepas sweaternya. Saya tutup pintu, menguncinya serta duduk diatas ranjang, lantas ia duduk di sampingku. Waktu itu saya masih tetap termangu, tapi penisku bereaksi lebih cepat serta segera saja tegak dengan kerasnya. Wati lihat kebawah, ia berniat lihat serta meraba, menyeka dan memainkan penisku.

Saya mulai bergairah namun cuma diam menanti aksinya. Kurebahkan badanku ke tempat tidur, ia selalu memainkan penisku. Dilepasnya kacamata serta di letakkan di meja samping ranjang. Ia berdiri serta melepas celana panjangnya. Pahanya yang mulus terpampang di depanku. Kudorong ia serta kupepetkan ke dinding sembari berciuman lembut. Ia mengerang kecil” Ngghngngh.. ”.

Tangannya buka celana panjangku serta menariknya ke bawah. Tangannya meremas penisku serta mengeluarkannya dari celana dalamku. Ia bergerak jadi saya yang dipepetnya pada dinding. Dalam tempat 1/2 jongkok ia mulai mengulum penisku. Penisku jadi tambah lama jadi tambah tegang. Ia menggabungkan permainannya dengan mengocok, menjilat, menghisap serta mengulum penisku. Kupegang erat kepalanya serta kugerakkan maju mundur jadi mulutnya bergerak mengulum penisku. Tangannya meremas pantatku serta menarik celana dalamku yang mengganggu pergerakannya. Kurasakan mulutnya menyedot dengan kuat hingga penisku merasa ngilu.

Kuangkat badannya serta kulucuti celana dalamnya. Kaus minimnya masih tetap kubiarkan tetaplah di tubuhnya. Satu keindahan sendiri memandangnya dalam keadaan polos dibagian bawah serta kausnya masih tetap menempel. Belahan payudaranya yang besar membayang dibalik kaus minimnya. Saat ini saya yang jongkok di depannya serta mulai menjilati serta memainkan clit-nya. Vaginanya miliki bibir luar yang agak melebar. Warnanya kemerahan. Ia terguncang-guncang saat clitnya kujilat serta kujepit dengan ke-2 bibirku. Sebagian sementara kami dalam urutan demikian. Tangan kirinya memegang kepalaku serta mengutamakan ke selangkangannya. Tangan kanannya meremas payudaranya sendiri.

Saya bangkit berdiri serta punya maksud melepas BH-nya. Kucari-cari di punggungnya namun tdk kutemukan pengaitnya.

“Di depan.. Buka dari depan, ” Wati berbisik.

Rupanya jenis BH-nya dengan kancing dimuka. Kuremas ke-2 dadanya dengan lembut. Tanganku telah temukan kancing BH-nya. Tidak lama dadanya telah terbuka. Putingnya yang coklat membayang dibalik kausnya. Kugigit dari luar kausnya serta Wati mengerang.

Penisku dibawah yang telah berdiri melalui garis horizontal mulai mencari sasarannya. Tangannya mengocok penisku sekali lagi serta menggesekkannya pada vaginanya. Kucoba memasukkannya saat ini, tetapi meleset selalu. Kuangkat samping kakinya serta kucoba sekali lagi. Tidak tembus juga. Mulutku masih tetap bermain dengan puting didalam kausnya. Wati nampaknya tdk sabar sekali lagi serta dengan sekali pergerakan kausnya telah terlempar di pojok kamar. Tanganku menyeka gundukan payudaranya serta meremas dengan keras tetapi hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri bahunya serta melepas tali BH-nya hingga saat ini kami dalam kondisi polos.

Karna telah tidak berhasil berulang-kali berusaha untuk memasukkan penis dalam urutan berdiri, kudorong dia ke arah ranjang serta pada akhirnya kudorong dia rebah ke ranjang. Saat itu saya mulai kepanasan karna gairah yang muncul. Lantas saya menerkam serta memeluk Wati. Perlahan ia mulai ikuti permainanku. Kutindih badannya serta kuremas pantatnya yang masih tetap padat.

“Anto.. Kumohon please mari.. Masukk.. Kan! ”

Tangannya mencapai kejantananku serta mengarahkan ke guanya yang telah basah. Saya menurut saja serta tanpa ada kesusahan selekasnya kutancapkan penisku dalam-dalam kedalam liang vaginanya.

Kami sama-sama bergerak untuk menyeimbangi permainan satu dengan yang lain. Saya yang semakin banyak memegang guna. Ia semakin banyak pasrah serta cuma menyeimbangi saja. Pergerakan buat pergerakan, teriakan buat teriakan serta pada akhirnya kamipun menggelosor lemas dalam puncak kenikmatan yg tidak terkira.

Sesudah sesaat kami beristirahat, kami sama-sama lihat keindahan badan keduanya gairahku mulai bangkit sekali lagi. Saya memeluknya kembali serta mulai menjilati vaginanya. Serta lalu memasukkan penisku yang telah kembali menegang.

Saya menusuk vaginanya, crek.. crek.. crek.. crek.. crokk.. Berkali-kali. Ia juga mendesah sembari menarik rambutku. Kami sama-sama bergoyang, sampai tempat tidur juga merasa pengin roboh serta berderit-derit. Sesudah nyaris 1/2 jam dari permainan kami yang ke-2 kali, Wati mengejang serta vaginanya merasa lebih lembab serta hangat. Sesaat kuhentikan genjotanku.

Saat ini saya kembali menggenjot vagina Wati sekali lagi. Kami berdua bergulingan sembari sama-sama berpelukan dalam kondisi merapat. Kuputar tubuhnya hingga dia dalam urutan pegang kendali diatas. Saat ini dia yang semakin banyak memainkan guna. Pada akhirnya saya nyaris menjangkau puncak dari kesenangan ini. Kutarik buah zakarku hingga penisku seakan-akan memanjang.

“Wati, sepertinya saya tidak tahan sekali lagi, saya pengin keluar”.

Pada akhirnya selang beberapa saat kami menjangkau titik puncak. Saya keluar duluan serta tidak lama Watipun beroleh puncaknya dengan nikmati kedutan pada penisku. Kemudian kami terbaring lemas, dengan Wati memelukku dengan payudaranya menghimpit perutku.

“Wati terimakasih untuk saat-saat ini”
“Nggak usah To.. Wati yang terimakasih karna, Wati tidak menganggap anda benar-benar hebat. Wati tidak nyangka anda miliki tenaga yang besar. Wati barusan cuma mengharapkan nikmati permainan secara cepat karna barusan siang pijatanku telah kuarahkan supaya kita bermain dengan cepat”.

Kami tertidur berpelukan serta sesudah pagi harinya kami bercinta untuk ke-3 kalinya, serta kuakhiri dengan tusukan yang manis, kami sama-sama bersihkan tubuh serta pulang. Kuantar ia hingga dimuka gang tempat tinggalnya.

Saat sekian hari lalu kucari dia ditempat kerjanya, tdk kudapati sekali lagi dianya. Kata Mbak yang pelihara dimuka dia pulang kampung serta tdk kembali sekali lagi. Di tawarkan rekannya yang beda untuk memijatku, tetapi saya tdk tertarik serta segera balik kanan, back to Batavia.

Baca Juga : Bercinta Dengan Guru Bahasa Inggris

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *