Bunga99 agen bola online
Walk In Interview

GadisQQ Agen BandarQ Terpercaya KepoQQ
BungaQQ BabeQQ situs bandarq online
CekQQ helipoker

Walk In Interview

Cerita Dewasa Indonesia | Cerita Panas | Cerita 18 Tahun | Cerita LendirWalk In Interview – Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, suatu hotel berbintang 5 yang terdapat di jalan Asia Afrika. Jadi anak kost yang keseharian mesti prihatin, sesungguhnya apa masalahnya saya mesti datang ke hotel semewah ini?

Walk In Interview

Terlebih dulu ijinkanlah saya untuk mengenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di suatu fakultas tehnik yang kerap dikatakan sebagai fakultas ekonominya tehnik, lantaran ada banyak mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di suatu perguruan tinggi yang cukup populer di kota ini. Tapi syukurlah sebagian masa dulu saya sudah lulus serta diwisuda jadi seseorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment.

That’s why I come to this hotel. Kemarin seorang yang mengakui bernama Ibu Ratna menelepon serta mengundangku hari ini untuk ikuti suatu psikotest dari suatu perusahaan multinasional yang cukup populer di Indonesia (serta sebagian masa dulu terserang somasi orang-orang karena acara promosi suatu produknya yang agak terlalu batas). Sesudah memarkirkan mobil di underground, saya mengambil langkah menuju lobby hotel. Selintas saya lihat pengunjung hotel yang tengah nikmati breakfast (atau lebih pasnya lunch kali yah?) di coffee shop serta berkeliaran di kira-kira lobby. Yah.. di banding mereka yang berpenampilan enjoy sich, saya lumayan rapi. Ah cuek sajalah, yang terutama PD.

“Maaf Mbak, kalau ruangan rekruitmen di mana yah? ” bertanya saya pada seseorang resepsionis yang bertugas di front office sembari menuturkan nama perusahaan itu.
“Oh.. naik saja lewat tangga itu serta belok ke kanan, ” tuturnya sembari membuktikan tangga yang disebut.
Sesudah menyampaikan terima kasih, saya juga bergegas menuju ruangan recruitment. Hmm.. masih tetap sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi sedang saat saya melirik arloji saya baru membuktikan jam 09. 22 WIB. Sesudah isi daftar ada serta ambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di suatu sofa empuk di pelataran tempat itu.

Saat membuktikan jam 09. 50 WIB saat seseorang wanita mempersilakan beberapa peserta untuk masuk ke ruangan tes. Sesudah ambil tempat, saya lihat peserta yang lain. Hmm.. ada banyak muka yang saya kenal lantaran memanglah kawan sekuliah, but now they are my competitor. Dimuka tempat sudah berdiri 2 orang wanita yang lalu mengenalkan diri jadi Mbak Rini serta Mbak Tia. Saya mengatakan Mbak lantaran saya sangka mereka tidaklah terlalu jauh tua di banding saya, walaupun mereka mengenalkan diri dengan sebutan Ibu. Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang tidak serupa. Mbak Rini wajahnya tegas relatif judes, begitu PD serta berkesan suka mendikte orang yang lain, sedang Mbak Tia berkesan lembut, waspada serta komunikatif. Bila saya menilainya jadi wanita yang semestinya dipacari (Mbak Rini) serta wanita yang semestinya dinikahi (Mbak Tia). Hahaha.. mungkin saja agak aneh penilaian saya ini.

Sesudah acara basa-basi resmi, pas jam 10 tes di awali. 1 jam 45 menit yang diperlukan Mbak Tia untuk memandu serta mengawasi jalannya psikotest ini, sedang Mbak Rini tak tahu menghilang kemana. Pas jam 11. 45 WIB kami diusir ke luar tempat nikmati coffee break untuk 30 menit lalu diumumkan beberapa orang yang lulus psikotest serta hadapi interview. Dari 200-an pelamar, cuma 40 yang di panggil psikotest serta cuma 20 yang di panggil interview, untuk setelah itu terserah berapakah orang yang juga akan di terima.

Nyatanya nama saya terdaftar dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done in english, so I have to prepare myself. But it’s only my first experience, so what the hell..! Saya mengusahakan cuek serta santai saja menghadapinya, masa bodoh teuing lah kata orang sini.

Sekitar jam 14. 45 WIB nama saya dikatakan untuk masuk tempat interview. Hhmm.. nyatanya yang meng-interview (eh ini bhs mana yah?) saya yaitu Mbak Tia. Sesudah mengenalkan diri, kami ikut serta dalam percakapan yang serius tetapi akrab. Berulang-kali dia membujuk saya untuk ingin gabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sich sesungguhnya lebih suka bekerja pada shop floor di pabrik dari pada mesti bekerja di kantor manajemen di belakang meja serta dimuka computer. Tapi permasalahannya yaitu kalau pabrik yang berkaitan terdapat di suatu kota di pesisir utara pulau Jawa, suatu kota sebagai pintu gerbang Jawa Barat pada tetangganya di samping timur. Away from home means extra cost for living, am I right? Tidak merasa kami mengobrol makin akrab. Mbak Tia nyatanya nyata-nyata smart, komunikatif serta bisa membawa situasi bersahabat dalam suatu pembicaraan. Tidaklah heran nyatanya dia yaitu alumni fakultas psikologi th. 1992 pada suatu perguruan tinggi di selatan Jakarta yang populer dengan jaket kuningnya.

“That’s all Ryo, thank you for joining this recruitment. We will kontak you in two weeks from now by mail or phone, ” kata Mbak Tia akhiri perbincangan.
“The pleasure is mine, ” jawab saya pendek sembari berbalik menuju pintu.
“Ryo, why do you look so confident today? The others don’t look like you, ” mendadak Mbak Tia bicara sekali lagi pada saya.
“I juicet try to be myself, no need to pretend being someone else, ” jawab saya sembari bingung, sesungguhnya apa yang sudah saya jalankan sich hingga dia menilainya saya sesuai sama itu?
“Cool, I like your model, ” sambung Mbak Tia sekali lagi.
“I like your model too, ” jawab saya (pura-pura) cuek.
“Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number? ” sambung saya sekali lagi.
Asli telah cuek sekali, tak ada malu-malunya sekali lagi.

Baru sebagian waktu mengobrol bareng dia, tapi mengapa terasa saya telah kenal lama yah? Mbak Tia hanya tersenyum serta memberikannya kartu namanya sembari memohon nomor telepon saya juga. Karena saya masih tetap pengangguran serta tdk miliki kartu nama, pada akhirnya dia cuma bisa mencatatnya di kertas note punyanya saja. Serta saya pada akhirnya segera pulang.

Bandung, same day at 18. 04 WIB

Saya sekali lagi termenung di kamar kost dimuka computer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4. Sialan.. menyerang habis-habisan kok jadi kalah yah, fikir saya sembari memandang statistik permainan. Mendadak.. krriinngg, teleponku berbunyi mengagetkanku lantaran memanglah dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor telepon asing (tujuannya belum juga berada di memori). Segera saya jawab,
“Hallo.. ”
“Hallo.. ini Ryo? ” terdengar suatu nada wanita di seberang telepon.
“Iya, ini Ryo, ” jawab saya.
Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar lokasi sini. Nyatanya itu telepon dari Mbak Tia. Dia sich ngakunya hanya iseng saja men-check nomor saya.

Sesudah bercakap sebentar, saya ajukan pertanyaan,
“Mbak, banyak kerjaan tdk? ”
“Kenapa nanya, ingin ngajak berjalan-jalan yah? ” jawab Mbak Tia disusul nada tertawanya yang ramah.
“Boleh, siapa takut..? ” balas saya sembari senyum iseng (untung dia tdk dapat saksikan senyum saya).
“tidak kok telah tuntas semuanya, free as a bird, ” tuturnya sekali lagi sembari mengutip suatu judul lagu The Beatles (atau John Lennon? ah masa bodoh teuing lah).

Pada akhirnya kami setuju untuk berjalan-jalan (but no business talks allowed, kata Mbak Tia). Saat membuktikan jam 19. 15 WIB saat saya memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama. Ah.. masak dalam 1 hari ke hotel ini hingga 2 kali, fikirku. Baru sebagian waktu saya duduk, tampak sosok Mbak Tia jalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya serta lihat seputar lobby untuk mencariku. Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahu tempat saya duduk untuk lalu bangkit berdiri serta berlahan menghampirinya. Pakaian putih berbunga-bunga kecil berwarna ungu tampak cocok dengan pilihan celana panjangnya yang berwarna ungu. Wah.. aliran matching-isme nih, fikirku.
“Hi Mbak, look so nice, ” kata saya sembari sedikit memberikan pujian pada penampilannya yang memanglah out of mind itu.
“Thanks, you too, ” jawabnya sekali lagi sembari tersenyum.
Tapi kesempatan ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum pada seseorang kawan lama.

Kami segera pergi. Karena Mbak Tia memohon tidak untuk makan berat, pada akhirnya saya membawanya ke LV kafe, suatu resto dengan panorama kota yang sangat bagus di bilangan Dago Pakar. Bila telah malam, nampak indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored. Temaramnya sinar lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja serta kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung dibawah sana tdk bisa menutupi kecantikan yang terpancar dari seseorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam sebagian jam saja. Bila diliat dari face-nya sich tdk cantik-cantik banget, tapi jenisnya yang ramah, pikirannya yang luas serta obrolannya yang kuasai beberapa hal, bikin penampilannya sangat chic serta smart. Dari pada dengan wanita cakep serta seksi dan bisa mengeksploitasi penampilannya semaksimal mungkin saja, tapi bila di ajak ngomong tdk sempat nyambung serta otaknya berisi hanya kosmetik dengan toko baju atau factory outlet saja sich jauh sekali, bagusan Tia kemana saja. Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seseorang presenter TV favorite saya, yang walaupun tidaklah terlalu cantik tapi bisa memikat lantaran jenisnya yang smart itu.

Mbak Tia (serta pada saat inilah minta saya cukup menyebutnya dengan cuma mengatakan namanya saja, tanpa ada embel-embel Mbak di depannya) pesan lasagna, agar tidaklah terlalu kenyang tuturnya. Nyatanya city view Bandung masih tetap kalah dengan view yang berada di depan saya saat ini. Asik sekali lihat Tia nikmati sedikit untuk sedikit makanannya. Ada satu kejadian yang sangat bagus waktu mendadak dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya serta memandang saya sembari berkata, “Lho kok jadi tdk makan? ” Hhmm.. asli sumpah bagus banget angle-nya. Saya sempat turut aktivitas photografi waktu di bangku sekolah dahulu, jadi mungkin saja berikut yang dimaksud dengan angle paling baik. Ada sebagian waktu (mungkin saja sepersekian detik) di mana seorang bisa tampak begitu tampan atau begitu cantik serta saya baru menikmatinya sebagian detik yang waktu lalu.

“Heh.. kok jadi bengong? ” Tia membuyarkan lamunan saya saat itu juga.
“Ah tdk kok, hanya sekali lagi inget-inget saja barusan simpan kunci kost di mana? ” jawab saya sembari coba berbohong.
Bila dia hingga tahu saya kagum pada panorama perihal dia, wah ada kemungkinan tdk enak suasananya.
“Ooohh.. ” sahutnya pendek, gak tahu tahu saya berbohong atau tdk.
Terus jelas saya senantiasa rada takut hadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut fikiran saya dapat di baca mereka, hahahaha.

Lalu kami ikut serta pembicaraan yang hangat sembari nikmati makanan. Ada berapa bagian baru yang saya kenal dari seseorang Tia malam itu. Desember kelak usianya 26, termasuk juga muda buat seseorang angkatan 1992. Anak ke dua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya telah menikah serta tinggal di Jakarta, sedang adik laki lakinya tengah kuliah di satu buah PTS yang populer di bilangan Grogol, Jakarta serta populer saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa media 1998 kemarin. Dia sempat nyaris saja menikah pada awal th. ini, tetapi suatu hal berlangsung (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, serupa sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an th. saat lalu), kekasihnya nyatanya menikah dengan wanita beda yang telanjur dihamilinya. Tia katakan tersebut resikonya pacaran jarak jauh, nyatanya seorang sanggup menukar tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota itu. Ah.. manusia, narasi perihal kehidupan mereka benar-benar sangat bermacam.

“That’s why Ryo, ’till now I still can’t trust men, ” Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap-kerlip lampu kota Bandung. Dia menyebutkan pria itu seperti kucing, telah disayang-sayang tetaplah nyolong, hahahaha.. lucu juga istilahnya. Saya hanya dapat membela golongan saya sedapatnya. Agar bagaimana juga kelihatannya tdk semuanya cowok itu seperti kucing deh, berapa salah satunya jadi lebih serupa serigala, hahahahaha. Semakin lama kami bercakap, semakin banyak sisi-sisi beda yang saya kenal dari seseorang Tia. Bahkan juga hingga saat ini dia masih tetap belum juga memahami apa sesungguhnya yang berada di otak kekasihnya dulu waktu meninggalkannya, walau sebenarnya we had a perfect life, ujarnya. Saya duga anak psikologi tahu semuanya jawaban perihal masalah fikiran serta perasaan manusia, nyatanya tdk juga tuch. Dia menyebutkan sich tdk semuanya dokter dapat mengobati sakitnya sendiri serta tdk semuanya pilot dapat terbang. Untuk yang paling akhir inilah dapat buat saya ngakak banget.

“So Ryo, why are you still alone ’till now? ” mendadak Tia mengganti judul perbincangan.
Lho kok.. jadi ngomongin saya saat ini?
“Ah tak ada yang pengen sama saya, hehehe.. ” jawab saya sekenanya sembari becanda.
“Bohong banget, pengen tinggi-in kualitas yah? ” todong Tia.
“Hahaha ketahuan deh saya, ” jawab saya sekali lagi sembari cengar-cengir.
“Boleh Tia ngomong perihal penilaian Tia ke anda? ” ujarnya mendadak.
“Sok, silahkan, mangga.. ”
Serta awalilah Tia mengungkapkan penilaiannya perihal saya. Yang buat saya kaget nyatanya dia dapat tahu fikiran-pikiran saya yang hanya berada di hati, bahkan juga tak ada di otak meskipun. Dia menyebutkan bila di balik tampilan saya yang senantiasa tertawa serta becanda selalu saja, sempat ada suatu hal yang sangatlah melukai saya di masa lampau, serta itu sangatlah bisa saja berhubungan dengan wanita, mengingat sampai saat ini saya masih tetap sendiri. Ah.. saya jadi teringat masa lampau saya yang berhasil ditebak dengan tepat oleh Tia (ujarnya semudah membaca buku yang terbuka, sialan..!). Di mana saat ini beradanya si “love of my life” itu, berapa wanita memanglah pernah menggantikannya, tapi tak ada yang nyata-nyata mampu menggantikannya, hehehe.. kok jadi sentimentil begini, ini kan narasi, hahahaha.

Untuk berapa waktu saya terdiam, tidak paham sesungguhnya apa yang saya fikirkan. Apakah fikiran saya sekali lagi berada di masa lampau atau tengah kagum pada sesosok wanita yang duduk persis dihadapanku. Akhirnya saya cuma melemparkan pandangan memandang gemerlapnya kota Bandung dibawah sana.

“.. and baby I.., I’ve tried to forget you but the light on your eyes still.. shine.. you shine like an angel spirit that won’t let me go.. ”

Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada semakin menghanyutkan saya dalam lamunan. Hingga pada akhirnya..
“Bagus yah Ryo, pemandangannya.. ” tegur Tia membuyarkan fikiran kosongku.
“Yup, saya senantiasa senangi city wiew begini, ” jawab saya sekenanya, agar tdk disangka melamun.

Malam makin larut dikala kami mengambil keputusan buat kembali pada hotel. Kami makin dekat keduanya, sama-sama sharing sepanjang perjalanan di mobil. Bercanda, tertawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah bisa saja saya saja yang sangat terambil situasi. Waktu memberikan sekitaran jam 11 malam dikala kami kembali beranjakkan kaki di lobby hotel.
“Ryo, pengen nemenin bercakap sebentar tdk? ” bertanya Tia mendadak.
“Boleh saja, bener-bener belum juga ngantuk? ” tanyaku balik.
“Tidak, lagipula bila ditempat yang asing Tia jadi sulit tidur, ” ujarnya berikan reasoning.

Akhirnya saya turut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terdapat di lantai 4. Sebuah kamar standard dengan 2 single bed, TV, kulkas serta perlengkapan standard seperti satu buah kamar hotel berbintang. Good enough, dari pada kamar kostku, hehehehe.
“Lha anda sendiri disini? ” bertanya saya demikian lihat tdk seseorang juga di kamarnya.
“Sebenernya kamar ini buat berdua, dengan Rini, itu lho yang barusan pagi turut tes juga, ” tuturnya.
“Tapi dia segera pulang Jakarta pakai kereta paling akhir barusan sore, ujarnya besok pengen ada acara apa gitu di keluarganya. ”
Kami memasak air dengan memakai ketel elektrik yang di siapkan hotel buat lalu semasing nikmati secangkir coffemix panas. Kursi berniat kami balikkan menghadap ke jendela, buat melihat Jalan Tamblong yang sudah temaram serta senyap. Kadang-kadang kelihatan mobil melintas dengan kecepatan diatas rata-rata, bisa saja karna telah malam. Begitu juga situasi di kamar ini, cuma nada MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang temani pembicaraan kami, menukar sinar lampu yang memanglah kami padamkan. Entah kenapa, saya terasa demikian dekat dengan Tia, walau sebenarnya baru berapa jam kami berteman. Ah kembali, bisa saja saya sangat terambil situasi.

Tetapi kesempatan ini nyatanya Tia yang duduk di samping saya bukan seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu. Dalam curhatnya, ia kelihatan sangatlah rapuh. Entah memanglah nasib saya selalu untuk jadi tempat sharing orang yang lain. Dari dahulu semasa di bangku sekolah sampai saat ini sesudah menamatkan pendidikan tinggi, saya senantiasa jadikan tempat sharing beberapa orang dalam lingkaran paling dekat saya. Serta saat ini saya mesti hadapi Tia yang kadang-kadang sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya serta menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love.. look what you have done to her, bastard..!

Saya bangkit dari duduk serta jalan pelan menghampirinya. Saya cuma dapat termangu berdiri di sebelahnya serta lihat ke luar buat menunggunya menuntaskan kisah-kisah yang menyesakkannya sepanjang berbulan-bulan. Saya coba menenangkannya sebisa saya dengan mengkaji kehidupannya dari beraneka perspektif. Saya cuma dapat menyampaikan kalau ia masih tetap mujur karna diperlihatkan ketidaksetiaan kekasihnya ketika mereka belum juga menikah, karna semakin lebih sangatlah menyakitkan jikalau semuanya dihadapi malah dikala mereka sudah menikah.

Sesudah sekian waktu kami membahasnya, Tia kelihatan telah agak tenang.
“Thanks Ryo, anda pengen jadi tempat sampah Tia, ” ujarnya sembari sedikit tersenyum.
“That what friends are for, ” jawab saya singkat sembari menepuk-nepuk kepalanya seperti terhadap seseorang anak kecil, walau sebenarnya dia 3 th. lebih tua dari pada saya, hehehe.. pamali tau..!
Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada pinggir ranjang sembari meluruskan kaki. Hhmm.. enak juga duduk tempat begini. Tidak berapakah lama lalu Tia menyusul turun dari kursi serta gabung duduk dengan tempat lesehan di sampingku.
“Kayaknya enak banget saksikan tipe anda, ” ujarnya sebelumnya dia menyusulku duduk di karpet.
“Ryo, anda itu aneh yah? ” mendadak nada Tia menyentakku.
“Aneh lalu bagaimana maksud loe? ” bertanya saya asal sembari menirukan satu buah dialog sinetron Si Doel berapa masa lalu.
“Hihihihi.. ” terdengar Tia cekikikan mendengarnya.
“Ya aneh saja, Tia baru kenal anda hari ini, tapi rasa-rasanya Tia telah kenal sama anda lama banget, ” ujarnya sekali lagi.
“Sampai Tia pengen sharing sama anda, walau sebenarnya Tia paling tidak sering sharing, terlebih sama orang yang baru kenal. ”
“Sama, saya juga gitu kok Ya, jangan-jangan kami sempat ketemu di kehidupan diawalnya yah? ” jawab saya sembari nyengir.
“Ada-ada saja anda.. ” ujarnya sembari mendadak merebahkan kepalanya di bahu kananku.
Jujur saja saya cukup terperanjat terima perlakuannya, tapi enjoy saja, lagipula apalah yang bisa saja berlangsung dari satu buah bahu buat menumpukan kepala sesaat?

Baca Juga : Kisah Pertemuan Pertama

Cukup lama kami semasing terdiam dalam tempat ini sembari melihat beberapa horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya :

.. I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you..

Perlahan saya usap rambutnya serta membulatkan tekad buat mengecup keningnya. Tia mendongakkan kepalanya buat memandangku. Beberapa waktu kami sama-sama berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang sampai kini saya mencari? Mungkinkah saya menemukannya cuma dalam berapa jam saja sesudah demikian lama saya mencarinya gak tahu kemana? How can I be so sure about that? serta demikian pertanyaan-pertanyaan yang lain berkecamuk dalam fikiranku melalui detik untuk detik kami berpandangan. Yang saya ketahui berapa waktu lalu muka kami makin mendekat serta sepintas saya lihat Tia tutup matanya serta selanjutnya saya kecup lembut bibirnya.

Kami berciuman seolah-olah kami sepasang kekasih yang sudah lama tdk bersua. Menumpahkan semua kerinduan dalam kehangatan satu buah ciuman. Perlahan saya capai pinggang Tia serta mendudukkannya dalam pangkuan. Saat ini kami makin dekat karna Tia saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap lembut rambutnya, sedang dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya makin dalam, seolah tdk sempat dia bebaskan. Cukup lama kami berciuman, kadang-kadang terdengar tarikan nafas Tia yang terdengar demikian lembut. Akhirnya saya membulatkan tekad buat mulai turunkan bibir ke arah lehernya. “Ugh.. ” cuma terdengar lenguhan lembut seseorang Tia dikala ia mulai rasakan hangatnya bibir saya menelusuri lehernya. Tak ada perlawanan dari tindakan yang saya kerjakan. Tia malah semakin mendongakkan kepalanya, makin menunjukkan lehernya yang putih serta tahap. Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur jadi tumpuan. Saya juga makin ikut terambil situasi. Saya perlakukan Tia selembut bisa saja, menelusuri milimeter untuk milimeter lehernya, menyeka rambutnya serta semakin mengutamakan punggungnya ke arah badanku. “Ryo.. oohh.. ” lenguh Tia waktu dia mengerti terlepasnya satu per satu kancing pakaiannya. Ya.. saya memanglah melepaskannya buat menambahkan cumbuan saya padanya.

Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, bersamaan meningkatnya keinginan manusiawi dalam diri kami. Dengan sekali pergerakan, saya mampu menggendongnya. Kami teruskan percumbuan dalam tempat berdiri dengan Tia dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan pakaiannya terjatuh terhempas ke karpet, tersisa sisi atas badan Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih. Beberapa waktu kami bercumbu dalam tempat ini, hingga pada akhirnya saya merebahkannya di ranjang. Terdengar nada Donita, presenter MTV Asia, paling akhir kali sebelumnya saya menggapai tombol off TV yang terdapat di buffet samping ranjang. Kesempatan ini situasi nyata-nyata senyap, cuma tarikan nafas kami berdua yang masih tetap repot bercumbu. Tia berusaha untuk melewatkan satu per satu kancing pakaianku sampai pada akhirnya ia berhasil melepaskannya, nyaris berbarengan waktu saya berhasil melewatkan bra-nya. Kami melanjutkan pergumulan, tetapi satu buah perasaan aneh menyelinap kedalam hatiku. She’s different, fikirku. Jujur saja, saya beberapa kali sudah alami sexual intercouse, juga dengan beberapa orang yang barusan saya kenal. Tetapi kesempatan ini merasa berlainan. Ada perasaan beda yang mendampingi nafsu yang naik-turun, sebegitu dahsyatnya hingga nafsu tersebut jadi tdk bermakna sekali lagi keberadaannya. Sayang, yah bisa saja berikut yang dimaksud dengan perasaan sayang itu, suatu hal yang telah lama tdk saya rasakan keberadaannya. Ini membuatku menginginkan memperlakukannya seindah serta selembut bisa saja. Tia tidak cuma seorang yang isi satu buah fase pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berlainan, she deserves the best!

Terdengar sekali lagi lenguhan Tia waktu saya mulai mengulum buah dadanya. Kesempatan ini terdengar lebih keras dari mulanya. Mungkin saja keinginan itu sudah penuhi kepalanya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di kurang lebih putingnya, berulang-kali membuatnya berjingkat terperanjat. Saya melanjutkan cumbuan saya ke arah perutnya, sampai selanjutnya berhasil membebaskan celana panjangnya ke karpet. Saat ini terpampang panorama yang kemungkinan kecil saya lupakan, seseorang Tia yang baru saya kenal hari ini, rebah dengan cuma berbalutkan celana dalam. Untuk pertama kalinya saya melihat seseorang wanita dalam keadaan begini tidak dengan nafsu yang kuasai. Demikian merasa bagaimana saya memanglah menyayangi serta menginginkannya. Matanya yang melihat lembut ke arahku, mendatangkan demikian banyak kedamaian, suatu hal yang selalu saya mencari sampai kini dari diri seseorang wanita.

Baca Juga : Birahi Wanita Karir

Saat ini saya mengulum pusarnya, bersamaan lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan-lahan saya mulai turunkan kain paling akhir yang melekat pada badan Tia. Terdengar sedikit suara terperanjat Tia waktu saya mulai turunkan centi untuk centi celana dalamnya menyusuri ke dua kakinya sampai lepas tak tahu kemana. Bersamaan itupun, saya mulai turunkan jilatan ke arah selangkangannya. “Ryo.. pengen ngapain.. uugghh.. ” pertanyaan yang cobalah di ajukan Tia tidak bisa diselesaikannya demikian dirasakannya satu jilatan mendarat di organ kewanitaannya. Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memanglah saya upayakan selembut mungkin saja, sampai kadang-kadang cuma sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal semacam ini jadi malah menyebabkan reaksi Tia makin terbakar. “Ohh.. Ryoo.. ” lenguhnya panjang disertai nafasnya yang makin tidak teratur.

Hisapan serta jilatan silih bertukar saya kerjakan dengan penuh kelembutan kepadanya, sampai selanjutnya terdengar Tia seperti mendekati puncaknya. “Aaahh.. ” jeritnya panjang sembari menghentakkan badannya ke atas waktu puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam satu sensasi keindahan yang benar-benar melenakan serta menghempaskannya kedalam jurang kesenangan yang demikian dalam.

Saat ini saya melihat berwajah. Matanya yang terpejam sembari menggigiti bibirnya sendiri serta tangannya yang mencengkram seprai di tepian ranjang dengan kencang dan nafasnya yg tidak teratur cukup untuk mengekspresikan begitu tingginya Tia terbuai dalam gelombang orgasme yang belum lama dilaluinya. Saya biarlah Tia meregang dianya dalam detik untuk detik puncak kesenangan yang belum lama didapatnya untuk menyibukkan diri mencari satu benda yang “lubricated with nonoxynol 9, for greater protection” (If you were a great 17tahun2 fan, you should know this thing) yang tetap disisipkan di dompetku (my friend said that only bastards always bring this thing around. Yeah.. maybe I’m the one of them).

Tia baru buka matanya saat dirasakannya satu benda melekat lembut pada bibir organ kewanitaannya. Dibukanya matanya melihat lembut ke arah wajahku yang pas ada dimuka berwajah. “Tia, may I..? ” bisikku sembari mengecup keningnya. Tia cuma mengedipkan ke dua matanya sekali sembari tetaplah memandangku. That’s enough for me to know the answer of this question. Perlahan saya tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Terdengar nafas Tia tertahan di tenggorokannya, nikmati sensasi mili untuk mili penetrasi yang ditunaikanku terhadapnya, sampai pada akhirnya keseluruhannya tenggelam utuh. Kami terdiam serta sama-sama berpandangan sesaat, nikmati menyatunya raga (serta hati) kami berdua. Saya kecup bibirnya lembut sebelumnya mulai melenakannya dalam satu percintaan yang benar-benar indah. Saya masih tetap ingat persis, bagaimana ke dua tangan kami sama-sama bergenggaman erat di bagian pinggir ranjang waktu kami selalu bergumul menjadikan satu keinginan serta raga kami. Begitu lembut buah dadanya menghimpit dadaku, serta begitu hangat melingkupi kejantananku yang selalu memompanya, membawa kami makin tinggi terbuai kesenangan duniawi.

Tak tahu berapakah lama kondisi ini berjalan, saat pada waktunya terdengar Tia mulai mendekati orgasme keduanya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap badanku erat seolah menginginkan mengajakku turut dalam gelombang orgasmenya. Nafasnya jadi memburu, terdengar terang di telinga kananku. Saya juga tingkatkan kecepatan penetrasi untuk membantunya beroleh puncak ke dua kalinya. “Eeegghh.. Ryoo.. aahh.. ” jerit Tia tertahan coba mengatakan namaku waktu gelombang orgasme keduanya betul-betul datang menggulungnya, menelannya kembali kedalam jurang kesenangan yang benar-benar dalam.

Saya hentikan pergumulan kami sesaat, memberikannya peluang untuk kembali mengatur nafasnya selesai melalui puncaknya yang ke dua. Saya cuma memberi senyuman serta kecupan lembut di keningnya waktu selanjutnya Tia mulai buka matanya.
“You’re so lovely tonight”, bisikku kepadanya.
“Ryoo.. eh..! ” teriaknya sedikit terperanjat waktu mendadak saya menarik ke dua tangannya untuk selanjutnya mendudukkannya dalam pangkuanku.
Punggungku bersender di kepala ranjang, serta muka kami sama-sama melihat. Kami kembali berciuman. Perlahan-lahan kuangkat badannya, untuk kembali mengutamakan kejantananku pada liang kewanitaannya. Meskipun kami tengah berciuman, masih tetap pernah kudengar erangan lirihnya waktu Tia rasakan bagaimana kejantananku perlahan-lahan menikam badannya.

Kesempatan ini kubiarkan Tia memegang kendali. Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Tia memompa diriku. Pundakku jadikan tumpuan olehnya untuk selalu menaik-turunkan badannya di atasku. Saya cuma membantunya dengan meremas buah pinggulnya serta sedikit menambah tempat selangkanganku, sampai batangku merasa jadi dalam menghujamnya. Ahh.. benar-benar satu panorama yang tidak lagi terlupakan bagaimana menyaksikan dianya selalu menjadikan satu raga kami kedalam satu persetubuhan yang benar-benar intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang udah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri serta badannya yang berguncang-guncang. Ughh.. It’s really a loveable thing to see.

Panorama yang benar-benar melenakan ditambah dengan kehangatan yang jadi erat menekan kejantananku, menit untuk menit mulai membuaiku kedalam sensasi kesenangan satu persetubuhan. Merasa suatu hal menyudutkan, menghimpitku untuk keluar dari dalam badanku. Oh My God, saya ras saya juga akan hingga puncaknya, fikir saya. “Ryoo.. I’m almost there.. ” bisik Tia lirih sembari percepat pergerakan badannya memompaku. “Yes.. babe, me too.. ” jawabku sembari mengecup erat bibirnya. Setelah itu merasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seolah berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan badannya jadi merasa menyudutkan cairan kejantananku untuk keluar, sesaat tikaman batangku makin mendatangkan sensasi kesenangan satu orgasme yang cuma tinggal sejengkal dari raihannya. “Aaahh.. Ryoo.. ” jeritnya lirih menyebut namaku waktu nyata-nyatanya gelombang orgasme lebih dulu menyapanya.

Saya masih tetap pernah melanjutkan tikaman kejantananku berapakali sekali lagi sampai selanjutnya..
“Tiaa.., saya keluaarr..! ” teriakku sembari mendekap erat badannya.
Merasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar. Untung saya memakai kondom, masih tetap pernah diriku berfikir di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam satu sensasi kesenangan yang benar-benar dahsyat. Dalam sebagian waktu ke depan kami cuma sanggup berpelukkan erat, untuk selanjutnya bersisian rebah di ranjang.
“Thanks honey, you’re so great.. ” bisikku sembari mengecup lembut bibirnya.
“Ahh.. Ryo.. ” lirih suaranya terdengar, seolah menginginkan menyebutkan hal yang sama kepadaku.

Bandung, 12 Oktober 2000, 01. 42 WIB

Terlihat bagaimana lengangnya perempatan jalan Tamblong yang memotong Jalan Asia Afrika dibawah sana. Cuma traffic light yang mengerjapkan sinar kuningnya yang mengisyaratkan ada kehidupan disana. Kadang-kadang melintas mobil angkutan kota yang beroperasi sepanjang 24 jam menuju terminal Kebon Kelapa. Kami cuma duduk menatapnya tanpa ada banyak berbicara. Kugenggam erat Tia dalam pangkuanku, memandang kesunyian tanpa ada sehelai benangpun yang menempel di badan kami. Kadang-kadang kudengus lembut telinga Tia, yang tetap saja disertai desahan manjanya. Ah.. begitu romantisnya, melihat sinar lampu lewat larut malam tanpa ada selembar baju juga yang menempel.

Tidak merasa udah lebih dari 1/2 jam kami berdua tertegun melihat jalanan mulai sejak gelombang orgasme itu menelan kami berdua serta menenggelamkan sampai ke dasarnya.
“Ryo, Tia pingin mandi rasa-rasanya, ” mendadak nada Tia mengagetkanku.
“Ya telah sana mandi, ” jawabku.
“Eh pintunya janganlah dikunci yah, siapa tau nanti saya pengen nyusul, ” godaku sekali lagi.
“Huuh.. maunya, ” sahut Tia manja sembari menjentikkan telunjuknya di hidungku serta selanjutnya berlalu menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Setelah itu saya cuma terdiam, meneruskan lamunanku sendiri. Mengingat begitu sebagian menit waktu lalu saya sudah lewat satu permainan cinta yang benar-benar indah. Kesempatan ini benar-benar berlainan rasa-rasanya, lembut serta melenakan. Benar-benar tambah lebih indah ketimbang dengan pengalaman-pengalaman terdahulu, dengan sebagian wanita yang pernah ada dalam malam-malamku. Tak tahu kenapa mendadak muncul hasratku selalu untuk berdekatan dengan Tia. Cuma sebagian menit ia tinggalkan (serta itupun cuma untuk mandi), rasa kehilangan itu udah ada dalam benakku.

Tanpa ada kusadar sudah kulangkahkan kakiku ke arah kamar mandi untuk menyusul Tia. Krek.. terdengar perlahan nada handle pintu kamar mandi yang kuputar. Hmm.. nyata-nyatanya memanglah Tia tidak menguncinya, wah bandel juga nih anak, fikirku. Perlahan-lahan kubuka pintu untuk selanjutnya beroleh satu panorama yang benar-benar memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Tia tengah nikmati pancuran air dari shower yang mencuci lembut badannya. Kaca penutup shower menghambat pandanganku karna sudah tertutup uap dari air hangat yang Tia pakai. Tak tahu kenapa panorama yang tersamar ini menghidupkan kembali gairahku. Merasa bagaimana kejantananku mulai membuktikan reaksinya.

Perlahan-lahan kubuka pintu kaca shower untuk lalu mendekap badan Tia dari belakang. “Hei..! ” seru Tia terperanjat sebentar mengerti ada orang yang lain yg ada dalam kotak showernya. “It’s me honey.. ” kataku menentramkan sembari mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya. “Ughh.. Ryo.. ” lenguh Tia pendek. Selalu kudaratkan ciuman bertubi-tubi ke badannya. Terkadang di leher belakangnya, terkadang di punggungnya, kadang-kadang juga kulumat bibirnya. Kami berciuman di dalam derasnya pancuran shower yg membasahi badan kami. Menginginkan sekali terasa kutikamkan kembali kejantananku dari belakang kedalam liang kewanitaannya, nikmati sensasi bercinta di satu shower yg deras menghujani badan kami dengan butiran-butiran air.

Setelah kurasa percumbuan kami cukup untuk kembali membuatnya bergairah, perlahan-lahan kutuntun batangku kedalam liang kemaluannya. Sejenak merasa lembut serta hangat ketika kejantananku melekat pada bibir liang kewanitaannya, sebelumnya kuhentakkannya menerobos sampai ke pangkal batangku. “Arrgghh.. ” jerit Tia tertahan saat ia mulai rasakan dianya sendiri sesak dipenuhi oleh tekanan kejantananku. Saya mulai memompanya perlahan-lahan, keluar serta masuk. Tia buka ke-2 kakinya lebar sembari ke-2 tangannya bertumpu pada ke-2 keran panas-dingin pada shower. Kami kembali bercinta, bergumul dalam tekanan arus birahi yg penuhi kepala serta badan kami. Kami bersetubuh dibawah siraman kehangatan shower yg selalu menghujani badan kami tidak ada henti. Terdengar sayup-sayup deru nafas Tia di antara derasnya nada air yg tumpah keluar dari shower. Kulingkarkan tangan kananku di leher Tia saat kudaratkan tangan kiriku untuk mempermainkan puting kanannya, sembari tentu selalu memompanya dari belakang.

Selalu kutikamkan batangku kedalam liang kemaluannya tidak ada henti. Menit untuk menit berlalu, menemani persetubuhan kami yg benar-benar indah. Terasa bagaimana makin ketatnya lubang kewanitaan Tia semakin menekan kejantananku. Tiba-tiba ke-2 tangan Tia mencapai tangkai shower yg terpaku pada dinding sisi atas kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya melenguhkan erangan yg demikian menggairahkan perasaan, “Ryoo.. ahh.. ” Nyatanya Tia kembali memperoleh orgasmenya yg menariknya kembali kedalam kesenangan yg bergulung-gulung menimpa batinnya. Kudekap erat badannya, menjaganya dari kelimbungan yg bisa saja mungkin menghempaskannya ke lantai marmer yg kami injak. Sebagian pas tetaplah kudekap erat badannya, hingga ketika pada akhirnya Tia mulai bisa menggerakkan dianya sendiri. Kami sesaat bertatapan, perlahan-lahan kucium lembut bibirnya. “You’re wonderful, Babe, ” pujiku pas dia mulai buka matanya serta melihat ke arahku.

Tia membalikkan badannya serta memelukku erat. Kucium kembali bibir Tia sembari kuangkat badannya meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Kurebahkan badannya di lantai marmer kamar mandi dengan perlahan-lahan. Kembali kuletakkan kejantananku di bibir kewanitaannya seraya perlahan-lahan mendorongnya masuk kedalam. Sejenak kulihat Tia mengigit bibirnya sendiri, seolah tengah nikmati sensasi penetrasi batangku kedalam liang kemaluannya. Kembali kupompakan kejantananku kedalam badan Tia, membiarkan tungkainya berharap di pundakku untuk lalu buat kami terbang memperoleh kesenangan duniawi dengan lembut serta perlahan-lahan. Selalu kusetubuhi badan Tia yg tergolek di lantai, coba menyeimbangi pergerakan pinggulnya yg jadi menjepit batangku. “Tia, Ryo pengen keluar.. ” bisikku lirih pas mulai kurasakan suatu hal mendorong keluar dari batang kejantananku, sehabis sekian waktu berlalu. “Yes Ryo, semprotkan ke dadaku, ” sahut Tia sembari mengecup perlahan-lahan bibirku sesaat.

Selalu kupompakan batang kejantananku untuk capai puncak ejakulasiku yg ke-2 dalam hari ini. Saya berusaha untuk menahannya sepanjang mungkin saja, tetapi usahaku tidak banyak membawa hasil karna sesaat kemudian kupastikan kalau benteng pertahananku akan tidak bertahan lama sekali lagi. Pernah kuhujamkan berkali-kali sekali lagi kemaluanku dalam liang kewanitaannya sebelumnya berteriak keras seraya menarik keluar batangku serta memuntahkan berisi, membajiri semua permukaan dada Tia.
“Ahh.. Aku keluaarr.. ” teriakku parau.
“Yes.. ehhmm.. ” erang Tia tidak bisa merampungkan kalimatnya, karna dirasakannya cairan kejantananku nyatanya juga mendarat di muka serta rambutnya.
Cukup lama kuregang diriku dalam orgasme yg benar-benar dahsyat, di mana Tia turut membantunya dengan mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yg mungkin saja masih tetap tersisa di dalamnya. Kucium bibirnya dalam sembari mengatakan terima kasih atas klimaks yg tidak lama saya peroleh, sebelumnya pada akhirnya merebahkan diriku di sebelahnya.

Bandung, 12 Oktober 2000, 04. 48 WIB

Saya tersadar dari tidur dengan mendadak. Di sampingku tergolek badan Tia yg tidur memunggungiku sembari kupeluk dari belakang. Sejenak kucoba mengingat-ingat apa yg tidak lama saya alami. Samar-samar saya mulai mengingat bagaimana sekitaran satu 1/2 jam saat lalu kulalui satu klimaks yg dahsyat dalam dekapan Tia di lantai kamar mandi. Yah kuingat bagaimana lalu kami sama-sama bersihkan diri, mengeringkannya untuk lalu nikmati tidur dalam tempat sama-sama berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari badanku yg tidak tertutupi selembar kain juga pas kusingkapkan selimut untuk lalu mencari kemejaku yg berantakan di lantai kamar yg tertutupi karpet memiliki nuansa maroon. Kukecup lembut kening Tia pas udah lengkap saya kenakan pakaian. Terdengar lirih nada Tia pas dia mulai tersadar sedikit untuk sedikit dari tidurnya. Kukecup bibirnya pas dia betul-betul udah buka matanya, memandangku dengan satu tatapan yg benar-benar susah ditebak berarti. Tatapan sayangkah itu?

Jam mobilku memperlihatkan jam 05. 21 WIB saat dengan enjoy kukendarai mini jeep-ku membelah jalan Asia Afrika yg masih tetap lengang sembari dengerin musik yg mulai dimainkan radio-radio swasta yg mulai mengudara. Saya benar-benar mesti selekasnya pergi dari segi Tia, sekurang-kurangnya untuk hari ini, karna dia bakal kembali lagi Jakarta dengan rombongannya sehabis breakfast kelak. Pasti satu panorama yg tidak lucu kalau rekan-rekan yg menyusul ke kamarnya, temukan kami tengah tidur berpelukkan tanpa ada baju sekalipun.

But no business talks allowed, masih tetap terngiang di telingaku pengucapan Tia pas kuajak dianya sendiri melupakan malamnya nikmati situasi Bandung semalam. Yah.. mudah-mudahan benar-benar demikian kondisi seterusnya. Selalu jelas saya sekiranya pengen mencampurkan masalah pekerjaan dengan pribadi. Jika saya tidak diterima untuk pekerjaan, biarlah itu karna benar-benar saya kurang qualified untuk di terima, bukanlah karna saya udah berani kurang ajar pada salah seseorang pengujinya (itu juga bila dia anggap kalau saya kurang ajar, hehehehe..). Di beda pihak kalau saya di terima bekerja, biarkanlah itu karna benar-benar skill serta capability saya benar-benar diperlukan oleh perusahaan, bukanlah karna saya berhasil merajut satu jalinan spesial dengan seseorang Tia. Meminjam arti Mbak Sari, mendaki corporate lewat ranjang, hahahaha.

Dalam hati saya masih tetap sedikit terbersit keinginan untuk tetaplah menambahkan jalinan ini. Masih tetap merasa bagaimana Tia mengecup lembut bibirku pas dia melepasku di pintu kamarnya. As I said before, everything seems so right when we’re together. Is she the Miss. Right for me after I’ve been looking for all over places? Why do I feel that she’s the one, evenhough I have known her only by day. Biarkanlah saat yg menjawabnya, karna orang bijak berkata cuma waktulah yang bisa dengan tentu memastikan apa yg bakal kami tempuh di masa depan, sepasti cahaya matahari yg senantiasa menegur masyarakat bumi tiap-tiap pagi.

Seperti sekarang ini, di mana cahaya matahari yg pertama jatuh temani perjalananku menembus lengangnya jalanan kota ini.

Baca Juga : Ngentod Dengan Istri Majikanku

Shares 0
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *