Bunga99 agen bola online
Vagina Istri Tetangga Memang Selalu Lebih Nikmat

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Vagina Istri Tetangga Memang Selalu Lebih Nikmat

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirVagina Istri Tetangga Memang Selalu Lebih Nikmat – Manusia memanglah ditakdirkan tidak untuk sempat senang pada apa yg diraihnya. Dari mulai pendidikan, kekayaan, jabatan s/d keluarga. Hal semacam ini dapat beresiko pisitif dalam berikan motivasi diri untuk berprestasi, tetapi dapat juga jadi elemen yg dapat memicu manusia jadi depresi, terlebih misalnya memperbandingkan dianya dengan orang yang lain yg lebih berhasil, baik itu keluarga, rekan ataupun.. tetangga anda sendiri.

Vagina Istri Tetangga Memang Selalu Lebih Nikmat

Namaku Aldi, umur 30 th., serta sekarang ini tinggal di satu perumahan simpel (bukanlah real estate) di lokasi Bekasi Barat. Tempat tinggal di kompleks perumahanku sudah pasti model-tipe kecil yg beberapa besar bertipe 36 serta 45. Tetapi dengan penghasilanku yg lumayan saya dapat buat rumahku yg mungil jadi tampak indah serta asri. Bisa di katakan rumahku sebagai tempat tinggal terindah di kompleks itu.

Saya tempati tempat tinggal ini mulai sejak lima th. saat lalu, dulunya sendiri saja, tetapi mulai sejak setahun lantas saya menikah serta saat ini tinggal berdua dengan Lia, isteriku. Lia yaitu seseorang wanita yg cantik serta penuh perhatian, sepintas tak ada yg kurang darinya. Apalagi dia juga bekerja jadi Manajer Marketing di satu perusahaan farmasi, jadi keluarga kami dengan keuangan tidak miliki problem.

Kehidupan perkawinanku yg sampai kini kuanggap bahagia itu nyatanya semu belaka. Sialnya, hal tersebut dikarenakan seperti kata pepatah diatas : ”Rumput tetangga senantiasa lebih hijau”.

Saya punya tetangga baru, sepasang suami isteri dengan satu anak yg masih tetap bayi. Suaminya seseorang pelaut (anak buah kapal) serta isterinya ibu rumah-tangga. Awal mulanya saya tidaklah terlalu perduli dengan hadirnya tetangga baru itu, kendati kala mereka datang mengenalkan diri ke tempat tinggal saya sedikit terpukau dengan sang isteri yg miliki body seksi serta montok. Ketika itu saya merasakan keterpukauanku hanya hal umum saja.

Tetapi saat berkata beda. Ternyata sesudah berhubungan dengan Vera, demikian nama tetanggaku yg montok itu, saya mulai merasakan ada daya tarik yg tampil dari wanita itu. Ada lebih dari satu keunggulan yg dipunyai Vera tetapi tidak dipunyai Lia, isteriku.

Pertama sudah pasti body-nya yg montok, dengan dada yg menjulang serta pantat yg besar tetapi padat. Walaupunpun Lia juga seksi, tetapi ukuran buah dadanya hanya 34 B. Kalau Vera kutaksir bisa saja pada 36 B atau 36 C. Apalagi pantatnya yg bahenol itu tdk kalah merangsang ketimbang pantat”Inul”, buat pria penasaran untuk meremasnya.

Kedua, muka Vera yg sensual. Kalau masalah cantik, tentu saya tentukan Lia, tetapi kala saya lihat muka Vera, jadi saya berkhayal bintang film BF. Mungkin efek dari bibirnya yg agak tidak tipis serta matanya yg nakal. Tiap-tiap kulihat bibir itu bicara, menginginkan rasa-rasanya saya rasakan ciuman serta kulumannya yg membara.

Ketiga yaitu selera berbusananya, khususnya selera baju dalamnya. Pertama kali saya lihat jemuran baju di belakang tempat tinggal mereka, saya segera tertarik pada baju dalam Vera yg dijemur. Jenis serta warnanya beragam ragam, dari mulai celana dalam warna hitam, biru, merah, hijau hingga yg transparan. Jenisnya dari mulai yg biasa-biasa saja hingga jenis G-string. Motifnya dari yg polos hingga yg bermotif bunga, polkadot, gambar lucu hingga ada yg bergambar bibir. Wah.. Lia tidak senangi sesuai sama itu, menurut dia kampungan serta seperti pelacur jalanan. Padahal jadi lelaki terkadang kita menginginkan sekali bermain sex dengan wanita jalanan.

Tiga hal tersebut yg buat saya senantiasa meluangkan untuk curi-curi pandang pada Vera serta tdk lupa lihat jemuran busananya untuk lihat koleksi baju dalamnya yang”jalang” itu.

Satu hari, sepulang dari kantor, saya singgah ke Supermarket dekat kompleks sebatas beli makanan instan karna isteriku juga akan pergi sepanjang dua hari ke Bandung. Tak diduga di supermarket itu saya berjumpa Vera dengan menggendong bayinya. Entah mengapa jantungku jadi berdegup keras, terlebih kala kulihat baju Vera yg body-fit, baik kaos ataupun roknya. Semua lekuk kemontokan badannya seolah menyebut birahiku untuk naik.

“Hai.. Mbak, berbelanja juga? ” sapaku.
“Eh.. Mas Aldi, umum berbelanja susu”, jawabnya dengan senyum menghiasi muka sensualnya.
“Memang telah tidak ASI ya? ” tanyaku.
“Wah.. Susunya hanya keluar empat bln. saja, saat ini telah tidak lagi”.
“Hmm.. Mungkin habis sama Bapaknya kali ya.. Ha-ha-ha.. ” candaku.
Vera juga tertawa kecil, “Tapi tidak juga, telah dua bln. bapaknya tidak pulang”.
“Berat tidak sich Mbak, miliki suami pelaut, sebab saya yg ditinggal isteri hanya dua hari saja rasa-rasanya telah jenuh”.
“Wah.. Mas baru dua hari ditinggal telah demikian, terlebih saya. Bayangkan saya hanya ketemu suami dua minggu kurun waktu tiga bulan”.

Saya merasakan senang dengan bahasan perbincangan ini, tetapi sayang perbincangan berhenti karna bayi Vera menangis. Ia selanjutnya repot menentramkan bayinya.

“Apalagi sesudah miliki bayi, jadi sibuk Mas”, tuturnya.
“Kalau demikian agar saya bantu bawa belanjaannya”, saya ambil keranjang berbelanja Vera.
“Terima kasih, telah usai kok, saya ingin bayar selalu pulang”.
“Ohh.. Mari kita sama-sama”, kataku.

Saya selekasnya ambil gagasan jalan lebih dahulu ke kasir serta dengan begitu ketertarikan membayar seluruh belanjaan Vera.

“Ha.. Telah bayar? Berapakah? Kelak saya ganti”, kata Vera kaget.
“Ah.. Sedikit kok, tidak apa sekali-kali saya bayarin susu bayinya, siapa tahu bisa susu ibunya, ha-ha-ha.. ”, saya mulai bercanda yg sedikit menjurus.
“Ihh.. Mas Aldi! ” jerit Vera malu-malu. Tetapi saya lihat tatapan mata liarnya yg seolah menyongsong canda nakalku.

Kami jalan menuju mobilku, sesudah menyimpan belanjaan dalam bagasi saya mengajaknya makan dahulu. Dengan malu-malu Vera mengiyakan ajakanku.

Kami selanjutnya makan di satu restauran makanan laut di dekat kompleks. Saya begitu senang karna makin lama kami makin akrab serta Vera juga mulai berbaik hati memberi peluang padaku untuk “ngelaba”. Dari mulai tempat duduknya yg sedikit mengangkang jadi saya dengan gampang lihat kemulusan paha montoknya serta ketika usahaku untuk lihat lebih jauh dalam ia seolah memberiku peluang. Ketika saya menunduk untuk ambil garpu yg dengan berniat saya jatuhkan, Vera makin buka lebar ke dua pahanya. Jantungku berdegup begitu kencang lihat panorama indah didalam rok Vera. Diantara dua paha montok yg putih serta mulus itu saya lihat celana dalam Vera yg berwarna orange serta.. Brengsek, transparan!

Dengan sinar dibawah meja sudah pasti saya tdk bisa dengan terang lihat isi celana dalam orange itu, tapi itu cukup membuatku gemetar dibakar birahi. Karena sangat gemetarnya saya hingga terbentur meja kala akan bangkit.

“Hi-hi-hi.. Hati-hati Mas.. ”, celoteh Vera dengan suara menggoda.

Saya melihat muka Vera yg tersenyum nakal padaku, kuberanikan diri memegang tangannya serta nyatanya Vera menyambutnya.

“Hmm.. Maaf, saya hanya ingin katakan bila Mbak Vera.. Seksi sekali”, dengan malu-malu pada akhirnya pengucapan itu keluar juga dari mulutku.
“Terima kasih, Mas Aldi juga.. Hmm.. Gagah, lucu serta khususnya, Mas Aldi pria yg terbaik yg sempat saya kenal”.
“O ya? ”, saya tersanjung dengan juga rayuannya, “Gara-gara saya traktir Mbak? ”
“Bukan hanya itu, saya seringkali perhatikan Mas dirumah, serta dari narasi Mbak Lia, Mas Aldi begitu perhatian serta rajin menunjang pekerjaan dirumah, wah.. Tidak sering lho Mas, ada pria dengan status sosial seperti Mas yg telah mapan serta berpendidikan tetapi masih tetap ingin mengepel rumah”.
“Ha-ha-ha.. ” saya tertawa senang, “Rupanya tidak cuma saya yg perhatikan anda, tapi juga sebaliknya”.
“Jadi Mas Aldi juga seringkali perhatikan saya? ”
“Betul, saya paling bahagia lihat anda bersihkan halaman tempat tinggal pada pagi hari serta waktu menjemur baju”.
“Eh.. Mengapa kok bahagia? ”.
“Sebab saya kagum pada keindahan Mbak Vera, juga selera baju dalam Mbak”, saya berterus jelas.

Perbincangan ini makin mempererat kami berdua, seolah tidak ada jarak sekali lagi diantara kami. Pada akhirnya kami pulang seputar jam 8 malam. Dalam perjalanan pulang, bayi Mbak Vera tertidur jadi kala hingga dirumah saya membantunya membawa barang belanjaan dalam tempat tinggalnya.

Mbak Vera masuk ke kamar untuk membaringkan bayinya, sesaat saya menyimpan barang belanjaan di dapur. Sesudah itu saya duduk di ruangan tamu tunggu Vera tampil. Sekitar lima menit, Vera tampil dari dalam kamar, ia nyatanya telah bertukar baju. Saat ini wanita itu memakai gaun tidur yg begitu seksi, warnanya putih transparan. Semua lekuk badannya yg montok sampai baju dalamnya tampak terang olehku.

Cahaya lampu ruang cukup menerangi pandanganku untuk menelusuri keindahan badan Vera dibalik gaun malamnya yg transparan itu. Buah dadanya tampak bagai buah melon yg penuhi bra seksi yg berwarna orange transparan. Dibalik bra itu kulihat samar-samar puting susunya yang besar serta coklat kemerahan. Perutnya memanglah agak sedikit berlemak serta turun, tetapi sekalipun tdk kurangi nilai keindahan badannya. Apalagi misalnya melihat area bawahnya yg montok.

Tak seperti dibawah meja pada saat di restoran barusan, saat ini saya bisa lihat dengan terang celana dalam orange transparan punya Vera. Benar-benar indah serta merangsang, khususnya warna hitam dibagian tengahnya, membayangkannya saja saya telah berulang-kali meneguk ludah.

“Hmm.. Tidak keberatan kan kalu saya menggunakan baju tidur? ”, bertanya Vera memancing.

Sangatlah terang bila wanita ini menginginkan mengajakku selingkuh serta melalui malam dengannya. Saat ini ketentuan semuanya ada di tanganku, apakah saya juga akan berani mengkhianati Lia serta nikmati malam dengan tetanggaku yg bahenol ini.

Vera duduk di sampingku, tercium semerbak aroma parfum dari badannya buat hatiku makin bergetar. Kondisi saat ini nyatanya jauh diluar sangkaanku. Kemarin-kemarin saya masih tetap merasakan punya mimpi misalnya dapat membelai serta meremas-remas badan Vera, tetapi saat ini wanita itu malah yg menantangku.

“Mas Aldi ingin mandi dahulu? Kelak saya sediakan air hangat”, bertanya Vera sembari menggenggam tanganku erat.

Dari sorotan matanya begitu tampak kalau wanita ini betul-betul memerlukan seseorang lelaki untuk memuaskan keperluan biologisnya.

“Hmm.. Sebelumnya sangat jauh, kita mesti buat prinsip dahulu Mbak”, kataku agak serius.
“Apa itu Mas? ”
“Pertama, selalu jelas saya kagum pada Mbak Vera, baik fisik ataupun pribadi, jadi jadi lelaki saya begitu tertarik pada Mbak”, kataku.
“Terima kasih, saya juga demikian pada Mas Aldi”, Vera merebahkan kepalanya di pundakku.
“Kedua, kita saling telah menikah, jadi kita mesti miliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita, apa yg bisa saja kita laksanakan bersama jangan sampai jadi pemecah rumah tangga kita”.
“Setuju, saya begitu sepakat Mas, saya cuma menginginkan miliki rekan waktu saya kesepian, bila Mas Aldi ingin kapanpun Mas dapat datang kesini, pada saat tak ada suami saya. Tapi saya meskipun akan tidak memohon apa pun dari Mas Aldi, serta demikian sebaliknya saya juga menginginkan Mas Aldi demikian juga, jadi hubungan kita juga akan aman serta sama-sama menguntungkan”.
“Hmm.. Kalau demikian tidak ada problem, saya ingin telpon ke tempat tinggal, agar pembantu saya tidak kebingungan”.
“Kalau demikian, Mas Aldi pulang saja dahulu, letakkan mobil di garasi, kan lucu bila Mas Aldi katakan ada acara jadi tidak dapat pulang, sesaat mobilnya berada di depan tempat tinggal saya”.
“Oh.. Iya, nyaris saya lupa”.

Aku lekas keluar serta pulang dahulu ke tempat tinggal, menyimpan mobil di garasi serta mandi. Setelah itu saya ingin mengatakan pada pembantuku bila saya juga akan bermalam dirumah rekanku. Tetapi tidak jadi karna pembantuku nyatanya telah tidur.

Aku lekas datang kembali pada tempat tinggal Vera. Wanita itu telah menungguku di ruangan tamu dengan secangkir teh hangat diatas meja. Pahanya yang montok terpampang indah diatas sofa.

“Wah.. Nyatanya mandi dirumah ya? Padahal saya telah sediakan air hangat”.
“Terima kasih, Mbak Vera baik sekali”.

Wanita itu jalan tutup pintu tempat tinggal, dari belakang saya melihat kemontokan pantatnya yang besar serta padat. Kebesaran pantat itu tidak dapat dibendung oleh celana dalam orange itu, hingga memamerkan belahannya yang merangsang. Seperti tidak sadar saya hampiri Vera, lantas dengan nakal ke dua tanganku mencengkeram pantatnya, serta meremasnya.

“Uhh.. ”, Vera agak kaget serta menggelinjang.
“Maaf”, kataku.
“Tidak apa-apa Mas, malah.. Enak”, kata Vera seraya tersenyum nakal memandangku. Senyum itu buat bibir sensualnya seolah mengundangku untuk melumatnya.
“Crup..! ”, saya lekas menciumnya, Vera membalasnya dengan liar.

Aku tidak tahu telah berapakah lama bibir itu tidak rasakan ciuman lelaki, yang pasti ciuman Vera benar-benar panas serta liar. Berulang-kali wanita itu hampir menggigit bibirku, lidahnya yang basah meliuk-liuk dalam rongga mulutku. Aku makin bernafsu, tanganku menyebar di sekujur badannya, berhenti di kemontokan pantatnya serta lalu meremas-remas penuh birahi.

“Ohh.. Ergh.. ”, lenguh Vera di sela-sela ciuman panasnya.

Dengan sebagian pergerakan, Vera melepaskan gaun tidurnya sampai terjatuh di lantai. Saat ini wanita itu cuma kenakan Bra serta CD yang berwarna orange serta transparan itu. Aku terpaku sesaat kagum pada keindahan panorama badan Vera.

“Wowww.. Anda.. Benar-benar seksi Mbak”, pujiku, ”Buah dada Mbak besar sekali”
“Hi-hi-hi.. Punya Lia kecil ya? Paling 34 A, iya kan? Nah cobalah tebak ukuran saya? ”, tanyanya seraya memegang ke dua buah melon di dadanya itu.
“36 B”, jawabku.
“Salah”
“36 C”.
“Masih salah, telah saksikan saja nih”, Vera buka pengait Bra-nya, hingga ke dua buah montok itu terasanya nyaris ingin jatuh. Ia buka serta melempar bra orange itu kepadaku.
“Gila.. 36 D! ”, kataku membaca ukuran yang tertulis di bra itu.
“Boleh saya pegang Mbak? ”, tanyaku basa-basi.
“Jangan hanya dipegang dong Mas, remas.. Serta kulum nih.. Putingnya”, kata Vera dengan tipe nakal bagai pereks jalanan.

Wanita itu menjatuhkan badan indahnya diatas sofa, saya memburunya serta lekas nikmati kemontokan buah melonnya. Kuremas-remas dua buah dada montok itu, lalu kuciumi serta paling akhir kukulum puting susunya yang sebesar ibu jari dengan sekali-kali memainkannya diantara gigi-gigiku. Vera menggelinjang-gelinjang keenakan, napasnya makin terdengar resah, berulang-kali ia keluarkan kalimat jorok yang malah membuatku makin bernafsu.

“Ngentot, enak banget Mas.. ” jeritnya, “Ayo Mas.. Saya telah kepingin penetrasi nih! ”.

Aku yang sangatlah bernafsu lekas menjawab hasrat Vera. Dengan pertolongan Vera saya menelanjangi diriku hingga tidak tersisa satupun baju di badanku. Vera benar-benar senang lihat ukuran penisku yang lumayan panjang serta besar itu.

“Ohh.. Besar juga ya.. ” jeritnya.

Ia serius bertingkah bagai perek murahan, tetapi malah itu yang kusuka. Wanita itu lekas buka CD orange jadi kain paling akhir di badannya. Kulihat daerah bukit kemaluannya yang ditumbuhi rambut-rambut liar, dengan segaris bibir membelah ditengah-tengahnya. Bibir yang merah serta basah, benar-benar basah. Menginginkan rasa-rasanya saya nikmati keindahan bibir kesenangan Vera, tetapi saat saya menginginkan melakukannya ia menolakku.

“Sudah, kelak saja, masih tetap ada sesi seterusnya, saat ini mari kita kerjakan sesi pertama”.

Vera duduk mengangkang diatas sofa. Kedua kakinya di buka lebar-lebar mempersilakan kepadaku untuk jalankan penetrasi kesenangan sebetulnya. Aku juga lekas mempersiapkan senjataku, mengarahkan ujung penisku pas dimuka liang vagina Vera serta perlahan-lahan tapi tentu menekannya masuk.

Sedikit-demi sedikit penisku terbenam dalam kehangatan liang Vera yang basah serta nikmat. Saat nyaris semua batang penisku yang memiliki ukuran 20 cm itu masuk vagina, saya mencabutnya kembali. Lalu kembali memasukkannya perlahan-lahan.

“Enghh.. Hilang ingatan anda Mas, bila begini sebentar saja saya puas”, jerit Vera keenakan.
“Tak apa Mbak, silakan orgasme, kan masih tetap ada sesi selanjutnya”, tantangku. Saat ini kutambah rangsangan dengan meremas serta memilin puting susunya yang besar.
“Ohh.. Ohh.. Benar-benar enak Mas”, Vera pejamkan matanya.
Pada penetrasi ke-5, Vera menjerit, “Sudah Mas, janganlah tarik sekali lagi, saya ingin.. Ingin.. Oh..! ”

Dinding vagina Vera melejat-lejat seolah memijit batang penisku dalam kesenangan birahi yang tengah direguknya.

“Oh.. Saya telah sekali Mas”, tuturnya sembari menarik nafas.
“Mas ingin senang dahulu atau ingin lanjut sesi ke dua? ”, bertanya Vera.
“Terserah Mbak”, kataku. Aku sich pasrah saja.
“Sini, saya emut saja dulu”.
“Hmm.. Bisa juga, Lia belum juga sempat oral dengan saya”, saya mencabut penisku dari dalam vagina Vera yang basah serta menyodorkannya ke Vera.

Wanita itu menjilati ujung penisku dengan lidahnya seolah membersihkannya dari cairan vaginanya sendiri, lalu dengan benar-benar bernafsu ia memasukkan penisku kedalam mulutnya. Bibir seksi Vera tampak menyedot-nyedot penisku seolah menyedot spermaku untuk keluar. Ia lalu mengocok penisku dalam mulutnya sampai birahiku meraih puncaknya.

“Oh.. Saya ingin keluar nih, bagaimana? ”, saya bingung apakah saya mesti keluarkan spermaku kedalam mulutnya atau mencabutnya.

Tetapi Vera cuma mengangguk serta selalu mengocoknya tandanya ia tidak keberatan andaikata saya memuntahkan spermaku kedalam mulutnya.
Pada akhirnya saya meraih orgasme serta memuntahkan segala spermaku kedalam mulut Vera. Wanita itu tanpa ada segan-segan menelan semua spermaku. Benar-benar lihai wanita ini memuaskan birahi lelaki!

Kami duduk sebentar serta minum air dingin, lalu Vera mengangkangkan kakinya kembali.

“Nah.. Saat ini sesi ke dua Mas, bila ingin jilat dahulu silakan, tapi utamakan yang ini ya”, Vera menunjuk ke arah klitorisnya yang agak besar.
“Oke Mbak, saya juga telah umum kok”, seruku.

Sejurus lalu saya telah ada didepan bibir kemaluan Vera yang belum lama saya nikmati. Sebelumnya kujilat terlebih dulu kubelai bibir itu dari ujung bawah sampai klitoris. Kusingkap rambut-rambut kemaluannya yang menjalari bibir itu.

“Sudah gondrong nih Mbak”, seruku.
“Oh iya, habis ingin dicukur sia-sia juga, tidak ada yang saksikan serta jilat”, jawabnya nakal, “Besok pagi saya cukur deh, tapi janji malamnya Mas Aldi datang sekali lagi ya.. ”.
“Oke.. Pokoknya tiap tiap ada peluang saya siap temani Mbak Vera”.

Aku lalu asik menjilati serta menciumi labium mayora serta minora Vera. Cairan vagina Vera telah mulai mengalir kembali tandanya ia telah terangsang kembali. Desahan Vera juga menguatkan sinyal kalau Vera nikmati permainan oralku. Dengan nakal saya memasukkan jari telunjuk serta tengahku kedalam vaginanya serta lalu mengobok-obok liang becek itu.

“Yes.. Asik banget.. Say telah siap sesi ke dua Mas”, seru Vera.

Aku sendiri telah terangsang mulai sejak lihat keindahan selangkangan Vera, jadi penisku telah siap menunaikan pekerjaan keduanya. Vera menungging diatas sofa.

“Sekarang doggy-style ya Mas.. ”

Aku sich iya saja, maklum.. Sama nikmatnya..

Sejurus lalu kami telah ikut serta permainan sesi ke dua yang tidak kalah seru serta panas dengan sesi pertama, cuma kesempatan ini saya memuntahkan sperma didalam vaginanya.

Malam masih tetap sangat panjang. Kami masih tetap nikmati dua permainan sekali lagi sebelumnya kelelahan serta mengantuk. Vera sangat bahagia, serta saya sendiri terasa senang serta lega. Mimpiku untuk nikmati badan montok tetanggaku terwujud telah. Bahkan juga saat ini setiap saat andaikata Lia dinas ke luar kota jadi Vera dengan resmi mengambil alih tempat Lia jadi isteriku. Asik juga. Tetapi jadi imbalannya saya mencarikan serta menggaji pembantu rumah tangga dirumah Vera. Begitu bahagianya Vera dengan bantuanku itu, ia makin sayang padaku serta berjanji juga akan melayaniku kian lebih memuaskan di banding service pada suaminya.

Dari peristiwa itu saya makin mengerti kebenaran pepatah : “Rumput tetangga memanglah senantiasa tampak lebih hijau”, atau dapat ditukar dengan : “Vagina isteri tetangga senantiasa merasa lebih nikmat”.

Baca Juga : Tukang Pijit Yang Bernama Wati

Artikel Menarik Lain

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *